
...•••••...
Disuguhi pemandangan Ravendra yang selesai mandi dengan rambut basah merupakan salah satu hal yang tak pernah Hantara bayangkan. Hantara menganga melihat Ravendra berjalan ke dapur dengan sampiran handuk pada bahu kanannya.
Hantara berbalik, berdiam diri di tengah-tengah anak tangga. Dia menempelkan telapak tangan kanan pada jantungnya. Luar biasa! Bukan guenya yang lari pagi-pagi begini, tapi jantung gue yang lari duluan.
"Tara?" Suara berat Ravendra menginterupsi. Hantara membalikkan badan. "Ngapain jadi patung di situ? Kalau mau jadi patung, sekalian di luar dong!"
Hantara melotot. Hebat sekali cowok itu sudah mengacaukan suasana hatinya. Dia mencari sesuatu untuk dilempar ke arah cowok itu, tapi tak ada.
Ravendra pun menghilang dari pandangan disertai tawa menyebalkannya. Hantara menghela napas perlahan. Harus sabar! Harus tenang! Jangan cepat-cepat terbawa emosi atau parahnya lagi terbawa perasaan. Meski tahu, setangkai bunga hatinya seakan-akan mengharap untuk mekar.
"Kamu ada kelas ya, Tar?" tanya Mama selepas menjemur pakaian. Hantara mengisi botol air mineralnya dan mengangguk. "Baguslah! Sekalian tuh! Diantar sama Ravendra."
Hantara melihat Ravendra yang menyapu teras dengan tekun. "Sudah kuduga."
Menghampiri Ravendra, Hantara membawa wafer yang baru diambil. Sengaja, cewek itu menjatuhkan remah-remah wafer di hadapan Ravendra.
"Ups! Sengaja." Katanya jail.
Ravendra menoleh, tampak sekali cowok itu mau protes—tapi ditahan sebisa mungkin. Malah, Ravendra menebar senyum manisnya lalu menyapu remah-remah wafer pemberian Hantara tadi.
"Cih! Kalau mau cari perhatian sama Mama, sekalian tuh! Bersihin rumah ini sampai nanti sore." Cibir Hantara yang memutuskan untuk kembali ke dapur dan sarapan.
Sementara itu, Ravendra terdiam sejenak. Ditatapnya punggung Hantara yang menjauh dengan segudang tanda tanya besar yang belum tersalurkan. Tatapan cowok itu pun dipenuhi harapan baru atas pertunangan ini.
...•••••...
"Serius naik motor? Kalau orang-orang kampus tahu gimana?" Panik Hantara. Masalahnya Ravendra harus mengantarnya menggunakan motor besar cowok itu. Otomatis, orang-orang akan tahu dan dia makin malu.
"Ya kenapa sih? Nggak apa-apa lah kalau mereka tahu," balas Ravendra cuek.
Hantara memasang tampang memelas. Barangkali saja cowok itu mau membiarkannya pergi sendiri naik angkutan umum atau apalah.
"Naik!" Seru Ravendra—tampang memelas Hantara tak mempan rupanya.
__ADS_1
"Oke, fine! Aku naik! Eh bentar, apa aku pakai masker dulu aja ya?"
"Nggak usah! Langsung naik sini!" Hantara yang tadinya mau berbalik pun tak jadi. Kacau sudah harinya ini. "Lagian mau pakai masker atau enggak, orang-orang tetap bakalan tahu kalau yang ada diboncenganku ini seorang Hantara."
"Iya iya, cerewet!" Kesalnya.
Tanpa diketahui, Ravendra menahan senyum. Entah mengapa, pagi ini cukup lumayan juga karena telah melihat kekesalan Hantara.
"Pegangan bahuku aja, Tara." Ujar cowok itu. "Dipijit juga nggak apa—aduh!"
Belum menyelesaikan kalimatnya, Hantara melayangkan tepukan luar biasanya pada punggung cowok itu. Dia tersenyum puas mendengar ringisan Ravendra. "Kamu salah mangsa, Tuan Ravendra. Sekarang berangkat!"
Sepanjang perjalanan, Ravendra tak bisa berkendara dengan tenang. Sebab tunangannya itu terus-terusan menggerutu soal ini dan itu. Kalau Ravendra terlalu cepat mengemudi, Hantara protes. Kalau terlalu lambat—yang padahal tak lambat-lambat amat—cewek itu juga protes.
Belum lagi kalau Ravendra sengaja berbelok dalam kecepatan lumayan, Hantara malah menepuk helmnya tanpa ragu.
Sesuai dugaan, begitu tiba di dekat taman FMIPA, orang-orang langsung melirik dan bisikan-bisikan mulai menyambanginya. Hantara menutup wajah menggunakan kaca helm miliknya.
"Kan bisa turun di depan, Rav." Cicitnya sebisa mungkin menutupi diri.
Ravendra malah santai sekali. "Kenapa sih, Tara? Malu dianter sama aku ke kampus?"
"Ngapain malu? Kamu nggak tahu banyak cewek yang mau di posisi kamu?"
Hantara menganga. Cowok itu sepertinya mempunyai narsisisme yang berlebih-lebih. "Gila deh! Udah-udah, capek aku nanggepin omonganmu, Rav!"
"Ciee~ yang udah go public nih!"
Seperti biasa, Sagara dan Lia datang beriringan. Perkataan Sagara tadi pun langsung mengundang gurat keheranan dari beberapa orang yang berada di sekitarnya. Hantara memejamkan mata. Kalau sudah begini, tak menampik satu kampus akan tahu tentang statusnya dengan Ravendra dalam satu siang.
Ravendra tersenyum sok keren. Hantara ingin sekali melempari wajah tampan itu dengan tasnya. Tapi yang ada dia bakal menjadi bulan-bulanan para penggemar Ravendra—yang memang ada.
"Semalem ke rumah lo, Bang. Disuruh Bunda buat ngasih wedang ronde. Eh, tapi lo nggak ada ya di rumah? Ke mana?" tanya Sagara penasaran.
"Oh, semalem nginep di rumahnya Mama." Balas Ravendra.
__ADS_1
"Hah?" Sagara dan Lia kompak menganga. Sedetik kemudian pandangan keduanya beralih pada Hantara yang membuang muka.
Ngapain sih cowok ini ngasih tahu segala?!
"Ohh gitu ya," nada bicara Lia berubah sinis. "Setelah sebelumnya dicium sama cewek lain?"
Sagara tersadar, "Iya ya? Dan semalam malah nginep?" Tak menunggu lama, Lia menarik pergelangan tangan Hantara.
Hantara yang kesusahan melepas helm jadi kelimpungan. "Eh, eh, bentar!"
Kala melewati Ravendra, lengan kiri Hantara dicekal oleh Ravendra. Lia menghentikan langkahnya, begitu juga Sagara. Kini Hantara menghadap Ravendra sepenuhnya yang masih berada di atas motor. Hantara tahu, tunangannya itu sepertinya tak mau keadaan jadi seperti ini.
Ravendra menurunkan tangan kiri Hantara yang memegang pengait helm. Secara perlahan, Ravendra melepaskan helm tersebut. Hantara mematung. Berjarak cukup dekat dengan Ravendra, membuat jantungnya seakan-akan tengah bermain trampolin.
Ketampanan cowok itu makin menjadi-jadi. Hantara mengerjap bingung. Dia harus melihat ke arah mana agar tak salah tingkah? Masalahnya jarak pandangnya dipenuhi oleh sosok Ravendra yang kelewat menarik itu.
Setelah helm tersebut lepas, tak lupa Ravendra merapikan rambut Hantara yang berantakan. Ravendra tersenyum manis, "Sini, agak deket!"
Bodohnya, Hantara menurut saja.
Detik itu, semesta seakan berhenti berjalan. Hantara merasakan kehangatan yang tak pernah dijamahnya. Ravendra mengecup keningnya. Tanpa peringatan atau pemberitahuan, tunangannya itu berkehendak dengan sendirinya.
Lia dan Sagara ikut-ikutan menahan napas. Kalau ada seseorang yang mau mengabadikan momen tersebut, barangkali mereka akan saling tertawa dan mengejek setelahnya.
"Have a nice day ya? Jangan lupa nanti telepon, pulang jam berapa, oke?" kata Ravendra penuh kelembutan.
Hantara hanya mampu mengangguk. Berdeham, Hantara berbalik dan melihat dua sahabatnya yang tak tahu harus berbuat apa. "A-ayo, Li, Sa!" ajaknya gugup luar biasa.
Namun tak sengaja, sudut mata Hantara mendapati seseorang berdiri pada pukul dua. Memastikan siapa, Hantara menoleh. Betapa terkejutnya ketika dia melihat Gianna berdiri bersama teman-temannya dengan pandangan tertuju pada Ravendra.
Yang serasa di atas awan, kini kembali berpijak pada tanah asal. Hantara harus menelan kembali pil kepahitan begitu mendapati Ravendra yang juga menatap Gianna dengan tatapan yang tak mampu diartikan.
Tuhan ... kalau mereka cuma mau mempermainkanku, tolong cepat selesaikan permainan ini.
Hari itu diawali dengan kecup melenakan yang berupa dua sisi; kehangatan serta kepedihan.
__ADS_1
...•••••...
^^^bersambung ....^^^