
...•••••...
Ravendra
Kalau pulangnya saya harus tunggu di mana?
Kalau nggak diantar sama saya, nanti Mama tanya ini itu, Tara.
Kalau bukan karena permintaan Mama Nadya dan Ibu, Ravendra mana mau mengirim chat kepada cewek itu lebih dulu. Tidak penting. Hantara itu, cewek labil yang menyebalkan dan terlalu meromantisasi hidup.
Tampangnya saat berada dalam boncengan Joshua tadi membuat Ravendra mual. "Ck. Kenapa Ibu mau-mau aja menjodohkan gue sama cewek itu? Coba kalau Ibu tahu gimana mukanya tadi pas sama Jojo. Kayak nggak pernah tahu cowok aja."
Menyandarkan punggung pada kursi nyamannya, cowok itu mengedar pandang ke sepenjuru ruangan pribadinya di kafe ini. Lalu bermonolog lagi. "Ya udahlah! Malah bagus! Gue bisa sepuasnya sama Gianna. Nggak perlu terganggu dan merasa bersalah kayak kemarin. Good! Pintar juga Jojo mau gantiin tugas antar-jemput itu."
"Permisi, Bang!"
Pintu ruangannya diketuk. Ravendra nyaris terlonjak. Menenangkan diri, cowok itu mempersilakan masuk. Dari suaranya saja, Ravendra tahu siapa yang datang.
Sagara tersenyum lebar setelah memasuki ruangan pribadi Ravendra. Cowok tinggi itu membawa sebuah rantang yang sepertinya merupakan titipan dari rumah Birusna. Ravendra tahu, sebab dia sudah melihat rantang tersebut puluhan kali.
"Ini, Tante Lusi tadi mampir ke rumah gue dan nyuruh buat nganter ini ke sini. Katanya, lo belum sarapan karena terlalu antusias buat berangkat pagi." Kata Sagara.
Ravendra mengerjap-ngerjapkan matanya. Jangan diterusin! Semoga Ibunya itu tidak memberitahu lebih, hanya seperti itu.
"Lagian kenapa sih, Bang, lo sok-sokan banget nggak sarapan? Perut lo mana sanggup nggak sarapan. Lo mau ngapain sih berangkat pagi-pagi sampai Tante Lusi repot bawain rantang?" tanya Sagara penasaran selagi tangan kanannya mengambil dua buah nugget.
"Nggak apa-apa, tadi---"
"Halah, alasan! Pasti lo diam-diam mau ngajak jalan Gianna kan? Ngaku aja!"
Ravendra mengangguk saja. Baguslah kalau Sagara menganggap demikian. Ravendra juga malas mencari alasan lain. Kini, dia hanya bisa melihat Sagara melahap makanannya karena dia masih kenyang.
Melihat Ravendra yang diam saja tak menyentuh makanan, Sagara bertanya. "Kok nggak makan, Bang?"
"Enggak, gue udah sarapan." Jawabnya santai.
"Sarapan di mana lo? Kalau lo udah sarapan dan nggak makan lagi setelah lihat masakannya Tante Lusi, berarti sarapan lo tadi itu enak."
"Di rumah---"
Ravendra menahan napas. Dia hampir saja keceplosan. "Di rumah itu lho, warung rumahan yang dekat perempatan ke Jalan Baurena."
"Oh, enak ya? Lain kali ajak gue ke sana ya, Bang? Lo jarang banget nih, ajak gue makan-makan. Masa kalah sih sama Tara, sama Lia, mereka malah sering traktir gue makan di luar." Ujar Sagara tak menyadari perubahan ekspresi wajah Ravendra.
"Mereka suka traktir lo di luar?" tanyanya sarkas.
"Iya, tapi kalau di kantin, itu giliran gue buat traktir mereka. Fair banget lho, pertemanan kami ini."
__ADS_1
"Ck." Pikiran Ravendra teringat pada Hantara yang kelewat ceria pagi ini saat bersama dengan Joshua. Dia bergumam, "Pasti cewek itu bakal traktir si Jojo."
"Ngomong apaan lo, Bang?" Sagara memasang telinga, barangkali Ravendra sedang mengajaknya berbicara.
Ravendra menggeleng. "Enggak, gue cuma lihat berita ini lho, gue nggak ngomong apa-apa kok."
Berkata begitu, Sagara tak bertanya lagi. Dia sibuk sarapan sendiri. Melihat betapa lahapnya Sagara, Ravendra jadi gusar. Dia memang suka makan banyak, tapi tidak se-heboh Sagara. Lauknya dijadikan satu dan diaduk-aduk, padahal rasanya berbeda-beda.
"Habis ini ngampus sana! Kelas pagi tuh seharusnya nggak sarapan di sini," celetuk Ravendra tanpa menyadari sesuatu.
Sagara menghentikan suapan berikutnya. Cowok itu mengernyit. "Bang ...."
"Hm?"
"Lo tahu dari mana gue ada kelas pagi?"
Ravendra mematung. Lagi-lagi dia keceplosan.
"Perasaan gue nggak pernah bilang kalau ada kelas pagi hari ini deh, kok bisa tahu?" tanya Sagara dengan mata memicing.
Ravendra berdeham. Dia tidak boleh kelabakan. Harus tenang. Jangan menunjukkan kalau dia salah bicara. "Gu-gue cuma nebak, Sagara."
"Oh, cuma nebak ya?"
Sagara percaya begitu saja. Ravendra menganga. Temannya ini, antara polos dan bodoh, memang beda tipis. Tapi lebih baik sih, daripada dicurigai yang macam-macam lagi. Begini lebih aman.
...•••••...
"Hoo ... siapa tuh yang berangkat bareng kating idaman para jomlo di kampus?" Lia menaik-turunkan alisnya. Sengaja menggoda Hantara yang seharian ini tidak bisa menghapus senyumannya.
"Eh! Ceritain dong, gimana pertama kali kalian kenalan? Tiba-tiba banget lho! Soalnya, kemaren lo masih sendiri bareng gue sama Sagara. Eh, sekarang malah berangkat sama Kak Joshua." Lia mendekat. Sahabatnya itu ingin sekali mendengar balasan Hantara.
Sayangnya, tidak mungkin Hantara mengatakan yang sebenarnya. Berbicara jujur, Hantara mengakui jika pertemuannya dengan Joshua dipelopori oleh kesibukan yang mendera Ravendra sampai calon tunangannya itu lupa menjemput. Namun mana mungkin dia mengatakannya?
"Hmm ... ya ... kemarin gue nunggu kendaraan umum, eh, ya gitu, diajak kenalan dan diantar pulang sama Kak Jojo." Kata Hantara. Tak lupa tersenyum memastikan agar sahabatnya itu percaya.
"Yang bener? Cuma gitu?"
Hantara mengangguk. Untungnya Lia dengan mudah percaya. "Ya ... namanya juga perkenalan ya, pertemuan pertama, jadi ada yang istimewa dan enggak."
Tak lama kemudian, Sagara datang dengan tiga botol teh kemasan berperisa apel. Sejak mencoba minuman itu kemarin, mereka sepakat bahwa rasanya pun cocok di lidah masing-masing.
"Nah! Ini dia minumannya, ladies~"
"Lo nggak pesan makanan?" tanya Lia pada Sagara.
"Enggak! Gue udah makan banyak tadi di kafenya Bang Raven."
__ADS_1
Hantara mendecak tanpa sadar. Dia malas sekali mendengar nama manusia menyebalkan yang satu itu. Berbeda dengan Lia, sahabatnya itu terlihat menahan senyum entah karena apa.
Sagara menoleh ke arah Hantara. "Lo dekat sama Kak Jojo sejak kemarin sore, Tar? Yang bener?"
"Ck. Lo itu tanya atau kasih soal sih? Kan gue udah bilang, kemarin sore memang baru kenalan."
"Gue nggak meragukan sih sebenernya. Cuma ngenes banget dong, kemarin sore udah ditinggal kencan sama Bang Raven, eh lo malah seenaknya aja dapat gebetan. Sedangkan gue," Sagara melirik cewek di samping kanannya---yaitu Lia. "Kapan ya ... cewek yang gue suka punya perasaan yang sama kayak gue."
Lia tak peduli dengan ucapan Sagara. Justru cewek itu fokus kepada bagian ditinggal kencan sama Bang Raven. Di sisi lain, Hantara menyambungkan dua kejadian yang diucapkan Sagara dalam kepalanya.
Wah! Jadi kesibukan yang dimaksud itu kencan sama pacarnya? Cih! Cowok itu kayaknya nggak mau anggap gue ada kali ya?
Lia bertanya malu-malu. "Kak Raven kencan? Sama pacarnya kah?"
"Ya iyalah, Li. Masa Bang Raven kencan sama Tara?!"
"Uhuk!"
Sungguh kalimat yang sangat menghibur. Lia membantu Hantara untuk membukakan minumannya. Mendengar Sagara berkata seperti itu, sukses membuat merinding. Daya khayalnya mendadak buta.
"Ya kan gue cuma tanya, Sagara." Lia mencebikkan bibirnya. Sambil meneguk minuman, Hantara melihat roman Lia yang setelahnya seperti menahan senyum.
"Ya dia kencan sama Gianna lah, Li. Sampai jam tujuh kalau nggak salah. Soalnya habis itu Gianna cerita tuh sama gue." Kata Sagara.
"Ngapain dia cerita sama lo? Emangnya lo siapanya?" tanya Hantara sedikit tak mengerti.
"Nggak tahu ya, dari dulu, sejak temenan di SMP, Gianna selalu aja ngomong ini itu ke gue. Gue ya, diam ajalah, kasihan kan dia tuh. Papi sama Maminya jarang dengerin curhatan dia. Terus ya, gue temannya juga lah!"
Satu meja terdiam. Tidak tahu harus menanggapi apa.
"Tapi nih," Sagara melanjutkan. "Semalam tuh, Gianna cerita agak aneh lho."
"Aneh gimana?" Lia penasaran.
"Katanya, dia takut Bang Raven pindah ke lain hati. Padahal kan---hahaha nggak mungkin gitu lho! Bang Raven bukan tipikal orang yang mau selingkuh gitu. Gianna luar biasa kayak gitu, nggak mungkin Bang Raven kepikiran buat naksir cewek lain. Gue jawab begitu kan, tapi, balesannya bikin gue mikir."
Hantara merasakan degup jantungnya makin kencang. Perasaannya mulai tak nyaman. Apa Gianna sedang membahas perihal Ravendra yang dijodohkan dengannya? Sebab, Ravendra memang berkata kalau Gianna sudah tahu.
Sagara menatap dua pasang mata di meja tersebut secara bergantian.
"Dia bilang ... Bang Raven bakal tunangan dalam waktu dekat."
"Hah?"
Mampus gue!
...•••••...
__ADS_1
^^^bersambung ....^^^