Steal Your Heart

Steal Your Heart
Episode 34


__ADS_3

...•••••...


Hantara terkesiap. Refleks menahan napas meski sebentar. Sagara dan Lia malah merasa, seharusnya mereka tidak ada di sini sekarang. Lebih baik mereka pulang atau jalan-jalan sendiri.


"Gimana? Mau?" Ravendra sedikit memiringkan kepala. Hantara menggigit bibir bawahnya. Jarak antara dirinya dengan Ravendra kian terkikis. Hantara pun menyadari kalau cowok itu tampan sekali.


"Nggak usah bercanda ya," Hantara mendorong pelan bahu cowok itu agar menjauh. Dia berpura-pura tak peduli. Padahal, dia kepayahan mengatur irama jantungnya yang sedang berpesta.


"Lho, kamu nggak percaya, Tara?" Ravendra melirik jam dinding. "Ck! Sayang banget aku harus pergi sama Ajeng."


Ravendra lekas berdiri, mengambil jaket yang tersampir pada salah satu sofa. "Tara, aku pulang dulu ya? Nanti malem ke sini lagi."


"Heh? Ngapain?"


"Ngapain? Ya mau ngajak kamu jalan lah!" Balas Ravendra santai. Hantara mencebikkan bibir. Rupanya cowok itu bersikeras sekali untuk menjadi tunangan yang perhatian.


Selesai mengenakan jaket, Ravendra kembali menatap Hantara. "Aku pulang ya?"


"Lah? Udah sana pulang!" Kesal Hantara. Kenapa Ravendra harus bertingkah sok manis begini sih? Hantara kan jadi ... salah tingkah. Lia dan Sagara malah menahan tawa sedari tadi.


"Nggak boleh gitu dong, Tara." Mama menyahut dari taman belakang. Wanita itu menghampiri Ravendra, kemudian bersalaman. "Dia kan mau pamit, kali aja kamu mau ditemani terus Ravendra."


Hantara melotot. "Mama! Apaan sih?! Mama nggak ingat kalau dia pernah—eh ...." Cewek itu langsung membungkam mulutnya sendiri. Di sini masih ada Lia dan Sagara. Dia tak mau dua sahabatnya tahu bahwa ada masalah lain dalam pertunangan ini.


Seolah mengerti dengan kelanjutan ucapan tersebut, Mama dan Ravendra terdiam sejenak. Tapi tak berlangsung lama, sebab Ravendra kembali mengulas senyum dan berpamitan lagi. Sejurus kemudian, Ravendra Birusna menghilang dari pandangan.


Hantara menghela napas lega. Kalau terus-terusan seperti ini, nanti pertahanan hatinya bisa roboh. Meski sempat menyadari dirinya memiliki ketertarikan tersendiri terhadap cowok itu, Hantara tak mau berharap lebih.


Masalahnya kalau Ravendra gencar mendekati dengan dalih sebagai tunangannya dan bertingkah manis—ya sebagai cewek normal bisa saja terbawa perasaan.


"Tar? Bang Raven kayaknya serius banget ya?" tanya Sagara ada-ada saja.


Hantara mengendikkan bahu. "Nggak tahulah! Pusing gue mikirin si badut."


"Kok ganteng-ganteng dikatain badut sih, Tar?" tukas Lia tak terima.


"Ya lo nggak tahu aja pas—" Hantara memejamkan mata. Kalau diteruskan, bisa gawat! "Nggak apa-apa, itu cuma panggilan kok!"


"Oh, panggilan sayang?" goda Sagara sembari menaik-turunkan alis kirinya.


"Hilih! Panggilan sayang apaan!"


Tetapi kalau dipikir-pikir, hanya Ravendra yang memiliki panggilan lain dari hidupnya. Hantara mendengus kasar. Dia ini kenapa sih? Seharusnya kan dia membentengi diri tinggi-tinggi. Tapi tiap berdekatan dengan cowok itu, secuil perasaan yang masih menetap itu akan menunjukkan eksistensinya berupa debaran tak tahu malu.


Nggak boleh oleng, Tara! Ingat! Ravendra punya maksud atas pertunangan ini.


Beberapa menit selanjutnya, Mama duduk di salah satu sofa untuk melihat permainan monopoli tiga sahabat itu. Tak sengaja, matanya menangkap sesuatu yang tergeletak di sofa sebelahnya.


"Lho, ini punyanya Ravendra bukan?" tanya Mama sembari mengangkat dompet kulit berwarna cokelat.


Tiga sahabat itu menoleh. Sagara menyadari terlebih dahulu, "Lho, iya bener, Tante! Itu punyanya Bang Raven."

__ADS_1


"Kalau gitu coba kamu telepon orangnya dulu, Tara. Kalau dia ada acara, kasihan dong dompetnya ketinggalan."


Mau tak mau, Hantara menuruti perintah Mama. Dia mencoba untuk menghubungi Ravendra, tapi cowok itu sedang berada pada panggilan lain. "Lagi teleponan sama orang, Ma."


"Gue anterin ke rumahnya deh, katanya kan dia mau pergi sama Ajeng. Kali aja mampir ke rumahnya dulu kan, buat jemput si Ajeng." Sagara beranjak, mencari kunci mobilnya.


"Yaudah deh ya," Sebenarnya Hantara malas. Tapi entah mengapa, hatinya terdorong untuk berkunjung ke kediaman Birusna.


"Sekalian deh, Tar," Mama pergi ke belakang sebentar. Mengambil sesuatu yang tersimpan di bufet di samping pintu belakang. "Tadi besannya Mama minta biji tanaman yang Mama punya. Ini sekalian kasihkan ya,"


Hantara menganga. "Mama kayaknya seneng banget punya besan."


"Ya senenglah, Sayang. Udah, sana kasihkan dulu! Hati-hati ya, Sagara! Jangan ngebut lho!"


"Siap, Tante!"


...•••••...


Ravendra tak henti-henti merutuki perbuatannya tadi. Kenapa juga dia harus mengajak Hantara melihat rumah masa depan di hadapan Lia dan Sagara? Seingatnya, dia tidak pernah bermesraan secara terang-terangan di depan orang lain. Bahkan saat bersama Gianna, dia akan menanggapi seadanya bila ada orang lain.


Tadi? Dia malah mendekati Hantara, memegangi tangannya, menatapnya lamat. Ravendra mendengus kasar. Dia kenapa sih?


Teringat dengan pesan Ajeng untuk membelikan mi pedas, cowok itu berbelok menuju tempat yang dituju. Baru saja memarkirkan mobil, ponselnya bergetar panjang.


Ada telepon masuk dari Ajeng.


"Halo?"


"Enggak, ini aku baru mau beliin mi pedas pesananmu, Jeng. Kenapa emangnya? Ngomongnya kok kayak lagi sembunyi gitu."


"Mi pedasnya ditunda dulu, Kak. Pulang dulu sini!"


"Emangnya kenapa sih? Ada apa?" Ravendra urung membuka pintu mobil.


"Ada Gianna!"


"Hah? Gianna? Ngapain dia ke sana?"


"Nggak tahu! Malah sok cantik lagi, bawa buah-buahan, caper sama Ibu! Padahal Ibu mau balik kerja, eh malah diganggu."


Perkataan Ajeng membuatnya langsung menghidupkan mesin mobil dan bersiap pulang ke rumah. "Oke, kamu tunggu ya, Kakakmu yang ganteng ini mau pulang."


"Cuih!"


Selama berkendara, Ravendra tak lagi melihat ponselnya. Cowok itu tak tahu kalau ada panggilan tak terjawab dari Hantara.


...•••••...


Setiba di rumah, Ravendra melihat sopir yang mengantar Gianna menunggu di depan mobil sambil merokok. Sopir tersebut mengangguk kecil saat bertemu tatap dengan Ravendra. Dari luar, Ravendra bisa melihat sosok Gianna yang duduk sendiri sedang bermain ponsel.


Ravendra memasuki rumah, dia memandang Gianna dengan sebuah keheranan. "Kamu ngapain ke sini?" tanyanya langsung.

__ADS_1


Gianna mendongak, "Oh, Rav!"


"Di mana Ibu?" Ravendra mengedar pandang. Ajeng datang setelah bernapas lega.


"Ibu ada arisan, Kak. Barusan berangkat. Gimana tadi? Ngapain aja sama Mbak Tara?" tanya Ajeng memancing.


Gianna yang mendengarnya pun mengerutkan kening, lantas menatap Ravendra. "Kamu habis dari mana, Rav?"


Ravendra mendengus kesal. "Bukan urusanmu, Gi. Sekarang, kalau udah nggak ada keperluan lain, kamu bisa pulang!"


"Kok kamu ngusir aku sih, Rav? Aku ini pa—"


"Kamu mantan pacar aku, Gi. Kamu tahu sendiri aku punya tunangan." Sela Ravendra.


"Rav," Gianna berkata dengan nada membujuk. "Kamu kalau keberatan sama pertunangan ini, kenapa nggak jujur aja sama orang tua kamu? Kenapa kamu mau kebahagiaan kamu dikekang gitu aja?"


"Gi, urusan kebahagiaanku, itu bukan urusan kamu. Siapa yang bilang aku keberatan sama pertunangan ini? Kamu menyimpulkan sendiri." Ravendra hendak melewati mantan pacarnya.


Kagetnya, Gianna menarik Ravendra dan mengecup pipi kiri cowok itu tanpa aba-aba.


Ravendra mematung. Begitu juga Ajeng yang sangat ingin melempar Gianna dengan heels miliknya.


"Rav?"


Ravendra makin pucat. Mendengar suara itu, dia berbalik pelan dan terkejut melihat Hantara berdiri di depan pintu rumah sambil mencengkeram dompetnya. Di belakang Hantara, terdapat Sagara dan Lia yang sama terkejutnya.


Ajeng membeku dengan mulut terbuka lebar. Sedangkan Gianna, cewek itu tersenyum sinis ke arah Hantara.


"Tara ...."


Ravendra hendak menghampiri Hantara, namun tunangannya itu berlalu begitu saja. Saat ingin mengejar, dia diadang oleh Sagara. "Minggir!"


"Selesaikan urusan lo sama cewek itu dulu, Bang!" Sagara mendorong bahu Ravendra. Tak peduli siapa Ravendra, sebagai sahabat, Sagara tak terima Ravendra berbuat semena-mena.


Sagara berbalik menuju mobilnya. Sebelum Lia menyusul, cewek itu menyuguhkan tatapan tajamnya. "Tadinya gue salut sama lo, Kak—bahkan gue naksir. Tapi kayaknya gue udah salah menilai orang."


Mobil Sagara pun pergi. Dari tempatnya berpijak, Ravendra menoleh pada Gianna. Mantan pacarnya itu tersenyum manis seakan-akan tak melakukan kesalahan apa pun.


"Lo udah gila, Gi!" Kata Ravendra berlalu begitu saja.


Senyum Gianna pudar. Kecewa dengan cara bicara Ravendra terhadapnya. "Lo? Kamu kok gitu sih, Rav?!"


Ravendra tak mengindahkan. Cowok itu meraup kasar wajahnya. Tak tahu mengapa, melihat tampang Hantara tadi berhasil menggoreskan sesuatu dalam hatinya.


Anehnya lagi, dia ... ingin sekali mendatangi Hantara dan ... memeluknya.


"Tara ...."


...•••••...


^^^bersambung .....^^^

__ADS_1


__ADS_2