Story In July ( End )

Story In July ( End )
Hari ke - 9


__ADS_3

Adzan subuh telah lama berkumandang, namun aku masih terus bergelayut manja dengan bantal dan gulingku.


"Zahwa.." bisik seseorang kedalam gendang telingaku, karena risih aku pun berdesis pelan sambil mengibas-ngibaskan tanganku ke area telingaku yang dibisik-bisikkan tadi.


"Zahwa" bisiknya lagi.


Okeh...


Fix aku mulai geram sekarang, dengan kasar aku mengibaskan selimbut dan bangun dari tidurku serta melirik ke arah samping kiriku, terlihatlah si pelaku yang memperlihatkan gigi putihnya padaku.


Melihat sikap papah yang sedikit kekanak-kanakan lantas aku pun berdecak kesal sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal "Papah..!" ujarku dengan suara serak.


"Bangun tuan putri, ini tuh sudah subuh loh" ujarnya.


"Lagi libur" kodeku.


"Libur?!" jedanya sekilas.


"Ouh lagi datang bulan toh, kenapa nggak bilang dari tadi" ujarnya lalu beranjak dari tempatnya dan pergi keluar dari kamarku.


Melihat papah aku hanya berdesis pelan lalu kembali melanjutkan tidurku, lalu tiba-tiba papah kembali masuk kedalam kamarku.


"Eit! Jangan tidur lagi" jedanya sekilas sambil memperlihatkan telunjuknya didepan wajahnya.


"Ayo cepat cuci muka terus mandi!" titahnya sambil menunjuk kearah kamar mandiku.


Dengan kasar aku menghembuskan nafasku lalu dengan malas juga aku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi, ouh ayolah ini masih terlalu pagi untuk mandi. Dan siapa saja pasti akan merasa malas untuk melakukannya bukan, jika ada yang mampu melakukannya fix kalian hebat.


..._o0o_...


Aku menuruni tangga dengan seragam yang sudah terpasang rapi ditubuhku dan juga dengan tas yang kugendong dibelakangku, aku bermaksud untuk pergi ke dapur untuk sarapan.


"Wawa, Papah denger dari mbok... Katanya kamu kambuh lagi?!" tanya papah dengan hati-hati, disaat aku baru saja sampai dimeja makan.


Jika kalian bertanya kenapa papah dan mamah bisa ada dirumah sekarang? Jawabannya mudah saja karena malam tadi mamah dan papah baru saja pulang dan begitu sampai rumah mereka disambut dengan berita dari mbok bahwa penyakit mentalku kambuh lagi tadi waktu disekolah.


"Emang nya kenapa?" tanyaku langsung.


"En-enggak! papah cuma nanya aja princess" elak papah gelagapan.


Aku menatap nasi dan sayur yang ada didepanku dengan malas, tumben pagi gini sarapan ini pikirku.


Srett...


Suara kursi yang berdecit karena ulahku yang menariknya kebelakang, lalu aku mendudukkan bokongku dikursi itu.


"Mbok! Nasi gorengnya mana?" tanyaku pada mbok yang kebetulan sedang lewat.


"Anu non itu..."


"Untuk sekarang nggak ada nasi goreng!" celetuk mamah, aku pun melirik kearah mamah tanpa ekspresi.


"Tiap pagi kamu makan nasi goreng mulu, kamu makan aja yang ada" tegas mamah, aku hanya menatap nasi putih dan sayur di mejaku dengan benci, bukan karena aku tidak bersyukur, tapi.. Kalian akan tahu jika kalian menjadi aku.


"Sayang. Kenapa cuma dilihat doang?, ayo cepat makan!" titah mamah dengan tangan yang masih sibuk mengoles roti dengan selai rasa coklat.


"Pantesan badannya kurus, liat sayur ajah kayak liat musuh" sindir papah sambil menyeruput kopinya sedangkan matanya sibuk dengan handphonenya.


"Pantesan kolestrolnya naik, sarapannya ajah tiap hari minum kopi" cibirku yang tak kalah pedasnya.


"Uhuk... Uhuk" tiba-tiba papah tersedak kopinya sendiri, lalu aku mengambil roti yang ada dipiring mamah dan melahapnya kedalam mulutku.


"Hey! tu punya mamah" rengek mamah, bukannya meminta maaf atau berhenti, aku malah terus melahap roti itu dan menghiraukan rengekan mamah.


"Lagian papah ini kenapa sih suka banget ngegoda Zahwa!" ujar mamah sambil memberikan air putih, dengan sigap papah langsung meneguk air putih itu hingga habis.


"Yah... Kan namanya juga bercanda mah" ujar papah dengan suara serak.


Mamah hanya menggelengkan kepalanya 2 kali, lalu mengoles kembali roti tawar yang baru dengan selai rasa coklat.


"Tapi bukan Zahwanya yang kurus pah. Emang Zahwa nya ajah yang cacingan" celetuk mamah dengan tangan yang masih sibuk kegiatannya


Aku menghiraukan mereka karena telah terbiasa dengan perkataan mereka, entah itu bercanda atau cibiran. Setelah menghabiskan rotiku, eh ralat maksudku setelah menghabiskan roti mamah yang kurebut tadi, aku pun beranjak dari tempatku dan berniat untuk segera berangkat.


"Wawa!" panggil papa, lantas aku pun menghentikan langkahku yang baru saja melangkah 4 kaki dari meja makan dan melihat kearah papah yamg menghampiriku.


"Berangkatnya bareng papah yah" pintanya.


Aku tampak diam sebentar menimbang-nimbang ajakan papah bukan karena tidak mau tapi karena baru kali pertama ini papah bertingkah seperti ini, cukup lama aku terdiam aku pun menganggukkan kepalaku satu kali dan berjalan didepan papah.


Papah dan mamah mengekoriku dibelakang, saat tiba dipekarangan rumahku tanpa berkata-kata apa-apa lagi aku langsung menaiki mobil papah.


Tidak lama kemudian, papah menaiki mobil dan mulai menyalakan mesin setelah itu papah mulai menancapkan gas dan menjalankannya dengan kecepatan rata-rata.


..._o0o_...


"Hati-hati jangan sampai kayak kemarin lagi terus belajar yang bener, di bawa happy ajah okeh?!" ujar papah sambil memperlihatkan ibu jarinya padaku, aku menghembuskan nafasku dengan kasar.


"Hen..." jawabku, lalu tiba-tiba papah memegang belakang kepalaku dan mencium pucuk kepalaku.


"Papah sayang kamu princess.." lirihnya, aku hanya diam membisu dengan wajah yang masih berpaling darinya.


"Walaupun kamu benci papah, tapi papah akan tetap tulus menyayangi kamu"


"Walaupun.." jedanya sekilas.


"Jiwa papah tidak lagi berada dalam raga papah" lirihnya, aku hanya mendengarkannya tanpa mau memandang ataupun hanya sekedar untuk melihatnya dari ekor mataku.


Mataku terus melihat kearah lain tanpa ekspresi apapun "Papah pergi dulu yaa!, assalamualaikum princess" tandasnya, setelah mengatakan itu, papah langsung memasuki mobilnya dan mulai menancapkan gasnya.


Tidak lama kemudian air mataku tiba-tiba saja jatuh dengan sendirinya, perkataannya tadi sebenarnya cukup mampu membuatku terguncang hanya saja hatiku menolak untuk mengakuinya.


"Doorr!!" teriak seseorang dibelakangku, aku langsung terlonjak kaget dan membalikkan badanku dan ternyata yang mengagetkanku itu adalah Amel, buru-buru aku pun mengusap mataku dengan kasar.


"Zah lo kenapa?" tanya Amel.


"Nggak papa" jawabku, Amel mengerutkan keningnya lalu memicing matanya kearahku.


"Lo habis diputusin ama laki-laki yang tadikan?! Udah deh jujur ajah, tapi kalaupun itu bener berarti selera lo itu aneh! Masa iya lo suka ama yang udah tua gitu si, pake acara kecup-kecup kepala segala lagi"


"iih! kepala lo udah nggak perawan lagi.." ejeknya dengan tawa yang terbahak-bahak diakhir kalimat.


"Kamu bisa diem nggak?!" jawabku dengan memasang tatapan yang menusuk, yaah karena aku risih dengan perkataannya itu.


"Hehe sorry-sorry iya deh maafin gue. Gue nggak bakalan ngomong apa-apa lagi" ujarnya.


Aku langsung melangkahkan kakiku sedangkan Amel mengekoriku dibelakang lalu tidak lama kemudian sebuah sepeda motor ninja menyalakan klakson dengan sangat keras dibelakang kami.


"Tintin, Eh Tintin!" latah Amel refleks aku langsung menutup kedua telingaku.


Seseorang yang berada di jok penumpang lalu turun dari motor itu sambil membuka helm yang melekat dikepalanya, ternyata itu adalah Putri.


"Nih..!" ujarnya sambil memberikan helm dan mengibas-ngibaskan rambutnya.


"Gerah banget deh tu helm, mana bau lagi!" rengek Putri.


"Jangan banyak ngeluh, pakek helm ajah udah ngeluh apalagi kalau pakek hijab kayak Zahwa" ujar Kak Rido dari balik helmnya.


"Hem curiga gue ama lo," celetuk Amel.


"Curiga apaan?!" tanya Kak Rido dari balik helmnya.


"Yah... Curiga aja gituh. Jangan-jangan lo suka ya ama si Zahwa" tebak Amel, aku hanya memutar mataku dengan malas sedangkan Kak Rido dia langsung melepaskan helmnya lalu merapikan rambutnya kebelakang dengan tangan kirinya.


"Widih! Silauu amat yaa" ucap Amel.


"Heh kumbang! Lo itu ya suka banget main curiga-curigaan ama orang!" sarkas Kak Rido.


"Yaa.. Ya, ngaku ajah deh lo apa susahnya. Eh tapi... Sayangnya lo itu kurang gercep soalnya si Zahwa udah punya pacar, bahkan tadi aja dia dianter ama sugar daddy pake acara cium-cium kepala lagi" ujar Amel.


Aku langsung mengerutkan keningku lalu menatap Amel dengan tatapan tidak percaya, dan bukan hanya aku bahkan Kak Rido dan Putri pun melakukan hal yang sama denganku.


"Hah!" sewot Putri dan Kak Rido bersamaan.


"Lo, lo yang bener Mel!" teriak Putri.


"Bener iih suer tanya aja ke si Zahwa. Iya kan Zah..." tanya nya dengan wajah tanpa dosanya.


Mataku sesekali berdenyut-denyut menatapnya, ni orang kalau ngomong nggak mikir-mikir dulu apa..?! Pikirku.


"Udah ngaku aja deh Zah!" desak Amel, lalu aku menghembuskan nafasku dengan kasar.


"Iyah. Dia cinta pertama aku. Puas?!" jawabku.


"Tuh kan, kata gue juga apa!" sorak Amel.


"Lo serius Wa?!" tanya Putri menatapku dengan tatapan tidak percaya.


"Kapan kalian jadian?" tanya Kak Rido dengan nada tertahan, dan entah kenapa aku merasakan atmosfer yang tidak enak disini.


"Sejak lahir..." jawabku mereka pun lantas mengerutkan kening mereka secara bersamaan.


"Yang bener Zahwa!" tanya mereka serempak, disaat itu juga aku langsung terperenjat karena kaget dan menatap mereka dengan kesal serta halis yang ditekuk.


Setelah itu aku pun berdecak karena kesal "Ini juga bener" jawabku.


"Eum bentar jadi maksud kamu, kamu itu udah dijodohin dari kecil terus kamu itu udah lama suka ama dia dari sejak kecil?!" tebak Putri, ini nih kebanyakan baca novel jadi yaa kayak gini pikirku.


"Ouh atau..." tiba-tiba Amel menjeda ucapannya, lalu kepalanya melihat-lihat sekitar lalu mencondongkan mukanya ke depan.


"Atau sebenernya lo itu... Diam-diam udah nikah duluan?!" tebak Amel dengan memasang senyuman menggoda-goda di depan wajahku.

__ADS_1


"Makin ngawur.." gumamku sambil terkekeh pelan.


"Kalian nggak ngerti juga?!.." tanyaku, mereka pun seketika menggelengkan kepala mereka dengan serempak aku hanya bisa berdengus kesal karenanya.


"Yang tadi itu papah akuu.." tandasku dengan menekankan kata 'papah' lalu aku membalikkan badanku dan melangkahkan kakiku meninggalkan mereka.


"Ooouh..." sahut mereka serempak.


"Nggak ngertilah orang kamu nya ajah jawabnya pakek acara 'cinta pertama' segala!" teriak Putri lalu mulai berlari mengejarku.


"Tapi tadi kok kayak..."


"Kayak apa?" sela kak Rido.


"Makanya jangan suka nyimpul sendiri" lanjut kak Rido.


"Biarinlah kan gue, bukan lo!" sewot Amel.


"Eeh! Ni anak dikasih tahu bukannya nurut malah ngelunjak"


"Lihatlah muka saya, apakah saya peduli? Tentu saja tidak. Untuk apa saya peduli dengan ocehanmu yang tidak berfaedah itu" oceh Amel panjang × lebar.


"Nggak usah sok formal deh lo. Kadang gue ngerasa aneh ama lo, lo itu kan penerus eh masa penerus kok kayak gini" cibir kak Rido.


"Aku hanya berkata OH saja" ucap Amel dengan menekankan kata 'oh'


"iih mulut lo bau"


"Biarin..." jeda Amel sekilas.


"Eh?!! Kok mereka ninggalin gue si. Heh! Kok gue ditinggal, tungguin gue!!" teriak Amel lalu mengejar Aku dan Putri yang sudah sangat jauh di depan.


"Semua ini gara-gara lo Upil!" teriak Amel pada kak Rido, sedangkan kak Rido hanya menggelengkan kepalanya.


..._o0o_...


Waktu terus berjalan dan tidak terasa bel istirahat telah berbunyi membuat semua murid disekolahku pun berhamburan keluar kelas, ada yang ke kantin, ada yang hanya berkumpul didalam kelas hanya untuk sekedar bergibah, dan yah ada juga yang pergi ke perpustakaan hanya untuk membaca buku. Yah... Semua sibuk dengan kesibukan mereka masing-masing.


"Zah!, lo nggak bohong kan tadi?!" tanya Amel aku hanya mengangkat halisku sebelah.


"Mel udahlah berisik amat si lo! Dari tadi nanya itu mulu udah hampir 100 kali lo nanya itu!" sarkas Putri.


"Apaan si?! Orang gue cuma baru nanya 10 kali"


"Yah.. Sama ajah! Tinggal buang 'nol' nya satu"


"Bedaa!"


"Samaa!"


"Bedaa!"


"Samaa!"


"Heh! Bocah kelas 1 SD ajah tahu, 10 ama 100 itu bedaa!"


"Intinya kalau di kamus gue, 10 ama 100 itu sama!!"


" iiihh! Iyalah terserah lo" sewot Amel.


"Kalian bisa diam nggak?. Malu tuh diliatin orang" tegurku sambil menunjuk kearah semua orang demgan dagu, dan benar saja hampir semua orang memperhatikan kami.


"Kalau gitu kamu mau apa Wa?" tanya Putri.


"Sam--"


"Lo kenapa si" sela Amel, seketika aku pun menghentikan ucapanku dan melirik kearah Amel.


"Baik amat ama si Zahwa sedangkan ama gue, boro-boro buat nitipin makanan numpang bayarin aja kagak mau. Alesannya uang lo pas lah, apalah dasar pilih kasih" gerutu Amel dengan mata yang menatap kesal kearah handphone yang sedang ia gunakan.


Aku mulai tertarik dengan argumen yang Amel lontarkan jika dipikir kembali memang ada benarnya, secara kan aku notabenenya belum terlalu dekat dengannya, tapi dia bertingkah seakan aku sudah sangat dekat dengannya.


Bahkan setiap aku ada masalah dia selalu membantu tanpa berpikir dahulu, apakah aku akan memanfaatkannya atau tidak.


"Emangnya nggak boleh?!" tanya Putri.


"Bukan nggak boleh, tapi aneh aja gitu. Secara lo kan jarang bergaul ama orang baru. Kita itu udah sahabatan dari kecil dan gue udah kenal banget ama lo mau itu kebiasaan lo, sifat lo, apa yang lo suka ataupun apa yang lo nggak suka, gue udah hafal semuanya" jelas Amel, sedangkan aku menatap Putri dengan intens menunggu jawaban darinya.


"Gimana ya. Nggak tahu juga sih.." jeda Putri lalu mendudukkan bokongnya di kursi sebelahku.


"Mungkin karena gue mau balas budi, karena Zahwa udah nyelametin gue" tandasnya, aku mengerutkan keningku.


"Jadi, kamu mau temenan sama aku karena hal itu" tanyaku.


"Nggak, bukan itu. Dengerin dulu Zahwa"


"Terus?!" selaku.


"Emang balas budi apa?!" celetuk seseorang dari belakang Putri.


Putri nampak tersentak lalu membalikkan tubuhnya kebelakang, dan terlihatlah Kak Rido dengan Kak Erik dibelakangnya.


"Abang.." beo Putri.


"Punya balas budi apa ama Zahwa?" tanya Kak Rido lalu duduk di samping Putri yang ada Kursi kosong, dan Kak Erik duduk di samping lainnya Kak Rido.


"Enggak bang, bu-bukan apa-apa aku benarkan Wa?!" tanya Putri, mendengar itu aku menaikkan alisku sebelah, kenapa juga aku dibawa-bawa?! pikirku.


"Hen.. Mungkin" jawabku sambil memalingkan wajahku ke arah lain, aku paling tidak pandai dalam berbohong dan seketika Puti pun berdesis.


"Jawab!" tekan Kak Rido.


"Tapi, jangan marah loh Bang" untuk sesaat aku merasa pembicaraan mereka seperti serius, dan apa Putri bilang 'abang?' biasanya dia memanggil kak Rido dengan sebutan 'lo' tapi sekarang berbeda.


"Kalau kamu bohong sama abang, justru abang bakalan lebih marah sama kamu" mendengar itu Putri nampak terdiam sebentar.


"Jadi gini... Waktu itu aku kan lagi jalan kaki tapi sambil main hp, te-terus hampir ditabrak mobil tapi untungnya ada Zahwa yang dateng dari sebrang jalan terus ngedorong aku kesamping" jelas Putri.


"Kok bisa?!" tanya Kak Rido.


"Waktu itu Putri tiba-tiba belok ke tengah" selaku, seketika suasana berubah hening mereka menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku baca.


"Terus, kamu nggak papa kan Za?!" tanya Kak Rido.


Blush..


Rasanya ada yang berdesir dalam diriku, ada rasa senang yang bercampur disana, aku kenapa?! pikirku.


"Nggak bang, untungnya Zahwa cuma dadas sedikit doang nggak sampe ketabrak mobil" ujar Putri.


Brugh...


Terdengar suara meja yang digebrak oleh Kak Rido seketika aku dan semua orang yang satu meja denganku terlonjak karena kaget.


"Lain kali kalau dijalan tu fokus! Bukannya sibuk ke hp, masih untung Zahwa cuma dadas dikit doang! Gimana kalau dia kenapa-napa?!" bentak Kak Rido.


Semua yang ada dikantin memperhatikan meja kami, ouh ayolah. Kenapa aku selalu jadi pusat perhatian, perasaan bukan artis dah.


"Kalem bro. Nggak usah pake bentak-bentak segala kali.." sela Kak Erik.


"Kalem Bambang! lagian si Zahwa juga nggak sampe minta ganti rugi tuh!" celetuk Amel.


"Berisik banget si! Palingan kalau ketabrak juga itu udah takdir" ujarku dengan enteng dengan wajah yang ditekuk karena kesal dengan sikap kak Rido yang menurutku sangat berlebihan.


Semua yang ada di mejaku itu memperhatikan ku dengan tatapan yang tidak bisa aku baca, tapi sepintas aku melihat ada raut wajah terkejut, tanda tanya, bahkan tidak percaya yang saling bercampur diwajah mereka.


"Kamu ngomong apa si Wa kok kamu ngomongnya gitu?!" tanya Putri dengan nada sedikit tinggi, aku hanya membuang nafasku dengan kasar.


"Ya emang benerkan?!" ucapku dengan santai


Tiba-tiba saja suara bel masuk pun terdengar begitu nyaring ditelinga, memberi tahukan bahwa istirahat telah usai.


"Tuh udah masuk..!, waktunya kekelas" ujarku lalu beranjak dari tempat dudukku.


"Putri!" panggilku dan sang empu pemilik nama pun melirik kearahku.


"Kalau mau temenan sama aku jangan karena kasihan, atau mau bales budi. Karena aku nggak butuh" ujarku to the point lalu aku berjalan meninggalkan mereka.


..._o0o_...


Ting...


Tong...


Ting...


Tong...


Suara bel pulang akhirnya terdengar dan membuat semua siswa dan siswi dikelasku pun mulai membereskan perlengkapan alat tulis mereka yang berserakan.


"Baiklah, anak-anak untuk pelajaran kali ini dicukupkan sekian dan kita akan membahasnya kembali di pelajaran ibu selanjutnya, Assalamualaikum" pamit Ibu Kaira guru yang mengajarkan mata pelajaran ekonomi di sekolahku.


"Waalaikummussalam warohmatullohi wabarokattuh" jawab semua teman kelasku, lalu ibu Kaira meninggalkan kelasku.


"Wa, kamu masih marah sama aku" celetuk Putri yang tiba-tiba saja ada di samping kananku, aku hanya meliriknya sekilas lalu aku menghiraukannya dan malah lebih sibuk membereskan semua buku-bukuku.


"Nggak" jawabku.


"Zahwa kamu kok ketus gituu si" rengek Putri.


"Aku nggak ketus, emang biasanya juga gini"

__ADS_1


"Nggak! Yang sekarang itu beda banget tahuu!!" jedanya sekilas.


"Maaf yah" rengeknya lagi, aku pun hanya berdehem saja lalu Putri tiba-tiba saja sumringah dan memelukku.


"Yang bener?!" tanyanya dengan posisi yang masih memelukku.


"Iyah.."


"Bener, bener, bener?!" tanyanya lebih sumringah, aku menatap malas kearahnya.


"Kamu mau aku batalin" tanyaku, sang lawan bicara hanya tersenyum sambil memperlihatkan gigi putihnya.


"Yuk Put pulang!" Ajak Amel.


"Iyah iyah. Dadah bebeb!" ujar Putri sambil melambaikan tangannya.


"Dasar aneh.." gumamku, lalu aku langsung melangkahkan kakiku berjalan keluar dari kelasku.


Di koridor aku berjalan sendiri hingga tiba-tiba seseorang menarik lenganku kebelakang lalu mendorongku ke tembok dan mengunci kedua tanganku diatas, jadilah aku terpojokkan sekarang.


Terlihatlah 3 wanita di depanku yang kulihat sepertinya mereka bad girl tapi aku tidak mau suudzon dahulu, jadi aku menghapus pemikiran seperti itu. Mataku terus menatap mereka dengan tajam tanpa berkedip sama sekali, apa maksud mereka?! pikirku.


"Lo apain bebeb gue! sampe-sampe dahinya berdarah lagi" pekik wanita yang mengunci kedua tanganku, aku mengubah ekspresiku menatapnya dengan heran.


"Maksud..?" tanyaku.


"Lo jangan pura-pura bego! Jawab! Lo apain bebeb gue?!"


"Maaf ya kak, saya kurang faham dengan apa yang kakak katakan"


Bukannya menjelaskan tapi dia malah menekan kedua tanganku dengan keras, aku hanya bisa meringis pelan, maksudnya apa coba?!. Datang-datang langsung introgasi orang, mana aku nggak kenal lagi pikirku.


"Lo masih nggak ngerti juga, Aiden dia laki-laki yang lo bentur dahinya pakek bola basket, parahnya lagi dahinya sampe ngeluarin darah. Masih untung lo masih bisa sekolah disini padahal kalau gue mau, gue bisa laporin lo ke bokap gue buat keluarin lo dari sekolah ini" ancamnya, aku justru menatapnya dengan malas.


"Heh! Lo apain sahabat gue!" teriak seseorang.


Lalu aku melirik ke arah asal suara itu, ternyata itu adalah Putri dan Amel entah sengaja atau tidak tiba-tiba wanita itu melepaskan kedua tanganku yang dia kunci. Dengan segera aku mendorongnya kebelakang lalu menghampiri Amel dan Putri dan berdiri ditengah-tengah mereka berdua.


"Heh lo itu yang namanya Lidya kan?! Lo aduan banget si jadi orang mentang-mentang bapak lo kepala sekolah! kenalin nih gue! Donatur terbesar disekolah ini" ujar Amel, aku menatap dengan malas, lalu aku mendorongnya kesamping.


"Ish.. Apaansi?!" pekiknya.


"Jangan sombong, orang sombong temannya setan" ujarku.


"Oouh jadi lo ngatain gue setan?!" bukan, bukan Amel yang mengatakannya tapi itu adalah suara Lidya, aku mengerutkan keningku dan meliriknya dengan heran.


"Hah?!" beoku, lah... Kok malah dia yang sewot yah?!


"Udah deh ngaku ajah. Lo pasti lagi nyindir gue kan?! Dan lo pasti pengen banget ngatain gue setan, iya?! Ngaku lo!" tanyanya dengan nada tinggi.


"Apaan si?!. Orang aku lagi ngomong ama Amel, kok malah dia yang nyaut?!" gumamku.


"Yaa syukur deh kalo lo sadar diri" celetuk Amel.


"Lidya gue kasih tahu yah, jdi orang itu jangan suka aduan deh Zahwa ngelakuin itu juga karena ada sebabnya. Dan yaa... gue tahu kok kalo lo itu tukang bully disekolah ini, kalau aja gue mau gue juga mampu kok laporin lo ke kepala sekolah" ujar Putri.


"Dari mana lo tau kalau dia itu tukang bully?!" tanya Amel.


"Gue tahu dari anak-anak lain katanya dia itu tukang ngebully murid-murid disini. Tapi dia selamat mulu nggak pernah dihukum bahkan sikap busuknya itu nggak pernah ketahuan sama pak kepsek" jawab Putri.


"Heh! Kalau Lidya tukang bully disini emang apa masalahnya buat lo" tanya salah satu temannya Lidya yang memakai topi.


"Eh tapi, kalau diliat-liat sih gue kok baru liat kalian bertiga kalian pasti adek-adek kelas kita kan, Adek kelas ajah udah belagu!" ejek salah satu temannya lagi yang sedang mengemut permen lolipopnya.


"Jadi.. Kak lidya itu suka ngebully anak-anak murid siswi disini?!" tanyaku dengan nada yang seakan-akan takut dengan mereka, mendengar itu Lidya CS pun tertawa terbahak-bahak.


"Jadi lo itu ceritanya mulai takut ama gue" ujar Lidya dengan senyuman sinis diakhir kalimatnya, Amel dan Putri menatapku dengan tatapan tidak percaya.


"Iya, gue suka ngebully anak-anak murid siswi disini bahkan bukan cuma siswi, siswa ajah gue ladenin dan gue nggak takut dihukum. Karena apa? Karena bokap gue pasti lebih percaya ama gue, so... Gue bener kan my bestie kyu" Tandasnya.


"Yoii" ujar kedua temannya serempak, lalu tertawa bersamaan dengan terbahak-bahak.


Melihat reaksi mereka aku pun tersenyum puas karena dengan begitu rencanaku sudah selesai "Makasih banyak yah atas pengakuannya, mungkin ini ajah udah lebih dari cukup sebagai bukti" ujarku, sambil tersenyum licik seketika mereka pun berhenti tertawa lalu menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Apa maksud lo?" tanya Lidya yang mulai waspada.


"Nih! Dengerin aja sendiri" ujarku.


Lalu aku memperlihatkan pulpen perekamku dan menyalakannya, memutar kembali rekaman percakapan mereka tadi.


"Dari mana lo tau kalau dia itu tukang bully?!"


"Gue tahu dari anak-anak lain katanya dia itu tukang ngebully murid-murid disini. Tapi dia selamat mulu nggak pernah dihukum bahkan sikap busuknya itu nggak pernah ketahuan sama pak kepsek"


"Heh! Kalau Lidya tukang bully disini emang apa masalahnya buat lo"


"Eh tapi, kalau diliat-liat sih gue kok baru liat kalian bertiga kalian pasti adek-adek kelas kita kan, Adek kelas ajah udah belagu!"


"Jadi.. Kak lidya itu suka ngebully anak-anak murid siswi disini?!"


"Jadi lo itu ceritanya mulai takut ama gue"


"Iya! Gue suka ngebully anak-anak murid siswi disini bahkan bukan cuma siswi, siswa ajah gue ladenin dan gue nggak takut dihukum. Karena apa? Karena bokap gue pasti lebih percaya ama gue, so... Gue bener kan my bestie kyu"


"Yoii"


Pip...


Lalu aku mematikan pulpen perekam suaranya, dan tersenyum penuh kemenangan ke arah mereka "Gimana kak, aku pinter kan?! Kalian keasikan ngobrol sih jadi nya gini deh.." ejekku.


"Sial*n lo! Jadi lo udah nipu gue?!!" sewot Lidya.


"Bukan nipu kak, tapi aku cuma lagi belajar cara melangkah 1 langkah didepan kakak. Itu ajah nggak lebih kok" ocehku lalu membalikkan tubuhku meninggalkan mereka yang menatapku dengan tidak percaya termasuk Amel dan Putri.


"Heh! Bocah awas aja lo! Gue bakalan balas dendam ama lo, kalau sampe rekaman suara itu sampe ke telinga bokap gue!" teriak Lidya.


"Hah?! Apa kak? Nggak kedengeran! Teriaknya kurang keras" teriakku, tiba-tiba ada yang menyenggolku dari belakang dan pelakunya adalah Amel dan Putri, aku hanya menatap mereka malas.


"Awas aja lo parasit!" teriaknya lagi, refleks aku menutup kedua telingaku karena teriakannya yang sangat keras.


"Widih! Sejak kapan lo punya alat kayak begituan?" tanya Amel.


"Udah lama.."


"Iyaa udah lama dari kapan?" tanya Amel, aku hanya memutar mataku dengan malas tidak menjawab pertanyaannya.


"Tapi, kok bisa yah ada alat kayak gitu aku kira cuman ada di film" sela Putri.


"Ya bisalah.."


"Heh! Zah Lo belom jawab pertanyaan gue!" kekeh Amel, mendengar itu aku pun mendengus kesal.


"Iih dari dulu. Dari SMP..."


"Kenapa nggak bilang dari awal kita kenalan si?" mendengar itu aku mengerutkan keningku dan berdecak kesal karenanya.


"Buat apa dipamer-pamerin kayak bocah ajah"


"Iih lo mah gitu, eh tapi lain kali gue minjem yaaa!" tanya Amel sumringah.


"Nggak"


"Dih lu mah ¹pedit, awas hati-hati loh nanti kuburannya sempit!"


"Yaa terus emang buat apa?!!"


"Buaat, hehe ada deh pokoknya"


"Nggak! Nanti malah dipakek yang aneh-aneh lagi"


"Ayolah Zah yah, Yah, mau yah!" rengek Amel.


"Sekali enggak tetep enggak" kekehku


"Pelit! Dasar pelit" pekiknya


"Tapi Wa, emang kamu bakal kasihin itu ke kepala sekolah?" tanya Putri.


"Nggak dulu"


"Kenapa?" tanya Amel dan Putri serempak dengan nada sedikit teriak, parahnya mereka mengatakannya tepat dimasing-masing kedua telingaku.


"Iih jangan pake teriak juga!!" teriakku sambil mengusap-ngusap kedua telingaku lebih tepatnya kanan dan kiriku.


"Aku mau nunggu waktu yang tepat kalau dia masih tetep gitu ajah, nggak berubah-berubah, yaah.. Tinggal aku kasih bukti ini ke kepala sekolah" jelasku.


"Zah ternyata lo bijak juga yah.." ujar Amel sambil merangkulku hingg aku sedikit tidak bisa bernafas.


Yaah hari yang melelahkan, ternyata di kota ini pun kasus perundungan tetap ada aku kira hanya ada di Jakarta saja.


Bersambung...


^^^10 Maret 2022^^^


^^^Wida pitriyani^^^


¹pedit \= pelit


Huh... *Lumayan menguras :)


Oh yah jan lupa like yaa ☺👍*

__ADS_1


__ADS_2