
...•••••...
"Makanya! Kalau disuruh makan tuh makan! Jangan sok kuat! Memangnya kamu binatang yang punya cadangan makanan, hah?!"
Hantara memejamkan mata dengan harapan omelan Mama akan berhenti, tapi tak berfungsi sama sekali. Setelah sadar dan mendengarkan penjelasan dokter, Mama menjadi-jadi.
Kata dokter, dia cuma kelelahan dan kurang makanan bergizi. Padahal dia sering kuliner dengan Joshua. Bagaimana bisa dia kurang makanan bergizi?
Paling-paling itu cuma alasan umum yang diberikan karena dokter tak bisa mendeteksi penyebab pingsannya dengan tepat.
Kini, dia menunggu di IGD dengan Mama, sebab hanya diperbolehkan seorang saja yang menunggui pasien. Ayah, Ibu, dan Ajeng yang sempat datang tadi, menunggu di depan sekaligus menemani Ravendra mengurus administrasi.
Hantara memutar kembali ingatan tiga jam lalu. Bersama dengan Ravendra di taman kota, berjalan disertai semilir angin malam yang menusuk. Kemudian, dia teringat dengan betapa hidupnya yang sering tak dianggap.
Lalu, dia terjatuh ke ... pelukan Ravendra.
Hantara mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali.
Dia terjatuh ke pelukan Ravendra?
Oh!
Tangan kanannya menutup mulut, sedangkan tangan kirinya memegang kepala.
Dia dipeluk Ravendra?
Ah! Hantara menggeleng cepat. Ravendra hanya membantu menopang tubuhnya dengan cara seperti dipeluk.
Iya. Ravendra mana ada niatan memeluknya kalau bukan karena terpaksa? Cowok itu hanya mau membantunya saja. Tak lebih. Memang, dia saja yang mulai berpikir jauh-jauh. Niat Ravendra seratus persen menolong.
"Lho? Kok malah ngelamun?!"
"Ehehehe~" Hantara tertawa hambar. "Maaf, Ma. Habis ini, janji deh makan terus."
Mama mendengus lega. Setelah kepergian suaminya beberapa tahun yang lalu, hanya Hantara yang merupakan keluarga satu-satunya. Memang Mama memiliki saudara, tapi berbeda dengan keluarga yang senantiasa menemani di segala situasi seperti Hantara.
Mama memeluk Hantara. Pelukan yang begitu hangat, sehingga dapat melenyapkan sisa dinginnya malam tadi. Hantara suka sekali berada dalam pelukan Mama. Sebuah pelukan yang tak tertandingi oleh apa pun, termasuk pelukan tak sengaja antara dirinya dan Ravendra tadi.
Hantara berjengit. Kok gue malah kepikiran itu lagi sih?!
"Hantara sudah boleh pulang, Ma."
Ravendra menghampiri Mama dan Hantara yang menyudahi sesi pelukan tersebut. Mama memandang Ravendra dengan penuh haru dan terima kasih. "Makasih ya, Rav. Kamu udah jagain Hantara dengan baik sebelum kami tiba."
__ADS_1
"Ah," Ravendra menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Kalau itu sih, sebenarnya tugasnya perawat di sini, Ma. Saya cuma bawa Hantara dari taman ke sini, itu pun jaraknya juga dekat, nggak terlalu jauh."
"Ya tapi tetap aja, makasih ya, Rav."
"Sama-sama, Ma. Mari, saya bantu," dengan sigap cowok itu membantu Hantara turun dari brankar yang agak tinggi.
Sekalipun menurut, Hantara menggigit bibir bawahnya seraya merutuki isi pikirannya. Kenapa gue malah kepikiran terus sama pelukan tadi sih? Itu kan nggak sengaja!
Pipinya bersemu merah. Hantara jadi malu dan salah tingkah sendiri. Apalagi saat dia melihat badan tegap Ravendra yang berdiri cukup dekat dengannya. Pikirannya makin kacau. Namun sebisa mungkin, dia harus mengenyahkan pikiran tersebut kalau mau tenang.
Meninggalkan IGD, Hantara disambut oleh Ayah, Ibu, dan Ajeng yang terlihat sekali dihinggapi kecemasan. Hantara menghentikan langkah. Dia tersentuh. Kehadiran satu keluarga itu menghangatkan hatinya. Dia merasa ... cukup dianggap.
"Mbak Tara bener udah baikan?" tanya Ajeng menghampirinya. Cewek itu kelihatannya masih cemas. Berbeda dengan Ayah dan Ibu yang kecemasannya sudah menurun.
Hantara mengangguk, "Hm, ini beneran udah baikan kok."
Ajeng tersenyum lega, lalu memberi tatapan tajam pada Ravendra. "Kak Raven gimana sih?! Udah tahu kemaren Mbak Tara sakit, kok malah malam-malam gini diajak keluar?! Aku aja yang sehat, kalau kena angin malam aja udah rasanya badan nggak enak! Apa lagi Mbak Tara yang baru sembuh hari ini! Gimana sih, Kak?!"
Ibu cepat-cepat menarik tangan putrinya sambil menahan tawa. Begitu juga dengan Ayah, Hantara, dan Mama. Sebab saat mengomel, Ajeng lucu sekali.
Ravendra menganga tak percaya. Adiknya, kesayangannya, cinta kedua setelah ibunya, malah mengomelinya di depan banyak orang dengan alasan yang memang cukup masuk akal.
"Nggak apa-apa kok, Ajeng." Hantara menengahi. "Malahan, sekarang badanku udah lebih baik dari tadi pagi."
Sudut pipi Hantara berkedut. Barusan Ajeng bilang apa? Bucin? Apanya micin, Jeng? Serius dia tadi bilang begitu?
"Udah," giliran Ayah yang menarik tangan Ajeng. "Ayo pulang dulu! Biar Hantara bisa istirahat lagi dan besok lebih baikan."
Hantara kembali memasang senyum, walau lidahnya kelu sekali setelah mendengar perkataan Ajeng tadi.
"Ayah, Ibu, Ajeng pulang duluan aja!" Kata Ravendra mengeluarkan kunci mobilnya.
"Oke, hati-hati, Rav." Balas Ayah yang benar-benar mempercayakan Mama Nadya dan Hantara untuk diantar pulang oleh putranya itu.
"Lho, Mama ke sini tadi naik apa?" tanya Hantara begitu menyadari Mama turut memasuki mobil Ravendra yang terparkir rapi.
"Tadi, Mama dijemput sekalian sama Ayahnya Raven. Mereka tahu, kalau Mama pasti bakal panik dan nggak konsen nyetir. Memangnya kenapa? Kamu terganggu sama kehadiran Mama di antara kamu sama Ravendra? Ini udah malam, Tara. Kencannya bisa dilanjut besok lagi."
"Kok malah ngomong gitu sih?!" Hantara berseru keras, membuat Mama dan Ravendra tersentak. "Apanya yang kencan, cuih!"
Ravendra berjengit. Dia melirik Mama yang tersenyum penuh arti di kursi belakang. Dia jadi malu sendiri mendengar Hantara berkata seperti itu. "Mungkin, Hantara kurang puas sama kencannya tadi, Ma. Dimaklumi ya."
Hantara melotot dengan mulut terbuka. Cowok di sampingnya ini memang sukanya berbicara tanpa keterangan lebih lanjut. Mama tertawa, diam-diam mengarahkan kamera ponselnya pada sepasang manusia tersebut.
__ADS_1
Meski pencahayaan di dalam mobil tak begitu mendukung, Mama masih bisa menangkap momen detik ini pada ponselnya. Hasilnya tidak buruk-buruk amat, malah puas.
Tak sengaja, waktunya pas sekali. Ravendra dan Hantara saling bertatapan. Biar aslinya hanya sekilas lalu melengos.
"Lucunya ...."
...•••••...
Ravendra melangkah gamang memasuki kamarnya. Usai mengantarkan Mama dan Hantara dengan selamat, dia mencoba untuk menghubungi Gianna. Tentu saja, tak ada balasan. Terlebih, sekarang sudah tengah malam. Gianna pasti sudah terlelap dan Ravendra berharap mimpi pacarnya itu indah.
Melemparkan diri di atas tempat tidur, lagi-lagi merutuk. Kenapa tadi dia harus memutus sambungan telepon terlebih dahulu? Seharusnya dia mendengar balasan Gianna seperti biasanya sebelum mengejar Hantara yang dibawa oleh para perawat.
Akan tetapi, keadaan Hantara tadi memang sangat mengkhawatirkan. Siapa pun akan mengutamakan kesehatan seseorang lebih dari apa pun.
"Apa kirim chat aja ya?"
Ravendra menatap langit-langit kamar. Sebenarnya dia lelah sekali, mondar-mandir di rumah sakit meski hanya untuk beberapa jam saja. Beruntung Hantara tak terserang penyakit parah. Cuma kelelahan.
Memicingkan mata, kembali mengingat-ingat raut wajah tunangannya itu sesaat sebelum pingsan. Pucat pasi. Berkeringat dingin. Seperti baru saja melihat hantu. Memangnya apa yang dilihat cewek itu tadi? Atau apakah dia sedang memikirkan sesuatu?
Kalau dipikir-pikir, ekspresinya nyaris sama seperti pertama kali bertandang ke kediamannya ini. Sama persis. Iya! Tak salah lagi.
Lantas, apa penyebab dari keanehan Hantara yang satu itu?
"Ck. Bodo amat! Capek!"
Ravendra beranjak, menuju kamar mandi untuk berganti pakaian dan menyikat gigi. Saat bercermin, dia memandang pantulan tubuhnya dengan satu alis terangkat.
"Bentar!" Ravendra menanggalkan sikat giginya. "Tadi ... sama dengan meluk Tara dong?"
Tetesan air keran mengisi pendengaran, sementara Ravendra menatap pantulan dirinya sekali lagi. Perlahan, kedua tangannya bergerak untuk mengulangi pergerakan yang dibuat saat di taman tadi.
Kala tangannya berhenti di udara dalam posisi hampir melingkari diri sendiri, Ravendra terperanjat. "Lah? Beneran meluk dong tadi?"
Ravendra bergidik, rambutnya diacak-acak. "Enggak! Tadi cuma refleks itu! Refleks karena mau nolong. Coba kalau tangan ini nggak refleks! Bukannya Tara malah jatuh di tanah? Iya kan?!"
"Hah!" Sepertinya, kewarasan cowok itu menurun saat tengah malam.
"Gue cuma nolong. Me-no-long. Titik!"
...•••••...
^^^bersambung ....^^^
__ADS_1