
...•••••...
"Cari baju buat lusa!"
"Hah?"
Ravendra bersedekap. Disandarkan punggungnya pada salah satu pintu utama yang belum dibuka. "Ck. Ayah yang kasih saran buat beli baju bareng, Tara. Ini bukan inisiatif saya sendiri lho."
Hantara mencebikkan bibir. Mengangkat ember berisikan cucian bersih untuk dijemur, dia melewati Ravendra yang menunggu balasan. Hantara tetap melangkah keluar rumah. Cewek itu menuju halaman kecil di samping rumah yang merupakan tempat untuk menjemur pakaian.
Sebenarnya Ravendra malas untuk pergi ke mana-mana. Belum lagi dia harus mengurus menu baru yang akan diluncurkan oleh kafenya Senin depan. Tapi demi Ayah, dia harus mengajak cewek alay itu berbelanja. Ibunya menambahkan untuk membelikan pakaian terbaik yang akan membuat keduanya terlihat cantik dan ganteng.
Mengekori Hantara, Ravendra sesekali mengecek ponsel---barangkali saja Gianna mengiriminya pesan. Sebab, sejak kencan di mal beberapa hari yang lalu, pacarnya itu harus keluar kota untuk melihat salah satu resor keluarganya. Anehnya, Gianna tak memberi kabar sama sekali. Padahal pacarnya itu tak pernah sekalipun lupa untuk mengabari segala-galanya.
Hantara sudah lebih dulu menjemur beberapa lembar kaus, saat Ravendra kembali menyimpan ponsel pada saku jaketnya. Kembali bersedekap, cowok itu mencari dinding terdekat untuk menopang tubuh bagian atasnya.
"Kamu nggak ada kelas hari ini?" tanya Ravendra.
Hantara melirik sekilas. "Kalau ada, gue pasti udah mandi dan tampil cantik, oke? Minggir sana! Duduk aja di dalam tuh! Ada camilan juga!"
"Sebelum kamu selesai jemur cucian, saya di sini dulu." Kata Ravendra begitu melirik jam tangannya. "Karena setelah ini, lebih baik cepat beli baju dan saya bisa pulang dengan tenang."
"Ya udah lo pulang aja sana!" Usir Hantara kesal.
"Nggak bisa, Tara." Ravendra menggeleng. "Ayah nggak bakal mengizinkan saya pulang kalau belum beli baju sama kamu."
"What?!"
Hantara nyaris menendang ember cucian kering yang berada di dekat kakinya. Ravendra masih diam saja. Sedikit heran dengan keengganan Hantara atas ajakannya ini.
"Kenapa? Kamu ada jadwal kencan sama Jojo?" tanya Ravendra. Barangkali memang cewek itu sudah memiliki janji dengan Joshua lebih dulu. Kalau alasannya begitu, Ravendra akan mencari alasan. Dia tak akan mau mengusik kedekatan Hantara dan Joshua. Sebab Hantara sendiri tak pernah mengusik kencan-kencannya dengan Gianna.
Tak langsung membalas, Hantara mengambil celana panjang kain miliknya untuk dijemur. Rautnya langsung berubah sendu. "Andai aja Kak Jojo ngajak gue jalan-jalan hari ini ...."
Kemudian, dia menoleh ke arah Ravendra. "Tapi sayang sekali, dia diajak Pak Yudhi ke luar kota, huhuhu~"
Ravendra mendecak. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Cewek di hadapannya itu jadi penuh drama setelah mengenal Joshua. "Ya udah, kalau begitu, ayo beli baju!"
"Mood gue berantakan, Badut!"
Ravendra tersentak. "Ba-badut? Kamu ngatain saya badut?"
Hantara tak merespons. Tangannya masih sibuk menjemur lembar demi lembar pakaian. Satu hal yang Ravendra tahu soal cewek alay itu, tampaknya dia bukan cewek yang malas-malas amat. Ya, Ravendra juga tak tahu pasti sih.
Ketika tangan kanan Hantara menarik sepasang pakaian dalam dari ember, Ravendra cepat-cepat membalikkan badan. Mendapati cowok itu putar haluan, Hantara menyadari apa yang tadi dipegangnya. Pipinya merona tanpa aba-aba.
Apa cowok itu sempat lihat daleman gue?
Hantara menggeleng cepat. Dia tak mau membayangkannya. Bisa makin malu nanti.
__ADS_1
Tapi ini yang paling cantik, renda merah, huhuhu kenapa gue jadi malu gini sih?
Cewek itu menggigit bibir bawahnya. Memutuskan untuk tak bersuara sedikit pun.
"Saya tunggu di ruang tamu aja kalau gitu," kata Ravendra pada akhirnya.
Hantara menatap punggung Ravendra yang menjauh. Masih memegang sepasang pakaian dalam, langsung saja dijemur di tempat yang tak akan terlihat oleh Ravendra meski tak sengaja menengok.
"Astaga! Ngapain juga cowok itu ngikutin sampai ke sini, sih?"
...•••••...
Setelah menyabarkan diri menunggu Hantara bersiap selama empat puluh menit, akhirnya mereka tiba di salah satu pusat perbelanjaan yang cukup dekat dengan rumah makan yang akan menjadi tempat pertunangan mereka lusa nanti.
Tadi Ravendra sempat berbicara dengan manajer rumah makan tersebut untuk menambah beberapa porsi. Selama berada di rumah makan tadi, Hantara hanya mampu terdiam. Dia tidak tahu harus berbicara apa. Menyadari bahwa lusa akan bertunangan membuat perutnya mulas sampai detik ini.
Cukup lama mengitari pusat perbelanjaan, Ravendra memutuskan untuk berhenti di salah satu toko yang pernah didatangi olehnya dan Gianna. Cowok itu membalikkan tubuh, memastikan Hantara masih mengikutinya. Sebab sedari tadi, Hantara masih betah berdiam diri.
"Kita pilih di sini aja, bagus-bagus kok." Kata Ravendra.
"Oh," Hantara melihat nama toko tersebut. "Iya, gue pernah denger, katanya bagus-bagus."
"Oke, ayo masuk!"
Menurut, Hantara langsung diarahkan oleh salah satu pramuniaga untuk ke bagian yang diminta Ravendra. Sementara itu, Ravendra bersama dengan manajer toko tersebut memilih setelan jas yang sederhana saja. Ravendra memang mengenal si pemilik toko berkat relasi yang dimiliki sang ayah.
Hantara mengedar pandang. Dia tidak pernah memasuki toko pakaian yang harganya mahal-mahal ini. Dia memang punya cukup uang untuk membeli setidaknya satu lembar pakaian. Tapi dia lebih suka membeli dengan Lia di toko pakaian yang biasa-biasa saja. Mengamati bagaimana desain dan kualitas pakaian di sini, Hantara jadi tahu perbedaannya.
"Wah, cantiknya!" Serunya tak sadar. Dress di hadapannya itu memang luar biasa cantik.
Pramuniaga yang berdiri di belakangnya berujar, "Mbaknya juga cantik kok! Pasti pas pakai dress ini, pacarnya Mbak bakalan terpesona. Mau dipakai buat acara pertunangan ya? Selamat ya, Mbak. Saya doakan semoga lancar sampai pernikahan nanti."
"Pacar? Selamat? Pernikahan?" gumamnya pelan.
Wajar saja bagi pramuniaga tersebut memberinya ucapan selamat. Orang lain tidak tahu bagaimana dia dan Ravendra bisa ada di tempat ini. Terlihatnya seperti sepasang kekasih tengah memilih pakaian yang pantas untuk digunakan pada malam pertunangan.
"Pacar ya?" Hantara masih larut dalam pikirannya, sembari melangkah pelan ke kamar pas untuk mencoba dress berwarna putih.
Hantara mana pernah mempunyai pacar? Semua orang tahu, dia hanya punya gebetan. Termasuk Joshua ... juga cuma gebetan.
Dan sekarang, orang-orang di toko ini mengira dia bersama dengan pacarnya. Pacarnya? Ravendra? Wah! Hantara mau mengumpat. Tak ada angin, tak ada hujan, dia pun teringat dengan celetukan Sagara tempo hari di kantin kampus.
"Ya iyalah, Li. Masa Bang Raven kencan sama Tara?!"
"Hih!"
Hantara bergidik ngeri. Hampir saja dia membuang dress mahal yang akan dicobanya itu. Berarti secara tidak langsung, dia dianggap sedang berkencan juga dengan Ravendra.
Kencan ....
__ADS_1
Dia jadi malas mencoba dress cantik itu.
Sama cowok nyebelin itu? Astaga!
Kembali merapikan kaus panjangnya, Hantara cepat-cepat keluar. Di depan kamar pas, dua pramuniaga yang tadi masih setia menunggu. Namun melihat Hantara tak mengepas dress tersebut, mereka terheran.
"Mbak, langsung aja ya, saya pilih yang ini, kayaknya pas di badan saya." Hantara menyodorkan dress yang dibawanya itu pada salah satu pramuniaga.
"Lho, ini benar-benar pas, Mbak? Yakin, nggak mau dicoba dulu?"
Hantara menggeleng cepat. "Enggak, Mbak! Ini aja! Saya mau pulang, ada urusan mendadak!"
"Urusan mendadak apa?"
Ravendra datang sesudah memilih setelan yang cocok. Hantara menoleh. Memasang tampang melas, cewek itu memegang perutnya. "Sakit!"
"Hah?" Ravendra mengerjap bingung. "Kamu sakit perut?"
Hantara mengangguk lemah. Tidak tahu kenapa, rasa mulasnya tadi benar-benar terasa. Apa mungkin ... dia kedatangan tamu bulanan?
"Udah pilih dress kan?" Lagi-lagi dibalas anggukan. Salah satu pramuniaga yang membawa dress putih pilihan Hantara langsung berlari kecil menuju tempat pembayaran. Mau tak mau, Ravendra harus mengikutinya. "Tunggu sebentar ya, Tara. Saya ke kasir dulu."
"I-iya ...."
Satu pramuniaga yang tersisa hendak membantu Hantara untuk duduk, tapi cewek itu menolaknya. Rasanya tak nyaman jika dia harus duduk. Lagi pula, pembayaran tidak akan membuatnya menunggu lebih dari lima menit.
Tiba-tiba, sepasang tangan melingkari perutnya sambil melilitkan lengan jaket berwarna abu tua. Hantara menahan napas. Rasa sakit itu berkurang secara perlahan. Itu adalah tangan yang dikenalinya.
"Kamu kedatangan tamu, Tara." Ravendra muncul dari balik punggungnya. "Mungkin itu sebabnya, kenapa kamu emosi terus dari pagi ini."
"Gu-gue nggak tahu ... ini belum waktunya ...." Wajah cewek itu memerah. Di saat sensitif seperti ini, mengapa harus Ravendra yang tahu?
"Udah, ayo ke mobil! Masih sakit nggak, perutnya?" tanya Ravendra memastikan.
"Se-sedikit, sih ...."
"Bisa jalan?"
"Ya bisa lah!" Hantara mulai emosi lagi. "Gue cuma sakit perut karena halangan, bukan kena penyakit kronis, Badut!"
Cewek itu langsung menyadari ucapannya sendiri. "Eh! Amit-amit!"
Ravendra menggeleng lelah. "Iya-iya, terserah kamu aja mau ngatain saya apa. Sekarang, kita pulang dulu, biar kamu bisa istirahat."
Tak punya pilihan lain, Hantara mengikuti Ravendra menuju tempat parkir dengan jaket cowok itu menutupi bagian belakang tubuhnya. Tidak mungkin dia menolak, sebab dia mengenakan celana kain berwarna putih.
Duh! Hari apa sih ini?! Lain kali kayaknya gue harus ngecek ramalan hari dulu biar nggak semalu ini. Kenapa Ravendra yang harus tahu sih? Argh!
...•••••...
__ADS_1
^^^bersambung ....^^^