Story In July ( End )

Story In July ( End )
Hari ke - 16


__ADS_3

Hari ini aku berangkat sekolah dengan menggunakan plester putih besar yang menempel di pipi kiriku, dan sepanjang koridor sekolah banyak yang memperhatikan wajahku jika saja pipiku tidak bengkak mungkin aku tidak akan memakainya.


Dan yah.. Setelah kejadian kemarin, aku tidak bisa tidur bahkan mungkin kini disekitaran area mataku kini berwarna hitam.


Langkah demi langkah aku pijaki hingga akhirnya kini aku sudah ada didepan kelas lalu tanpa ba-bi-bu aku pun melangkahkan kakiku untuk masuk kelas, suasana dikelasku seketika hening dan hampir semua orang memandang kearahku dengan tatapan berbeda-beda.


Namun aku menganggap tatapan mereka hanya bagaikan angin lalu, dengan santai aku mendudukkan bokongku dikursi.


Tidak lama kemudian terdengar sebuah teriakan panggilan namaku dari ambang pintu kelasku, lalu sang pemanggil pun menghampiriku dan menangkupkan kedua belah pipiku dan juga dengan mata yang menelisik keseluruh anggota badanku.


"Lo nggak papa kan? Nggak ada luka yang parah kan? Mana yang sakit?! Kita ke rumah sakit sekarang okeh, bentar aku mau ke ruang guru dulu buat minta izin" oceh Putri, setelah itu dia berniat berlari ke arah ambang pintu namun sebelum itu Amel menahan Putri dengan memegang tas yang digendong olehnya.


"Put lo nggak perlu sampe ribut gitu ah! Dramatis banget sih jadi orang" dengan kasar Putri melepaskan tangan Amel yang memegang tasnya.


"Heh! Liat tuh si Zahwa udah kayak orang kurang gizi tau nggak!" mendengar ocehan Putri sontak aku langsung membelalakkan mataku.


"Yaelah nggak usah dramatis segala, udahlah diem aja orang si Zah nya ajah nggak ribut. Lo nya aja yang dramatis" gerutunya diakhir kalimat.


"Yee.. Lo mah gitu, kan gue khawatir gimana sih. Gue itu baik nggak kayak lo yang kalo temen sekarat di depan mata lo pun lo bakal biasa ajah. Dasar posang!" aku dan Amel mengerutkan kening secara bersamaan.


"Posang?" beoku dan Amel serempak, Putri menatap Amel dengan sinis dengan tangan yang dilipat didada-nya.


"Pohon pisang" ketusnya.


"Lah kok gitu?!" tanya Amel.


"Yaa.. Karena lo mirip kayak pohon pisang, punya jantung tapi nggak punya hati"


"Serah ah.." ketus Amel lalu matanya melirik kearahku.


"Zah lo beneran nggak papa?!"


"Nggak.." jedaku sekilas.


"Kak Rido gimana sekarang?" tanyaku pada Putri.


"Oouh biasalah kan Abang gue kuat! Cuma sekarang dia nggak bisa sekolah dulu" aku mengerutkan keningku.


"Udahlah tenang ajah, abang gue nggak papa kok" ujarnya diselingi dengan tangan dua jari dan deretan gigi yang ia perlihatkan dengan ragu aku mengangguk-anggukkan wajahku.


Kak Rido yah... Semalam setelah adegan perkelahian dan Angga pergi dari taman saat itu, tiba-tiba saja kak Rido membentakku untuk pertama kalinya aku dibentak oleh laki-laki selain papah.


Namun bedanya kak Rido membentakku karena dia khawatir sedangkan papah ... Yahh begitulah terlalu sulit untuk dijelaskan.


"Kenapa kamu keluar malam-malam?!!" seketika tubuhku pun terperenjat karena kaget lalu aku membalikkan badanku.


"Yang tadi itu nyaris tahu nggak, kalau aja tadi kakak terlambat ceritanya bakal lain nanti" jedanya sekilas.


"Emang kamu habis ngapain sih, keluar malam-malam gini!" tanyanya dengan nada yang tinggi, bukannya menjawab aku justru malah menunduk dan aku tidak berani menatapnya.


Seketika keadaan terasa sangatlah hening diantara aku maupun kak Rido tidak ada yang bersuara, namun seketika kak Rido membuang nafasnya gusar.


"Kamu habis ngapain Zah?" diam lagi-lagi hanya itu yang kulakukan sungguh aku tidak berani menjawab pertanyaan yang dilontarkan olehnya.


"JAWAB!" tekannya dengan nada membentak.


Seketika aku langsung terperenjat karena takut entah kenapa aku malah merasa takut dengan sentakannya dan anehnya gangguan mental bipolarku tidak kambuh dikala aku diperlakukan seperti ini, perlahan air mataku mulai turun dengan sendirinya.


"Ng-nggak ada kok kak, aku cuma habis beli.." jedaku sekilas.


"Cemilan.." cicitku dengan nada terisak-isak, bahkan sangat kecil aku tidak tahu apakah perkataanku terdengar olehnya atau tidak.


Aku mengusap-usap kedua mataku sejujurnya sedari tadi aku ingin menangis hanya saja aku menahan semuanya, lalu tiba-tiba saja tubuhku mematung ditempat karena ulahnya yang tiba-tiba saja memelukku.


Terdengar helaan nafas gusar dari mulutnya "Hah... Emang nggak ada waktu besok?!" lirihnya, dengan susah payah aku menelan salivaku bahkan tanganku pun bergetar hebat, karena untuk pertama kalinya aku dipeluk oleh seorang laki-laki.


Bahkan papah saja seingatku belum pernah lagi memelukku terakhir yang aku ingat papah memelukku dikala aku masih sangat kecil, akan tetapi entahlah aku tidak tahu "Ya udah.. Sekarang kamu pulang sama kakak!"

__ADS_1


Setelah mengatakan itu dia melepaskan pelukannya dan memegang tanganku lalu menarikku untuk ikut bersamanya, lagi-lagi aku merasakan jantungku berdetak hebat bahkan rasanya aku bisa mendengarnya.


Tidak ada percakapan apapun antara aku dan dengannya sepanjang jalan aku terus membuntutinya dibelakang dengan telapak tanganku yang digenggam olehnya.


Sepanjang jalan saat dimobil pun aku tidak berbincang dengannya hanya ada keheningan yang berat antara kami berdua, namun dengan berani aku bertanya sesuatu yang sedari tadi terus mengganggu pikiranku.


"Kak.." panggilku, yang dipanggil melirikku dari kaca sepion mobil yang menghadap ke arah jok belakang.


"Kenapa kakak bisa ada disana?" cukup lama kak Rido terdiam hingga akhirnya kak Rido menjawab pertanyaanku.


"Kakak awalnya habis dari rumah temen, tapi secara nggak sengaja kakak lihat kamu lagi ngobrol sama Angga di depan supermarket. Awalnya kakak mau terus jalan, tapi... Tiba-tiba kakak inget perlakuan Angga sama kamu." jedanya sekilas.


"Nggak tahu kenapa perasaan kakak nggak enak, jadi.. Kakak mutusin buat markirin mobil dan diam-diam kakak buntutin kalian dibelakang" jelasnya.


Lalu matanya melirik kearahku lewat kaca sepion mobil yang menghadap ke arah jok belakang. "Maaf udah nguping pembicaraan kalian" imbuhnya lagi.


Blush..


Entah kenapa pipiku rasanya panas dan kenapa aku merasa malu? Emangnya aku kenapa?


Setelah sampai didepan pagar rumahku aku pun langsung keluar dari mobil namun tiba-tiba saja kak Rido memanggilku, lantas aku pun membalikkan badanku.


"Lukanya obatin" jedanya sekilas, lalu matanya melirik kearah lain.


"Ekhem.. Nanti infeksi" setelah mengatakan itu tanpa berkata apa-apa lagi, kak Rido langsung menancapkan gas.


Menyisakan aku yang mematung ditempat serta dengan mata yang beberapa kali mengerjap-ngerjap bahkan pikiranku masih mencerna perkataannya, entah kenapa lagi-lagi pipiku terasa sangat panas bahkan jantungku kembali berdebar-debar, ouh apa mungkin aku perlu memeriksa jantungku?


"Sayang banget yah padahal tadinya gue niat banget buat jitak pala lo Zah, gue mau balas dendam tentang yang kemarin. Tapi yah.. Karena lihat kondisi lo yang kurang baik gini jadi gue sebagai sahabat yang baik hati, tidak sombong dan suka menabung ini akan memaafkanmu." oceh Amel, dan seketika aku pun langsung tersadar dari lamunanku lalu aku memandangnya dengan datar sedangkan yang ditatap malah menatapku dengan tatapan mengejek serta alisnya yang diangkat sebelah.


Tidak lama setelah itu bel masuk sudah berbunyi, semua murid pun berhamburan masuk kelas, lalu  tiba-tiba saja Amel mencolek-colek bahu Putri.


"Ish.. Apaan sih!" geram Putri.


"Put lo bangkunya pindah lagi disini. Soalnya si brondong nggak bakalan sekolah lagi" sontak Putri segera membalikkan badannya menghadap sepenuhnya kearah Amel yang duduk dibangku belakang.


"Yang bener?!"


"Wa aku pindah yah bye! muach" ucapnya sambil


memberikan kiss pada telapak tangannya lalu menempelkannya pada pipiku, aku hanya berdesis kesal sedangkan sang pelaku malah tertawa jahil.


..._o0o_...


Waktu terus berjalan dan bahkan rasanya baru tadi aku masuk kelas, lalu istirahat setelah itu belajar lagi dan sekarang sudah waktunya untuk pulang.


Sepanjang koridor sekolah, aku, Putri dan Amel berjalan beriringan untuk sesaat aku merasakan ada kesan yang berbeda disaat kak Rido tidak sekolah.


"Zah lo kenapa si runyam banget wajah lo. Habis dimarahin ama nyokap atau bokap yak?" ujar Amel.


"Nggak sopan" tegurku.


"Yaa.. Habis lo nya aneh si"


"Amel dari dulu si Zahwa wajahnya emang gitu. Lo nya ajah yang jarang merhatiin temen" celetuk Putri.


"Apa lo bilang?"


"Udah diem. Berisik tahu nggak, udahlah aku pulang duluan ya assalamualaikum" pamitku.


"Waalaikummussalam" jawab mereka serempak.


"Yeehh.. Lo mah emang gitu Wa, suka banget lari dari pembicaraan. Dasar bocil!" teriak Amel.


"Hati-hati dijalannya Zah" ujar Putri.


Aku hanya berdehem dan memasuki mobil lalu mang Ujang pun segera menancapkan gas dan menjalankannya dengan kecepatan rata-rata.

__ADS_1


Sesampainya didepan rumahku aku langsung keluar dari mobil, sedangkan mang Ujang menyimpan mobil di garasi.


Saat tiba didepan pintu rumah aku pun langsung membuka pintu dan seketika mataku terbelalak sempurna, tubuhku terasa sangat lemas dan nafasku pun rasanya terhenti.


Pemandangan yang ada didepanku sangatlah tidak dapat ku percaya, bahkan untuk sejenak aku berpikir bahwa ini hanyalah halusinasi atau mungkin ini hanya mimpi.


"Mamah..!"


Jam terus berbunyi bersamaan dengan suara detakan jantungku yang terus berdetak, aku terus mengigit telunjukku dan menatap pintu ruangan IGD dengan gusar.


"Non..." aku sedikit tersentak dan pikiranku yang dipenuhi dengan asumsi seketika menghilang.


"Non nggak papa?!" tanya nya dengan raut wajah khawatir.


"Nggak papa mang" jawabku.


Aku yang baru saja membuka pintu rumah tiba-tiba disuguhkan oleh keadaan mamah yang sudah tergeletak begitu saja dilantai, kejadian itu sangat membuatku shock.


Ceklek..


Suara ruangan IGD yang terbuka karena seseorang yang mendorong pintu dan pelaku yang membuka pintu itu adalah dokter pribadiku yang menangani kasusku, sekaligus dokter itulah yang sekarang menangani kondisi mamah.


"Kak Riza mamah gimana?" dokter berhijab putih yang ada dihadapanku itu malah membuang nafasnya dengan kasar serta menatap mataku lekat-lekat.


"Kayaknya kakak harus jujur sama kamu" aku mengerutkan keningku, tanda aku tidak mengerti.


"Maksudnya?"


"Sebenarnya sudah sejak lama mamah kamu mengidap penyakit Meningitis dan sekarang penyakitnya sudah masuk dalam fase stadium 3" jedanya sekilas.


"Pada stadium ini penderita dapat meninggal dunia dalam waktu tiga minggu, bila tidak mendapatkan pengobatan sebagaimana mestinya" untuk sesaat aku berpikir bahwa mungkin inisemua adalah candaan, karena bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Padahal selama ini mamah tidak pernah mengeluh tentang apapun itu yang aku pikirkan.


"Hah! Tapi.. Mamah nggak pernah keliatan sakit kak, bahkan mamah selama ini masih tetap kerja kayak biasanya." Kak Riza memegang kedua pundakku.


"Dengerin kakak Zah. Kakak ulangi sudah sejak lama mamah kamu mengidap penyakit itu dan sebenarnya kakak sudah bilang sama mamah kamu, kalau penyakitnya harus segera ditangani" jelasnya, setelah itu kak Riza membuang nafasnya gusar.


"Hah.. Tapi mamah kamu menolak saran kakak dan lebih memilih untuk mementingkan pekerjaannya dibanding kesehatannya"


Mendengar argumen kak Riza seketika aku pun langsung memegang keningku yang mulai terasa pening, bagaimana bisa? mamah lebih mementingkan pekerjaannya dibandingkan dengan penyakitnya.


Aku selalu berpikir apakah uang adalah segalanya? Karena rasanya percuma saja jika kita menghasilkan banyak uang walaupun setumpukan gunung pun namun konsekuensi-nya adalah dengan kehilangan nyawa kita sendiri.


"Terus sekarang bagaimana kak?" tanyaku dengan suara yang serak berita seperti ini cukup membuatku terguncang.


"Kamu tenang ajah, ada kemungkinan mamah kamu masih bisa sembuh. Untuk sekarang mamah kamu harus dirawat disini supaya mendapatkan penanganan yang lebih lanjut"


..._o0o_...


"Nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan ini silahkan coba lagi nan-"


Tut..


Aku langsung mengakhiri panggilan itu lalu mematikan handphoneku dan membandingkannya di sofa yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit. Dengan kasar aku mendudukan bokongku di sofa dan mengusap kepalaku dengan kasar.


Apa kalian tahu? Aku sedang berusaha menelfon papah dan sudah lebih dari 10 kali aku menelfonnya, namun papah malah tidak menjawab panggilanku, apakah papah sedang meeting?


Walaupun begitu tidak bisakah papah menjawabnya dulu walau hanya sebentar, aku sudah mengirimkannya pesan padanya namun dia masih belum menjawabnya.


Mataku terarah menatap mamah yang terbaring lemah diatas brankar, lagi-lagi aku menghela nafas karena lelah lalu menyandarkan kepalaku disofa sambil memenjamkan mataku.


Sungguh aku sangat bingung sekarang rasanya aku sendirian disini, mbok sedang pulang kampung dan papah pun tidak bisa dihubungi entah ada dimana dia sekarang.


Aku mungkin terlihat kuat namun itu hanya terlihat dari luar sedangkan jika diperhatikan lebih jelas sebenarnya aku hanyalah seorang anak yang baru berumur 13 tahun, aku baru saja menginjak remaja aku tidak sehebat itu aku tidak sekuat itu.


"Aku lelah.." gumamku sambil membenturkan kepalaku kesofa yang menjadi sandaranku.


Bersambung...

__ADS_1


^^^05 April 2022^^^


^^^Wida pitriyani ^^^


__ADS_2