
...•••••...
"Sayang?"
Hantara melempar sendok berisikan kuah bakso karena saking terkejut. Alhasil, kuah bakso tersebut mengenai pakaiannya. Dia mematung dengan mulut menganga.
Sosok tampan yang menjulang di samping kanannya merupakan sang dalang.
Bisa dipastikan, beberapa yang mengenal Ravendra terdiam. Apa yang baru saja dilakukan cowok itu berhasil menjadi sebuah tanda tanya besar atas aksi tak terduga.
Ravendra memanggil Hantara dengan sebutan 'sayang'? Agaknya Hantara bertanya-tanya, tunangannya itu waras atau tidak.
Mendongak pelan, Hantara bertemu tatap dengan Ravendra. "Ra—"
"Ayo pulang," ajak Ravendra pelan. Cowok itu tersenyum kalem.
"Hah?"
Belum pulih dari keterkejutan yang tadi, sekarang ditambah dengan ajakan Ravendra yang mengakibatkan pikirannya melambat.
Mewakilkan Hantara dan yang lain, Sagara membuka suara. "Bang Raven tadi ngomong apaan?" tanyanya.
Ravendra tersenyum. "Lo denger sendiri kan tadi gue ngomong apaan?" cowok itu malah melempar pertanyaan—yang menimbulkan reaksi terkejut lagi. Sebab, tandanya pendengaran dan penglihatan mereka tak berbohong.
"Kak Raven ada hubungan apa sama Hantara?" tanya Lia memastikan.
"Ah iya," Ravendra menyugar rambutnya ke belakang. Hantara menahan napas. Entah firasatnya saja atau dia yang berlebihan, tapi cowok itu makin tampan.
Tanpa komando, tangan kiri Ravendra menggenggam tangan kiri Hantara yang tersemat cincin pertunangan mereka. Hantara hanya mampu melotot saat menyadari apa yang akan Ravendra lakukan.
"Ini," Ravendra memperlihatkan kilauan cincin yang tersemat pada jari manis tangan kiri Hantara. "Kami udah tunangan, ini buktinya."
Hantara terperangah. Jantungnya memompa darah makin cepat. Desiran yang tak pernah terasa, kini justru meradang disertai kepakan sayap kupu-kupu pada perutnya.
"Ravendra!" Gianna berseru lantang menghampiri Ravendra yang terlihat santai seakan-akan tidak punya beban sama sekali.
"Iya, Gi? Ada apa ya?" malah cowok itu bertanya tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Kamu kok ...." Gianna tertawa hambar, berpikir Ravendra sedang berpura-pura atau ingin membuatnya cemburu. "Kamu jangan bercanda deh, Rav. Lihat tuh! Hantara sampai risih karena kamu jadiin dia pusat perhatian."
Ravendra menatap Hantara lebih dekat. "Kamu risih ya?" tanyanya dalam nada lembut seperti sebelumnya.
Gianna mengepalkan tangannya. Entah permainan macam apa yang hendak dilakukan Ravendra. "Rav, kamu jangan gitu dong! Ngaku-ngaku tunangannya orang, padahal Hantara kan bukan siapa-siapamu!"
Ravendra menghela napas. Tampaknya enggan melontarkan balasan kepada Gianna.
Hantara mengernyit heran. Dua orang ini, kenapa dah? Ravendra juga kesambet apaan?
Ravendra masih memandang Hantara. "Tara, kita pulang yuk? Kita perlu bicara."
*Ayuk!
Heh*?!
Hantara merutuki isi hatinya yang kelepasan. Kenapa dia ini? Padahal, beberapa hari yang lalu dia maju tak gentar melakukan 'pemberontakan'. Sekarang? Kenapa dia senang sekali melihat Ravendra muncul dan menyebutnya 'sayang'?
Tampaknya Hantara sendiri yang kesambet—bukan Ravendra.
"Ayo, Tara~" bujuk Ravendra masih sama lembutnya. Hantara gelagapan. Tak sengaja menoleh pada dua sahabatnya yang masih terkejut. Seolah-olah ditampar oleh dua kenyataan; pertunangan dan kelembutan Ravendra kepada Hantara.
Hantara saja masih kaget. Kalau ini mimpi, Hantara mungkin percaya. Tapi ini kenyataan—sulit untuk dipercaya oleh kepandaian otaknya yang berkapasitas tak seberapa itu.
Memaklumi kebingungan Hantara, Ravendra menggenggam tangan kiri cewek itu dan mengajaknya pergi. Hantara menunduk karena saking malunya—karena digenggam begitu erat oleh Ravendra.
Gianna tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ingin berteriak marah, namun harus tahu tempat. Dia Gianna. Cewek anggun yang tidak berbuat sesuatu tanpa pikir panjang. Dengan berat hati, Gianna menyusul Ravendra dan Hantara yang berjalan ke luar.
__ADS_1
Sementara itu, Lia dan Sagara melempar pandang. Dari sorot mata Lia, Sagara mengetahui jika sahabatnya itu kecewa sekaligus sedih. "Kenapa ... Tara nggak bilang apa-apa ke kita, Sa?"
Sagara mengembuskan napas perlahan. "Sebenarnya sejak Bang Raven datang beliin Tara nasi campur itu, gue udah ngerasa ada yang nggak beres, sih."
"Terus, kenapa lo diam aja?"
"Ya lo mau gue gimana dah? Kalau mereka aja mati-matian menyembunyikan kenyataan tentang mereka udah tunangan, masa gue harus gembar-gembor ke sepenjuru dunia?" tukas Sagara ada benarnya.
Lia mengangguk lesu, "Jadi, selama ini mereka punya hubungan lebih ya? Dan kita nggak tahu apa-apa, padahal kita sahabatnya ...."
"Selalu ada alasan dari tiap perilaku, Lia." Sagara melanjutkan makannya. Melihat bakso jumbo milik Hantara tak jadi dimakan, Sagara menggeser mangkuk tersebut mendekat.
"Lo pikir, alasan apa yang dia punya sampai-sampai nggak mau kasih tahu kita soal hubungannya sama Ravendra?" Lia masih tak puas.
Sagara melirik sekilas, meneruskan kunyahannya.
"Lo."
"Heh?" Lia memiringkan kepala tak mengerti. "Kenapa jadi gue?"
"Ya coba dipikir lagi, Mbak Lia. Gue nggak mau menyalahkan sih, tapi gimana lagi ya? Kayaknya itu salah satu alasan yang pas, kenapa Hantara nggak kasih tahu kita tentang hubungannya sama Bang Raven." Sagara melahap bakso jumbonya dengan tenang, sementara Lia berpikir keras.
"Emangnya gue ngapain sih, sampai Hantara nggak berani ngomong? Tapi dia kok diam aja sih, pas gue minta nomornya Kak Ra—" Lia tercekat, kemudian menatap Sagara seakan bertanya; karena gue naksir Kak Ravendra?
Melihat tampang Lia, Sagara hanya mengangguk. Lia mendengus pelan. "Jadi ... selama ini gue juga udah nyakitin perasaannya dong?"
...•••••...
Mengejar Ravendra dan Hantara, Gianna tak hentinya memanggil nama Ravendra begitu jauh dari keramaian. Sebelum Ravendra membukakan pintu mobil untuk Hantara, Gianna menyerobot dan menarik tangan kanan Ravendra yang tak memegang apa pun.
"Rav! Kamu itu apaan sih?!" Kesal Gianna.
Ravendra mendengus malas. "Seharusnya aku yang tanya, Gi. Kamu ini—sekarang lagi ngapain?" cowok itu menepis pelan tangan Gianna.
Hantara mengerjap. Gue diem aja, kenapa kena juga?
Ravendra melirik Hantara, lalu melayangkan tatapan dinginnya pada Gianna. "Ya terus kenapa? Dia tunanganku, Gi. Kamu lupa?"
Gianna terperangah, sama halnya dengan Hantara. Bedanya pipi Hantara bersemu merah karena malu, sedangkan Gianna menahan amarah. Bagaimana pun, Gianna sangat mencintai Ravendra. Dia tak ingin terlihat kesetanan di hadapan cowok itu.
"Aku kan pacarmu, Rav! Kamu cinta matinya sama aku!" Seru Gianna tak mau kalah.
Kalau dalam keadaan biasa, Hantara mau muntah saja mendengarnya. Gianna yang sempat dikagumi, entah mengapa jadi sama rata dengannya. Iya, Hantara masih sadar untuk tidak meninggikan diri. Tenang saja! Dia masih tidak ada anggun-anggunnya kok!
"Mantan." Kata Ravendra penuh penekanan.
Hantara terperanjat. Mereka udah putus? Terus, tadi ngapain Ravendra ke warung bakso? Bukan mau jemput Gianna? Terus mau ngapain?
"Enggak! Aku nggak mau putus!"
Lah? Hantara berharap dia bisa melempar sesuatu ke arah cewek itu.
"Gi," Ravendra tampak lelah. "Kita udah putus. Aku nggak mau lagi berhubungan apa pun sama kamu."
"Tapi kenapa kamu masih mau antar-jemput aku—"
"Kamu lupa? Itu aku lakukan karena aku merasa bersalah karena udah jadi pacar kamu."
Heh? Giliran Ravendra yang membuat Hantara terheran-heran. Ini bocah isi pikirannya apa dah?
"Kamu ...." Gianna berkaca-kaca. "Kamu menyesal udah pacaran sama aku? Setelah tahun-tahun yang kita lewati, Rav?"
"Iya, aku menyesal." Ucap Ravendra berikut membuka pintu mobil untuk Hantara. Dalam hitungan detik, mobil Ravendra melaju meninggalkan Gianna dengan mata memerah menahan tangis.
"Aku salah apa sih, Rav?"
__ADS_1
Gianna menghapus setitik air mata yang begitu lancang jatuh tanpa permisi.
"Hih! Ini gara-gara Hantara. Cewek kurang perhatian yang berani ngerebut Ravendra dari gue. Emang ya, ayah sama anak sama aja."
...•••••...
Dalam mobil, Ravendra dan Hantara saling diam. Hantara melirik Ravendra yang wajahnya tampak mengeras. Dia pikir, mungkin akibat dari pertengkaran dengan Gianna tadi. Mengembuskan napas perlahan, Hantara jadi tak tega melihat wajah cantik Gianna yang berkaca-kaca tadi.
Maka, dia memberanikan diri untuk memulai. "Kenapa?"
Ravendra melirik sekilas, seakan-akan sudah menanti Hantara untuk berbicara. "Apa yang kamu maksud?"
Hantara memicingkan kedua matanya.
"Rav, nggak usah dilempar-lempar gitu pertanyaannya." Katanya mencoba bersabar. "Bukannya kamu cinta mati sama Gianna? Kenapa kamu malah putusin dia dan ... malah ngajak aku?"
Nggak mungkin kan gue tanyanya, kenapa dia milih gue? Yang ada gue terlalu percaya diri, padahal kemaren-kemaren pamer Kak Jojo ke dia dan Mama. Hantara memendamnya dalam hati.
"Kamu tunanganku."
Hantara terkesiap. Tidak boleh begini! Ravendra jelas serius saat mengatakannya. Namun, sesuatu dalam dirinya ada yang berteriak; tidak beres. Sudah lima hari tak bertemu dan sikap cowok itu malah berubah seperti ini—pasti ada apa-apanya.
"Rav, aku tahu nggak mungkin yang pacaran bertahun-tahun bisa kalah sama aku yang cuma tunangan dan sebelum nikah kita udah janji buat pisah—"
Ravendra menoleh, hendak menyela ucapan Hantara mengenai yang terakhir. Tetapi Hantara sudah lebih dulu membungkam mulut cowok itu dengan kelanjutannya.
"Jujur aja kenapa sih, Rav? Setelah itu kamu bisa kembali ke pelukan Gianna dan aku bisa langgeng sama Kak Jojo."
Ravendra mencengkeram setir mobil kuat-kuat. Dia tak suka mendengar nama Joshua disebut. Meredupkan emosi sesaatnya tadi, Ravendra menarik napas perlahan.
"Kenapa kamu nggak percaya, Tara?" tanya Ravendra.
"Aku memang nggak gampang percaya, Ravendra. Apalagi setelah perlakuan kamu hari ini. Terus tadi pas aku mau makan bakso—manggil siapa? Sayang? Siapa yang kamu panggil? Setan?" cecar Hantara tak melewatkan kesempatan.
Ravendra terkekeh. "Kamu setan dong?"
"HEH!!!"
Ravendra terlonjak. Salah bicara. Dia melupakan satu hal bahwa perempuan itu selalu benar. "Ya aku manggil kamu lah! Kan kamu tunanganku!"
"Oh ya? Nggak lagi manggil si Gianna?"
Mobil tersebut berhenti di perempatan alun-alun. Menunggu kendaraan dari arah Barat dan Timur untuk saling menyeberang. Di tengah penantian itu, Ravendra melepaskan sabuk pengaman.
Tiba-tiba, wajah tampan cowok itu sudah berada tepat di depan wajah Hantara.
Hantara membelalak. Dia hanya bisa memundurkan punggungnya sampai menempel ke jendela. "Ma-mau ngapain?"
Gugup? Jelas!
Ravendra menatap kedua bola mata Hantara sungguh-sungguh. Entah apa yang tengah dipikirkan cowok itu. Pada detik-detik pertama, Hantara bisa merasakan seluruh tubuhnya menghangat. Pipinya pasti sudah semerah tomat dan dia merutuki itu.
Akan tetapi, pada detik-detik sebelum lampu pada rambu lalu lintas berganti hijau, Hantara menyadari sesuatu dalam tatapan Ravendra.
Itu bukan tatapan penuh kasih sayang.
Melainkan tatapan yang berhasil membangkitkan kenangan lama.
Barusan, Ravendra menatapnya penuh ....
... iba.
...•••••...
^^^bersambung ....^^^
__ADS_1