
...•••••...
Pagi-pagi, Hantara sudah dikejutkan dengan kedatangan Ravendra yang menyiram tanaman bersama Mama. Hari ini, dia memang tidak ada kelas dan niatnya mau menenangkan diri di rumah. Tapi kalau di rumah sudah ada badut yang satu ini, ya mana bisa?!
Melihat keberadaan Hantara di ambang pintu utama, Mama tersenyum dan melambaikan tangan. "Sini, Sayang! Mau ikutan nyiram?" Ravenda pun menoleh dan turut melempar senyum.
Hantara terkekeh. "Ma! Itu cuma nyiram tanaman. Kenapa aku harus ikutan segala? Ngapain rame-rame juga sih? Kayak nggak ada kerjaan aja," cewek itu malah duduk di salah satu kursi yang terdapat di teras. Dia melihat Mama dan Ravendra yang saling berbincang.
Hantara memicingkan mata. Beberapa hari yang lalu, Mama terlihat begitu kecewa dengan kenyataan Ravendra yang masih berhubungan dengan pacarnya. Sekarang? Lihatlah! Keduanya malah bercanda tawa seolah-olah tidak pernah terserang masalah sama sekali.
Belum puas bergelut dalam pikiran, sebuah suara langsung mengejutkan Hantara dan dua orang yang sedang menyiram tanaman itu.
"Lah, Bang Raven ngapain pagi-pagi di sini?" tanya Sagara setelah membuka pintu pagar lebih lebar. Di belakang, Lia mengikuti sambil menjinjing kantung plastik berisikan makanan ringan.
Ravendra tersenyum kalem. "Nih! Nemenin Mama nyiram tanaman kesayangannya."
Sagara berdecak takjub. Perubahan Ravendra yang seperti ini boleh juga. "Tante, kenapa nggak ngomong dari kemaren-kemaren sih, kalau udah punya calon menantu?"
"Maunya sih ngasih tahu," Mama tersenyum menatap Lia dan Sagara. "Tapi yang terlibat maunya tutup mulut, kasih kejutan katanya."
Sagara mengangguk saja. Tak lupa, keduanya bersalaman dengan Mama Nadya. Lalu menemukan Hantara yang salah tingkah dan menatap sembarang arah tidak jelas.
Lia meletakkan kantung plastiknya di atas meja bundar depan Hantara. Secara mengejutkan, Lia memeluk Hantara terlebih dahulu. Sagara diam—membiarkan kedua cewek itu menyelesaikan suatu hal yang belum terselesaikan.
"Li ...?" Hantara membalas pelukan sahabatnya. Dia curiga, Lia kesambet sesuatu juga.
"Maaf ya, Tara ...."
"Hah?" Hantara melepas pelukan. "Maaf kenapa? Buat apa?"
"Itu tuuu!" Lia menunjuk Ravendra sekilas, kemudian menatap Hantara sungguh-sungguh. "Dengan teganya, gue malah ngomong kalau gue suka sama Kak Ravendra. Padahal ... lo ada hubungan sama dia—malah lo ini tunangannya!"
Lia menggapai tangan kiri Hantara. "Tuh! Kenapa gue nggak sadar sama cincin ini juga sih? Seharusnya gue tanya ke elo soal cincin ini jauh-jauh hari sebelumnya. Maaf ya, selama ini gue udah nyakitin lo dengan omongan-omongan nggak pantas itu."
Hantara melongo. Sahabatnya ini sedang tidak bercanda. Terlihat jelas dari raut wajahnya, Lia memang meminta maaf.
"Li ... nggak perlu minta maaf sampai segitunya kali! Kan lo nggak tahu apa-apa," kata Hantara menenangkan.
"Gue merasa bersalah, Tara. Secara nggak langsung, gue udah jadi alasan kenapa lo nggak mau ngomong soal pertunangan ini ke gue dan Sagara." Sanggah Lia.
"Hah? Alasan?" Hantara menoleh sekilas ke arah Sagara yang bersikap bodo amat—bermain ponsel.
"Nggak gitu, Lia. Gue emang nggak ...." Hantara tak menyelesaikan kalimatnya. Dia tak mungkin memberitahu yang sebenarnya tentang rencana awal dari pertunangan ini.
Dari yang tadinya ingin lekas berpisah, sekarang justru melekat tanpa aba-aba. Bukan Hantara yang memulai, tapi cowok bernama Ravendra itu.
Hantara tak mungkin menjelaskan bagaimana pertunangannya akan berjalan, dan pada waktu apa dia akan berpisah dengan Ravendra.
Karena tidak tahu apa yang akan menjadi jawaban, Hantara hanya menggeleng. Sebisa mungkin memberikan senyum tidak apa-apanya.
__ADS_1
"Pokoknya nggak gitu, Li! Gue emang belum ... siap ngasih tahu? Soalnya pertunangan ini memang mendadak banget. Lo tahu sendiri kalau sebenernya gue sukanya sama Kak Jojo, kan?"
Dalam beberapa meter, Ravendra tak sengaja mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Hantara. Cowok itu menengok dan menyaksikan Hantara yang tersenyum miris.
Ck! Kenapa sih?!
Selalu seperti ini. Kala mendengar Hantara menyebut nama Joshua, hatinya tak tenang. Sama seperti sebelumnya, dia tak tahu mengapa merasa demikian.
Sagara yang memergoki Ravendra, berusaha menahan tawa. Tadinya, dia berpikir kalau-kalau Ravendra akan menyakiti Hantara lantaran cinta Ravendra kepada Gianna sangatlah besar. Namun detik ini pula, Sagara bisa sedikit tenang.
Menit demi menit, akhirnya Hantara dan Lia sudah kembali seperti sebelumnya. Sagara pun larut dalam obrolan. Tiga sahabat itu kembali dalam atmosfer menyenangkan.
Sementara itu, Ravendra membantu Mama memindahkan beberapa tanaman yang tertinggal di taman samping tempat menjemur pakaian. Saat melewati ketiga orang yang bersenda gurau di teras itu, Ravendra menoleh.
Hantara tertawa lepas. Bahagia. Melihatnya, Ravendra tak mampu menahan senyum. Hatinya sedikit lega. Sebuah perasaan yang belum dianggap telah menunjukkan sinyal tersendiri. Meski sang pemilik hati malah mengartikan dalam bentuk lain yang lebih formal.
...•••••...
Pukul sepuluh pagi, tiga sahabat itu sudah duduk di karpet ruang tengah sambil bermain monopoli. Berhubung tidak ada tugas berat, mereka memilih untuk menyegarkan pikiran dengan permainan masa kecil seperti ini.
"Baru mulai, Sagara! Jangan bikin rumah dulu! Itu tanahnya aja yang beli!" Seru Lia karena Sagara memang sudah melakukan satu putaran dan ingin sekaligus membangun rumah.
"Ya terserah gue dong, Li! Kok protes?!" Sagara tidak mau kalah. "Ayo, Tar! Sini rumahnya! Gue beli nih!"
Hantara tergelak melihat rusuhnya Sagara yang menghitung uang mainan agar sesuai dengan jumlah yang tertera pada kartu tanah. Dia mengambil miniatur rumah-rumahan berwarna hijau, lantas disodorkan pada Sagara yang sudah memberikan uang mainannya.
Lia merengut. Tidak tahu kenapa, dia selalu kalah kalau memainkan suatu permainan. Entah apa jenisnya, Lia akan selalu kalah. Kadang Sagara dan Hantara sudah mengalah pun, Lia masih tetap kalah.
Ck! Dasar badut!
Setelah meletakkan sekarung beras tersebut pada tempatnya, Ravendra menghampiri tiga sahabat itu dengan es boba yang sempat dibeli tadi.
"Nih!" Ravendra menyodorkan masing-masing satu es boba. Hantara melirik, sekarang mau cari muka di depan Sagara dan Lia juga? Cih!
"Weh! Makasih, Bang! Dari kapan di sini?" tanya Sagara bersahabat seperti biasa.
"Jam berapa ya? Setengah enam kayaknya," Balas Ravendra.
Hantara menoleh terkejut. "Dari jam segitu?"
"Iya," Ravendra mengangguk santai. "Makanya tidurnya jangan lama-lama! Kasihan tuh, Mama harus mondar-mandir bersihin rumah besar ini sendirian."
"Terserah aku dong!" Ketus Hantara kembali bermain monopoli.
Diam-diam, Sagara dan Lia saling melirik. Meski singkat, keduanya mampu menangkap keakraban tersendiri hanya dari tatapan dan gerak-gerik.
"Oh iya," Sagara teringat sesuatu. "Li, titipan yang tadi!"
Lia menatap Sagara seakan tak percaya. "Yang bener, Sa?" cewek itu melirik Hantara dan Ravendra.
__ADS_1
Sagara mengangguk saja—seperti kode agar misi segera dijalankan. Perlahan, Lia membuka tas selempangnya dan menemukan cokelat batangan pemberian seseorang.
Hantara dan Ravendra sama penasaran. Tidak tahu kenapa Lia bersikap enggan seperti itu.
"Kenapa sih, Li?" tanya Hantara.
Lia meringis, "Ini, ada titipan buat lo, Tar."
Hantara menerima cokelat yang diusulkan Lia. "Titipan? Dari siapa?"
Tanpa rasa bersalah, Sagara menjawabnya—tak lupa mengamati ekspresi yang akan ditunjukkan oleh Ravendra. "Dari Seno. Katanya mau ngajak pendekatan lagi."
"Heh?"
Belum sepenuhnya mencerna, tiba-tiba saja satu tangan berhasil meraih cokelat tersebut. Hantara menatap tajam Ravendra. Sedangkan cowok itu malah membuka cokelat tersebut dan melahapnya.
"Bilangin ke Seno, Sa. Hantaranya udah punya tunangan. Kalau dia nggak percaya, suruh hadap gue!" Kata Ravendra acuh. Sagara bersiul senang mendengar perkataan tersebut.
"Kok kamu yang makan sih, Rav?" kesal Hantara.
"Kenapa? Kamu mau cokelat pemberian Seno?" timpal Ravendra.
"Cokelat. Nggak usah diterusin pemberian siapa atau siapa. Aku mau cokelatnya, Rav." Hantara hendak menggapai cokelat yang dipegang Ravendra. Namun Ravendra lebih cekatan dengan menyembunyikan di belakang tubuhnya.
"Kalau mau cokelat, bilang dong! Aku bisa beliin kamu lebih dari ini kalau kamu mau." Kata Ravendra.
Hantara mengerjap-ngerjapkan matanya. Ha ha ha! Gawat! Gitu aja gue udah mulai baper!
"Apaan sih?!" Hantara menyedot es bobanya, berusaha mengabaikan debar yang datang tanpa permisi. Sagara dan Lia hanya mampu melempar lirikan.
Permainan monopoli pun berlanjut. Ravendra malah menjadi kasirnya. Saat Hantara menjajaki kembali salah satu negara yang dia punya, Ravendra berseru heboh. "Tar! Beli rumah langsung, Tar! Nih! Rumah kita!"
Ravendra menyerahkan miniatur rumah hijau kepada Hantara. Tiga sahabat yang mendengar perkataannya pun kompak menoleh. Sagara mengulum senyum, "Lo barusan ngomong apaan, Bang? Ya gue tahu kalian udah tunangan, tapi jangan seenaknya gitu dong! Pamer rumah monopoli segala!"
Ravendra mengerjap bingung. "Ya nggak apa-apa lah, kan emang bener. Iya kan, Tar?"
"Hilih! Kamu tuh bagian kasir aja, Rav. Udah ah! Diam aja! Nggak kamu suruh ya aku emang mau bangun rumah sendiri." Seru Hantara tak mau terima begitu saja. Padahal, kupu-kupu pada perutnya mulai beterbangan karena ucapan Ravendra tadi.
Rumah kita.
Setelah mengulang kembali apa yang diucapkannya tadi, Ravendra teringat akan satu hal; rumah. Cowok itu kembali memandang Hantara.
Mau bagaimana lagi? Hantara adalah tunangannya—tanggung jawab barunya.
Dan seharusnya, Hantara berhak untuk tahu rumah yang diam-diam sudah dibangun dan siap untuk ditempati. Ravendra kian dekat dengan Hantara. Ditariknya lembut tangan kanan cewek itu, lalu bertemu dengan sepasang matanya.
"Kamu mau lihat rumah kita?" tanyanya lembut. "Rumah kita di masa depan yang benar-benar ada."
...•••••...
__ADS_1
^^^bersambung ....^^^