Steal Your Heart

Steal Your Heart
Episode 08


__ADS_3

...•••••...


Ravendra memasuki Kafe Birusna yang padat konsumen. Selain mendekati pertunangan dan sidang, dia juga harus mengelola kafe agar berjalan sebagaimana semestinya. Pikirannya boleh kacau balau akibat hal-hal baru yang menghantam kenyataan. Namun pekerjaannya harus tetap terlaksana dengan baik.


Mendirikan Kafe Birusna itu tidak mudah. Bahkan sampai menyita kesempatannya untuk menempuh pendidikan di universitas pada waktu yang sama seperti teman-temannya. Dia rela terlambat, sehingga baru tahun ini akan menyusul kelulusan. Maka tidak seharusnya bermalas-malasan, sebab Kafe Birusna merupakan alasan mengapa dia masih bisa bertahan hidup setelah kejadian yang berhasil menumbangkan harapan satu keluarga.


Ravendra memandang sepenjuru kafe dengan napas berat. Teringat bagaimana dulu orang tuanya sempat ditipu besar-besaran sebagai salah satu investor. Hanya tersisa beberapa juta tabungan Ayah, yang nekat diputar oleh Ayah dan Ravendra sampai menghasilkan Kafe Birusna yang penuh harapan.


Kafe ini merupakan jantung keduanya. Mungkin orang-orang tidak tahu bagaimana naik-turun perjuangannya. Mereka hanya berpendapat, kafe ini didirikan karena kekayaan tanpa pengorbanan. Namun lebih dari itu, kafe ini merupakan awal dari perjuangan Ravendra di masa muda yang penuh krisis.


Menyapa beberapa pekerja yang sibuk, Ravendra meminta pembukuan yang dipegang oleh keuangan kafenya. Dia akan melihat apa saja yang terjadi dalam satu bulan ke belakangan ini.


Belum sampai menemui si pengurus keuangan, ponselnya bergetar panjang. Panggilan masuk dari seseorang. Melihat siapa yang menelepon, senyum cowok itu tampak dengan sendirinya.


"Hm, halo, Sayang? Ada apa?"


Di seberang telepon, Gianna sibuk memilih pakaian terbaru yang kemarin sempat dibeli saat pergi ke Singapura. "Sayang, aku bosan di rumah. Mau jalan-jalan nggak?"


Ravendra menyandarkan tubuhnya pada dinding dekat dapur. "Nggak mungkin aku nggak mau, Gi."


Gianna tersenyum. "Tapi tunggu dulu ya, aku masih pilih baju."


"Kamu pakai apa pun tetap cantik, Gi."


"Kalau misalnya aku pakai baju yang nggak pernah dicuci, memangnya tetap bakalan kelihatan cantik?"


Ravendra terkekeh. "Kalau itu sih, pakaiannya yang jadi masalah karena kamu mau nggak mau cuci. Dan yang jelas, baunya bakal menguar ke mana-mana."


"Iya ya," Gianna melihat jam dinding kamarnya. "Rav, kita keluar jam satu ya? Sekalian aja cari makan siang dan nanti harus cari sesuatu buat adikku."


"Oke. Jam satu." Ravendra ikut melirik jam tangannya. "Aku juga baru datang ke kafe. Santai dulu kalau gitu, aku mau ngatur pembukuan, Gi."


"Oke! See you, babe~"


"See you, love~"


Sambungan telepon terputus. Ravendra masih saja tersenyum. Berbicara dengan Gianna bagaikan kebahagiaan tersendiri yang tak dapat diutarakan dalam kata-kata. Dia senang mendengar suara Gianna. Kapan pun dan seberapa lama itu, Ravendra tidak akan keberatan.

__ADS_1


"Huh ...." Ravendra menyimpan ponsel. "Seenggaknya hari ini nggak buruk-buruk amat karena udah nganterin Tara."


...•••••...


Lia menyikut lengan Sagara. Setelah mengikuti kelas pertama, mereka memutuskan untuk menunggu kelas berikutnya di kantin. Tapi sejak kelas berlangsung, Hantara menunjukkan gelagat yang tak biasa. Cewek itu murung luar biasa. Murung bukan dalam arti sedih, tapi lebih tepatnya kesal.


Sagara menelan kentang gorengnya yang baru datang. Dia juga tidak tahu harus berbuat apa. Kelihatannya, Hantara memang sedang dilanda masalah yang cukup serius. Jujur saja, Sagara jadi takut sendiri.


"Tar ...." Lia memberanikan diri membuka suara.


Hantara menoleh pelan. "Hm?"


"Lo ... nggak apa-apa? Kok kelihatannya nggak bersemangat gitu?" tanya Lia.


Sagara ikut-ikutan, "Beban lo kayaknya besar banget ya?"


Lia langsung menepuk mulut Sagara karena sudah lancang bicara seperti itu. Hantara terkekeh melihat interaksi dua temannya itu.


"Apaan sih! Gue memang lagi nggak mood buat ngapa-ngapain, kok! Tenang aja ...."


"Gue beliin mi ayam mau nggak?" tawar Sagara yang langsung mendapat anggukan antusias dari Hantara. "Nah! Ini nih baru temen gue!" Cowok itu pun menuju rombong mi ayam dengan sukarela.


Hantara tersenyum. Setidaknya, kehadiran dua temannya ini bisa memperbaiki suasana hatinya. Tapi lagi-lagi ... dia teringat dengan cowok yang akan bertunangan dengannya akhir pekan nanti.


Ravendra Birusna. Dari sekian cowok di dunia, dia tidak pernah berpikir untuk menjalin hubungan sekecil apa pun dengan cowok itu. Namun kenyataan senang sekali mempermainkannya.


Nggak apa-apa, Tara. Maksimal kalian cuma tunangan, habis itu kalian bisa cari cara paling apik buat berpisah. Batinnya meyakinkan diri. Padahal, memikirkan alasan untuk berpisah saja dia masih bingung.


Dan lagi, bagaimana dengan senyum Mama yang kelewat indah itu? Apakah dia akan melenyapkan senyum tersebut dengan perpisahan antara dirinya dan Ravendra? Lantas, apakah dia bisa mengembalikan senyum tersebut dengan caranya sendiri?


Tidak. Hantara tak yakin sama sekali. Semakin dipikir, semakin sulit.


Sagara datang dengan satu nampan berisikan tiga es jeruk. "Mi ayamnya masih nunggu tuh, anak FH pesan banyak banget." Katanya sambil membagikan es jeruk kepada Lia dan Hantara.


"Lo nggak diskusi lagi sama Kak Raven, Sa? Biasanya juga dia ke sini buat diskusi ini itu," celetuk Lia.


Hantara melirik tajam. Kenapa dia harus mendengar nama cowok itu lagi, sih? Dia jadi muak. Memang sudah jadi teman, tapi menyebalkannya tak berkurang sama sekali.

__ADS_1


Sagara menggeleng. "Enggak, udah komplit semua. Tinggal dekorasi panggung di lapangan, itu tugasnya anak karang taruna yang lain."


"Boleh datang nggak sih? Gue penasaran perumahan kalian punya hiburan apa aja," kata Lia antusias. Hantara mengernyit. Tapi begitu Lia mengalihkan pandang padanya, wajahnya kembali datar. "Iya kan, Tar? Kita datang yuk! Ke perumahannya Sagara. Jarang-jarang kita lihat hiburan yang sederhana gitu."


"Bo---"


Bentar! Perumahannya Sagara? Kan Sagara tetangga Ravendra. Wah! Gawat! Bisa gawat kalau gue ketemu Om Hendra dan Tante Lusi atau malah Ajeng pas nonton hiburan di situ.


"---eh! Nggak bisa!"


Lia dan Sagara terlonjak. Hantara berseru tak biasa, sehingga mengundang beberapa pasang mata.


"Santai dong, Mbak Tara." Ucap Sagara.


"Gu-gue nggak maksa lho, Tar. Kalau lo nggak mau datang, ya udah, nggak masalah." Kata Lia sangsi.


Hantara memijat pelipisnya. Melihat tampang Lia yang tidak enakan itu membuatnya merasa bersalah. "Maaf, Li. Gue spontan aja karena ini digigit semut merah." Dia berpura-pura menggaruk kakinya yang diyakini baru saja digigit semut merah.


"Lo kalau mau datang ke perumahannya Sagara buat lihat hiburan atau pentas apa pun itu ... lo datang sendiri nggak apa-apa ya? Gue kayaknya harus bantuin Mama ngurus sesuatu. Acaranya akhir pekan kan?" tanyanya kepada Sagara.


"Iya, Sabtu ini. Mulai dari pagi sampai sore sih."


"Nah, gue sibuk banget. Mama ada urusan sama Budhe."


"Yah ...." Lia mengerucutkan bibirnya. "Ya kali gue nonton sendiri, Tar?"


Hantara mengarahkan dagunya pada Sagara. "Kan ada ubur-ubur yang satu ini, Li."


Sagara mendecih. Lia tak puas. Sebenarnya Hantara tak tega melihat tampang melas sahabatnya itu. Apa daya, dia sangat tidak mungkin datang ke perumahan tersebut. Bisa-bisa identitas barunya sebagai calon menantu keluarga Birusna akan terbongkar.


"Ya udah deh," Lia menatap tajam Sagara. "Pokoknya lo jangan sok sibuk sendiri pas besok ada pentas itu."


Sagara memperlihatkan sikap hormat. "Siap, Ratu!"


Lia langsung memukul pundak cowok itu karena tak suka dipanggil demikian. Di sisi meja yang lain, Hantara mendengus lega.


Huhuhu ... mau gimana pun, gue memang nggak bisa datang ke sana. Karena malamnya ... gue tunangan.

__ADS_1


...•••••...


^^^bersambung ....^^^


__ADS_2