Steal Your Heart

Steal Your Heart
Episode 37


__ADS_3

...•••••...


"Apaan sih? Diem aja ya? Lo sendiri tahu kemaren dia dicium sama Gianna." Hantara mengaduk es jeruk cepat-cepat. Cepat-cepat menepis godaan Lia soal kecupan kening tadi. Kekesalan masih bercokol pada benaknya begitu teringat tatapan Ravendra dan Gianna tadi. Dua manusia itu, sebenarnya ada apa sih?


Kenapa mereka senang sekali membuat Hantara kelimpungan mengatur hati dari yang melayang-layang sampai ke ambruk-ambruknya?


Rencana mereka itu apa sih?


"Nggak bener nih, gue harus cari tahu," gumam Hantara.


"Cari tahu apaan?" tanya Lia. "Lo nggak percaya seutuhnya sama Kak Ravendra? Kalau boleh jujur, gue juga sih, Tar."


Sagara mendelik, "Lo ikutan nggak percaya karena emang tulus buat masa depannya Tara atau karena masih ada suka ke Bang Raven?"


"Nggak usah sembarangan ya, Sa. Gue ini tahu tempat! Kalau jodohnya ke yang lain, apalagi sahabat gue, gue nggak bakal berani main mata." Lia mengerucutkan bibirnya. Kesal sekali karena Sagara memberikan asumsi yang salah.


"Ya maaf, habisnya kan lo emang nyatanya pernah naksir Bang Raven." Lia melotot mendengar ucapan Sagara. Diam-diam melirik Hantara untuk melihat reaksi yang diberikan cewek itu.


Di luar dugaan, Hantara masih mengaduk es jeruknya tanpa minat. "Tara? Lo kenapa sih sebenernya? Ciumannya Kak Raven tadi kurang ngena ya?"


"Heh! Sembarangan!" Seru Hantara tak terima. Namun belum genap sepuluh detik, Hantara kembali lesu. "Gue cuma bingung, dua orang itu mau ngapain gue sih? Tadi, gue tahu ada Gianna juga. Mungkin nggak sih, kecupan Ravendra tadi cuma buat manas-manasin Gianna?"


"Kenapa Bang Raven harus manas-manasin Gianna? Apa faedahnya, Tar?" bingung Sagara.


"Ya lo juga tahu salah satu jawabannya kali, Sa. Ravendra kan pernah cinta mati sama Gianna. Lo pikir, cinta matinya Ravendra bisa hilang gitu aja, gitu?"


Sagara berpikir, memang ada benarnya. Tak mungkin perasaan mendalam seseorang bisa berubah secepat itu. Apalagi menurut keterangan Hantara, Ravendra yang memutuskan terlebih dahulu.


"Semalam, kok bisa nginep di rumah lo? Dia ngomong sesuatu soal ciuman pipi di rumahnya itu nggak?" tanya Sagara berlagak seperti penyelidik.


Hantara membasahi kerongkongannya dengan es jeruk. Pembahasan kali ini lumayan berat. "Semalam di rumah gue hujan, nggak tahu kalau di daerah kalian. Tumbenan banget semalam bawa motor, ya disuruh nginep sama Mama lah. Tapi yang jelas, dia ngomong kalau Gianna yang main cium pipi gitu sih. Kepercayaan kembali ke gue."


"Ck!" Sagara menggeleng. "Susah! Lo dengar kayak gitu dari cowok yang pernah berkorban apa aja buat mantan pacarnya. Susah untuk diteliti, Tar."


Lia turut berkata, "Mama? Kayaknya Mama seneng banget ya, punya menantu macam Kak Raven."


"Walah! Jangan ditanya! Mama kalau fisiknya masih fisik anak muda, mungkin Mama udah heboh loncat-loncat nggak karuan gitu dah!" Hantara mendengus begitu teringat antusiasme yang ada pada diri Mama terhadap hubungannya dengan Ravendra.


"Peletnya Bang Raven manjur dong," celetuk Sagara.


Hantara mengangguk. "Pinter dia ngambil hati Mama."

__ADS_1


"Terus, nanti lo mau hadapin Kak Raven mau masang muka gimana?" tanya Lia penasaran juga.


"Ya mau gimana lagi? Muka pabrik lah! Muka gue yang cantik ini!"


Sagara dan Lia kompak mendengus dan mengalihkan pandang. Hantara tergelak melihat reaksi dua sahabatnya—bersama mereka memang merupakan jalan ninja terbaik untuk meringankan beban pikiran.


Namun apa yang ditanyakan Lia malah betah berputar-putar dalam kepalanya. Nanti, apa dia akan mengikuti alur menjadi tunangan yang membuka lengan lebar-lebar atau menjadi seseorang penuh asumsi-asumsi tak berdasar di hadapan Ravendra?


Entahlah, setangkai bunga hati yang masih kuncup itu seolah-olah tak memperbolehkannya untuk menjauhi Ravendra atau mencurigai sedikit pun.


Masalahnya, semesta menunjukkan kejutan-kejutan yang membuat rantai hatinya bersiap untuk mengambil gembok paling rumit.


Sekarang ... dia harus mengikuti yang mana?


Perasaan atau logika?


...•••••...


"Serius? Kamu dianter pulang sama siapa?" Ravendra menegakkan tubuhnya begitu mendengar Hantara akan pulang sendiri.


"Aku pulang diantar Lia, udah ya, aku pulang dulu."


"Tar—"


*tok tok tok*


Ketukan pintu berhasil menginterupsi Ravendra. Tadinya mau kembali menghubungi Hantara, tapi diurungkan. "Iya? Masuk!"


Setelah mengantar Hantara ke kampus, Ravendra memilih untuk menghabiskan waktunya di kafe selagi memeriksa beberapa hal yang perlu ditingkatkan.


Dari pintu, kepala salah satu orang kepercayaannya menyembul terlebih dahulu. "Bang Raven?"


"Iya, ada apa?"


"Ada Mbak Gianna, nunggu di bawah."


Ravendra mengembuskan napas. "Lagi? Bilang kalau saya sibuk mikirin pertunangan."


"Siap, Bang!"


Pintu tersebut kembali menutup. Ravendra menatapnya kosong. Sejak memutuskan hubungan antara dirinya dan Gianna, mantan pacarnya itu kerap mendatangi kafe. Jujur saja, rasanya sekarang tak semeriah dulu saat Gianna bertandang. Yang ada malah kekesalan terpendam karena Gianna masih bersikeras untuk bertemu.

__ADS_1


Padahal dia sudah mengatakan kalau fokusnya sekarang hanyalah untuk pertunangannya—lebih tepatnya Hantara. Yang paling penting, dia harus mengambil hati cewek itu.


Setelah berpisah lima hari, entah mengapa rasanya sulit sekali dekat dengan Hantara. Dulu saat mereka saling bertengkar seperti Tom dan Jerry, rasanya akrab sekali sampai-sampai Ravendra tega sekali menganggapnya sebagai adik.


Sekarang berbeda. Dia ingin mendekati Hantara sebagai tunangannya. Sosok yang akan melanjutkan langkah menuju pelaminan—jika Tuhan berkehendak.


"Tapi ...." Tatapan cowok itu menerawang entah ke mana. "Memang pernikahan yang diinginkan orang itu."


...•••••...


Malam-malam, Ravendra bersiap dengan mobilnya. Tak lupa meletakkan kue kering buatan Ibu yang luar biasa lezat. Ajeng melihat dari samping bufet. Sang kakak berulang kali merapikan penampilannya. Melihat kesungguhan saudara tertuanya itu, Ajeng jadi bingung.


Saat pipi Ravendra dikecup oleh Gianna tempo hari, jelas sekali binar bahagia itu masih ada meski secuil. Ajeng nyaris melempar Ravendra dengan lampu di atas bufet, kalau saja cowok itu tak menampilkan sorot terluka kala mendapati Hantara yang berlari penuh kecewa.


Ajeng yang tadinya mau angkat tangan dari asmara sang kakak, malah tak bisa berpikir jernih. Sebenarnya, Ravendra sudah memiliki perasaan kepada Hantara atau tidak sih?


Kalau sudah; Ajeng ingin sekali membantu Ravendra untuk tetap berjuang agar hati Hantara bisa digenggam oleh cowok itu.


Tapi kalau belum—dalam artian tidak sadar; dia mau menjedotkan kepala kakaknya itu ke mana saja deh, biar sadar!


Menyadari sang adik hanya mengamati dirinya yang mondar-mandir memasukkan beberapa barang ke mobil, Ravendra pun mendekati sang adik. "Mau ngomong sesuatu?"


Ajeng menggigit bibir bawahnya, kemudian menggeleng. "Tapi ya, cuma mau bilang, kalau serius jangan dekat-dekat lagi sama Gianna."


"Lho? Aku udah nggak dekat sama Gianna lho, Dek." Balas Ravendra.


"Aku tahu, tapi dilihat dari ...."


"Bahkan, adekku sendiri nggak percaya kalau Kakakmu yang satu ini mau serius ya?" Ravendra mendecih. "Sebenarnya, sebucin apa sih aku ke Gianna dulu tuh?"


"Bucin banget, Kak." Sambung Ajeng. "Aku yang ngelihatnya aja mabok, pengin kulempar jauh-jauh kalian berdua waktu itu. Tapi sekarang—"


"Tapi sekarang, apa?" desak Ravendra penasaran.


"Kalau Kak Raven jadi bucinnya Mbak Tara, aku bakal salto di depan kalian berdua, karena aku beneran seneng." Ajeng tersenyum sendiri membayangkan dirinya bertingkah demikian. "Lucu juga ya?"


Ravendra tersenyum simpul. "Doakan ya, Ajeng."


"Doa? Emang mau ngapain sih, Kak? Iya sih mau ketemu Mbak Tara. Tapi harus banget ya, bawa barang segitu banyaknya? Kalian mau ngapain?" pertanyaan Ajeng yang satu itu pun lolos dari mulutnya.


Ravendra kembali tersenyum, makin lebar. "Doakan semoga hatinya calon kakak iparmu itu bisa kuambil."

__ADS_1


...•••••...


^^^bersambung ....^^^


__ADS_2