
...•••••...
"Apa?! Datang ke kondangannya sepupu lo?!"
Ravendra menjauhkan ponselnya dari telinga. Meski begitu, teriakan cewek di seberang telepon masih terdengar membahana. Setelah dirasa tak bersuara, Ravendra mendekatkan kembali ponselnya.
"Gimana?"
"Enggak, ah! Dalam rangka apa gue harus datang sama lo?"
Menghela napas, Ravendra melirik jam dinding kamarnya yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Kalau bukan karena utusan Yang Mulia Ratu Lusi, dia mana mau menelepon Hantara malam-malam dan memberitahu cewek itu tentang ajakan kondangan.
"Dalam rangka apa? Kita udah tunangan, Tara."
"Hidih! Mau muntah gue dengernya!"
Ravendra memijat pelipisnya. Malam-malam begini, Hantara mengundang emosi. "Oke, saya ralat, di mata mereka, kita udah tunangan. Dan sebagai perwakilan karena Ayah dan Ibu nggak bisa datang, akhirnya kita yang harus datang."
"Ck. Ya udah! Kapan kondangannya?"
"Besok, jam sepuluh."
"Hm, iya-iya!"
Sambungan telepon langsung dimatikan sepihak oleh Hantara. Ravendra menatap layar ponselnya tak percaya. "Kok ... malah kurang ajar?"
...•••••...
Seperti yang dikatakan Ravendra lewat panggilan telepon, Hantara sudah bersiap dengan dress selutut sederhana berwarna biru laut. Kemarin, pakaian barunya itu datang diantar oleh kurir. Dia ingin mencoba dress yang dipesan secara online itu. Dan ternyata, dia bisa memakainya hari ini---meskipun harus bersama Ravendra.
Hantara bersedekap saat mobil Ravendra berhenti di depan rumahnya. Cowok itu tampil rapi dengan setelan berwarna biru tua.
"Udah siap?" tanya Ravendra setelah melihat Hantara berada di depan rumah.
"Hm," Hantara mengangguk.
"Kalau gitu, saya mau pamit sama Mama dulu." Ravendra langsung memasuki rumahnya begitu saja. Hantara hanya memandang cowok itu tanpa suara. Dia tak bisa protes. Bagi Mama, Ravendra sudah dianggap seperti anggota keluarga baru yang sangat-sangat dipercaya.
"Iya, kalian hati-hati ya!"
Mama menyertai Ravendra keluar rumah. Hantara memutar bola mata jengah. Seharusnya tak perlu diantar juga. Ravendra bukan anak kecil.
Berpamitan, keduanya memasuki mobil dan memulai perjalanan. Hantara cemberut sepanjang jalan. Sebab, mendatangi acara kondangan seperti ini tak pernah dilakukan sebelumnya. Setiap Mama mengajaknya, dia akan beralasan tak enak badan, ada kelas, dan lain-lain.
Sekarang? Bukannya pergi bersama Mama, justru dia harus menghadiri kondangan sepupu Ravendra yang malam pertunangan lalu pernah bercakap dengannya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, mereka memilih untuk diam. Hantara ikut hanya untuk menggenapi ajakan Ravendra dan tak mau membuat malu keluarga Birusna. Dia dikenal sebagai tunangannya Ravendra. Tak patut apabila dia bertingkah seenaknya.
Menghabiskan waktu sekitar setengah jam, mereka tiba di Gedung Serbaguna yang tempat parkirnya sudah meluap ke jalan raya.
"Kamu turun dulu, Tar. Saya cari parkir agak jauh."
Hantara menurut. Daripada jalan jauh, mending dia turun dan menunggu di dekat meja penulisan tamu undangan.
Tiga menit kemudian, Ravendra terlihat dalam pandangan. Tunangannya itu melangkah sembari merapikan kembali setelan yang dikenakannya.
Dari tempatnya berdiri, Hantara bisa tahu kalau yang berjalan itu merupakan salah satu cowok yang termasuk dalam kategori cogan. Ya, dia tak mau menyangkalnya. Tunangannya itu termasuk seseorang yang akan dilirik lebih dari dua kali.
"Ayo, masuk!"
Hantara menunggu Ravendra yang masih menulis namanya di daftar buku tamu undangan terlebih dahulu. Kemudian, dia mengikuti cowok itu memasuki Gedung Serbaguna.
"Tunggu, Tar."
Hantara berhenti, menoleh kepada cowok itu yang melihat sekitar. Ravendra mendengus, kemudian memberi celah bagi Hantara untuk melingkari lengannya.
"Lah?" Hantara mau protes. Tapi tatapan penuh perintah dari Ravendra membuatnya pasrah.
"Kebanyakan tamu undangan di sini, pasti kenal saya, Tar." Kata cowok itu sambil melangkah pelan. Tak lupa tersenyum saat seseorang menyapa. "Dan kamu tahu sendiri gimana mulutnya sepupu saya itu. Ember bocor aja kalah."
Hantara mau tertawa, tapi ditahan dulu. Dia harus menyelesaikan misi kondangannya ini. Kalau dipikir-pikir, memang benar sih. Saat malam pertunangannya, sepupunya Ravendra yang bernama Santika itu banyak bicara. Hantara sampai kewalahan untuk menanggapinya.
Hantara gelagapan. Karena dia harus melingkarkan lengan Ravendra dengan lengannya, posisinya jadi dekat sekali. Hantara mengedar pandang. "Ya salaman dulu lah! Kalau prasmanan dulu, nanti yang ada riasanku bakal luntur dan nggak cantik lagi."
Tenang jantung! Tenang~ Jangan baper! Dia cuma natap gitu doang, elah!
Ravendra mengangguk. "Oke, kita salami dulu pengantin baru itu."
Ravendra menyejajarkan langkahnya dengan Hantara yang mengenakan heels. Memang tak terlalu tinggi, tapi Ravendra bukan cowok kurang ajar yang tega membuat cewek kesulitan. Dia mau Hantara melangkah sesantai mungkin.
Presensi tak terduga, Hantara sedikit terkejut kala mendapati Joshua berada di samping meja es campur. Cowok itu sedang bercakap dengan seseorang dan tampil rapi dengan kemeja abu muda serta celana kain.
Kemejanya! Itu kan yang dibeli sama gue kemaren!
Hantara mengulum bibir bawahnya. Kenyataan bahwa Joshua mengenakan kemeja tersebut membuat cewek itu terharu. Ternyata, Joshua benar-benar menyukainya sampai mau mengenakan kemeja rekomendasinya tempo hari.
Ravendra yang tadinya baru saja membalas sapa seseorang, juga menyadari kehadiran Joshua dalam resepsi pernikahan sepupunya itu. Dia melirik Hantara.
Dan benar saja, cewek itu menatap Joshua dengan roman yang begitu cerah. Berbeda saat bersamanya.
"Kenapa? Mau samperin pacarmu?" tanya Ravendra.
__ADS_1
Hantara menggeleng lemah. Senyumnya pudar. "Dia bukan pacarku, Rav."
"Gimana?"
"Kamu belum aku ceritain ya? Joshua tahu tentang pertunangan kita. Tapi aku juga udah ngasih tahu soal rencana berpisah yang nggak sampai menikah itu."
Hantara kembali memandang Joshua. Namun butuh beberapa detik bagi Hantara untuk menyadari perkataannya tadi.
Bentar! Tadi gue ngomong gimana ke Ravendra? Aku-kamu? Buset! Yang bener aja?!
Cewek itu mengerjap-ngerjap bingung. Dia tak bisa menarik ucapannya kembali. Tapi menyerukan Ravendra se-dekat itu, membuatnya kelimpungan sendiri.
"Gebetanmu ke sini, tuh!" Bisikan Ravendra berhasil menyadarkannya pada pijakan bumi.
Joshua tersenyum kepada Ravendra dan Hantara. Dia menghampiri keduanya dengan tatapan yang terpaku pada lengan Ravendra yang digelayuti oleh lengan Hantara.
Menyadari arah tatapan Joshua, Hantara hendak melepas rangkulannya pada lengan Ravendra. Akan tetapi, Ravendra malah menggenggam tangannya.
Hantara melotot. Ingin memberontak karena Joshua melihat gerak tersebut. Cewek itu berbisik, "Kamu kenapa malah genggam tanganku?"
"Tujuan kita di sini sebagai tunangan, Tar. Bukan sebagai pacar orang lain." Hantara melemas. Yang dikatakan Ravendra memang benar. Sekarang dia berada di lingkup keluarga Birusna. Pasti mereka mengetahui tentang dirinya dan Ravendra yang sudah bertunangan.
Ravendra mengembuskan napas. Entah mengapa, dia merasakan tangannya sedikit berkeringat. Sesaat tadi, dia melihat sinyal tak suka dari Joshua begitu menggenggam tangan Hantara.
Biarlah! Dia tak peduli. Di sini, posisinya lebih unggul. Bila Joshua tak terima, itu hanya akan menjadi sekadar guyonan.
"Sudah kuduga kalian bakal datang." Ucap Joshua tatkala tiba di hadapan keduanya.
"Ya jelas, Jo. Yang nikah itu sepupu gue." Kata Ravendra berusaha santai seperti biasanya.
"Dan jelas sekali lo bakal ajak Tara," Joshua melirik Hantara. "Karena dia ... tunangan lo, bener?"
"Kalau Tara udah ngomong sama lo, seharusnya lo udah tahu jawabannya."
Joshua mengangguk. Dia menoleh pada Hantara dengan senyum paling meneduhkan. "Tara, jangan lupa besok aku bantu kamu buat cari buku baru."
Hantara berdeham. "I-iya, Kak Jo."
"Oke." Joshua menatap keduanya secara bergantian. "Semoga beruntung atas akting kalian kali ini. Nggak bisa lihat nih! Ada kerjaan lain. Bye~"
"Bye, Kak Jojo." Balas Hantara dengan volume kecil.
Ravendra mendesah lega. Joshua sudah pergi. Seharusnya tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tetapi, benaknya mendadak dipenuhi oleh satu kenyataan baru yang menyebalkan.
Kenapa ... tadi dia sangat ingin menjauhkan Hantara dari Joshua ya?
__ADS_1
...•••••...
^^^bersambung ....^^^