
...•••••...
Pagi-pagi di kediaman Birusna, Ravendra tampil dengan kemeja biru tua berlengan panjang dan celana kain hitam. Ayah, Ibu, dan Ajeng yang siap di meja makan saling melempar pandang penuh tanya. Ravendra tersenyum lebar, mengancingkan lengan kemeja dan duduk di tempat biasa.
"Kenapa?" Ravendra menyadari tatapan tiga orang tersebut. "Kok kayak ngelihat hantu?"
Ajeng memicingkan mata, "Kak Raven kali yang kesambet hantu semalam."
"Kamu kok udah rapi gini mau ngapain, Rav?" tanya Ibu terlebih dahulu.
"Oh, aku mau ke perusahaan ekspedisinya keluarga kita. Emangnya kenapa, Bu?" Ravendra mulai mengambil piring. Dia harus segera sarapan kalau tidak mau terlambat berkunjung ke kantor dulu, kemudian mengantar Hantara seperti biasa.
Mengingat nama sang tunangan, senyum cowok itu terpeta. Jujur saja, semangat yang datang pagi ini disebabkan oleh pembicaraan semalam bersama Hantara di pantai.
Tidak lama lagi, dia akan bersama dalam satu kapal bersama Hantara. Memang seharusnya dia fokus pada karier serta tanggung jawab masa depan bersama.
"Kamu beneran mau ambil peran di sana, Rav?" kali ini Ayah yang bertanya.
Ravendra tersenyum setelah mengunyah sarapannya. "Iya, Yah. Karena sekarang udah di tahap tunangan, aku harus pintar-pintar mengatur keuangan di awal. Setelah itu—"
"Kalian nikah." Sela Ajeng tersenyum jail. "Cieee yang udah mikir sampai ke sanaaa~"
Ravendra terkekeh, kembali menghabiskan sarapan. Ayah dan Ibu saling melempar senyum. Melihat perubahan Ravendra yang seperti ini, mereka senang sekali.
Diam-diam, Ayah dan Ibu memikirkan satu sosok yang menjadi pencetus atas perjodohan Ravendra dan Hantara.
Sengaja tak mengambil terlalu banyak makanan, Ravendra selesai terlebih dahulu. Ajeng menatap tak percaya, padahal biasanya kakaknya itu rakus sekali soal makanan.
"Lah? Kak? Kok udah selesai? Biasanya nasi se-nampan habis gitu," ujar Ajeng.
Ravendra hanya meringis. Ajeng terheran, sepertinya suasana hati kakaknya itu dalam keadaan sangat baik. Sebab, Ravendra hanya cengengesan tidak jelas seperti itu saat menanggapi perkataannya.
"Ayah, Ibu, Ajeng, Raven berangkat dulu ya," pamit cowok itu seraya menyalami anggota keluarganya.
"Sekarang?" Ibu melirik jam dinding. "Baru jam segini, Raven. Lagian, kalau kamu ke kantor ekspedisi, pakai pakaian kayak biasanya kan juga nggak apa-apa, Nak."
Ravendra cepat-cepat menggeleng. Tidak lupa masih tersenyum. Hati cowok itu sekarang memang dipenuhi bunga-bunga bermekaran.
"Biar kayak Hot Daddy, Bu."
Usai berkata, Ravendra berlalu dari hadapan tiga individu tersebut. Ajeng menganga, menjatuhkan sendoknya. Kakaknya bisa juga berkata demikian. "Wah, kesambet apaan Kak Raven?"
Sedangkan Ayah menatap Ibu disertai tanda tanya. "Hot Daddy itu apaan, Bu?"
...•••••...
Hantara mengernyit setelah mendapati Ravendra memasuki halaman rumahnya dengan penampilan yang sangat menggugah selera. Kemeja yang dikenakan seolah-olah menunjukkan proporsi tubuh tunangannya yang kelewat bagus. Belum lagi kaki jenjang yang dilapisi celana kain hitam itu.
Hantara mengalihkan pandang. Pipinya memanas—sudah dipastikan merah sekali. Lagian, kenapa dia malah dandan keren kayak gini sih? Gue kan lemah kalau kayak ketemu ginian!
"Mama di mana, Tar?" tanya Ravendra begitu tiba di hadapannya. Hantara berdeham, gugup luar biasa. Sedikit mundur, terlalu dekat dengan Ravendra tak baik untuk jantungnya.
"Mama—kayaknya tadi buat jus jeruk deh, coba ke dapur aja!" Balas Hantara.
__ADS_1
Ravendra mengangguk, kakinya melangkah masuk menuju dapur untuk menemukan Mama.
Menunggu di teras, Hantara meletakkan telapak tangan pada jantungnya. "Wah, gila! Ngapain si Badut jadi keren gitu? Semalam dia kesambet setan di pantai atau gimana?"
Tak seberapa lama, Ravendra keluar beriringan dengan Mama yang mengucapkan terima kasih atas kue kering buatan Ibu Lusi. Semalam, karena terlalu larut dalam obrolan yang tercipta di pantai, Ravendra hampir lupa untuk mengeluarkan kue kering buatan ibunya. Alhasil, saat mengantarkan Hantara pulang tak lupa untuk memberikan kue kering tersebut kepada Mama.
Hantara tersenyum tipis. Semalam, entah mengapa dia merasakan kedekatan lain antara dirinya dengan Ravendra. Memang, foto yang terpampang pada layar ponsel Ravendra masih mengganggunya—sangat.
Akan tetapi, tidak bisakah dia mengharap satu keajaiban atas hati tunangannya itu?
Bisakah ... namanya menempati tahta tertinggi dalam hati Ravendra atas asmara?
...•••••...
"Cieee kayaknya ada peningkatan dalam hubungan kalian ya?" tanya Sagara begitu menempatkan diri di kantin bersama Lia. Hantara menatap kedua sahabatnya bergantian. Entah hanya firasat atau memang terjadi, belakangan ini dua sahabatnya itu kerap bersama seperti truk gandeng.
Mengabaikan rasa penasaran tersebut, Hantara kembali membalas pesan dari Ajeng. Setengah jam lalu, tiba-tiba saja Ajeng mengirimnya pesan untuk menanyakan keluangan waktunya. Dalam pesan yang tertera, tampaknya adik dari tunangannya itu mau mengajaknya berjalan-jalan ala perempuan.
"Tar," panggil Lia menyeringai.
"Hm? Apaan, Li?"
"Besok kalau nikah sama Kak Raven, enak dong, pagi-pagi matamu sehat terus lihat kegantengannya Kak Raven. Apalagi kayak tadi tuh," Lia tersenyum lebar.
Hantara mengerjap tak percaya. Nikah? Pagi-pagi lihat Ravendra yang dandan keren kayak tadi gitu? Eh? Tapi dia nggak pakai dasi. Ah, besok kan kalau nikah gue yang benerin dasi—HEH!!! Gue mikir apaan???!!!
Hantara menggeleng tak jelas. Sagara langsung menyikut Lia. "Tuh, lihat sohib lo mulai mikir yang lain gara-gara ngomong begitu."
Lia mengerucutkan bibirnya. "Ya tapi kan emang bener yang gue omongin. Besok kalau mereka nikah, ya ... gitu deh, hehehehe!"
"Ka-kak Seno?"
Seno tersenyum manis, cowok itu melihat Hantara yang terlihat tak memesan apa pun. "Kamu nggak pesan makan? Apa perlu aku pesankan?"
"Hah? Enggak usah, Kak. Makasih." Hantara melirik Sagara dan Lia yang diliputi kebingungan. Yang sebenarnya lebih tepat seperti; ini cowok sadar diri apa nggak sih?
"Enggak apa-apa, Tar. Aku pesenin mi ayam kesukaan kamu ya? Tunggu di sini dulu." Seno beranjak menuju rombong penjual mi ayam.
Hantara langsung panik. "Lho? Lho? Gimana nih? Li?"
"Hm? Kenapa, Tar?" respons Lia.
"Kok manusia yang satu itu masih kayak gitu sih?" Hantara menggigit bibir bawahnya. "Soal cokelat, lo udah menyampaikan pesan Ravendra dengan jelas dan akurat nggak?"
Lia mengangguk cepat. "Udahlah! Tapi ngiranya gue bercanda, Tar."
Hantara menepuk keningnya pelan. "Gawat dah! Gue bakal denger ocehan cowok yang satu itu lagi."
Ketiganya terdiam. Seno memang teguh pendirian soal mendekati seseorang. Saat mendekati Hantara dulu, cowok itu tak oleng meskipun diterjang badai atau hujan petir—berlaku pula untuk cewek lain.
Dan sekarang, kalau pernyataan Lia soal Hantara dan Ravendra dianggap sebagai candaan, Seno bakal maju tak gentar.
Tiba-tiba, Sagara terpikirkan sesuatu. "Tar, lo telepon Bang Raven aja! Suruh sini!"
__ADS_1
Hantara berbinar senang, namun tiga detik setelahnya kembali murung. "Tapi tadi dia ngomong kalau ada keperluan di perusahaan ekspedisinya, kalau sibuk gimana?"
"Waduh," Lia menunduk, Sagara menghela napas berat.
Seno kembali. Kali ini membawa nampan berisikan mi ayam dan es jeruk yang senantiasa dipesan Hantara. Cowok itu masih tersenyum manis—yang dikira bisa meluluhkan hati Hantara lagi.
Lia yang tadinya menatap Hantara, menyadari eksistensi seseorang yang sempat diperbincangkan. Lia menepuk bahu Sagara untuk melihat siapa yang datang. Senyum keduanya terbit begitu tahu orang tersebut.
Sementara itu, Hantara sebisa mungkin untuk menolak secara halus. Seno masih saja bersikeras agar Hantara menerima mi ayam pemberiannya.
"Nggak usah, Kak. Lagian ngapain sih? Kita udah nggak dekat kayak dulu lagi lho," Hantara mulai risih.
"Justru itu, kita harus pendekatan lagi biar bisa kayak dulu." Balas Seno santai.
Hantara membelalak, cowok yang duduk di sampingnya itu pasti kehabisan target sehingga harus kembali mendekatinya. "Kak, gue ini udah—"
"Ngapain lo maksa Tara buat makan mi ayam itu?"
Suara itu. Suara yang berhasil membuat Hantara menghela napas lega. Tidak hanya bagi cewek itu, Sagara dan Lia pun merasakan yang sama. Ingin sekali melihat Ravendra membuktikan secara langsung kalau dia tunangannya Hantara kepada Seno.
"Oh, Rav! Lama nggak ketemu ya, lo apa kabar? Sejak sidang kemaren, jarang banget ketemu." Seno malah tersenyum lebar.
Ravendra mengembuskan napas. Harus sabar. Bagaimanapun, Seno itu temannya—meski tak begitu dekat. "Kabar gue baik. Tapi lo belum jawab pertanyaan gue yang tadi itu."
"Oh, soal mi ayam?" Seno tersenyum ke arah Hantara. Melihatnya, Ravendra ingin sekali menjauhkan Seno dari tunangannya. "Ya nggak apa-apa lah, kan gue gebetannya Tara."
Ravendra melotot. Hantara malah mau muntah mendengar ucapan tak tahu diri Seno. Lia dan Sagara merasa bahwa Seno memang tak memiliki kesadaran diri yang layak.
"Seno, pesan yang disampaikan Lia sebagai balasan titip cokelat kemaren itu udah dengar apa belum?" tanya Ravendra tak lupa menatap tajam Seno.
Seno berpikir. "Titip cokelat? Lo tahu soal itu, Rav?"
Ravendra mengangguk, "Lo pasti dengar apa yang disampaikan Lia kan?"
"Iya, gue dengar kok. Tapi itu nggak mungkin lah, Rav! Lo kan bucinnya Gianna. Mana mungkin mau tunangan sama Hantara?!" Seno percaya diri sekali.
Tangan Ravendra mengepal. Tak terima sekali mendengar kalimat semacam itu keluar dari mulut Seno. Mengatur emosi, Ravendra tak langsung membalas Seno. Dia mengambil ponsel dan entah apa yang tengah dilakukan cowok itu.
Beberapa detik setelahnya, Ravendra menyodorkan layar ponselnya tepat ke wajah Seno. "Nih, foto pertunangan gue sama Hantara."
Seno membelalak kaget. Dalam foto tersebut, Hantara mengulurkan tangannya untuk menerima cincin pertunangan dari Ravendra. Keduanya saling berhadapan. Meski tak saling menatap dan tersenyum, orang biasa tetap tahu acara macam apa yang tengah dilangsungkan.
Rupanya Hantara, Lia, dan Sagara ikut-ikutan penasaran soal foto pertunangan itu. Hantara apalagi—dia yang bertunangan tapi tak pernah melihat foto hari yang cukup bersejarah tersebut.
Namun satu hal yang kembali menggetarkan hati, kenyataan bahwa Ravendra menyimpan foto pada hari pertunangan itu, membuat Hantara meneguhkan pilihan.
Dia sungguh-sungguh ternyata.
"Makanya, Seno," Ravendra menyimpan ponselnya. Melayangkan tatapan penuh kemenangan. "Gue Ravendra, tunangannya Hantara. Sekaligus, Hot Daddy-nya."
Hilih?!
...•••••...
__ADS_1
^^^bersambung .....^^^