Steal Your Heart

Steal Your Heart
Episode 24


__ADS_3

...•••••...


"Oh."


"Oh?!" Hantara berseru kesal. "Cuma 'Oh' aja?!"


Ravendra menutup telinga. "Terus kamu mau saya gimana? Kamu mau saya kaget alay kayak kamu gitu?"


"Hih! Ngatain!" Hantara cemberut. Ravendra kembali melajukan mobilnya setelah tadi berhenti untuk mendengar cerita Hantara mengenai Lia yang menyukainya.


Berdiam diri selama lima menit, Hantara gatal untuk bersuara. "Jadinya gimana nih? Aku kasih nomormu ke Lia atau enggak?"


Ravendra mendesah pasrah. "Ya mau gimana lagi? Memangnya saya punya hak untuk menolak?"


"Kamu punya hak itu, Rav." Hantara memicingkan mata.


Ravendra enggan menolak, yang sebenarnya tak mau menyakiti hati Lia. Dia tahu kalau tujuan Lia meminta nomornya juga bukan untuk hal yang macam-macam. "Kasih aja, Tara."


Hantara melongok pelan. "Beneran nih?"


"Iya." Ravendra menghentikan mobilnya tepat di depan pagar rumah Hantara. "Saya yakin sahabatmu juga nggak bakal macam-macam."


"Ya emangnya Lia mau ngapain sih, Rav. Elah! Pede amat!" Usai berkata, Hantara membalas chat dari Lia dan memberikan nomor ponsel Ravendra.


"Udah? Sekarang kamu bisa turun. Udah sampai rumah."


Hantara mengernyit kesal. "Makin lama makin ngeselin ya? Kenapa sih? Kok kayaknya kamu yang nambah sensitif hari ini?!"


Ravendra mengembuskan napas. Dia malas menanggapi pertanyaan Hantara.


"Oh, aku tahu!" Hantara melayangkan tatapan tajam. "Pasti kamu nyesel kan, karena seharian kemaren udah jagain aku yang sakit ini. Iya kan? Cih! Semua cowok itu sama aja!"


Hantara keluar dari mobil Ravendra, agak membantingnya saat ditutup.


Pada kursi kemudi, Ravendra mengerjap bingung. Hantara berasumsi kalau dia menyesal karena sudah menjaga cewek itu seharian kemarin? Ya ... Ravendra tak tahu harus menjawab iya atau tidak.


Sebab, bisa dibilang, andilnya dalam menjaga Hantara kemarin berhasil membuat Gianna kesal sehingga tak menghubunginya sama sekali.


Dan barusan, Hantara malah mengomelinya tanpa mengucapkan terima kasih sama sekali.


"Astaga~" Ravendra mengusap wajahnya kasar. Kalau begini terus, bagaimana bisa fokus dengan rencana-rencana masa depan yang harus diperhitungkan? Asmaranya saja membingungkan sekali.


Ravendra hendak menghidupkan mesin mobil, tapi satu chat masuk dari nomor yang tak dikenal. "Siapa?"


08xxx


Kak Ravendra?


Ini saya sahabatnya Hantara sama Sagara.


Nama saya Lia.

__ADS_1


Maaf kalau saya lancang,


Tapi saya mau bilang,


Kalau saya suka sama Kak Ravendra.


Terima kasih udah mau baca chat ini, Kak.


Sekian.


Kemudian, nomornya langsung di-block.


"Lah?" Ravendra menganga. Kembali memastikan bahwa memang nomornya yang di-block oleh Lia. Ravendra menatap langit di atas sana. Pikirannya terhenti. Dia tak tahu sedang berada di semesta mana.


"Ini ... kenapa malah langsung di-block?"


Kesimpulannya, baik Hantara maupun sahabatnya, mereka sama-sama aneh.


...•••••...


Pukul tujuh malam, Hantara sibuk berkutat dengan laptopnya untuk menyelesaikan tugas yang perlu diselesaikan. Ponselnya diletakkan di atas tempat tidur. Sengaja agar tak mengganggu fokus. Kalau tidak, yang ada malah berselancar di media sosial.


"Tara! Keluar dulu dong, Sayang!"


Hantara mengerutkan kening. Mama memintanya untuk keluar kamar? Padahal, Mama tadi sempat mengecek bahwa dia sedang serius-seriusnya menyelesaikan tugas.


"Iya, Ma. Bentar!"


Mengenakan kardigan terlebih dahulu, Hantara mengambil ponselnya yang terdapat begitu banyak notifikasi. Melihat sekilas, cewek itu menyimpan ponsel pada saku kardigan.


Mau tak mau, dia harus tetap menemui si pemilik suara yang diyakini bersama Mama di ruang tamu.


Memegang setoples camilan pedas, Ravendra berbincang dengan Mama dengan wajah sok polosnya itu. Hantara ingin sekali mencakar wajah cowok itu saking kesalnya.


"Ada apa, Ma?" tanyanya memecah fokus dua orang tersebut.


"Oh, Tara! Ini Raven mau ajak kamu jalan-jalan. Dia janji bakal pulangin kamu sebelum jam sembilan, kok. Tapi, tugasmu udah selesai?"


Hantara menatap Mama dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Mamanya itu, tiap menyebut nama Ravendra, terselip kehangatan yang hanya mampu diketahui oleh Hantara.


Mama tak pernah menyebut seseorang sehangat itu kecuali dirinya. Tak pernah dalam hidup yang diketahuinya. Sekarang, dia jadi teringat soal rencana menggagalkan perjodohan ini lagi. Kalau dibatalkan, apakah Mama akan menyebutkan nama Joshua sehangat itu?


Hantara tak yakin, Mama akan berlaku sama kepada Joshua. Mamanya itu sudah terlalu dalam atas hubungan baru ini.


"Hantara?" Mama menginterupsi.


"Hm, bentar, aku ganti baju dulu."


Jalani saja, Tara. Jalani saja dulu, sekalian biar tahu apa isi hatimu yang sebenarnya. Lah? Tapi kan gue jelas-jelas suka sama Kak Jojo. Gimana sih?!


...•••••...

__ADS_1


"Saya nggak menyesal udah menjaga dan merawat kamu kemarin, Hantara."


Keheningan yang tadinya tercipta, kini makin dalam. Sepanjang perjalanan dari rumah sampai melangkah di taman kota yang ramai, mereka tak mengutarakan apa pun. Tapi sekarang, malah cowok itu makin membuat keterdiaman mereka ditambahi satu bumbu lagi---kecanggungan.


Hantara memandang anak kecil yang berlarian dan meminta orang tua mereka untuk dibelikan tutut dengan cangkang berwarna. Beda lagi dengan Ravendra, cowok itu kebingungan mengatur kalimat berikutnya.


Baru membuka mulut, tunangannya itu berujar. "Tapi gara-gara aku, kamu jadi tengkar sama Mbak Gianna kan?"


Alis Ravendra meninggi. "Kamu tahu dari mana? Saya kan, nggak ngomong apa-apa."


"Tadi aku sempat video call sama Sagara dan Lia. Sagara cerita kalau Mbak Gianna nge-chat dia dan cerita lagi ngambek sama kamu, karena kamu lebih peduli sama kerabat yang lagi sakit padahal ... nggak begitu saling kenal." Suara Hantara mengecil di akhir kalimat.


Ravendra memandang tunangannya itu dari samping. "Yang bener? Gianna cerita gitu ke Sagara?"


"Hm," Hantara mendongak. Sukses menguasai diri tanpa membuat keanehan. "Tapi beruntung banget, Rav. Mbak Gianna nggak kasih tahu kalau aku yang sakit. Dia bilangnya, kerabat."


"Iya, tapi ... kenapa Gianna harus bilang kayak gitu?" Ravendra mengeluarkan ponsel, mencari kontak pacarnya.


"Kamu mau apa? Memangnya ada yang salah ya?" Sesungguhnya Hantara sudah tahu, bagian mana yang agak keliru.


" ... nggak begitu saling kenal."


Gianna memang benar. Baik dia atau Ravendra, hanya sepasang manusia yang dipertemukan karena keinginan keluarga tanpa mengetahui diri masing-masing.


Hanya saja, perasaan tak dianggap itu kembali merayap. Mungkin, Gianna berpikir kalau dia seharusnya tak ada di antara hubungan manisnya dengan Ravendra. Seharusnya ... tak ada di antara mereka. Di dunia.


Hantara mencengkeram lengan jaket Ravendra erat-erat. Si pemilik jaket tersentak. "Tara? Kamu kenapa?!"


Hantara mendongak pelan, namun detik berikutnya kakinya tak mampu menopang berat tubuhnya lagi.


Ravendra membeku. Di hadapannya, Hantara pingsan. Dan dia ... memeluknya. Begitu erat, seakan-akan tunangannya itu bisa hilang kapan saja.


Angin malam yang menusuk berhasil menyadarkan Ravendra untuk segera membawa Hantara ke rumah sakit. Kalau tidak, mungkin dia akan berdiam diri di taman kota seperti patung dengan posisi memeluk Hantara.


Bersyukur jarak antara taman kota dan Rumah Sakit Umum cukup dekat, sehingga dia bisa membawa Hantara secepat mungkin untuk diperiksa.


Selepas membaringkan Hantara di brankar, Ravendra menghubungi Mama, Ayah, Ibu, dan Ajeng. Entah kenapa, dia merasa wajib menghubungi orang-orang tersebut.


Kala Ravendra hendak menyimpan ponsel dan menilik Hantara, satu panggilan masuk membuatnya gusar.


"Halo, Rav?"


"Halo, Gi?"


"Rav, maaf ya, seharian ini---"


"Maaf banget, Gi. Teleponnya disambung nanti dulu nggak apa-apa ya? Ini aku lagi di rumah sakit, Tara pingsan. Aku harus ngikutin Tara yang dibawa perawat ke Emergency Room. Nanti aku telepon lagi ya, Gi. Bye~"


Baru kali ini, Ravendra memutuskan sambungan telepon terlebih dahulu tanpa mendengar balasan Gianna.


Dan mulai malam itu, Gianna merasa adanya perubahan baru yang akan menentukan bagaimana harinya esok.

__ADS_1


...•••••...


^^^bersambung ....^^^


__ADS_2