Steal Your Heart

Steal Your Heart
Episode 19


__ADS_3

...•••••...


Hantara memilih salah satu jaket berwarna abu tua yang memiliki kualitas baik. Melihat warna jaket tersebut, berhasil mengingatkan Hantara akan jaket abu tua yang pernah melingkari perutnya.


Momen saat Ravendra merelakan jaketnya sebagai penutup bagian belakang tubuhnya karena sedang datang bulan.


Hantara cepat-cepat menggeleng. Mungkin dikira orang, dia kesambet sesuatu.


"Kamu udah pilih, Tar?" tanya Joshua yang datang dari samping kanannya.


Tersentak, cewek itu langsung iya-iya saja.


"Aku mau coba lihat kemeja dulu ya, Tar. Di sini juga tempat langganannya Ayah." Kata Joshua berlalu ke bagian kemeja.


Yang pasti, kenapa dia tadi teringat dengan Ravendra? Cowok itu, pada waktu itu saja baiknya. Di lain waktu ya tetap menyebalkan.


Hantara menatap cincin pertunangannya. Cincin itu cantik. Namun alangkah lebih baik jika tidak disematkan pada jari manisnya atas nama Ravendra. Dia akan sangat senang jika Joshua yang memberi benang merah pada cincin tersebut.


Menghampiri Joshua, dia mendapati cowok itu sedang memilah antara dua lembar kemeja berwarna biru tua dan abu muda. "Tar, ini bagus yang mana?" tanya cowok itu saat melihat Tara.


"Hm, buat siapa nih? Buat Pak Yudhi atau buat Kak Jojo?" lemparnya.


"Buat Ayah, Tar. Ayah suka yang merek ini."


Hantara mengangguk. Dia memilih warna biru tua yang tampaknya akan lebih cocok digunakan oleh Pak Yudhi. Dosennya yang satu itu, cocoknya warna-warna gelap.


Joshua terkekeh, "Oke! Aku juga tadi milih yang ini, tapi abu muda kayaknya nggak boleh ketinggalan."


"Kalau yang abu muda sih, buat kamu Kak. Kalau Kak Jojo yang pakai, pantas-pantas aja sih." Ucap Hantara jujur.


Mendengar ucapan Hantara, Joshua tak mampu menahan senyum. Sesuatu dalam kalimat yang terdengar tadi mengisi sebagian kecil dari hatinya. Bahkan terdengar cukup manis.


Joshua membeli dua kemeja tersebut, sesuai yang ditentukan; biru tua untuk ayahnya, dan abu muda untuk dirinya. Tak lupa, Hantara menyerahkan jaket abu tua yang akan dibeli.


Joshua sempat memaksa untuk membayarnya sekalian. Tapi, Hantara tak mau. Dia tak terbiasa menjadi pribadi yang suka dibelikan orang lain sekalipun kesusahan. Pada akhirnya, Hantara berhasil membayar sendiri setelah Joshua bersikeras untuk membayarnya.


Keluar dari toko pakaian khusus laki-laki, Joshua dan Hantara memutuskan untuk membeli makanan yang tak terlalu berat di food court. Akan tetapi, pada dasarnya tak tahan godaan, Hantara pun membeli ayam kremes.


"Ah, tag-nya jaket tadi belum diambil, Kak Jo." Hantara membuka tas belanja yang berisi jaket abu tua tadi.


"Ini, aku punya cutter, Tar. Tag-nya talinya harus pakai cutter itu."


Hantara menerimanya dengan senang hati. Senangnya kalau dia mempunyai Joshua sebagai pacar yang pengertian. Sayangnya sampai sekarang, Joshua dan dirinya masih dalam tahap pendekatan.


Tanpa sadar, rautnya jadi murung. Joshua yang menyadari hal tersebut pun bertanya, "Tar, kamu kenapa? Kok jadi murung gitu?"


"Eh? Enggak kok, enggak! He he he---aduh!"


Karena sedikit terkejut dengan pertanyaan Joshua, tak sengaja cutter yang dipegang menggores ibu jari di tangan kirinya.

__ADS_1


Joshua menarik tangan kiri cewek itu dan melihat seberapa parah goresannya. "Sakit ya?"


"Enggak kok, Kak. Cuma kaget. Itu luka kecil gitu." Kata Hantara yang memang tidak cukup sakit.


Joshua tersenyum simpul, cowok itu mengambil sesuatu dari saku kemejanya. Sebuah plester.


"Oh? Kok bisa ada plester, Kak Jo?"


"Bisa dong. Kebiasaan juga. Di mana-mana selain HP, dompet, aku juga sering bawa plester." Joshua mulai memasangkan plester.


Hantara terenyuh. Perlakuan Joshua sangat hangat dan mendebarkan hati. Andai saja, dia bertemu dengan Joshua dari dulu. Maka asmaranya akan baik-baik saja dan dia bisa menjalani hidup dengan sebaik mungkin.


Namun, saat Joshua selesai memasang plester, matanya menangkap objek berkilauan yang detik ini baru diketahui.


"Tar?"


"Iya, Kak Jo?"


"Ini, sejak kapan kamu pakai cincin di jari manis tangan kiri?" Joshua menatap Hantara, menunggu jawaban cewek itu.


Hantara?


Jangan ditanya. Cewek itu kebingungan setengah mati untuk merangkai jawaban. Apalagi ditatap Joshua seintens itu. Dia jadi lupa mau bicara apa.


"Tar? Ini cincin biasa kan? Nggak artinya kan?" tanya Joshua lagi.


Apa jujur aja kali ya?


"Tadi, aku juga sempat lihat kamu nunjukkin tangan kirimu ke Ravendra di mobil." Lanjut Joshua. "Apa cincin ini ... ada hubungannya sama dia?"


Ya udah deh, jujur aja! Patah hatinya nanti dihayati di rumah.


"I-ini, cincin tunangan, Kak." Katanya pelan.


"Tu-tunangan?" Joshua membulatkan mata. "Cincin tunangannya siapa?"


Hantara menghela napas. "Cincin pertunanganku, Kak Jo. Sama ...."


"Ravendra?" terka Joshua yang tepat sekali.


Hantara mengangguk pelan. Joshua bergeming selama beberapa detik. Cowok itu tersenyum timpang. Ingin tak percaya, tapi kehadiran Ravendra yang kerap bersama Hantara membuatnya agak percaya.


"Kapan?"


"Ta-tadi malam." Balas Hantara, tak mau melihat raut Joshua sama sekali. Hatinya ikut sakit.


"Dan kamu ... hari ini malah jalan sama aku?" tanya Joshua sarkas.


"Kami cuma tunangan, Kak."

__ADS_1


"Iya, dan kamu malah---"


"Kami cuma tu-na-ngan!" Ucap Hantara penuh penekanan. Joshua tak mengerti. Tapi cowok itu memilih diam selagi Hantara meneruskan ucapannya. "Kami dijodohkan dan nggak saling suka. Kami udah janji, setelah tunangan, kami bakal pisah. Kami nggak mau sampai ke jenjang yang lebih tinggi."


Joshua memicingkan mata. "Kalian dijodohkan, tapi masih mau menyangkal?"


"Kak Jo, kamu tahu sendiri Ravendra itu punya pacar. Dan aku, nggak suka sama dia sejak pertama kali ketemu. Aku suka ...."


Hantara menggigit bibir bawahnya. Mau mengatakan, tapi malu.


"... suka sama Kak Jojo."


Bodo amat lah! Malunya dipikir belakangan nanti di rumah.


Hantara memejamkan mata. Makin enggan menatap wajah Joshua. Pipinya semerah tomat segar.


Di hadapannya, Joshua terdiam. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Pengakuan suka Hantara benar-benar mengejutkan.


"Se-seharusnya ... aku yang bilang begitu, Tara." Kata Joshua melembut.


Hantara mendongak perlahan. Masih malu, tapi penasaran juga.


"Aku juga suka sama kamu. Tadinya, aku mau confess ke kamu hari ini juga."


Hantara melongo. Dia tidak salah dengar kan? Kak Jojo mau confess ke gue hari ini? Kenapa nggak confess dari tadi?


"Tapi setelah tahu kamu udah tunangan sama Ravendra ... ya aku bisa apa?" Joshua tersenyum getir.


"Kok gitu? Kan aku nggak ada perasaan apa-apa sama Ra---"


"Iya, aku tahu. Tapi aku nggak bisa se-egois itu buat pacaran sama tunangannya orang lain, Tara."


Hantara mau teriak sajalah. Dia mau menyalahkan segalanya pada Ravendra. Padahal, dia yakin Ravendra juga kebingungan.


"Tapi tenang aja," Joshua mempertahankan senyumannya. "Kalau kalian memang bakal berpisah dalam waktu dekat, aku sanggup nunggu kok. Yang jelas, aku cuma mau hubungan kita cuma ada kamu dan aku. Nggak ada tambahan Ravendra atau siapa pun, meski Ravendra bukan orang yang kamu suka."


"Kak Jojo ... mau nunggu? Nunggu sampai aku pisah sama Ravendra?" tanya Hantara memastikan. Muncul secercah harapan.


Joshua mengangguk. "Dan aku bakal lebih senang pacaran sama kamu nantinya, Tara."


Inilah. Inilah yang membuatnya tenang. Joshua benar-benar menganggapnya sampai mau menunggu urusan dengan Ravendra selesai. Tidak seperti orang lain, Joshua tahu bahwa setiap suara patut didengar dengan baik.


Seperti bagaimana Joshua mengizinkannya untuk menyelesaikan permasalahan ini tanpa memandang sebelah mata. Tidak seperti orang-orang di sekitarnya, Joshua memberi kesempatan untuk melirik apa yang terjadi dalam hidupnya dan dibiarkan untuk diatasi sampai akhir---bersama-sama.


Joshua ... mau menunggunya.


...•••••...


^^^bersambung ....^^^

__ADS_1


__ADS_2