
...•••••...
Pentas yang diadakan perumahan tempat tinggal Ravendra berakhir pukul empat sore. Setelahnya, Ravendra langsung bergegas mengantar Hantara pulang. Tak ada konversasi yang terjalin di dalam mobil. Hantara juga malas mau membicarakan apa. Terserah cowok itu mau membuka suara atau tidak.
Selepas menurunkan Hantara di depan rumah, cowok itu langsung berlalu begitu saja. Hantara harus menahan diri. Dia tak mau pikirannya kacau lagi. Harus tenang ... harus sabar ....
Sebab, dalam hitungan jam, dia akan bertunangan dengan Ravendra Birusna.
Hantara tak langsung memasuki kamarnya. Melainkan membantu Mama yang menata ini itu karena Budhe dan Pakdhe-nya akan datang untuk acara malam ini. Sebentar lagi, kerabat dekatnya akan datang untuk beristirahat sejenak.
Dia tak mengerti, mengapa Mama harus mengundang kerabatnya yang lain hanya untuk acara pertunangan. Bukankah lebih baik mengundang mereka semua saat pernikahan?
Ups!
Hantara membekap mulutnya sendiri. Apa dia baru saja berharap akan tiba pada titik itu? Pernikahan? Bersama Ravendra?
Wah! Udah gila nih gara-gara seharian main petak umpet sama Lia dan Sagara.
Beberapa saat kemudian, Pakdhe dan Budhe datang. Mereka bercakap-cakap sambil merekomendasikan berbagai hal yang akan berguna saat resepsi pernikahan.
"Tara!" Mama memanggil dari ruang tamu. Hantara berada di dapur, baru saja mengisi ulang toples camilan yang habis.
"Iya, Ma? Ada apa?"
"Habis ini kamu dandan aja ya, siap-siap!"
Hantara melemas. Menatap jam dinding, kurang dari setengah jam lagi dia akan bertunangan. Energinya benar-benar terkuras habis. Kenyataan menyerap semua daya yang tersisa setelah seharian menguatkan diri. Tak mengatakan apa pun, dia menuju kamar.
Pemandangan pertama yang menyapa kedua mata saat memasuki kamar ialah dress putih yang tergantung rapi sama seperti tadi pagi. Dress itu cantik sekali. Berlengan sayap dan terdapat lapisan brokat di seluruh bagiannya.
Cantik sekali. Dress yang sangat cantik seharusnya digunakan oleh orang cantik pula. Ya, dia memang tak merasa dirinya jelek. Dia punya keyakinan dia lumayan cantik. Namun secantik apa pun dia, berbeda lagi kalau Gianna yang memakai dress cantik di hadapannya ini.
Seharusnya, Gianna yang bertunangan dengan Ravendra. Bukan dirinya. Dibanding Gianna, dia tak ada apa-apanya. Dia cuma beruntung, Mama mengenal Tante Lusi dan Om Hendra. Sudah, itu saja.
Hari itu, saat dia akan menanyakan sesuatu pada Mama, Mamanya masih sibuk bercengkrama dengan seseorang lewat telepon. Dia pun masih memendam pertanyaannya sampai saat ini. Entah kapan dia akan melontarkan pertanyaan tersebut. Padahal, dia penasaran setengah mati dengan jawaban Mama.
Tapi mau bagaimana lagi? Dia harus melewati ini. Dia harus bertunangan dengan Ravendra. Perihal rencana perpisahan, mungkin beberapa hari lagi otaknya akan berjalan lancar. Iya, semoga saja seperti itu.
...•••••...
Ravendra mengambil sapu tangannya. Sedari tadi, tangannya berkeringat entah karena apa. Hari-hari biasa, tangannya tak pernah berkeringat seperti ini. Perasaan sehat-sehat aja deh, kok jadi keringetan terus?
Pada meja utama yang sudah ditata rapi, Ajeng heboh sendiri saat bertemu dengan sepupunya yang juga datang. Ravendra duduk diam di tempatnya. Sesekali memeriksa ponsel.
Tadi pagi, sebelum turun ke garasi, dia kembali mengingatkan Gianna bahwa malam ini merupakan malam pertunangannya dengan Hantara. Respons pacarnya hanyalah, "Oh, oke, semoga lancar."
Ravendra tak mengharap Gianna akan berkata demikian. Dia ingin, setidaknya Gianna mengungkapkan kekecewaannya karena tak mampu membatalkan perjodohan sedini mungkin. Memang, dia telah berjanji pada Gianna bahwa dia tidak akan sampai pada tahap pernikahan dengan Hantara. Namun mengapa Gianna seakan-akan tak menunjukkan bahwa cewek itu keberatan?
"Oh, itu sudah datang."
Mendengar ucapan Ibu Lusi, sontak yang berada di dalam rumah makan tersebut mengalihkan pandang ke arah pintu masuk. Keluarga besar Birusna menyambut keluarga pihak perempuan dengan senyum merekah. Beruntung, dalam keluarga besar Birusna tak ada yang suka mengata-ngatai orang.
Poin penting atas kedatangan keluarga pihak perempuan terdapat pada calon tunangannya Ravendra.
Hantara.
Dia terlihat begitu cantik dengan dress yang dibeli bersama Ravendra. Ibu Lusi dan kerabatnya mengatakan kalau Hantara seperti tokoh utama dalam salah satu dongeng Disney. Dengan rambut disanggul modern dibubuhi jepitan bunga perak yang manis, menambah kecantikan alami cewek itu. Sentuhan akhir, Hantara mengenakan heels lima sentimeter berwarna perak yang cantik dan sederhana.
Mereka semua terpana, termasuk Ravendra.
__ADS_1
Sadar betul Hantara mendekat bersama Mama Nadya, Ravendra mengerjap cepat. Sadar, Rav! Sadar! Dia memang cantik, tapi masih lebih cantik Gianna.
Ravendra menyalami Mama Nadya dan kerabatnya. Selepas itu, mereka akan memulai pertunangannya. Ravendra kembali duduk. Di samping kirinya, Ayah mendekat. "Gimana? Calonmu cantik kan?"
"Hm."
Namanya aja cewek, Yah. Ya cantiklah!
Di sisi seberang meja, Hantara menundukkan pandangan. Dia malu setelah menjadi pusat perhatian. Huhuhu pasti tadi ngelihatinnya karena gue kelihatan jelek dan nggak pantes pakai baju ini. Mau pulang ajalah ....
Ponselnya bergetar. Terdapat satu chat masuk.
Joshua
Ini aku udah sampai kota, Tar.
Ayah ngajak cari makan di luar.
Nanti kita teleponan lagi ya?
Hantara menggigit bibir bawahnya. Persetan dengan lipstik merah jambu yang dipoles di bibirnya itu. Dia tidak peduli mau lipstiknya hilang atau tidak.
Alangkah bagusnya kalau kamu bisa menyelamatkan aku dari situasi ini, Kak Jo ....
"Oke, mari kita mulai acaranya."
Dengan salah satu adik Ayah Hendra sebagai pemandu acara, mereka memulai dengan maksud dan tujuan dari diadakannya acara malam ini.
Sepanjang acara dimulai, Hantara tak mau mendengar apa pun. Justru otaknya bekerja untuk mencari rencana perpisahan yang bagus. Dia hanya mengangguk dan menggeleng saat ditanya. Tak bereaksi lebih, sehingga tingkahnya tak luput dari pandangan Ravendra.
Tiba pada momen yang dinanti semua orang, kecuali Ravendra dan Hantara.
Ravendra dan Hantara dipersilakan untuk berdiri di hadapan semua orang. Ajeng berdiri di antara keduanya sambil membawa kotak beludru yang berisikan cincin pertunangan.
Ravendra mengambil cincin tersebut, lalu disematkan pada jari manis tangan kiri Hantara secara perlahan. Saat cincin tersebut benar-benar pas, Hantara terkesiap.
Cincinnya cantik banget ....
Keduanya kembali ke kursi masing-masing, dan semua orang menikmati hidangan yang disajikan oleh rumah makan tersebut.
Hantara menatap hidangan mahal di depannya tanpa selera. Melihat cincin yang ada pada jari manisnya sudah membuat mulas. Dia tidak akan menyangka ... malam ini benar-benar terjadi.
Begitu juga dengan Ravendra yang tidak bisa memikirkan apa pun. Malam ini dia sudah bertunangan dengan seseorang. Yang mana orang itu bukanlah Gianna.
Sementara itu, seseorang memasuki rumah makan tersebut dengan ketukan heels yang terdengar. Langkahnya mantap dan pasti. Mengenakan dress selutut bermotif bunga daisy dan membiarkan rambutnya tergerai indah.
"Wah! Selamat ya!"
Seruan cewek itu berhasil mengalihkan pandang satu meja utama. Ravendra membulatkan mata mengetahui siapa yang datang. Sama halnya dengan Hantara, pikirannya mulai kacau.
Gianna. Dia datang dengan percaya diri ke acara pertunangan Ravendra dan Hantara.
Di dekat Ravendra, Ajeng berdiri dengan tampang tak suka. "Ngapain Mbak Gianna ke sini?"
Ravendra ingin mengomeli adiknya karena bertanya seperti itu, namun urung---karena dia sendiri sama penasaran seperti Ajeng.
"Oh, aku mau ngucapin selamat dong," Gianna mendekati keluarga Birusna. "Om, Tante, selamat ya, acaranya lancar kan?"
Gianna tersenyum manis. Ayah dan Ibu tak sampai hati untuk mengacuhkan Gianna. Bagiamana pun, cewek itu pernah disambut hangat oleh Ayah dan Ibu.
__ADS_1
Ibu Lusi memeluk Gianna sekilas. "Iya, syukur banget, sekarang Ravendra udah tunangan sama Hantara."
Gianna menyalami Ayah Hendra, "Om, maaf ya, aku nggak bisa jadi menantu kalian, hihihi~" Terlihat sekali, Ayah dan Ibu sedikit tak nyaman.
"Tapi nggak apa-apa kok, aku bahagia kalau Ravendra juga bahagia." Gianna melirik Ravendra.
Ravendra memejamkan mata sejenak. Dia tak mengharap kedatangan Gianna malam ini. Entah mengapa, dia tak ingin Gianna bertemu dengan Hantara secara langsung. Hatinya tak mengizinkan hal tersebut terjadi.
Lihat saja sekarang! Hantara berulang kali menelan salivanya karena gugup. Ravendra bisa melihat, Hantara sangat ingin lari dari situasi ini sekarang.
Setelah berbincang sebentar dengan Ayah dan Ibu, Gianna menghampiri Ravendra---yang tahu-tahu sudah ada Ajeng di belakangnya.
"Tunangannya lancar kan, Rav?" tanya Gianna ramah.
Ravendra bergeming. Dia melirik Hantara yang menatap Gianna dengan tatapan yang tak dapat diartikan. "Hm, dia udah pakai cincinnya."
Gianna menoleh kepada Hantara. Hantara tersentak, tapi dengan cepat menguasai diri agar tidak terlihat lemah. Dia kuat. Dia selalu kuat dan tegar di segala situasi.
"Kalau begitu," Gianna mendekat. Dia berbisik, "Jangan lupa sama janji kamu, Rav. Aku cinta kamu."
Ravendra menatap lurus ke mata indah Gianna. Aku juga cinta kamu, Gi.
Ajeng menatap keduanya secara bergantian. Dia tidak tahu apa yang baru saja dibisikkan Gianna kepada Ravendra. Ck. Mereka ngomong apaan tadi?!
"Kalau gitu, aku pulang dulu ya," Gianna berpamitan pada semua orang di meja utama. Kemudian, cewek itu pulang dengan anggunnya.
Ravendra kembali menatap Hantara. Cewek itu lebih baik daripada tadi. Hantara memandang kepergian Gianna, lalu melihat cincin pertunangannya.
Ravendra mendengus lelah. Tak tahu kenapa, dia jadi kasihan pada Hantara.
...•••••...
Beberapa menit kemudian, di luar rumah makan yang menjadi tempat pertunangan Ravendra dan Hantara, Joshua datang dengan Ayahnya untuk makan malam di sana. Begitu tiba di depan pintu masuk, mereka berhadapan dengan salah satu pramusaji yang berjaga.
"Mohon maaf, Pak. Malam ini, rumah makannya sudah direservasi penuh."
"Oh, ada acara ya, Mas?" tanya Ayah Yudhi pada pramusaji tersebut.
"Iya, Pak. Ada acara pertunangan di sini." Pramusaji tersebut menyatukan tangannya. "Sekali lagi mohon maaf ya, Pak, atas ketidaknyamanannya."
"Ah iya, nggak apa-apa, Mas."
Ayah Yudhi menatap Joshua yang melihat-lihat sekitar. "Jo, kita cari makan di tempat lain ya?"
Joshua mengangguk. Dia tak memikirkan apa pun tentang rumah makan yang direservasi penuh dan sebagainya. Dia hanya merasa lapar dan lelah akibat perjalanan panjang dari luar kota.
Mengambil ponsel, Joshua ingin mengirim chat kepada Hantara. Senyum tercetak secara otomatis pada wajah tampannya.
^^^Joshua^^^
^^^Tara,^^^
^^^Kayaknya aku telepon kamu agak maleman deh,^^^
^^^Soalnya rumah makan kesukaan Ayah lagi direservasi penuh sama orang.^^^
^^^Nggak apa-apa kan, teleponnya agak malem lagi?^^^
...•••••...
__ADS_1
^^^bersambung ....^^^