Steal Your Heart

Steal Your Heart
Episode 22


__ADS_3

...•••••...


Seusai berkutat dengan catatan yang dipinjamkan Lia, Hantara tak bisa membaca novel dengan tenang. Pikirannya masih terpaku pada sosok yang telah menemaninya kala sakit. Seharian kemarin, dia hanya terbaring lemah di tempat tidur dan tak melakukan apa pun.


Namun, Ravendra siap siaga merawatnya. Mengambilkan beberapa barang yang diinginkan, serta tak lupa senantiasa mengecek suhu tubuhnya.


Saat terbaring, diam-diam dia menyadari bahwa apa yang dilakukan cowok itu kemarin sangatlah tulus. Tak ada paksaan karena gelar tunangan yang diemban, segalanya tampak murni dari hati.


Tadi pagi saja, yang biasanya menurunkan Hantara di taman kompleks A, Ravendra bersikeras untuk mengantar Hantara sampai kampus. Beruntung, Joshua tak tahu kalau Hantara sudah bisa kembali masuk kuliah. Dipikir Joshua, Hantara membutuhkan istirahat lebih.


Kini, Hantara menempatkan diri di perpustakaan kampus yang tidak ada ramai-ramainya. Jadi dia bisa selama mungkin berpikir mengenai apa saja yang berputar dalam pikiran.


"Ngelamunnya nggak kurang lama, Mbak?"


Hantara mengerjap pelan. Lia datang setelah mencari salah satu buku yang tadi tak kunjung ditemukan. "Udah ketemu bukunya, Li?"


Lia mengangguk. "Hm, tanya sama Mbak Melan tuh! Dia tahu tempatnya di mana."


Hantara kembali diam. Lebih tepatnya melamun. Dengan topik yang sama, yaitu Ravendra. Kenapa belakangan ini, dia jadi terharu atas kehadiran cowok itu ya?


Sebab saat berada dalam situasi yang kurang baik, Ravendra selalu ada. Terlepas dari status yang ada, perlakuan cowok itu benar-benar menghangatkan. Kalau begini, dia takut suatu saat nanti akan berpindah hati.


Iya. Dia takut jika dengan lancangnya akan menyukai Ravendra.


Padahal jelas sekali, Ravendra tak memiliki perasaan apa pun padanya. Ravendra hanya menganggapnya sebagai manusia dengan catatan khusus berupa 'tunangan' yang harus diperhatikan karena petuah orang tua.


Ravendra mencintai Gianna. Seluruh dunia tahu itu. Dan Hantara ... tentu saja dia menyukai Joshua, sebagaimana yang pernah diutarakan kepada cowok itu.


"Lagi ada masalah apa sih, Tar?" tanya Lia setengah berbisik.


"Hah? Oh, enggak kok, Li." Hantara berusaha membaca novelnya lagi, dan gagal.


"Gue udah temenan sama lo itu udah lama, Tar. Lo pikir gue nggak ngerti kalau lo lagi banyak pikiran? Kenapa sih? Cerita sini! Siapa tahu aja suasana hati lo nanti membaik."


Hantara juga berharap demikian. Dia berharap segala situasi rumit ini akan membaik. Atau malah, lebih baiknya lagi merupakan sebuah mimpi.


"Enggak, Li." Hantara menggeleng lemah. "Maaf banget, tapi untuk urusan yang satu ini benar-benar privasi dan gue harus menghadapinya sendiri."


Terlihat sorot kekecewaan dalam tatapan Lia. Hantara tahu, sahabatnya itu pasti ingin membantu meringankan sedikit beban dengan mendengar keluh kesahnya. Sayangnya, dia tak bisa berbagi masalah yang satu ini.


"Ya udah deh, semoga masalah lo cepat selesai, Tar. Jangan ngelamun terus ya? Mukanya juga jangan ditekuk gitu." Kata Lia bersungguh-sungguh. Melihat Hantara tak secerah biasanya membuat hati Lia sedikit sakit. Lia sangat menyayangi Hantara sebagai sahabat melebihi apa pun.


"Hm, diusahakan deh."


Lia tersenyum simpul. "Tapi, Tara. Lo nggak lagi mikir masalah cowok kan? Lo udah ada Kak Joshua gitu, jangan galau lagi ya?"

__ADS_1


"Co-cowok?"


Ini sengaja karena tahu atau cuma nebak? Kok bisa tepat sekali wahai sahabatku Lia?


"Iya!" Lia mengerutkan kening. "Ekspresi yang lo tunjukkin itu, ada isyarat kalau lo lagi mikirin seseorang. Karena tadi, gue sempat lihat lo senyum sendiri, habis itu senyumnya hilang jadi sedih banget. Itu kenapa sih? Lagi mikir apaan kok bisa sampai kayak gitu?"


"Ha? Masa sih?"


Kalau Hantara memang seperti yang dikatakan Lia, kacau sudahlah. Hantara ternyata tak pandai menyembunyikan emosi dan suasana hatinya.


"Ta-tapi, kalau cuma gitu aja sih, lo juga pernah, Lia! Gue pernah lihat lo ngelamun, terus malu-malu kucing sendiri gitu." Hantara mencari asalan. "Iya kan? Ngaku deh!"


Niatnya membalas demikian, Hantara akan mendapati Lia yang tertawa dan mengelak. Akan tetapi, senyum Hantara menguap begitu sahabatnya menampilkan reaksi yang berbeda.


Lia jadi malu-malu kucing. Cewek itu mengedar pandang, berharap tak ada orang lain yang mendengar percakapan detik ini.


"Li?" Hantara mau memastikan. "Lo lagi mikirin cowok, Li?"


Lia malah terkikik.


"Siapa, Li? Kok gue nggak tahu? Cerita dong! Siapa, sih? Sagara ya?" terka Hantara antusias.


Mendengar nama Sagara, raut Lia berubah datar. "Kok malah nyebut ubur-ubur yang satu itu sih, Tar?"


Lia menggeleng.


"Terus siapa? Apa gue kenal orangnya juga?"


Lia berpikir sejenak. "Kalau lo sih, kenal ya. Kalau di gue, cuma sekadar tahu dan bolak-balik ketemu."


"Ih! Siapa sih? Penasaran, Li! Kasih tahu dong!"


"Habis ini, kalau gue kasih tahu siapa orangnya, janji bantuin gue buat dapat nomornya ya?"


Hantara langsung mengangguk. Dia penasaran sekali dengan cowok yang sudah membuat Lia kepikiran terus. Kalau Sagara tahu, bisa-bisa cowok itu patah hati dan berkunjung ke rumahnya untuk meminta dibuatkan cheesecake oleh Mama setiap hari.


"Siapa sih, Li?!"


"Ravendra."


Detik itu, Hantara merasa semestanya berputar tanpa komando. Lidahnya kelu. Tubuhnya melemas entah karena apa. Antusiasmenya melebur tanpa diminta.


Dari sekian cowok yang ada ... Ravendra?


Lia naksir Ravendra?

__ADS_1


Sementara pikirannya masih jungkir balik, Lia malah menutupi wajah dengan kedua tangan. Malu. Sahabatnya itu malu, sedang dia kelu.


"Ravendra, Li?" tanyanya sekali lagi. Memastikan barangkali tadi salah dengar.


Tapi anggukan semangat Lia membuktikan bahwa sahabatnya itu memang menyukai Ravendra. Tunangannya.


"Tapi kan, dia udah punya pacar, Li. Mbak Gianna." Katanya agak lemas.


"Kan cuma pacaran, Tara. Belum tentu lho, mereka sampai pelaminan. Bisa aja, yang duduk di pelaminan sama Kak Raven itu aku, bukan Mbak Gianna." Ucap Lia penuh percaya diri.


"Tapi, kemarin-kemarin tuh, Sagara pernah di-chat sama Mbak Gianna, kalau Ravendra bakal tunangan. Kenapa lo masih---"


"Astaga, Hantara! Gue nggak yakin deh, kalau Kak Raven beneran tunangan. Nggak ada berita apa pun tuh! Mbak Gianna juga nggak kasih kabar apa-apa ke Sagara." Lia tersenyum senang. "Berarti kan, memang nggak ada apa-apa. Kak Raven nggak tunangan sama Mbak Gianna atau sama siapa pun."


"Kalau misalnya nih, Ravendra memang udah tunangan tapi sengaja secara tertutup nih, lo mau gimana?"


Lia memicingkan mata. "Lo kok kasih pertanyaan macam itu sih, Tar. Lo nggak suka ya, gue naksir Kak Raven ...."


"Eh ... nggak gitu, Li." Hantara kelimpungan. Dia tak mau membuat sahabatnya sakit hati. "Lo tahu sendiri gue juga lagi banyak pikiran, Li. Jadi ... ya nggak tahu kenapa, gue ikut mikir soal lo yang naksir Ravendra, tapi cowok itu udah punya pacar. Gue nggak mau lo sengaja buat diri sendiri sakit hati karena cowok itu, Li."


Lia terpaku. Cewek itu mengembuskan napas panjang. Kata-kata Hantara tadi sebenarnya ada benarnya juga. "Tapi, Tar. Gue telanjur suka banget sama Kak Raven."


Keduanya diam. Pembahasan yang seketika muncul ini berhasil membawa sepasang sahabat tersebut berada dalam dilema masing-masing.


Lebih daripada itu, Hantara tak tahu mengapa dia sengaja mengatakan soal kemungkin jika Ravendra sudah bertunangan secara diam-diam tadi. Itu refleks. Seakan-akan dia harus mengatakannya jika tak mau menyesal.


"Tapi nggak apa-apa kok, Tara." Lia kembali tersenyum. "Yang penting, minimal dia harus tahu siapa gue."


"Ha?" Hantara tak paham.


"Tadi lo udah janji buat kasih nomor cowok yang gue suka. Lupa ya?"


Hantara menganga. Tak bisa berkata-kata. Sudah tersudut karena tadi memang langsung mengangguk. "En-enggak kok, Li. Nggak lupa. He he he~"


"Kalau gitu, minta tolong cariin nomornya Kak Raven ya, Tar?" Lia mengatupkan kedua tangan sambil tersenyum manis. Senyum yang selalu mempan pada diri Hantara.


Hantara memejamkan mata. Selepas sakit, harinya ini luar biasa sekali.


"Hm, iya."


Mampus, Tara! Hidupmu indah sekali, Nak! Jadi terharu, huhuhu~


...•••••...


^^^bersambung ....^^^

__ADS_1


__ADS_2