Steal Your Heart

Steal Your Heart
Episode 23


__ADS_3

...•••••...


Ravendra menyandarkan punggungnya sambil mengamati gerbang utama kampus yang terbuka lebar. Semestinya, Hantara sudah selesai mencari buku-buku yang dibutuhkan di perpustakaan kampus. Tunangannya itu meminta dijemput pukul tiga sore. Ravendra sudah menunggu sejak sepuluh menit yang lalu di dekat halte bus.


Di depan halte bus, terdapat warung kopi yang selalu ramai anak-anak dari fakultas mana pun. Saat mengamati kendaraan yang berjajar di depan warung kopi, Ravendra menyadari motor Joshua juga terparkir rapi di sana.


"Jojo juga di sana?" Ravendra memicingkan mata untuk mencari keberadaan Joshua, barangkali terlihat dari sini.


Namun sebelum matanya meneroka, Joshua keluar dari warung kopi dan menyeberang. Ravendra pikir, Joshua akan menuju mobilnya. Ternyata, cowok itu menghampiri Hantara yang baru melewati gerbang dengan beberapa buku dalam pelukan.


Tanpa pikir panjang, Joshua langsung memeluk Hantara. Ravendra menegap. "Lah! Jangan asal meluk, Jo! Itu masih belum pulih Taranya!" Ravendra ingin keluar dan memperingatkan Joshua.


Sedetik kemudian, dia sadar.


"Bentar! Ngapain harus repot-repot ngasih tahu Joshua? Ngapain gue harus ikut campur? Ck. Tara udah nggak apa-apa tuh, gue terlalu mendalami peran sebagai perawat kali ya? Makanya khawatir gini."


Ravendra kembali bersandar, menatap langit cerah di atas sana. Seharusnya bukan Hantara yang mesti dikhawatirkan sekarang ini, tapi Gianna.


Kemarin, dia lupa tak membalas chat dari pacarnya itu---yang isinya ingin makan malam di rumah makan dekat kafenya. Karena semalam terlalu lelah untuk berbuat apa pun, begitu sampai rumah dia langsung terbaring di tempat tidur tanpa melihat ponsel.


Dan ya, sudah dipastikan Gianna menunggunya sampai pukul sepuluh malam dengan harapan dia akan muncul secara tiba-tiba. Sayangnya dia malah menuju alam mimpi.


Pagi tadi, sadar bahwa dia tak membalas chat Gianna, dia berusaha menghubungi pacarnya itu. Tentu saja, Gianna tak menjawab panggilan masuk atau membalas chat satu pun. Tampaknya, pacarnya itu kesal karena Ravendra tak mengabarinya kemarin.


"Gi ... kamu sekarang lagi ngapain ...?"


Sementara itu, berjarak beberapa meter dari mobil Ravendra, Hantara terpaku dalam pelukan Joshua. Dia sadar, kini anak-anak di warung kopi tengah memandang ke arahnya dan Joshua. Ada Seno juga di sana yang menganga.


"Tar, kamu udah baikan? Udah nggak panas atau pusing kan?" tanyanya khawatir.


Hantara mengangguk. "Hm, udah sehat kok, Kak. Maaf ya, tadi pagi langsung pergi karena Ravendra punya tugas buat jadi perawatku."


Joshua terdiam sejenak. Perkataan Hantara tadi sedikit mengusik. "Iya, nggak masalah kok. Lagian, kamu diantar pakai mobil. Bener juga sih. Nanti kalau sama aku naik motor, kamu malah masuk angin."


"Tapi aku udah sehat lagi, Kak Jo. Ini aku udah bisa ngampus lagi." Kata Hantara tak mau dianggap lemah.


"Iya. Kamu udah bisa ngampus lagi. Tapi kesehatan yang di dalam kan belum sepenuhnya pulih, Tara." Joshua menatap Hantara penuh arti. "Udah sana, Tar. Kamu pulang bareng Raven dulu ya? Biar nggak masuk angin."


Hantara memelas. Dia ingin sekali pulang bersama Joshua. Seharian ini, sosok Ravendra sudah memenuhi isi kepalanya karena perhatiannya kemarin. Dia tak mau berlama-lama dengan Ravendra lagi.


"Pulang sama Raven ya, Tara?" Joshua kembali membujuknya.


Kenapa Kak Jojo malah pengin aku pulang sama Ravendra? Nggak tahu apa, kalau aku ini malah nggak enak badan kalau lagi sama si badut?!

__ADS_1


"Besok aku tunggu kamu lagi di taman kayak biasanya ya?" Bujukan terakhir Joshua. "Sekarang kamu pulang sama Ravendra dulu. Oh iya, kalau butuh ke dokter buat periksa kesehatan lagi, suruh Ravendra sekalian ya? Sekarang ini, dia berguna buat jadi babu kok."


Hantara tertawa. Joshua bisa melucu juga rupanya. "Dari kemaren dia udah gitu kali, Kak."


Joshua mengelus puncak kepala Hantara. Penuh kasih sayang dan perhatian tiada tara. Cewek itu merasa lebih rileks. "Ya udah deh, besok ya, Kak Jo. Habis itu ayo kulineran lagi~"


"Iya, iya. Manja banget kamu tuh, ya."


Keduanya saling melempar senyum seakan dunia milik mereka. Di mobil, Ravendra mengalihkan pandang karena terlalu malas melihatnya. "Dua-duanya alay banget, minta dilempar ke laut."


Selepas melambaikan tangan pada Joshua, Hantara menuju mobil Ravendra.


Ravendra berdeham, sedang Hantara membuka pintu mobil dan duduk di sampingnya. "Bukunya taruh di belakang sana!" Suruhnya pada Hantara yang masih memeluk buku-buku bawaannya.


"Oh, iya. Lupa." Hantara langsung meletakkan buku tersebut sesuai arahan Ravendra. Lalu, mobil cowok itu pun melaju dalam kecepatan sedang.


Mereka saling berdiam diri. Hanya karena tidak ada topik yang perlu dibicarakan. Ravendra menyalakan pemutar musik. Hantara cukup terhibur dengan selera cowok itu yang merupakan musik Reggaeton.


"Aku pernah dengar musik ini, tapi sebatas pas senam zumba. Ternyata, lagunya lumayan ya." Kata Hantara.


"Hm," mengesalkannya, respons cowok itu cuma sebatas dehaman yang tak bermutu.


Hantara mendengus kesal. Dia memutuskan untuk melihat isi ponselnya saja. Detik itu, satu chat masuk.


Lia


Jangan lupa janjinya lho yaaaa


Janji kok nggak bakal macam-macam!


Refleks, Hantara menunduk lemas. Kenyataan baru yang cukup membuatnya kelimpungan. Lia menyukai Ravendra. Sepatutnya dia tak perlu berpikir lebih, tapi dia memang tak mau Lia patah hati nantinya.


Dia sangat menyayangi Lia. Sedari dulu, Lia selalu menemaninya dalam berbagai situasi. Dan dia ... tak mau Lia merasakan sakit akibat cinta. Sahabatnya itu terlalu berharga untuk disakiti.


Namun tanpa disadari, dia sendiri sudah menyakiti Lia sampai sejauh ini. Menyembunyikan kenyataan bahwa dia dijodohkan dengan Ravendra, tak memberitahu Lia yang sebenarnya.


Dia sendiri yang menyakiti ... sahabatnya.


Menyadari Hantara yang tertunduk lemas, Ravendra menepikan mobil. "Tara? Hantara? Kenapa? Pusing lagi?" Cowok itu menepuk pelan bahu Hantara.


Hantara langsung mendongak, yang tentunya membuat Ravendra terkejut---malah hampir terjungkal.


"Eherm," Ravendra berusaha bersikap biasa saja. "Kamu kenapa? Pusing lagi kah?"

__ADS_1


Mengembuskan napas, Hantara mengangguk pelan. Ravendra membulatkan mata, panik. "Kalau gitu, kita ke ru---"


"Enggak!"


Ravendra menghentikan tangan kirinya yang akan mengubah perseneling. Tubuhnya membeku tanpa persiapan. Matanya mengerjap bingung. Sebab, tangannya digenggam oleh Hantara.


Hantara terperanjat. Tak sengaja menggenggam erat tangan kiri Ravendra. "Ma-maaf."


Hening. Canggung. Ravendra tak jadi melajukan mobilnya. Cowok itu menatap keramaian di luar mobil. Hantara juga menatap trotoar yang dipenuhi oleh pejalan kaki dan pedagang kaki lima.


"Ma-masih pusing, Tar?"


Hantara mencebikkan bibir. "Masih sih ...."


"Hah? Kalau gitu ayo ke ru---"


"Bukan pusing karena sakit, Rav."


Ravendra menoleh pelan. "Terus? Karena apa?"


Hantara tak langsung membalas. Dia malah menatap layar ponselnya yang tak menampilkan apa pun. Ravendra bertanya-tanya, Cewek ini lagi ngapain?


"Nih!"


Alih-alih berbicara, Hantara malah menujukkan chat Lia yang baru saja diterima. Ravendra menggeleng pelan, tak mengerti.


"Kamu punya janji sama Lia dan belum menepatinya? Ya udah tepatin aja janji kamu itu." Kata cowok itu enteng.


"Ravendra ...." Hantara berkata penuh drama. "Ini bukan janji biasa, wahai manusia penuh dosa!"


"Hah?"


Ravendra makin bingung. Kenapa bawa dosa segala?


"Kamu tahu nggak? Apa janji yang harus kutepati ke Lia ini?" tanya Hantara tak biasa---lebih tepatnya memberi pertanyaan.


"Ya enggaklah, Tar. Saya mana tahu obrolan kamu sama Lia itu apa aja." Ravendra itu kembali mengarahkan perseneling, tapi ucapan Hantara berikutnya berhasil menghentikan cowok itu untuk yang kedua kalinya.


"Janjinya adalah, aku harus kasih nomor kamu ke Lia. Karena Lia suka sama kamu."


"Hah?"


Ravendra tak tahu, mimpi apa dia semalam sampai harus menghadapi hari seperti ini.

__ADS_1


...•••••...


^^^bersambung ....^^^


__ADS_2