Steal Your Heart

Steal Your Heart
Episode 28


__ADS_3

...•••••...


Puas dengan hasil pikiran semalam, Ravendra mengemudi dengan seberkas kelegaan. Seperti biasa, dia harus mengantar-jemput Hantara ke kampus. Sebelum-sebelumnya, Ravendra kerap menggerutu dan tak terima dengan ide ibunya ini. Sekarang tidak jadi masalah! Sebab dia telah mengetahui posisi seorang Hantara dalam hidupnya sebagai apa.


Adik.


Dengan tak tahu dirinya, Ravendra berpegang teguh pada prinsip yang satu itu.


Melewati taman perumahan yang biasanya sudah terdapat sosok tampan Joshua, kali ini tidak—justru dijejaki oleh dua anak kecil beserta asisten rumah tangga mereka.


"Tumben si Jojo belum nungguin," gumamnya setelah berbelok ke jalan yang tiap harinya sudah dihafal.


Memarkirkan mobil dengan rapi, tidak lupa Ravendra memastikan penampilannya tidak buruk-buruk amat. Bagaimanapun di mata Mama Nadya, dia calon menantu yang terbaik.


Ah ....


Cowok itu kembali ditampar oleh realitas yang terpampang nyata. Kalau sudah begini, dia mau mencari alasan macam apa lagi? Bukan hanya menyakiti hati kedua orang tuanya, juga hati Mama Nadya yang kelewat lembut dan baik hati itu.


Apa dia jujur saja? Dengan cara memberontak seperti anak kecil yang tidak punya sopan santun? Berat.


"Ngapain ke sini?!"


Ravendra tersentak. Nyaris melempar kunci mobil karena kemunculan tiba-tiba dari sebuah suara. Berjarak lima meter, Hantara bersedekap dengan tampilan kasualnya. Cewek itu sudah bersiap untuk pergi ke kampus.


Kembali menenangkan diri, Ravendra membuka pintu mobil di samping kemudi. "Silakan masuk~ Kamu sudah siap kan?"


Hantara tak menanggapi. Bukannya memasuki mobil seperti keinginan Ravendra, malah cewek itu melengos—melewatinya begitu saja.


"Lho? Tara? Mau ke mana?"


"Mau ke hutan!" Serunya sambil lalu.


"Hah?" Ravendra melongo. Maksud tunangannya ini apa ya? Dia sama sekali tak mengerti. Cewek itu tak menengok barang sedetik—malah berkutat dengan ponselnya.


"Lho, Nak Raven?" Mama datang dengan tas belanja penuh sayuran. Wanita itu bingung melihat posisi Hantara dan Ravendra yang cukup janggal. Ravendra masih memegang pintu mobil penumpang di samping kemudi dengan mulut terbuka, sedangkan Hantara berjarak tiga meter dan senyam-senyum sendiri.


"Tara?" Mama memanggil putri semata wayangnya itu dengan gurat keheranan.


"Iya, Ma?" Hantara tersenyum manis menanggapi panggilan dari Mama. Ravendra menatap tak percaya. Tadi berubah menjadi singa kelaparan, sekarang malah jadi kucing manis.


"Kok kamu berdiri di situ? Kenapa nggak berangkat ke kampus?" tanya Mama.


"Oh, berangkat kok, Ma. Tapi tunggu dulu, jemputanku belum datang." Balas cewek itu santai.


"Jemputan? Ini Ravendra udah datang, Tara. Memangnya kamu mau nunggu siapa lagi?" Mama masih bingung.


"Nunggu gebetanku, Ma. Bentar ya, nanti aku kenalin."


Hantara kembali menatap layar ponsel diiringi senandung bahagia. Ravendra masih menganga—efek terkejut karena kejujuran Hantara barusan. Mama? Beliau merasa jalan pikirannya melambat detik itu juga.


Beberapa sekon berlalu, deru motor yang familiar dalam pendengaran Mama berhenti tepat di depan Hantara. Ravendra tahu siapa itu, tapi tidak dengan Mama.

__ADS_1


Melepas helm, Joshua turun dari motor. Tak lupa menyuguhkan senyum terbaiknya pada Hantara dan ... Mama.


Eh?


"Pagi, Tante!"


Mama mengerjap bingung, "Pa-pagi ..." menyusuri penampilan Joshua dari atas sampai bawah, bisa dibilang Mama cukup terpesona juga dengan ketampanan Joshua yang punya daya tarik tersendiri. "Ka-kamu siapa ya? Ada perlu apa ke sini?"


"Oh, saya mau nganter Hantara ke kampus, Tante. Nama saya Joshua, salam kenal ya, Tante." Joshua mendekati Mama, bersalaman.


Sebagai wanita yang sebagian besar hidupnya diisi oleh kekaleman, Mama membiarkan tangannya bersalaman dengan Joshua. "Terus, kamu siapanya Tara?" Mama masih bingung.


"Lho, kan aku bilang tadi, Ma." Hantara berdiri di samping Joshua. "Dia gebetanku."


"Gebetan?" Mama mulai sadar. "Tara? Kamu sadar apa yang kamu lakukan, Sayang? Kamu ada gebetan sementara kamu udah tunangan?"


"Iya dong, Ma. Keren kan?" Hantara terkekeh. "Sama dong kayak calon menantunya Mama yang satu itu! Dia malah punya pacar lho! Kalah keren malahan!" Serunya bersungguh-sungguh. Sepasang mata cewek itu agak melotot—lebih tepatnya menantang.


Kini giliran Ravendra yang menjadi pusat perhatian. Ravendra makin menganga. Situasi macam apa ini? Kenapa namanya ikut terseret seperti ini?


"Ravendra?" Mama memanggil pelan. "Yang dibilang Tara itu benar? Kamu punya pacar?"


Ravendra gelagapan. Kalau menjawab tidak; sama artinya dengan tak menganggap Gianna. Jika iya; maka dia memang ingin mencari gara-gara.


"I-itu Ma-ma ... ma—"


"Udah ya, Ma. Aku berangkat dulu," Hantara menerima uluran helm dari Joshua. Mama menoleh, turut menyalami Joshua yang tetap sopan. Sesaat kemudian, Mama hanya bisa terdiam melihat kepergian putrinya bersama dengan Joshua.


Mama mendengus. "Ravendra?"


"I-iya?"


"Lebih baik kamu pulang," ujar Mama. "Mama mau tenangin diri dulu."


Mama melangkah melewati gerbang rumahnya. Ravendra yang sedari tadi masih memegang pintu mobil, kini berlari kecil untuk memastikan Mama tidak sedang dilanda emosi.


"Tapi, Ma," Ravendra berdiri tepat di belakang wanita itu. "Apa Mama nggak penasaran sama apa yang diomongin Hantara barusan?" meski ragu, tak ada salahnya bertanya.


Mama tak berbalik. Memandang pintu depan rumahnya dengan segudang kecamuk perasaan. "Kamu tahu apa yang membuat Mama menyuruh kamu buat pulang, Nak Raven?"


Ravendra diam. Dia enggan menjawab apapun yang sekiranya bisa memicu amarah. Sebab dari nada suara Mama, jelas wanita itu percaya dengan ucapan putrinya. Serta muncul kekecewaan yang membuat Ravendra lemas entah mengapa.


Mama berbalik—mencoba senyum ramah yang terlihat sangat dipaksakan. Mama baik hati dan tidak tegaan. Kalau begini, Ravendra merasa seperti seorang penjahat kelas kakap yang mendapatkan mangsa berupa ibu-ibu.


"Selama ini Hantara selalu nurut sama Mama. Tapi kalau dia sudah berbuat sesuatu yang berani seperti tadi tanpa ada percikan api, dia nggak bakal mau membuat asap yang lebih besar, Ravendra."


Tapi yang Ravendra tahu, hubungannya dengan Gianna sudah bukan di tahap 'percikan api'.


Merekalah 'api' itu.


Api yang membakar kalbu seseorang, entah dari sudut pandang mana.

__ADS_1


Tatapan Mama kian menyendu. "Kamu bisa pulang, Ravendra. Pesan Mama cuma satu, tolong bicarakan baik-baik sama Ayah dan Ibu kamu dulu, kalau memang kamu sangat mencintai pacarmu itu. Mama nggak akan bilang apa pun ke mereka. Tapi untuk urusan Hantara dan gebetannya, kamu boleh bilang kok. Terserah kamu aja bilangnya seperti apa, karena Mama tahu, kamu sudah dewasa."


Ajeng pernah memberitahu; marahnya orang yang kelewat baik hati itu, pasti bakal lebih menyeramkan ketimbang orang yang marahnya sudah diketahui dan dihafal. Sebab mereka selalu memendam sesuatunya sendiri, dan apa-apa dikonversikan menjadi kebaikan lain.


Terbukti, memang benar. Amarah yang diledakkan Mama Nadya hanya secuil dari ledakan alam semesta yang berkecimpung dalam benak wanita itu. Tetap lemah lembut, namun Ravendra turut merasakan kekecewaan yang teramat sangat.


Menghela napas, memang lebih baik Ravendra pulang saja. Sehingga Mama bisa menenangkan diri tanpa melontarkan amarahnya lagi.


"Baik, Ma. Ravendra pulang dulu." Ravendra menyalami Mama terlebih dahulu, lantas menuju mobil untuk memikirkan jalan keluar dari masalah baru yang diciptakan Hantara pagi-pagi ini.


"Ck!"


Ravendra memukul setirnya nyalang. Tidak mengerti sama sekali apa yang berada dalam isi kepala Hantara. Bagaimana bisa tunangannya itu berubah dalam semalam?


Tadinya, Hantara tak mau nekat seperti itu.


Tapi apa?


Kenapa sekarang cewek itu memperlihatkan 'asap' dalam pertunangan ini begitu saja?


...•••••...


Dalam perjalanan, Hantara menatap nanar pemandangan jalanan yang sangat ramai. Sejak meninggalkan Mama dan Ravendra yang terheran-heran di depan rumah, dia tak bersuara sedikit pun. Dadanya sesak. Langkah yang ditempuh pagi ini merupakan sebuah penentuan.


Penentuan atas perasaan yang hadir tanpa aba-aba.


"Tara?" tanya Joshua memastikan. Sedari tadi, cowok itu melirik spion untuk melihat Hantara baik-baik saja. Tetapi mendapati kemurungan dalam raut cewek itu membuat Joshua tersenyum getir.


"Iya, Kak?" sahutnya tersadar dari lamunan.


"Kamu ... beneran nggak apa-apa?" laju motor Joshua terhenti akibat rambu lalu lintas yang berpendar merah. Joshua sedikit mengarahkan kepalanya ke samping, agar mampu mendengar ucapan Hantara.


"Nggak apa-apa kok, Kak." Hantara tersenyum miris mendengar ucapannya sendiri. Teori nggak apa-apa dari mananya ya?


"Kamu beneran yakin sama langkah kamu ini? Bukannya, dari awal kamu mau diputuskan baik-baik biar Mama kamu nggak kecewa?" tanya Joshua lagi.


"Mau sekarang atau nanti, apa bedanya sih, Kak? Yang ada nanti Mama makin sayang sama Ravendra. Itu ... nggak baik."


Nggak baik untuk semua hati.


"Iya sih," Joshua menilik angka mundur yang masih tersisa. Cukup baginya untuk bertanya lagi kepada Hantara. "Tapi kenapa tiba-tiba? Bukannya kamu selalu memikirkan panjang kali lebar?"


Hantara mendengus. "Hati manusia kan gampang berubah, Kak."


Termasuk aku ....


Joshua hanya mampu mengangguk. Sisa perjalanan ke kampus hanya diisi keheningan dan ... keengganan hati Hantara.


Jika bukan didasari oleh telepon masuk dari Gianna semalam, dia juga tidak akan berbuat duluan seperti ini.


...•••••...

__ADS_1


^^^bersambung ....^^^


__ADS_2