Steal Your Heart

Steal Your Heart
Episode 27


__ADS_3

...•••••...


Dua hari setelah malam di mana Ravendra menemani Hantara di rumah sakit, Gianna meminta bertemu. Gianna melengos begitu mendapati kedatangan Ravendra yang tak sendiri. Memejamkan mata, cewek itu tidak boleh menampilkan amarah barang sedikitpun. Jujur saja, malam itu dia memang kesal—yang teramat sangat—pada Ravendra. Sebab pacarnya itu malah memutuskan sambungan sepihak tanpa menunggu balasan Gianna.


Ya, Gianna tahu kalau malam itu keadaannya sangat mendesak. Hantara pingsan. Sebagai cowok yang menjabat gelar sebagai tunangannya, memang sudah seharusnya Ravendra membantu. Hanya saja, nada penuh kekhawatiran yang terdengar saat Ravendra menjawab panggilannya kala itu yang membuat sesak.


Bertempat di rumah makan tradisional, Gianna menunggu di salah satu bilik lesehan yang menghadap ke hamparan bunga. Tak jauh dari keindahan bunga penuh warna, tempat parkir terlihat.


Sedari tadi, dua insan itu tak kunjung melangkah. Ravendra dan Hantara saling melempar kalimat dengan raut yang tak dapat diterka. Gianna sendiri cukup penasaran, apa yang membuat mereka tak kunjung memasuki area rumah makan.


Menilik tempat parkir, bersandarkan mobil Ravendra, Hantara menggeleng kuat-kuat. "Kamu tadi izinnya ngajak aku jalan-jalan lho, Rav! Bukan jadi obat nyamuk!"


Ravendra menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia sendiri juga bingung. Mengapa pula harus mengajak Hantara jalan-jalan, yang pada kenyataannya malah membawa cewek itu bertemu dengan pacarnya. Kalau orang-orang tahu—Ravendra mengajak tunangannya untuk bertemu pacarnya, wah! Luar biasa sekali prestasi yang sudah diukirnya.


"Kamu sengaja mau bikin aku gabut maksimal ya? Kalau tahu gini, kan aku bisa nge-chat Kak Jojo buat nemenin. Sekalian double date dong!" Hantara mencari ponsel yang berada di tas selempangnya.


Mendengar nama tersebut, Ravendra mengernyit. "Ngapain kamu harus ngajak Jojo segala?"


"Lah? Tadi kamu dengar nggak sih, Rav?" tanyanya lagi.


Gelengan Ravendra menjadi jawaban. Hantara mendengus pelan. "Tujuan kamu sore ini mau nge-date sama Mbak Gianna kan? Terus kenapa kamu malah ajak aku ikutan juga? Daripada ganjil gini personilnya, sekalian aja aku ajak Kak Jojo biar kita bisa double date. Sama pasangannya masing-masing. Aman, damai, sentosa."


"Ck." Ravendra berbalik, membelakangi Hantara yang sudah mulai mengirim pesan kepada Joshua untuk datang ke tempat ini. "Oke, terserahmu aja kalau gitu."


Tanpa komando, Ravendra meninggalkan Hantara yang sudah senyam-senyum sendiri. Melihat dari kejauhan, Gianna memiringkan kepalanya. Sebenarnya, sudah sedekat apa sih hubungan di antara keduanya?


Tapi yang pasti, mereka sudah terbiasa berbicara satu sama lain agar tidak canggung dan bersikap selayaknya teman. Gianna mengulum bibir bawahnya. Teman ya? Siapa yang bisa menjamin kalau keduanya akan tetap seperti itu sampai beberapa bulan lagi?


"Gi? Udah lama? Maaf ya, tadi harus—"


"Kenapa kamu ngajak Hantara ke sini?" tanya Gianna langsung. "Bukannya kita mau menghabiskan waktu berdua, Rav? Dari kemarin aku sudah sabar lho, ngebiarin kamu terus-terusan sama Hantara."


Ravendra memicingkan mata. Raut Gianna jelas tak bersahabat. Belum lagi tatapan tajamnya seakan-akan ingin menenggelamkan Ravendra detik itu juga. "Gi, kamu cemburu?"


Mendekati Gianna, Ravendra tak kuasa menahan senyum. "Wah, pacarku ternyata lagi cemburu ya?" godanya ingin melihat wajah Gianna lebih jelas.

__ADS_1


Gianna meraup oksigen sebanyak-banyaknya, terkumpul dalam mulut sampai menggembung lucu. Ravendra melepaskan tawa. Tawa penuh kasih yang tak pernah didengar siapa pun selain Gianna dan keluarganya.


"Lucu deh kalau cemburu kayak gini," Ravendra meletakkan kedua tangannya pada bahu Gianna, kemudian membalik tubuh sang pacar agar bisa berhadap-hadapan. Tak bersuara, Ravendra menatap lamat.


Gianna berseru senang dalam hati. Momen seperti inilah yang dinanti-nanti. Sejak Ravendra disibukkan dengan agenda perjodohan itu, memang keduanya jarang sekali berada dalam kehangatan semacam ini.


Dan tahu-tahu, keduanya sudah larut dalam obrolan penuh kasih sayang. Mengabaikan satu presensi yang memandang sendu arah keduanya.


Hantara mendesah pelan. Ponsel sudah berada di samping telinga kanan, bersiap mendengar sambungan telepon yang akan dijawab.


"Halo? Tara?"


Menguasai diri, Hantara memalingkan arah. Berusaha menampilkan roman terbaiknya. "Kak Jo? Jalan yuk?! Tapi jemput aku dulu."


...•••••...


"Tara? Barusan pulang bareng siapa?" tanya Mama selepas menyadari Hantara yang pulang diiringi deru motor menjauh. Hantara menyalami Mama, lalu mendudukkan diri di sofa.


"Teman."


Mama menaikkan satu alisnya. "Teman? Siapa? Sagara? Kayaknya tadi itu cowok lho."


Anehnya, seharusnya dia membaur bersama Joshua untuk melaksanakan double date seperti ucapannya tadi. Namun begitu mendengar tawa hangat Ravendra saat bergurau dengan Gianna membuat dia undur diri. Sekalipun nantinya dia bisa berbincang santai dengan Joshua, dia sangat enggan untuk melihat interaksi sepasang kekasih itu.


Melihat pantulan dirinya pada layar gelap televisi, Hantara menyendu. Tampangnya memang tidak ada apa-apanya dibanding Gianna. Tidak salah kalau Ravendra bisa cinta mati pada cewek elegan itu. Sedangkan dirinya? Aduh! Mencari secuil unsur elegan saja tidak mampu.


Tapi—tunggu!


Barusan dia memikirkan apa?


Hantara menggeleng cepat. Hendak memusnahkan topik yang melayang dalam isi kepalanya. Soalnya tidak masuk akal. Mengapa pula dia harus membanding-bandingkan dirinya dengan Gianna?


Buat apa?


"Hah!" Cewek itu melirik sekitar. Beruntung Mama sudah tak ada di ruang tamu. "Ini otak kenapa sih?! Seharusnya kan ya gue seneng habis jalan-jalan sama Kak Jojo. Eh, malah mikir yang enggak-enggak. Hih!"

__ADS_1


Agar isi otaknya tidak terbayang oleh topik aneh-aneh yang lain, Hantara memutuskan untuk memasuki kamarnya dan melihat-lihat catatan kelas pagi tadi. Itu lebih baik daripada harus memikirkan keanggunan seorang Gianna dan Ravendra—pacar Gianna sekaligus tunangannya.


...•••••...


"Kapan kalian pisah?"


Ravendra menguras otak. Lagi-lagi, pertanyaan tersebut menyapa pikirannya. Pukul sebelas malam, cowok itu tidak bisa mengistirahatkan dirinya seperti biasa. Sekarang, beban sebesar gunung benar-benar bertengger manis di pundaknya tanpa ampun.


Waktu makin berlalu. Setelah pertunangan yang terjadi di antara dirinya dan Hantara, memang sudah sepatutnya Ravendra memikirkan langkah macam apa yang bisa menggugurkan benang merah ini.


Tadi, Ravendra hanya membalas sekadarnya saja; bahwa dia akan memikirkan rencana yang benar-benar matang, sebab kedua orang tuanya sudah sangat nyaman dengan kehadiran Hantara.


Gianna kembali muram. Menyadari bahwa kedua orang tua sang pacar lebih memilih cewek lain tentunya mengiris luka kecil di hatinya. Luka kecil namun kelewat perih.


Bagaimana Ravendra harus menjelaskannya ya? Dia sangat mencintai Gianna. Sejak dulu sampai kapan pun, dia akan tetap mencintai pacarnya itu.


Hantara?


Astaga!


Dia cuma manusia yang kebetulan sedang lewat dalam alur kehidupannya. Ya bisa dibilang cewek itu juga mengisi beberapa episode yang tidak panjang-panjang amat. Hantara itu cuma figuran. Sekalipun Hantara merupakan tunangannya.


Masalahnya, bagaimana cara yang apik untuk membatalkan perjodohan sekaligus mengusir Hantara secara halus dari semestanya?


Teringat wajah Hantara yang memucat dan pingsan dalam pelukannya membuat Ravendra tidak tega. Tapi di satu sisi, saat dia melihat Hantara bersama dengan Joshua, seakan-akan dia tak terima.


"Ck!" Ravendra membaringkan tubuhnya. Menatap langit-langit kamar yang tak ada indah-indahnya. Kosong melompong. Seperti isi pikirannya saat ini. "Itu karena insting sih. Nggak tahu kenapa, rasanya Jojo nggak sebaik yang gue pikirin. Atau cuma karena gue berlebihan ya?"


Ravendra bermonolog sesuka hati. "Lagian, Hantara tuh umurnya di bawah gue. Mungkin diam-diam gue udah anggap dia sebagai adik kali ya? Makanya gue jadi nggak nyaman tiap tahu Hantara sama Jojo."


Dia mengangguk puas atas asumsi anehnya itu.


"Iya, pasti itu!" Setelahnya, dia memutuskan untuk berganti pakaian dan menyikat gigi.


Bisa saja Ravendra berkata demikian. Sebuah penyangkalan halus yang ingin dipergaungkan. Akan tetapi, siapa yang tahu bagaimana hatinya untuk beberapa hari ke depan?

__ADS_1


...•••••...


^^^bersambung ....^^^


__ADS_2