Steal Your Heart

Steal Your Heart
Episode 32


__ADS_3

...•••••...


"Kak Jo ...."


Hantara menghela napas begitu mendengar suara Joshua. Dia tidak tahu harus menjelaskan kejadian hari ini dengan kalimat apa. Terlebih, menyadari jika Ravendra—si badut menyebalkan itu punya maksud lain. Bodohnya, Hantara nyaris terlena akan perhatian cowok itu.


Apalagi ....


"Sayang?"


Hantara menggeleng cepat, tanpa sadar memukul kepalanya pelan. Dia bergumam rendah, "Mungkin aku udah mulai gila kalau suka sama panggilan itu, dasar!"


"Kamu ngomong apaan, Tara?"


Suara Joshua di seberang telepon menginterupsi. Hantara kelimpungan. "Enggak apa-apa kok, Kak. Maaf, tadi aku kepikiran yang lain."


"Oh, emangnya lagi mikirin apaan sih? Tadi juga, kayaknya kamu mau ngomong tapi nggak jadi." Heran Joshua.


"Enggak mikirin apa—"


"Ravendra, kan?" tebak Joshua, tepat sasaran.


"Ha-hah? Kak Jo apaan, sih? Mana—"


"Aku denger dari seseorang, Ravendra mengakui pertunangan kalian hari ini." Ada kepahitan dalam ucapan Joshua. "Tara, apakah kita harus udahan?"


"Kak ...." Hantara tercekat. Kalau harus memilih, sebenarnya dia lebih Joshua untuk sekarang ini. Sebab, cowok itu berkali-kali mampu menghapuskan kekesalan yang diciptakan Ravendra.


Tapi dia tidak mau jadi pribadi yang egois. Kalau memang Ravendra menginginkan sesuatu darinya, dia harus bisa mengatasi hal tersebut sendiri. Jangan membawa siapa pun—bahkan Joshua.


"Kak ...." Joshua mendengar dengan saksama. "Aku nggak tahu Ravendra kesambet apaan. Yang jelas, aku tahu kalau dia punya maksud tertentu. Tapi yang aku nggak paham, kenapa dia malah bela-belain putus dari Gianna. Padahal kan, sebelumnya dia cinta mati banget sama Gianna. Dan sekarang ...."


Hantara menghela napas. "Apapun yang direncanakan Ravendra, untuk saat ini, aku mau menghadapinya sendiri dulu, Kak."


Hening.


Hantara menggigit bibir bawahnya. Karena tak mendengar suara Joshua, dia langsung melihat layar ponselnya—memastikan apakah cowok itu memutuskan sambungan panggilan atau tidak.


Tidak.


Joshua tidak memutuskan sambungan panggilan. Cowok itu sengaja tak mengucapkan sepatah kata apa pun.


"K-Kak Jo—"


"Ini masih di awal," kata Joshua sendu. "Tapi nggak tahunya sama dengan akhir."


Kalau ada penghargaan 'Cowok Paling Pengertian Se-Alam Semesta', Hantara akan memberikan perhargaan tersebut kepada Joshua. Sungguh, hatinya juga sakit.


"Oke, nggak apa-apa. Aku juga percaya kok, kalau jodoh, pasti bakal ketemu lagi setelah kamu pisah sama Ravendra." Sambung cowok itu menghibur diri.

__ADS_1


Hantara tak mampu membalasnya dengan kata-kata. Dia hanya bisa membayangkan wajah tampan Joshua saat berkata demikian.


"Kalau begitu, sampai ketemu saat udah berjodoh, Hantara. Selamat malam ya, mimpi indah, bye~"


Sambungan telepon terputus.


Hantara mengembuskan napas berat. Meski kenyamanan yang ada bersama Joshua sangatlah besar, dia tidak boleh mengekang kebebasan cowok itu. Kalau dipikir-pikir, akan sangat menyenangkan bisa berjalan ke pelaminan bersama Joshua.


Tapi ya harus sadar diri juga lah!


Dia sudah bertunangan dengan Ravendra. Cowok menyebalkan yang sekarang malah sok perhatian setelah menghilang selama lima hari.


Hantara menatap foto profil Joshua. Sekarang ini, dia harus mengenyahkan perasaan yang ada terhadap siapa pun dan fokus pada tujuan utama.


Ravendra.


Iya. Apa pun yang diincar cowok itu darinya, Hantara tidak akan tinggal diam. Dia akan mencari tahu mengapa tunangannya itu jadi pasrah akan takdir ini. Padahal, dulu-dulu dia yang paling bersikeras untuk berpisah sebelum hari pernikahan.


Melangkah keluar kamar, Hantara sadar kalau dia belum makan malam. Perutnya sudah berteriak minta diisi. Apalagi, tadi siang dia gagal memakan bakso jumbo.


"Ck. Emang ya, biang kerok dari segalanya itu si Ravendra."


...•••••...


"Kak Raven!"


"Ini nih!" Ajeng memperlihatkan layar ponselnya pada Ravendra. Terlihat jelas foto profil mantan pacarnya—Gianna.


Mengembuskan napas, Ravendra kembali menatap Ajeng. "Emangnya dia kenapa?"


"Dia telepon aku terus, Kak! Ini manusia satu kenapa sih?! Nggak terima banget ya udah Kak Raven putusin." Gerutu Ajeng. "Apa aku block aja nomornya ya, Kak?"


Ravendra tak meneruskan makan, tak juga menjawab pertanyaan Ajeng. Rautnya tak terbaca. Ajeng yang mengamati wajah sang kakak hanya mampu berpikir. Banyak sekali asumsi yang berkeliaran. Terlebih, keputusan sang kakak yang memilih untuk mengakhiri hubungan dengan Gianna.


Ajeng senang kok—kalau Ravendra mau serius dengan pertunangannya. Tapi, masalah ini Ravendra lho! Cowok yang cinta mati pada Gianna melebihi apa pun. Ada badai atau tsunami sekalipun, kelihatannya Ravendra tetap akan senantiasa mencintai Gianna.


Sekarang ...?


Ajeng juga mendengar kalau Ayah, Ibu dan Mama Nadya mengetahui kenyataan bahwa Ravendra masih berpacaran dengan Gianna beberapa hari yang lalu. Sampai tiga hari yang lalu, cowok itu bergegas pergi untuk menemui Gianna—yang pulang-pulang langsung memberitahu semua orang jika dia sudah memutuskan Gianna.


Katanya, mau fokus saja dengan pertunangannya ini. Tentu, keputusan Ravendra yang satu itu disambut ceria oleh satu keluarga. Namun sejak saat itu, Ravendra memang terlihat gelisah di beberapa kesempatan. Seperti saat ini.


"Kak Raven?" panggil Ajeng lagi.


"Ah," Ravendra tersadar dari lamunannya. "Terserah kamu aja."


Sesaat kemudian, Ravendra tahu-tahu sudah menghabiskan makan malamnya dan memasuki kamar. Ajeng tak ingin bertanya lebih. Cewek itu tahu, ada yang disembunyikan Ravendra.


Ayah dan Ibu yang baru saja selesai membahas perihal salah satu saudara yang sakit, mendatangi meja makan dengan pandangan bertanya-tanya.

__ADS_1


"Lho, Kakakmu udah selesai makan, Jeng?" tanya Ibu.


Ajeng mengangguk, "Nggak tahu tuh, dia kesambet apaan! Tumben banget kan? Biasanya juga makan banyak. Ini tadi aku lihat ngambilnya dikit banget nasinya."


"Mungkin lagi nggak selera makan si Raven," kata Ayah tak ambil pusing.


"Iya, mungkin tadi udah makan di luar." Ibu menimpali ringan. Tapi, Ajeng masih terus berpikir. Ajeng takut, Ravendra hanya melakukan pencitraan dan akan menyakiti Hantara suatu hari nanti. Sebab kentara sekali, Ravendra tak mencintai Hantara seperti halnya Gianna.


Dalam hati, Ajeng berharap kakaknya tidak akan menyakiti Hantara. Mbak Tara memang bukan saudara kandungku, tapi kalau Kak Raven macam-macam, rasanya aku ikutan sakit hati juga. Semoga Kak Raven memang serius sama perjodohan ini.


...•••••...


Pukul sepuluh malam, Ravendra tak kunjung memejamkan mata dan terbang ke alam mimpi. Sedari tadi, pikirannya berkecamuk. Tak tentu arah dan banyak sekali beban yang saling bersaut-sautan.


Setelah menyelesaikan pembukuan kafe bulan ini, Ravendra merebahkan tubuhnya. Kembali menghidupkan layar ponsel, Ravendra disambut oleh foto pasangan bahagia yang berlatarkan di salah satu tempat wisata di luar kota.


Iya.


Foto Ravendra dan Gianna.


Bohong kalau dia tidak mencintai cewek itu lagi. Perasaan itu masih ada, namun bisa dipastikan tidak sebesar dulu—dan dia tidak tahu kenapa beberapa keping perasaan itu bisa hilang.


Apa dia mulai memiliki perasaan kepada Hantara?


Ravendra terkekeh. "Nggak mungkinlah!"


Meski tadi siang dia menyebut Hantara dengan 'Sayang', hatinya pun mendesirkan sesuatu yang tak diharapkan. Kalau divisualisasikan, seperti ada kumbang yang melompat-lompat di atas jantungnya. Lompatan kecil yang menggelitik.


"Itu efek geli karena manggil begitu kali ya?" gumamnya. Ravendra mengeluarkan karbondioksida kuat-kuat. Kembali memutar kejadian hari ini.


Selama lima hari tak bertemu Hantara, memang ada yang aneh. Dia tak lagi mendengar sebutan 'Badut' yang biasa dilontarkan cewek itu, juga dengan kebiasaan mengaduk minuman secara berlebih.


Awalnya tenang-tenang saja walaupun orang tuanya sibuk menyusun kalimat macam apa yang harus dikatakan kepada Mama Nadya. Menginjak hari kedua pada sore harinya, Ravendra malah teringat Hantara yang bakal memelototinya pada beberapa waktu.


Tiga hari yang lalu, Ravendra memilih untuk memutuskan hubungan dengan Gianna dan serius dalam perjodohan ini. Perubahan yang sangat signifikan. Ravendra merasa langkahnya yang satu ini sudah benar.


Bukankah ini salah satu cara agar kedua orang tuanya bahagia?


Tidak masalah, selama dia bisa melihat keduanya mengumbar senyum bangga atas apa yang dilakukannya ini. Ravendra menyayangi keduanya melebihi apa pun.


Urusan Hantara ... dia akan mencoba.


Mencoba untuk menjadi pribadi yang mampu diandalkan—sebagai bentuk kasih sayang baru dalam semesta cewek itu.


"Ini langkah yang benar."


...•••••...


^^^bersambung ....^^^

__ADS_1


__ADS_2