Steal Your Heart

Steal Your Heart
Episode 06


__ADS_3

...•••••...


"Jadi, pertunangannya tanggal berapa?"


"Kalau satu bulan setelahnya menikah, berarti kita harus cari yang pas, Lusi."


"Akhir pekan lebih baik, biar kita bisa melaksanakan pertunangan dan pernikahan dengan tenang."


"Ibu, misalkan tanggal ini menikah, lalu sebulan sebelumnya pertunangan, kalau dihitung dari sekarang ... pertunangannya pekan depan dong."


Baik Hantara maupun Ravendra, sama-sama tidak percaya. Tidak ada yang bisa mengeluarkan suara masing-masing. Hantara mendengus lelah. Kalau begini, sudah komplitlah dirinya sebagai orang tak diharapkan dalam semesta Ravendra dan Gianna.


Pada akhirnya, mau seberapa siap mereka untuk melontarkan argumen penolakan mengenai perjodohan ini, mereka akan tetap menikah. Mereka tak mengira, akan selancar ini.


Hantara melirik Ravendra yang sedari tadi cuma bisa terdiam. Cowok itu bersandar, Hantara melihat adanya keputusasaan yang menjadi-jadi. Namun cowok itu memilih untuk tak berkata, sama seperti Hantara.


Di sini, Ravendra dan Hantara tak memiliki kesempatan untuk mengucapkan sepatah kata apa pun. Mengetahui demikian, Hantara berpikir bahwa ini bukan suatu perjodohan yang akan membuat hatinya berbunga-bunga.


Perjodohan ini direncanakan oleh para orang tua. Padahal, seharusnya individu yang akan dijodohkan itulah yang harus berdiskusi.


Iya, meski dia tidak menginginkan pernikahan dengan Ravendra, tapi tak bisa dimungkiri bahwa paling tidak mereka harus berbicara satu sama lain.


Hantara menghargai niat baik Mama untuk mencarikan pasangan yang tepat dan baik, serta mapan. Hanya saja, mengapa langsung mematenkan sebuah pernikahan jika dirinya saja belum mengatakan keberatannya?


Cewek itu mencengkeram ujung blusnya. Sesak. Tiba-tiba udara di sekitarnya terserap begitu saja. Seperti berada dalam ruang hampa, Hantara kesulitan untuk bernapas. Keringat dingin bermunculan. Tandanya, Hantara harus segera pergi dari hadapan semua orang.


Enggak! Nggak boleh! Jangan sekarang!


...•••••...


Ravendra mengerutkan kening. Tadinya, dia tak mau menengok sedikit pun ke arah cewek itu. Bukan benci, tapi lebih ke kesal. Kesal karena Hantara tak memberitahu lebih awal tentang perjodohan ini.


Kalau dia tahu lebih awal, mungkin saja bisa memberitahu Ayah dan Ibu soal ketersediaan Gianna untuk menikah dengannya setelah semua keinginan pacarnya itu terwujud. Sekarang? Terlambat sudah.


Di seberang meja, Hantara terlihat mengatur laju pernapasannya. Ravendra bisa melihat cewek itu berkeringat.


"Ini cewek kenapa? Kenapa keringatan? Emangnya di sini gerah?" Ravendra melihat sekeliling. Ayah, Ibu, Mama Nadya, Ajeng, dan dirinya tak merasakan suhu berlebihan sampai harus mengeluarkan keringat.


Lantas, apa yang terjadi pada cewek itu?


Tahu-tahu, Hantara beranjak. Menghapus peluh dan pamit. "Om, Tante, maaf ya, sepertinya teman saya menelepon untuk menanyakan sesuatu soal materi kemarin."


"Ah, kamu mau jawab telepon? Iya, boleh," Ibu Lusi mempersilakan tanpa menyadari apa pun dari tampang Hantara.


"Jangan lama-lama ya, Sayang." Begitu juga Mama Nadya yang tidak menoleh sedikit pun, sibuk mencari kontak salah satu rekan kerjanya yang memiliki usaha wedding organizer.


Secepat kilat, Hantara keluar rumah. Anehnya, cewek itu tak membawa tas selempangnya yang jelas-jelas berisikan ponsel dan dompet miliknya.

__ADS_1


Ravendra menggeleng pelan. Dia tidak mau ikut campur. Sudah cukup pernah berurusan dengan cewek itu di hari kemarin, tidak lagi. Meski, sebetulnya dia terlibat masalah yang lebih pelik dengan Hantara.


Iya. Perjodohan. Pernikahan. Yang mana saja deh, sama-sama menyebalkan dan pelik.


Ravendra mencari ponselnya. Dia tersenyum begitu mendapati satu chat baru dari Gianna. Sekarang, pacarnya itu sedang bepergian dengan orang tuanya di salah satu tempat wisata di luar kota.


Hendak mengetik balasan, tak sengaja sudut matanya memergoki Hantara yang mengendap-endap dan berlalu dari pekarangan rumahnya.


Ravendra terenyak. Cewek itu, kabur?


"Ayah, Ibu, Tante, saya ke luar sebentar ya?" izinnya cepat-cepat.


"Lho, kamu mau ke mana, Rav?" tanya Ibu Lusi, mau protes.


Ajeng, yang mengira tengah terjadi sesuatu yang menyangkut hati dan ketertarikan, berkata sambil tersenyum jail. "Udahlah biarin! Barangkali Kak Raven mau nemenin Mbak Tara buat jelasin materi ke temannya kan, Bu."


Bertepatan itu, Ravendra sudah melenggang pergi. Dia tak mendengar ucapan adiknya. Jika dia mendengarnya, yakin sekali bakal langsung mengomeli Ajeng karena sok tahu.


"Ah!" Tiga orang dewasa di sana saling melempar senyum. Begitu cerah, sampai rasanya Ajeng mendapati ada tiga mentari di ruang tamu rumahnya.


...•••••...


Tidak seperti yang dikatakan, Hantara justru berlari meninggalkan kediaman Birusna secepat kilat. Tiba di persimpangan, dia lupa bahwa tas selempangnya masih berada di sofa. Hantara kembali merutuki diri sendiri yang selalu main pergi sendiri saat kumat. Jujur saja, Hantara merasa jauh lebih baik setelah meninggalkan rumah tersebut.


Pernapasannya kembali lancar. Bayang-bayang mengerikan itu telah sirna. Dadanya tak lagi sesak. Menyegarkan. Melihat betapa rimbunnya jalanan di kompleks mewah ini yang dipenuhi pepohonan, membuat cewek itu merasa begitu segar.


Langkah kaki Hantara terhenti. Cewek itu enggan menoleh meski tahu si pemilik suara.


"Nih!"


"Oh! Tas!" Hantara meraih tas selempangnya yang terjulur dengan anggunnya. Sekarang, dia bisa tersenyum---sedikit sih. Paling tidak, lebih baik daripada tadi. Sebab, ada satu orang yang kehadirannya tidak begitu diinginkannya.


Siapa lagi kalau bukan---si pahlawan kesiangan---Ravendra Birusna?


"Sama-sama." Kata cowok itu dengan nada menyindir.


Hantara melirik sekilas. Kembali melangkah, tak peduli dengan eksistensi manusia di samping kanannya itu.


Ravendra menghela napas. Mau tidak mau, dia ikut Hantara saja. Kalau dipikir-pikir, dia memang butuh jalan-jalan di sekitar kompleks. Dan ya, memang lebih baik berada di luar ketimbang mendengar diskusi mengenai pernikahan di ruang tamu rumahnya tadi.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya cowok itu lagi. Dia cuma mau memastikan Hantara tidak bakal pingsan di jalan. Sudah, itu saja.


Hantara mengangguk lemas. "Makasih udah dibawain tasnya." Cewek itu tidak menoleh sedikit pun. Pandangannya tertuju pada tanaman bugenvil yang bermekaran.


Karena Ravendra sudah mengucap 'sama-sama' tadi, tidak perlulah dia mengulanginya lagi. Alhasil, cowok itu cuma terdiam sambil mengamati tanaman eforbia di sisi kanan jalan.


"Lo ...." Hantara memberanikan diri untuk membuka suara. " ... pasti benci banget sama gue karena udah ke sini kan?"

__ADS_1


"Hm?"


Ravendra tahu, kalau Hantara berada pada tahap; dijawab 'iya' bakal marah, dan dijawab 'enggak' juga bakal marah. Dia tahu karena selama berpacaran dengan Gianna, sedikit-banyak mengetahui tentang perempuan dan sifat-sifat yang akan tampak.


"Bukannya benci sih, tapi lebih ke kesal dan mau protes ke orang-orang. Karena ya kamu tahu sendiri, saya ini posisi lagi punya pacar. Kami udah pacaran tiga tahun. Nggak mudah kalau harus pisah karena perjodohan yang nggak saya setujui sama sekali ini."


Cowok itu berkata pelan. Ravendra ingin menjelaskan dengan sebaik-baiknya, dia tidak ingin berpisah dengan Gianna hanya karena pernikahan yang tidak memuaskan kedua hati yang akan menjalani ini.


"Tapi lo tahu sendiri gimana antusiasnya mereka buat mempersiapkan segala hal kan?" tanya Hantara yang mulai menganggap Ravendra sebagai teman berbagi pendapat dan kegundahan yang tak mampu diutarakan tadi.


"Iya, itu yang susah." Gumam Ravendra. "Mereka kelihatan ... bahagia banget. Apalagi Ayah dan Ibu ... mereka nggak pernah memperlihatkan senyum secerah itu ke Gianna."


Hantara menyadari satu hal. "Apa Gianna tahu tentang perjodohan ini, Rav?" Tak diduga, Ravendra mengangguk. "Terus, gimana responsnya?"


Ravendra tak langsung berbicara. Masalahnya, dia dan Gianna pernah membicarakan tentang perjodohan berlandaskan utang itu. Astaga! Ravendra jadi malu sendiri kalau ingat dia sudah separah itu dalam berpikir.


Dilihat dari perangai Mama Nadya dan Hantara, mereka jelas sekali berasal dari keluarga berada. Belum lagi dengan relasi yang dimiliki Mama Nadya. Bukan main! Bahkan Mama Nadya mempunyai nomor telepon pribadi beberapa pejabat negara.


"Ka-kami lagi berpikir, Tara."


"Terus, udah berpikir sejauh mana? Ada ide supaya perjodohan ini batal?" tanya cewek itu dengan mata berbinar.


"Be-belum ...." kata Ravendra letih. "Dan kayaknya, bakal susah untuk membatalkan niat Ayah, Ibu, dan Mama kamu soal perjodohan ini, Tara."


Binar itu redup. Tergantikan oleh kegetiran yang menguasai. Melihat Hantara seperti itu, membuat Ravendra bingung sendiri. Dia harus menghibur atau diam saja? Hantara itu bukan Gianna. Kalau Gianna sedih, Ravendra bisa memeluknya sepuas hati pacarnya itu. Sedangkan Hantara? Tidak mungkin dia memeluknya begitu saja kan?


"Ah, saya minta maaf, Hantara." Ravendra menghentikan langkah, begitu juga Hantara. "Maaf karena tadi saya sudah bersikap nggak sopan sama kamu. Itu karena saya kaget karena cewek yang akan dijodohkan dengan saya ternyata kamu."


"Hah? Oh, gue memang kesel sih, tapi, itu kan udah beberapa menit yang lalu, Rav. Nggak usah dipikir nggak apa-apa kok." Kata Hantara santai.


"Sama saja. Yang jelas, saya sudah bersikap dingin dan membuat kamu kesal. Sekali lagi, saya minta maaf." Ucap Ravendra.


"O-oke deh, oke!"


Wah, ngeri juga lihat Ravendra serius minta maaf kayak gini. Hantara bergidik ngeri. Peristiwa langka.


"Kalau gitu, Rav." Hantara mengulurkan tangan. "Ayo kita jadi teman beneran, dan kerja sama semoga perjodohan ini bisa dibatalkan apa pun caranya."


Ravendra memicingkan mata. Tangan kanan Hantara terulur manis di hadapannya. Biar ragu, akhirnya dia menjabat tangan cewek itu.


"Oke! Salam kenal, saya Ravendra."


Hantara tersenyum. "Gue Hantara."


Dan tanpa keduanya sadari, pertemanan tersebut bukanlah pertemanan biasa.


...•••••...

__ADS_1


^^^bersambung ....^^^


__ADS_2