Story In July ( End )

Story In July ( End )
Hari ke - 29


__ADS_3

Suara sirine ambulans terdengar begitu nyaring memaksa dan menggorek masuk kedalam ditelingaku, mataku tanpa berkedip terus menatap seseorang yang terbaring lemah diatas brankar dengan alat bantu pernafasan yang menancap dihidungnya.


Semua ini terjadi dikala aku, Putri dan kak Rido akan berangkat ke sekolah, awalnya semua baik-baik saja namun saat diambang pintu kak Rido tiba-tiba saja pingsan.


Padahal hanya itu yang terjadi tetapi kenapa bunda, Putri dan papah terlihat sangat panik, dan yang lebih mengerikan adalah kedua mobil tiba-tiba saja mogok disaat sedang sangat dibutuhkan.


Sehingga pada akhirnya papah pun menelfon ambulans untuk segera datang kerumah, semua terjadi begitu cepat bahkan rasanya aku belum sempat untuk bisa bernafas dengan teratur dari sejak tadi.


Disaat aku masih bergulat dengan fikiranku tiba-tiba saja sebuah tangan yang cukup besar mengusap air mataku yang tiba-tiba saja jatuh, dan tangan itu berasal dari tangan lemahnya kak Rido.


Seketika aku pun tersadar dari lamunanku lalu aku melihat dia menarik sudut bibirnya sambil sedikit menggelengkan kepalanya, seakan menyuruhku untuk tidak menangis.


Dengan segera aku pun mengusap kedua mataku yang mengeluarkan cairan bening itu.


"Jangan nangis" sepintas aku melihat bibirnya yang mengatakan itu lalu setelah itu dia kembali tidak sadarkan diri.


Suara riuh ricuhnya para perawat terdengar begitu jelas dikala mobil ambulans baru saja sampai didepan rumah sakit, lebih tepatnya rumah sakit yang kemarin menjadi saksi bisu atas gagalnya rencana bunuh diriku.


Apa kalian tahu? Para perawat itu berjumlah sekitar 10 orang dan itu membuatku semakin ketakutan, bahkan tidak banyak dari mereka mengatakan bahwa mereka harus segera bergegas dan menangani pasien.


"Cepat panggil dokter Andri untuk segera datang kemari, karena pasien telah harus segera ditangani!" seru salah satu perawat.


Mereka terus mendorong brankar yang ditiduri oleh kak Rido, tidak hanya mendorong seperti biasanya namun mereka mendorongnya dengan cara berlari seakan-akan jika mereka telat barang satu menit saja maka semuanya telah usai.


Kenapa? Ada apa ini? Kenapa wajah mereka sangat panik? Padahal dia hanya pingsan saja tidak lebih, itulah yang selalu ada dalam fikiranku.


Nafasku pun mulai terengah-engah, kepalaku rasanya seperti berputar-putar akibat semua kericuhan yang terjadi, bahkan telingaku rasanya berdengung sangat keras. Aku, sudah tidak tahan lagi.


Perlahan pandangan mataku mulai memudar dan berwarna hitam, dan tidak lama kemudian setelah itu aku pun tidak sadarkan diri, gelap hanya gelap yang tersisa.


..._o0o_...


Perlahan namun pasti aku pun mulai membuka mataku dan pada saat pandanganku mulai jelas seketika aku pun terbangun, dan aku disuguhkan oleh bau obat yang begitu menyengat serta tangan kananku sudah diinfus.


Sepi...


Tidak ada siapapun disini aku pun mulai merenung apakah semua yang terjadi itu hanyalah mimpi?!, bahkan dengan bodohnya aku masih mengira bahwa aku masih berada disini sejak kejadian tabrakan itu.


Aku melihat kearah bajuku dan bajuku bukanlah seragam SMA melainkan baju pasien yang kemarin aku gunakan bahkan sekarang aku tidak memakai hijab, sekarang aku kembali merenung apakah semua ini mimpi. 


Aku teringat sesuatu lalu aku memegang kepalaku dengan tangan kananku dan ternyata kepalaku masih diperban, hal ini begitu sangat aneh bagiku bahkan aku masih diruangan yang sama seperti ruangan yang aku tempati saat itu.


Perlahan aku melihat kearah jam yang menunjukkan pukul 15.30 aku mengerutkan keningku, aku ingat sekarang apakah aku tidur siang setelah mengerjakan solat dzuhur, akan tetapi entahlah aku tidak tahu.


Aku mengibaskan selimbutku dan berjalan kearah jendela yang terlihat sudah sore, perlahan aku menarik nafas dari hidungku dan menghembuskannya dari mulutku jika memang itu semua adalah mimpi, tetapi kenapa rasanya begitu nyata.


Lalu tidak lama kemudian terdengar pintu yang dibuka dan aku sudah tahu itu pasti kak Riza, "Wawa.." panggil seseorang yang membuka pintu tadi.


Aku mengerutkan keningku itu seperti suaranya papah, aku pun membalikkan tubuhku dan terlihatlah papah dan bunda yang ada diambang pintu.


"Kamu sudah sadar Zahwa" ucap bunda.


Aku semakin kebingungan setelah melihat bunda dan tiba-tiba kepalaku mulai terasa berputar-putar, aku pun lantas memegang kepalaku dengan tangan kiriku dan terlihatlah gelang yang berantuikan bintang disana.


Seketika aku tertegun setelah melihat gelang itu, karena gelang itu diberikan oleh kak Rido disaat kami berlibur ke Pantai, jadi semua ini...


"Wawa kamu nggak papa?" tanya papah dan mulai melangkah maju namun baru satu langkah papah berjalan aku sudah menghentikan pergerakan papah dengan memberikan pertanyaan padanya.


"Kak Rido kenapa?" tanyaku.


" ... A-apa?" tanya papah balik.


"AKU TANYA KAK RIDO KENAPA!" bentakku.


Seketika bunda terperenjat karena kaget lalu memegang tangan kekarnya milik papah, sedangkan papah langsung tertegun melihat sikapku yang seperti itu, mungkin itu mengingatkannya akan kejadian beberapa tahun yang lalu.


"Wawa sabar dulu sayang. Kak Rido itu, dia--"


"Dia apa?" selaku.


"Dia cuma sakit biasa" jawab papah tanpa melirik kearahku, melihat reaksinya yang seperti itu seketika aku pun tersenyum miris.


"Bohong..!" tekanku, lalu aku mendorong brankar dengan kaki kananku.


Dan seketika bunda terperenjat karena kaget bahkan papah pun langsung membelalakkan matanya dikala aku melakukan itu.


"Zahwa!" bentak papah.


"Kenapa pah? Kenapa marah? Aku tahu papah bohong dan itu adalah hal yang paling aku benci. Bahkan aku sudah muak dengan hal yang berkaitan dengan kebohongan" ucapku, dengan mata yang menatap tajam kearah papah dan papah ia pun membalas tatapanku dengan tatapan yang tajam pula.


"Sudah cukup Zahwa! Papah muak dengan sikap kamu, yang semakin hari rasanya semakin ngelunjak" bentaknya lagi.


"Papah muak dengan sikap aku?! Aku juga muak dengan sikap dan sifat papah"


Keadaan pun hening namun atmosfer disini sangatlah tidak mengenakkan, dan itulah yang dirasakan oleh bunda.

__ADS_1


Lalu beberapa kali bunda pun mengusap-usap pergelangan tangannya papah "Kamu jangan marah-marah, Zahwa kan lagi sakit jadi mending kita keluar saja dulu" ucap bunda, berusaha menenangkan papah yang tersulut emosi.


Setelah itu mereka pun berbalik keluar dari ruanganku serta menutup pintu, namun setelah menutup pintu tiba-tiba saja mereka mendengar suara sesuatu yang pecah.


Dengan segera papah pun membuka pintu dan pemandangan pertamanya adalah aku yang sedang berdiri dengan pecahan vas bunga yang berserakan tepat berada didepanku.


"Zahwa apa yang kamu lakukan?!" teriak papah sambil berlari kearahku lalu memegang tangan kiriku.


"Apa kamu sudah nggak waras hah!" bentak papah.


"Iyah pah aku nggak waras! Semenjak aku dilahirkan sebagai anak papah, bukan kasih sayang atau cinta yang aku dapatkan. Tapi malah tuntutan, cacian, makian, dan kebohonganlah yang sering aku dapatkan!" ucapku dengan tidak kalah membentaknya.


"Dari sejak itulah aku udah nggak waras pah" tekanku, mendengar itu papah lalu menurunkan tanganku dan menatap sendu kearahku.


"Apa papah tahu? Papah adalah seorang ayah terburuk yang pernah kutemui" tandasku, seketika papah terbelalak mendengarnya.


"Zahwa!" teriak bunda.


'Plak' sebuah tamparan yang begitu keras mendarat dipipiku bahkan karena tamparan itu wajahku langsung mengarah kearah samping kananku, suara tamparan itu terdengar sangat nyaring diruanganku.


Untuk pertama kalinya aku mendapatkan tamparan dari bunda yaitu ibu kandungku sendiri, aku pun memegang pipiku yang terasa panas akibat tamparan tadi.


"Bunda tahu, kamu marah sama papah kamu akan tetapi asal kamu tahu juga papah kamu itu sedang berusaha untuk memperbaiki kesalahannya. Dan kamu.." jeda bunda sekilas sambil menunjukkan telunjuknya didepanku.


"Tidak pantas untuk berbicara seperti itu" tandasnya.


"Bun..." panggil papah.


"Nggak mas. Jangan membela dia, kakak-kakaknya saja tidak pernah seperti ini, dia sudah kelewatan" timpal bunda.


"Nggak. Bun Zahwa itu..."


"Bunda benar pah aku berbeda dari Putri dan kak Rido, aku berbeda dari mereka berdua. Lantas aku ini anak siapa?" lirihku, dengan posisi yang sama yaitu memagang pipi kiriku dengan wajah yang masih menghadap kesamping kananku.


"Aku anak siapa pah? Kenapa aku berbeda dari mereka?" aku memberanikan diri untuk menatap mereka berdua.


"Wawa, dengar papah dulu" ucap papah dengan tangannya yang mencoba merangkulku.


"Nggak!" selaku, sambil mendorong kedua tangannya serta dengan kakiku yang berjalan mundur, dan seketika kedua kakiku berdarah karena aku menginjak pecahan kaca itu.


"Zahwa kaki kamu" ucap papah.


Rasa perih menjalar keseluruh tubuhku namun aku menghiraukannya justru rasa perih itu tidah sebanding dengan rasa perih yang ada dihatiku, kalian akan tahu bagaimana rasanya jika kalian menjadi aku.


"Putri panggil dokter Riza kesini bilang padanya untuk membawa suntikan penenang dan katakan padanya juga bahwa Zahwa kambuh" teriak papah, mendengar itu tanpa basa-basi Putri langsung berlari entah kemana.


"Mas kenapa Zahwa dikasih suntikan penenang?" tanya bunda menatap heran kearah papah.


"Ka-karena Zahwa menderita gangguan mental bipolar.." cicit papah, mendengar hal itu seketika bunda membelalakkan matanya mungkin bunda tidak tahu bahwa anaknya memiliki gangguan mental yang mengerikan seperti itu.


"A-apa? Kenapa kamu nggak pernah bilang? Kenapa kamu diam aja selama ini?!" teriak bunda sambil mengguncang-guncangkan tubuh papah.


"Ma-maaf bun, ayah nggak mau bunda kepikiran" mendengar itu bunda menghembuskan nafas dari mulutnya sambil memegang dahinya, lalu matanya melirik kearahku.


"Zahwa maafin bund--"


"Pergi!" selaku, seketika bunda terperenjat karena teriakanku.


"Kalian pergi dari sini!" teriakku lagi.


"Nggak Zahwa dengerin dulu, kamu harus--"


"KELUAR!" bentakku, lalu aku berjongkok dan memegang kedua telingaku.


"Udah bun. Itu nggak akan mempan saat ini Zahwa sedang tidak bisa mengontrol emosinya jadi jika kita semakin mendekatinya, takutnya Zahwa malah membalik menyakiti kita" ucap papah sambil memegang bahu bunda.


Tidak lama kemudian terlihatlah Putri dan kak Riza diambang pintu, lalu kak Riza langsung berlari kearahku.


"Nggak! Pergi lo, gue tahu semua orang didunia ini pembohong gue nggak percaya sama siapapun lagi" teriakku.


"Hey, hey, hey ini kakak dek. Ini kak Riza, kakak nggak pernah bohong sama kamu" ucap kak Riza sambil memegang kedua bahuku.


"Pergi!" bentakku sambil mendorong kedua tangannya.


"Gue nggak mau percaya sama siapapun lagi, gue tahu didunia ini semuanya pembohong, mereka juga egois! Mereka cuma mikirin diri mereka sendiri" ucapku dengan nada yang tersedu-sedu disetiap katanya.


"Nggak, dek jangan bicara seperti itu. Itu semua nggak benar" bantah kak Riza dan berusaha untuk merangkulku lagi.


"Nggak! Gue bilang PERGI! PERGI!" bentakku sambil mendorong tubuh kak Riza kebelakang dan pada akhirnya tubuh kak Riza membentur brankar.


"Ish.." desis kak Riza karena tulang belakangnya terasa ngilu.


"Kita harus keluar dari sini sekarang!" seru kak Riza.


"Tapi kenapa?" tanya Putri.

__ADS_1


"Zahwa nggak bisa diajak kerja sama, kita harus tunggu dia sedikit tenang dulu"


"Terus kalau kondisinya tetap sama gimana?" tanya Putri lagi, seketika kak Riza terdiam sebentar.


"Nggak ada cara lain, selain--- memanggil pihak RSJ dan membawanya kesana" jawab kak Riza sambil menundukkan kepalanya.


"Nggak!" tolak Putri dan kak Rido yang baru saja datang, seketika semua orang yang berada diruanganku pun melirik kearah kak Rido yang berada diambang pintu.


"Zahwa nggak akan pergi kemana-mana" ucapnya dengan nafas yang terengah-engah disetiap katanya.


"Tapi tidak ada cara lain"


"Nggak!" bentak kak Rido seketika bunda, ayah, kak Riza dan Putri terperenjat karena kaget.


"Selagi aku disini nggak akan ada yang bawa Zahwa ketempat seperti itu" timpal kak Rido.


Setelah itu kak Rido menghampiriku yang nampak sangat kacau, darah yang terus mengalir dari kakiku, tubuh yang sangat bergetar serta kedua tangan yang terus memegang kedua telingaku.


"Za.." panggil kak Rido lembut.


"Pergi!" bentakku.


"Za ini ka--- ini abang"


"Nggak, aku nggak mau. Aku nggak mau lagi percaya sama siapapun" teriakku histeris.


Bayang-bayang orang yang terus mem-bully, menghina, cacian, makian, dan banyak hal perih yang sering aku terima waktu kecil terus menghantui pikiranku.


"Za.." lagi-lagi kak Rido terus memanggil namaku dengan lembut bahkan kali ini ia berniat untuk merangkulku.


Namun lagi-lagi aku mendorong tangan kak Rido bahkan aku pun mendorong tubuhnya, hingga dia terjungkal ke belakang.


"Sudah Rido mungkin apa yang dikatakan kak Riza memang benar. Kita harus membawa Zahwa ketempat itu dengan begitu mungkin gangguan mentalnya bisa sedikit berkurang" jeda papah sekilas.


"Rumah sakit jiwa bukanlah tempat siksaan, melainkan tempat bagi orang-orang yang memiliki gangguan mental bisa mendapatkan penanganan yang lebih baik" tandas papah.


Seketika kak Rido terdiam lalu ia melirik kearahku yang terus berada dalam kondisi yang sama "Izinkan Ido buat bujuk Zahwa lagi ayah, kalau kondisi Zahwa masih tetap kayak gitu maka Ido. akan menuruti cara papah" mendengar itu papah terdiam sejenak lalu dengan ragu papah menganggukkan kepalanya.


Seakan mendapatkan lampu hijau dari papah kak Rido pun kembali mendekatiku, sedangkan aku masih tetap sulit untuk didekati.


"Za, please dengerin aku"


"Nggak, nggak! Aku nggak mau dengerin apapun lagi" bentakku lagi.


"Setiap kata yang kalian ucapkan pasti hanya berisikan kebohongan saja, jadi untuk apa aku mendengarkan kalian. Kalian nggak pernah mikirin orang yang kalian bohongi" lirihku.


Lalu tiba-tiba saja kak Rido memelukku dengan sangat erat sedangkan aku, aku terus berusaha untuk memberontak agar bisa lepas dari pelukannya.


"LEPASIN, GUE BILANG LEPASIN!" bentakku dengan tangan yang memukul-mukul bahu kak Rido.


"DIAM!" bentak kak Rido, entah kenapa tubuhku tiba-tiba saja mematung padahal sedari tadi aku terus memberontak namun hanya dengan satu kata itu saja aku langsung menurut.


"Atau kamu akan pergi jauh dariku Za" lirih kak Rido, mendengar itu aku semakin mematung entah kenapa dadaku terasa sangat sakit.


"Za, setiap orang tidak pernah lepas dari kebohongan. Namun sebagian mereka melakukannya karena terpaksa tidak semua kebohongan itu dilakukan karena niat jahat, ada juga yang berbohong hanya untuk kebaikan oranglain itu sendiri" jeda kak Rido sekilas.


"Apa kamu tahu? Terkadang orangtua berbohong pun itu untuk kebaikan kita sendiri, mereka tidak bermaksud menyakiti anak mereka. Justru mereka ingin menjaga perasaan anaknya"


"Kamu masih ingatkan, apa yang kakak katakan waktu itu?" tanyanya, sedangkan aku sama sekali tidak menyaut padanya.


"Apa yang kamu lihat dan apa yang kamu nilai belum tentu semua itu benar, karena pasti akan selalu ada alasan dibalik perlakuan seseorang terhadap kita" seketika aku pun tersadar akan ucapannya, aku mulai ingat saat dia mengatakannya waktu itu.


"Kita hanya perlu siap mendengar alasan mereka melakukan itu dari mulut mereka sendiri"


Disaat itu juga aku menangis histeris dan membalas pelukan kak Rido dengan sangat erat, aku mulai takut. Dengan alasan yang akan mereka katakan aku takut untuk mendengarnya, aku takut.


"Syut! Jangan nangis" ucap kak Rido sambil mengelus-elus kepalaku yang tertutupi oleh hijabku.


"Jangan nangis.." lirihnya lagi.


"Semuanya akan baik-baik aja kan kak, semua akan baik-baik aja kan?!" isakku.


Walaupun aku memiliki tubuh yang tinggi dan pemikiran yang cukup dewasa dari anak seusiaku akan tetapi tetap saja, dalam diriku aku masih menyimpan perasaan seorang anak kecil yang tidak ingin ditinggalkan.


"Iyah... Semuanya akan baik-baik saja, semoga saja" cicitnya diakhir kalimatnya, setelah mendengar itu tangisanku kembali histeris dan seisi ruangan dipenuhi oleh suara tangisanku.


Rasa sakit akan ditinggalkan serta rasa perih yang menjalar didalam diriku semuanya berpadu menjadi satu, semua ini sangatlah membuatku semakin tersiksa jika aku boleh jujur.


Aku tidak ingin lagi untuk tetap hidup, namun dunia memaksaku untuk tetap berjalan walau jalan yang kulewati hanyalah duri.


Bersambung...


^^^17 agustus 2022^^^


^^^Wida pitriyani^^^

__ADS_1


__ADS_2