
...•••••...
Semalam; panggilan masuk dari Gianna.
Hantara—yang tadinya sibuk bertukar pesan dengan Lia mengenai pembelajaran terakhir—langsung menautkan kedua alisnya. Nomor asing membuat panggilan masuk kepadanya lewat aplikasi WhatsApp.
"Bentar, ini fotonya kan ...." Hantara mengamati foto profil si penelepon yang merupakan cewek cantik dalam balutan dress pantai. Membelakangi kamera. Tapi dilihat dari uraian rambut panjangnya yang sehat dan kecokelatan itu, Hantara mengenalnya.
Didominasi penasaran, Hantara meneguhkan diri untuk menjawab panggilan masuk dari pacar Ravendra itu. Entah apa yang akan dikatakan cewek itu, Hantara harus pasang badan. Firasatnya tidak enak.
"Halo?"
"Hai?" Gianna membalas canggung. Di seberang telepon, Gianna meneguk ludah. Menghilangkan nada yang baru saja dilontarkan. Dia itu Gianna. Putri dari pasangan konglomerat yang seharusnya tidak perlu gugup, terlebih saat hendak berbicara dengan cewek biasa seperti Hantara. "Repot?"
Mendengus, Hantara melirik jam dinding yang menunjukkan pukul delapan malam. "Kayaknya nih ya, mau aku repot atau enggak, Mbak Gianna bakal tetap ngomong—apa pun itu."
Gianna manggut-manggut, meski tahu Hantara takkan bisa melihatnya. "Ya udah, kalau gitu aku kasih tahu tanpa basa-basi aja. Kamu ha—"
"Ngejauhin Ravendra?"
Hantara tersenyum timpang. Ponselnya diletakkan tepat di samping lengan kiri. Dia kembali menulis catatan penting setelah mengatur sambungan panggilan dalam mode loudspeaker.
Pada Gianna berlatarkan kamar yang dipenuhi barang-barang mewah dan berkelas—cewek itu terhenyak mendengar interupsi Hantara. "Rupanya kamu sadar diri ya?"
Hantara menaikkan salah satu alisnya. Sepertinya, tidak ada lagi yang perlu disembunyikan. Gianna sudah dalam mode tempur. Kalau memang mau begitu—ya ayo maju!
"Mbak, kamu pikir aku bodoh pakai banget ya?" Hantara tergelak sendiri. Dalam hati merasa; walah kayaknya gue keren benget nih kayak di drama-drama.
Gianna mencibir. Ingin sekali membungkam mulut Hantara yang sekarang tertawa jail. "Dan kamu pikir aku nggak sadar ya, Tara? Aku tahu kalau sebenarnya kamu mulai ada rasa sama Ravendra. Padahal kamu udah punya Jojo, kenapa serakah banget sih?"
Hantara membatu. Wajahnya berubah pias. Kini Gianna berada di atas awan, menjatuhkan Hantara dengan asumsi yang—bisa dibilang agak menggelitik.
Mendengar jika Gianna mengetahui perasaannya, memunculkan gemuruh pada hatinya. Degup jantungnya luar biasa cepat. Lho? Gianna cuma berasumsi lho! Kenapa gue malah deg-degan kayak gini?!
"Aku sukanya sama Kak Jojo kali, Mbak! Nggak usah macam-macam deh! Teori dari mana itu?!"
"Cih! Tadi pas di tempat parkir, jelas-jelas aku tahu kamu ngelihat ke arahku dan Ravendra. Mungkin kamu nggak sadar, Tara. Tapi aku bisa lihat, di matamu ada bintangnya gitu tiap lihat Ravendra."
"Mbak ... bintang apaan sih?" Hantara mengelak. Malah dia mengambil cermin kecil yang berada tak jauh dari posisinya saat ini, untuk melihat pantulan kedua bola matanya. "Irisku warnanya hitam, nggak ada bintangnya."
Tiba-tiba saja, nada bicara Gianna melembut. Kali ini penuh perasaan, mampu menyadarkan sebagian diri Hantara.
"Makanya itu, Hantara ... sebelum kamu sadar dan jatuh terlalu dalam sama Ravendra, lebih baik kamu yang inisiatif dulu buat menggagalkan pertunangan ini. Karena yang dirugikan nanti ... kamu."
Tak ada sanggahan. Hantara mendengar dengan saksama. Hatinya merasa tercubit saat mendengar kalimat terakhir Gianna.
Gianna kembali melanjutkan, "Kamu tahu kan? Ravendra itu cinta sama aku. Jadi semisal kamu pasrah sama pertunangan ini, meski awalnya nggak saling cinta, ya percuma. Ravendra selamanya bakalan cinta sama aku. Dia itu setia. Dia nggak bakal berpaling hati. Apa kamu mau—saat menikah nanti cuma kamu yang mencintai, sedangkan Ravendra enggak?"
Tangan kanan Hantara terkepal erat. Degup jantung yang tadinya diiringi bunga-bunga, kini terasa menyesakkan.
__ADS_1
"Apa kamu mau? Apa kamu mau jadi orang yang nggak dianggap selama sisa hidupnya?"
Nggak dianggap?
Dadanya kian sesak. Satu hal yang selama ini membuatnya frustasi.
"Jadi aku minta tolong, Tara. Tolong kamu—"
Sambungan diputus. Hantara tak ingin mendengar suara Gianna lagi. Entah rutukan macam apa yang dilontarkan Gianna di rumahnya sana. Yang penting, dia tak ingin mendengar apa pun yang keluar dari mulut pacarnya Ravendra itu.
Menyandarkan punggung pada kepala kursi, kemudian mengatur pernapasannya yang sempat berantakan.
Satu menit.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Sekarang kembali tenang. Detak jantungnya tak lagi seperti berada di pacuan kuda. Melihat sekeliling, Hantara memutuskan untuk menuju balkon. Malam ini memang sangat dingin. Tetapi dia membutuhkan sesuatu sebagai pengalih pikiran—yang sayangnya tidak ada.
"Aku ... ada perasaan sama Ravendra?" Hantara memandang cincin pertunangannya. Kilau yang seharusnya memikat, justru menyayat. Dari sekian perasaan yang pernah dirasa, Hantara paling membenci perasaan yang tercipta saat dirinya tak dianggap.
Hantara membencinya setengah mati.
Dan tentunya ... lebih baik dia bermain aman bukan?
...•••••...
Hantara menyerahkan helm kepada Joshua. Rautnya masih sama—bergelantung sendu. "Makasih, Kak."
Joshua mengangguk. "Kalau ada apa-apa, chat aja ya?"
"Iya, Kak. Makasih ya," gumam Hantara.
Sudut mata Hantara mendapati dua manusia yang berlari kecil ke arahnya. Begitu ditengok, dua manusia tersebut ialah Lia dan Sagara.
Otomatis, cewek itu tersenyum senang. Kehadiran dua sahabatnya sudah sangat menghibur. Padahal mereka belum melakukan apa-apa.
Melihat Hantara tersenyum kepada Lia dan Sagara, Joshua turut tersenyum. Dia memang tak ingin melihat Hantara sedih berlarut-larut hanya karena cowok lain.
Hantara, Lia, dan Sagara melangkah ringan seolah-olah ketiganya tak mempunyai beban hidup sama sekali.
...•••••...
"Apa?! Barusan kamu bicara apa, Rav?"
Ibu mematikan kompor dan meletakkan sutil di samping penggorengan. Wanita itu melepas apron, lalu mendekati Ravendra dengan sejuta kebingungan. Baru saja, putranya itu pulang lebih cepat dan tiba-tiba mengatakan bahwa dia sudah mengecewakan calon besannya.
"Kamu mengecewakan siapa?" tanya Ibu lagi.
__ADS_1
Ravendra melirik sepenjuru lantai satu kediaman Birusna dengan satu tarikan napas. "Ayah udah ke kantor, Bu?"
Ibu mengangguk, "Barusan, sekitar lima menit."
Ravendra bernapas lega. Membayangkan sang ayah masih berada di sini dan mendengarkan pengakuannya, membuat jiwanya seolah-olah akan melayang ke ujung dunia. Dia tidak bisa membayangkan betapa geram sang ayah nantinya.
"Aku mengecewakan Mama dan Hantara, Bu. Maaf ...." Ravendra tertunduk. Pahit menyerang. Entah mengapa, dia turut merasakan pedih yang terlontar dalam kata-kata Mama beberapa saat yang lalu.
"Kenapa kamu bisa mengecewakan mereka? Apa yang kamu perbuat?" Ibu penasaran. Namun wanita itu percaya satu hal—Ravendra dirundung segenggam penyesalan.
"Bu, selama ini aku masih berhubungan sama Gianna. Malah ... kami masih pacaran." Ravendra memilih untuk menjadi seorang lelaki yang mengaku atas realitas.
"Pacaran? Sama Gianna? Bukannya Gianna waktu itu juga datang di acara tunanganmu, Rav? Apa—"
Ravendra mengiyakan, "Gianna tahu kalau aku tunangan sama Hantara. Dan ... sebaliknya."
"Hah?" Ibu terbengong. "Hantara juga tahu kalau kamu pacaran sama Gianna? Maksudnya, pacaran yang sekarang ini?"
Mendengus, Ravendra merasa seperti anak kecil yang melaporkan perjalanan cinta monyetnya kepada sang ibu. Padahal, dia sudah dewasa dan mampu untuk berada dalam bahtera rumah tangga. Umurnya sudah cukup untuk segala hal yang berkaitan dengan dunia pernikahan.
"Bentar, Rav," Ibu menyandarkan punggungnya pada salah satu sofa tunggal. Memijat pelipis kanan, kemudian memejamkan mata untuk beberapa menit.
Hanya keheningan yang meraja, dan Ravendra tak berniat untuk menghilangkannya. Sejujurnya dia tak tahu harus menjelaskan bagaimana perasaannya saat ini. Yang jelas, dia lebih terluka melihat Mama yang kecewa dan Hantara yang berani menunjukkan kedekatannya dengan Joshua di hadapan Mama.
Tapi kembali ke pertanyaan utama.
Dia siapa?
Tunangan, oke.
Ravendra tunangannya Hantara. Lalu adakah secuil rasa yang timbul di atas pertunangan ini? Lagi pula, selama ini Hantara tak pernah menganggu kedekatannya dengan Gianna. Justru, kemarin saat hendak double date, Hantara memilih untuk pergi bersama Joshua.
Hantara jelas tahu batasannya.
"Kamu menyesal, Nak."
Ravendra mendongak, langsung bertemu tatap dengan Ibu. Rupanya, sedari tadi Ibu mengamati Ravendra yang bergulat dalam pikirannya. "Menyesal? Ibu pikir aku menyesal? Kenapa Ibu bisa seyakin itu?"
Ibu mengembuskan napas perlahan. Wajah ayu yang telah dihiasi kenangan tahun tampak lesu. Kini Ravendra sadar, bahwa ibunya akan menua sementara dia belum sepenuhnya membahagiakan wanita yang telah melahirkannya itu.
"Kamu anak Ibu, Ravendra. Ibu yang membesarkan kamu sampai sedewasa ini. Ibu bisa tahu dari tatapan mata kamu, kalau kamu itu menyesal."
"Ibu, aku—"
"Pikirkan baik-baik, Ravendra." Sorot Ibu kian menyendu. "Ibu takut ... pada akhirnya kami—Ayah dan Ibu akan menghantui perasaan Hantara pula."
Seseorang, tolong bantu Ravendra untuk mengerti situasi ini. Sebab Ibu memilih untuk beranjak ke dapur, meneruskan kegiatan masaknya yang tertunda.
...•••••...
__ADS_1
^^^bersambung ....^^^