
...•••••...
Joshua
Maaf ya, Tara.
Ayah nyuruh aku macam-macam,
Apalagi ini acara keluarga besar.
Nanti kalau udah nggak sibuk,
Aku telepon kamu ya?
Hantara menguap pelan. Jam dinding kamarnya menunjukkan angka delapan pada malam hari. Selepas keluar membeli pakaian dengan Ravendra, Hantara menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar.
Dia sudah meminum jamu pereda nyeri untuk datang bulan seperti biasanya. Sekarang sudah tak terasa lagi. Dia bersyukur, pagi tadi tak ada kelas sama sekali. Kalau ada? Wah! Bakal kerepotan sekali dia.
Melirik kalender meja, isi kepalanya kembali memutar kejadian di mal tadi. Ravendra. Dari segala situasi bersama cowok menyebalkan itu, mengapa harus di saat datang bulan?
Hantara mengubur dirinya di bawah selimut. Malu banget! Ingin sekali menyalahkan seseorang, tapi tak bisa. Jadwal datang bulannya yang kemarin di awal bulan, sekarang jadi berada di akhir bulan.
Menyembulkan kepala, pandangan matanya tertuju pada jaket abu tua yang tergantung di stand hanger kamarnya. Jaket Ravendra. Otomatis, dia teringat lagi akan perlakuan cowok itu kala melingkarkan jaket tersebut di perutnya. Pipinya menghangat. Gawat!
Seumur-umur, Hantara tak pernah diperlakukan seperti itu. Tapi dia tak boleh lengah. Walaupun sangat berterimakasih karena sudah membantu untuk menutupi tamu-nya tadi.
Mungkin saja pada dasarnya Ravendra itu baik. Cowok itu cuek dan ketus jika dalam masanya saja. Iya. Hantara mengangguk, meyakinkan diri. "Sebagai cowok yang udah ngajak beli baju, dia harus bantuin gue dong! Mau gue kesandung, keserempet, keseleo, apa pun, ya dia harus bantu dong! Kan dia yang ngajak! Pinjemin jaket? Ya itu harus dong! Cowok kan harus membantu cewek!"
"Tara! Ada Raven di bawah!"
"Hah?!"
Hantara melempar selimut saking bingungnya. Ravendra bertamu ke rumahnya malam-malam? Mau apa lagi dia?
Mama menginterupsi lagi. "Tara! Keluar dong!"
Tidak! Hantara tak mau bertemu dengan Ravendra untuk sementara ini. Seusai berada dalam situasi memalukan, cewek itu merasa tak wajib untuk menyambut tamunya itu. Lebih baik dia membuat alasan saja.
"Perutku masih nyeri, Ma!" Serunya sambil mengembalikan selimut. Dia harus berlagak seperti tadi pagi saat benar-benar nyeri.
__ADS_1
"Lho? Masih nyeri?" Suara Mama menjauh. "Aneh ... biasanya tiap minum jamu itu, perutnya udah nggak nyeri lagi ...."
Hantara mengembuskan napas lega. Dia langsung membuka ponsel dan menggulir beranda Instagram. "Pasti cowok itu langsung balik, hihihi---"
"Tok! Tok! Tok!"
Hantara melirik pintu kamarnya sekilas. Mengendikkan bahu, mungkin itu Mama---hendak mengantarkan jamu pereda nyeri lagi. "Iya, Ma, masuk aja!"
Pintu terbuka perlahan. Bukan Mama yang menyapa pandangan, namun si menyebalkan Ravendra. Hantara membulatkan mata tak percaya. Dia harus kembali berpura-pura sakit.
Di ambang pintu, Ravendra memiringkan kepala. Tatapannya menyebalkan. Sangat menyebalkan, sampai membuat Hantara melempar salah satu bantalnya tak sengaja.
Ravendra menghindar dengan baik. Malahan, dia mengambil bantal tersebut dan mengembalikannya kepada sang pemilik. Cowok itu mendekat dengan dua tangan dimasukkan ke saku celana. Kalau Hantara boleh jujur, cowok yang berjalan ke arahnya ini lumayan keren. Iya, masih lumayan ya.
"Mau apa ke sini malam-malam?" tanya Hantara ketus.
Ravendra mendesah. "Ibu nyuruh saya buat kasih jamu buat orang yang datang bulan." Cowok itu melirik kursi belajar Hantara. "Boleh saya duduk di situ?"
Hantara mendengus pelan. Kalau sudah masuk kamar begini, dia tidak akan bisa kabur. Ikuti alur sajalah. "Boleh. Tapi jangan lama-lama!"
Mengangguk pasrah, Ravendra mendudukkan diri di kursi belajar. Selanjutnya, tak ada yang membuka suara. Canggung. Hantara tak menyukai suasana seperti ini. Apalagi ini pertama kalinya seorang cowok memasuki kamarnya.
"Eh, kok lo bisa main masuk kamar gue gitu aja?" tanya Hantara penasaran.
Hantara memejamkan mata sejenak. Dalam keheningan yang kembali menyerang, Ravendra mengalihkan pandang ke rak buku yang memenuhi salah satu sisi dinding kamar. Penuh dengan novel fantasi, detektif, dan romansa tentunya. Tanpa sadar, Ravendra mendecih.
Memang dasarnya sedang bad mood, mendengar decihan Ravendra berhasil menyulut emosi lagi. "Kenapa hah? Kamar gue lucu, iya?!"
"Nggak usah nge-gas, Tara. Cuma saya baru tahu, ternyata kamu itu suka baca ya," kata Ravendra masih memandangi rak buku Hantara.
"Hm," Hantara melunak.
"Kamu tahu nggak, Tara?" Ravendra memulai. "Setelah saya antar kamu pulang, Ibu tanya soal kencan kita tadi."
Hantara berjengit. Tubuhnya menghangat secara perlahan. Kencan. Jelas bukan merupakan sesuatu yang ingin didengar Hantara dalam mode garang seperti ini.
"Kita nggak kencan ya, Rav. Lo yang ajak gue beli baju dengan catatan disuruh sama Om Hendra." Peringat Hantara.
"Iya, saya juga tahu kok. Saya juga nggak menganggap yang tadi itu kencan. Malahan, saya kayak ngejaga anak kecil yang tiba-tiba emosi, tiba-tiba diam, tiba-tiba drama." Ravendra terkekeh. Cewek di hadapannya melotot. Tapi hal tersebut tak mempan untuk menakut-nakutinya.
__ADS_1
"Sayangnya ...." lanjut Ravendra. "Ayah, Ibu, Mama ... mereka menganggap kita lagi kencan. Tiap harinya, mereka mengira kalau kita makin dekat dan mulai ada perasaan nyaman antara satu sama lain."
"Kita nggak anggap kayak gitu lho," ucap Hantara.
"Makanya itu, sekarang gimana rencana yang pantas untuk menggagalkan perjodohan ini? Saya punya Gianna, dan kamu punya Jojo. Oh iya, apa Jojo udah kamu kasih tahu soal pertunangan lusa nanti?" tanya Ravendra.
Hantara menggeleng lesu. "Belum, dan nggak akan! Lebih baik gue nggak kasih tahu Kak Jojo daripada harus jelasin panjang lebar. Lagian, kita cuma sampai di tahap pertunangan kan? Kita nggak bakal sampai pernikahan."
Ravendra mengangguk setuju. Tujuan mereka sama. Maksimal sampai pertunangan, tapi tidak akan sampai di atas pelaminan.
"Jadi nggak masalah kalau gue nggak kasih tahu Kak Jojo. Karena kalau kita udah pisah nanti, kita bakal kembali ke kehidupan masing-masing. Lo bisa tuh, pikir secara matang lagi buat nikah sama Mbak Gianna. Dan gue? Ya doakan gue menyusul sama Kak Jojo." Hantara tersenyum di akhir kalimat. Angannya bermain. Ravendra mengulum senyum atas tingkah Hantara.
"Iya, kamu benar sih," Ravendra melirik jam dinding di kamar Hantara. "Tapi yang bikin saya agak sedih, ya perhatiannya Ibu ke kamu."
"Perhatiannya Tante Lusi ke gue emangnya kenapa, Rav?"
Ravendra beranjak. Sudah waktunya kembali. Yang penting, dia sudah melaksanakan tugas yang diberikan Ibu.
"Setelah saya cerita kalau kamu sakit perut karena halangan, dia langsung khawatir dan telepon temannya yang jualan minuman buat cewek halangan. Dia bingung banget deh, sampai rela naik motor panas-panas buat beli minuman itu."
Ravendra menatap layar ponselnya sekilas. Tertera nama Gianna yang baru saja mengirim pesan. Cowok itu tersenyum tipis, lalu meneruskan ceritanya.
"Ibu nggak pernah seperhatian itu sama Gianna. Saat Gianna pernah sakit perut karena hal yang sama, Ibu cuma menyarankan Gianna buat pulang. Sedangkan sama kamu ... Ibu mau melakukan apa pun supaya kamu bisa sehat total."
Hantara terdiam. Entah harus berterimakasih kepada Ibu Lusi atau sedikit menghibur Ravendra, dia bingung.
"Satu-satunya yang saya khawatirkan dari perjodohan ini, Ayah dan Ibu udah anggap kamu sebagai anak sendiri. Dan apa pun alasan kita nantinya, mereka nggak akan percaya." Kata cowok itu pelan.
"Sa-sama kayak Mama." Hantara turut berkata. "Mama juga anggap lo sebagai anak sendiri. Buktinya, dia mempercayakan keselamatan gue ke elo tiap mau pergi ke mana aja."
Ravendra melangkah pelan sampai memegang kenop pintu. Mereka masih terdiam. Tenggelam dalam badai pikiran.
"Saya cinta banget sama Gianna, Tara."
Tanpa perlu diutarakan, Hantara tahu itu. Meskipun Ravendra merupakan cowok paling menyebalkan yang dia kenal, kali ini tampangnya sedih sekali. Ditambah dengan lelah atas rintangan yang harus dihadapi.
"Tolong bantu saya untuk setidaknya memikirkan satu rencana kecil. Karena daripada saya menikahi kamu ... kamu yang nantinya akan tersiksa kan? Soalnya ... saya nggak cinta sama kamu."
Detik itu juga, petir menyambar hati Hantara tanpa ampun.
__ADS_1
...•••••...
^^^bersambung ....^^^