Story In July ( End )

Story In July ( End )
01 Agustus


__ADS_3

Hari yang baru dan bulan yang baru mungkin bagi sebagian orang hari ini ialah hari bagi mereka memulai hal yang baru, begitu juga denganku namun perubahan yang baru ini bagiku ini adalah yang terburuk.


Suara isak tangis begitu terdengar jelas dari setiap pelayat aku sedari tadi hanya diam mematung dikursi roda yang aku duduki, bahkan seorang Putri yang sosoknya selalu periang dan suka bercanda tiba-tiba saja berubah menjadi sosok yang tidak aku kenali.


Dan jangan lupa juga dengan Amel dia adalah sosok yang selalu blak-blakan, sembrono dan juga pemarah, namun kini untuk pertama kalinya aku melihat ia menangis tersedu-sedu melihat sosok yang kini akan segera ditimbun oleh tanah.


Kak Erik dialah yang mengantar temannya menuju tempat peristirahatan terakhirnya dengan kata lain ia membantu mengubur jenazah kak Rido hingga liang lahat, sungguh untuk pertama kalinya aku melihat sosok lain dari kak Erik. Mata dan hidungnya yang sedikit berwarna kemerah-merahan sangatlah membuatku merasa sangat tertegun.


Bunda pun tidak henti-hentinya menangis bahkan dia begitu erat memeluk Putri, sungguh jenazah itu begitu sangat beruntung karena ada begitu banyak pelayat yang hadir dan mendoakannya.


Lihatlah senyuman yang terbit dibibir pucatnya itu, dan lihatlah wajahnya yang sedikit berseri-seri itu rasanya seakan menambah kesan kedamaian didalamnya.


"Jangan, abang nggak boleh ditimbun tanah. Kasihan abang bunda. Nanti dia nggak bisa nafas" lirih Putri.


"Kamu nggak boleh gitu sayang, kamu harus ikhlas melepaskan abangmu buat pergi yah" ujar bunda sambil memeluk Putri dengan sangat erat.


Pada akhirnya penguburan jenazah almarhum kak Rido berjalan dengan sangat lancar, tidak ada kendala sama sekali.


Kemudian pak ustadz pun mendoakan kebaikan almarhum setelah itu para pelayat pun pamit untuk pulang, kini hanya menyisakan beberapa orang terdekat saja disini.


"Pak maafkan saya. Saya sudah gagal menyelamatkan anak bapak" lirih dokter Andri.


"Kenapa anda meminta maaf dok? Setidaknya anda sudah berusaha. Saya sangat berterimakasih selama bertahun-tahun ini anda sudah membantu saya" sahut papah, kemudian mereka pun saling berpelukan seakan mereka berusaha untuk saling menguatkan.


Kemarin disaat kami sedang membeli eskrim entah kenapa tiba-tiba saja detak jantung kak Rido menjadi tidak normal, sebelumnya kak Rido sudah dibantu dengan alat pacu jantung oleh dokter Andri.


Namun sekuat apapun dokter Andri berusaha tetap saja beliau hanyalah seorang dokter, dia tidak bisa melakukan apapun dikala takdir kak Rido sudah berkata lain.


"Kalau begitu saya izin pamit, maaf karena saya tidak bisa berlama-lama disini karena masih ada pasien yang harus saya tangani" pamit kak Riza.


Dibalik ini semua aku baru tahu ternyata kak Riza pun tersangkut pautkan dengan hal yang tidak aku sangka, ternyata kak Riza sudah tahu bahwa Putri dan kak Rido adalah saudaraku bahkan kak Riza pun sudah mengetahui penyakit jantung bawaan yang diderita oleh kak Rido.


Namun kak Riza tetap tutup mulut karena papah yang memintanya agar merahasiakan ini semua, yaah sudahlah aku tidak ingin berkomentar apapun lagi. Aku lelah.


Dokter Andri dan kak Riza pun berjalan meninggalkan pemakaman, lalu tidak lama kemudian Amel berjongkok dan mengelus batu nisan yang menancapkan nama sosok teman sekaligus musuh adu mulutnya setiap hari.


"Sekarang gue udah nggak bisa denger suara lo lagi, dan mulai sekarang kita udah nggak bisa adu mulut lagi." jedanya sekilas, lalu ia mengusap air matanya yang mengalir dipipinya.


"Sekarang lo seneng 'kan? Lo udah nggak ngerasain sakit lagi dan lo nggak perlu bersandiwara lagi. Lo udah bisa istirahat dengan tenang sekarang, tapi pesan gue cuma satu lo harus baik-baik yah disana" tandas Amel.


Lalu kemudian dia berdiri serta menatap sendu kearah sosok yang kini hanya menyisakan nama, setelah itu Amel berbalik lalu seketika Amel dan Putri pun saling berhadapan.


"Sabar Put" ucap Amel, tiba-tiba saja Putri memeluk Amel dan karena hal itu Amel pun sempat terhuyung kebelakang.


"Dia udah pergi Mel, ini nggak adil! Padahal kita lahir barengan tapi kenapa dia pergi duluan" isak Putri.


Dengan susah payah aku berusaha untuk tidak menangis lagi, aku yakin diantara semua orang yang merasa sedih atas kepergiannya kak Rido justru disini Putri-lah yang paling merasa terpuruk.


Aku tahu itu bagaimana rasanya kehilangan sosok yang kita sayangi, apalagi sosok itu selalu menemani kita dikala senang maupun susah.


..._o0o_...


Sepi...


Rumah ini sungguh terasa sepi rumah yang biasanya selalu ada teriakan, canda dan tawa kini tidak lagi kurasakan.


Kamarku yang biasanya dijadikan sebagai tempat berkumpul dan tempat bercanda ria kini tidak akan pernah lagi kurasakan, yah disinilah aku berada sekarang.


Lagi-lagi aku berteman dengan sepi dan rasa sesak yang menyeruak didada aku sudah tidak tahan lagi lantas aku pun menangis sejadi-jadinya disini, sudah cukup! Aku tidak sanggup untuk berpura-pura tegar lagi.


Aku kehilangan sosok yang berharga lagi bagiku, kini aku bertanya-tanya kenapa hal yang aku anggap berharga selalu terlihat mencolok namun juga terlihat begitu lemah.


Jika memang begitu kenapa dia harus hadir? Aku bukanlah robot ataupun boneka yang tidak merasakan sebuah perasaan sama sekali.


Aku melihat kearah tangan kiriku dan terlihatlah gelang yang berantuikan bintang disana, sungguh semakin aku melihatnya semakin aku merasa sesak.


Dengan kasar aku membuka gelang itu dan berniat untuk menyimpannya, mungkin saja dengan aku menyimpan gelang itu maka rasa sesak yang sakit ini aku rasakan akan segera hilang dengan sendirinya.


Aku gerakkan tanganku untuk membuka laci dan menyimpannya disana namun sebelum aku menyimpannya, mataku melihat sebuah buku album foto yang ukurannya hampir sama dengan buku sekolah.


Aku pun mengerutkan keningku karena seingatku aku tidak memiliki buku album foto, lantas ini punya siapa? Itu yang aku pikirkan.


"Punya siapa ini?" monologku sendiri.


Aku mengambil buku album foto itu lalu membukanya dan halaman pertama yang terlihat adalah huruf yang bertuliskan kata "Keluargaku" dibagian tengah-tengahnya, jujur aku sempat tertegun dengan kata itu.


Lantas aku membukanya lagi dan terlihatlah foto yang sempat diambil dikala aku, Putri dan kak Rido sedang membereskan kamarku.


Dan berlanjut dengan foto yang tidak aku ketahui kapan diambilnya namun seingatku itu adalah momen dikala aku sudah berada disini, lalu berlanjut lagi dengan foto yang diambil saat pergi ke pantai.


Hingga sampailah pada bagian foto yang paling terakhir serta paling mencolok diantara semua foto, itu adalah sebuah foto keluarga yang diambil saat dipantai waktu itu.


"Ini siapa yang buat?" lagi-lagi aku bermonolog sendiri dan terus bertanya-tanya.


Beberapa kali aku membolak-balikkan buku itu namun hasilnya nihil tidak ada apapun yang menjelaskan pemilik buku ini, lalu tiba-tiba mataku melihat secarik kertas yang diselipkan dibagian belakang foto keluarga itu.


Lantas aku mengambilnya dan membukanya "Coba tebak, benda apa yang bisa dilipat namun dapat dimasukkan kedalam" itulah yang tertulis dikertas tersebut,


Seperkian detik kemudian aku mengerutkan keningku lalu aku kembali membaca tulisan lainnya yang berada dibagian bawah.


"Jika kamu sudah mengetahui jawabannya maka carilah dikamarku, tertanda. Kakakmu" lagi-lagi aku kembali tertegun.


"Kak Rido" beoku.


Ada begitu banyak asumsi yang bergelayut dalam otakku sungguh ini cukup sulit, karena disisi lain aku tidak dapat berpikir dikala aku sedang dalam kondisi yang seperti ini.

__ADS_1


Awalnya aku ingin mengacuhkannya namun rasa penasaranku lebih besar dibandingkan dengan kondisiku saat ini.


Dengan keras aku terus berpikir lalu aku merangkum pertanyaan yang ada dikertas itu agar aku dapat menjawabnya, aku sempat berpikir bahwa mungkin maksud dari yang bisa dilipat itu adalah komputer dan lalu mungkin saja komputer itu dimasukkan kedalam lemari atau mungkin tas.


Dengan segera aku pun beranjak dari tempatku lalu berjalan dengan keadaan yang pincang menuju kamar kak Rido dan kebetulan kamar itu tidak dikunci, lantas aku pun mulai menggeledah kamarnya namun dengan hati-hati.


Dan hasilnya tidak ada apapun bahkan komputernya pun tidak aku temukan, lantas aku kembali berpikir dan yang melintas dipikiranku yang bisa dilipat itu adalah kertas.


Sedangkan maksud dari dimasukkan kedalam itu bisajadi itu tas, lemari ataupun laci. Namun aku sudah memeriksa tas sekolah dan lemari lalu dimana lagi jika bukan di...


Mataku perlahan melirik kearah laci yang berada disamping tempat tidur dengan segera aku berjalan pincang menuju laci lalu aku membuka laci itu dan terlihatlah sebuah peti berukuran kecil berbentuk persegi serta gembok yang masih terkunci.


Aku menghembuskan nafas lelah, apa maksud kak Rido melakukan hal ini? Dan lagi-lagi mataku melihat secarik kertas berbentuk persegi dibawah peti kecil itu.


"Kuncinya ada dikamarmu, dibawah tempat tidur" itu yang tertulis dikertas itu.


Setelah membaca surat itu aku langsung keluar dari kamar kak Rido dan dengan hati-hati aku menutup pintu itu, lalu setelah itu aku kembali ke kamarku serta mengunci pintu.


Aku langsung mencari kunci yang katanya berada dibawah tempat tidurku, dan ternyata benar saja ada kunci kecil disana.


Setelah itu aku pun mendudukkan diriku diatas tempat tidur serta membuka gembok itu hingga terbuka, kemudian aku membuka peti kecil berbentuk persegi itu.


Lalu aku melihat ada beberapa permen coklat kesukaanku serta secarik kertas lagi disana, refleks aku menghembuskan nafas lelah dari mulutku karena jujur saja aku mulai bosan dengan kertas-kertas itu.


Aku ambil kertas itu lalu membukanya kata pertama yang tertulis dikertas itu adalah "cape yah? Sabar ini cobaan bukan ujian"


"Ngenes!" refleks aku langsung mengatakan itu dan entah kenapa aku mulai melupakan kesedihanku.


"Coklat itu kesukaan kamu 'kan? Iyah sama-sama" dia menuliskan itu seakan ia sedang mengobrol denganku.


"Siapa juga yang bilang makasih" gumamku.


"Biasakan ucapkan terimakasih jika ada orang yang memberimu hadiah. Ouh yah jangan lupa gosok gigi biar giginya nggak bolong-bolong, tapi kalo misalkan giginya bolong-bolong kamu olesin aja 'Nodrop' dijamin no bolong-bolong!"


Seketika aku langsung tersenyum membaca isi surat itu lalu aku membuka lembaran baru lainnya.


"Garing yah? Iyah kakak tahu itu garing banget"


Setelah membaca itu aku menggeleng-gelengkan kepalaku, karena rasanya aneh dia yang ngelawak dia juga yang mengatakan bahwa itu tidak lucu.


"Za... Aku rindu kamu"


Untuk sesaat waktu rasanya berhenti nafasku pun untuk sesaat rasanya tertahan karena efek dari rasa keterkejutanku, mataku tidak berkedip sama sekali melihat 4 kata itu.


Perlahan air mataku turun dengan sendirinya, dan rasa sesak itu kembali terasa sungguh rasa ini sangatlah membuatku tidak nyaman.


"Jangan nangis! Siapa yang nyuruh kamu buat nangis, emang salah yah kalo kakak bilang kakak rindu kamu,"


Dengan kasar aku mengusap air mataku lalu kembali membaca isi surat itu.


Kakak tahu kamu lagi nangis, tapi tolong jangan nangis lagi. Okeh..


Jujur aja, baru kali ini kakak nulis surat buat seseorang. Selamat kamu adalah orang pertama yang kakak kasih surat, serius!


Kakak nggak pandai dalam berkata-kata tapi didalam surat ini kakak akan mengatakan semuanya, kakak ulangi kakak akan mengatakan semuanya.


Tidak akan ada lagi kebohongan apapun yang kakak sembunyikan, sungguh kakak akan mengatakan semuanya. Kali ini kakak akan berbicara jujur.


Kakak tahu, kamu pasti marah sama kakak karena kakak sudah berbohong sama kamu tapi percayalah Za, kakak melakukan ini karena kakak tidak ingin membuat kamu khawatir.


Lagipula...


Semua yang akan terjadi maka akan terjadi, penyakit kakak sudah ada dari sejak dulu jadi untuk apa kakak umbarkan pada semua orang.


Apa kamu tahu...


Sejak kali pertama kita bertemu kakak kagum sama kamu karena kamu tidak menerima uluran tangan kakak, kamu adalah orang pertama yang menolak uluran tangan kakak.


Biasanya kakaklah yang menolak uluran tangan lawan jenis kakak, tapi entah kenapa tiba-tiba saja kakak malah mengulurkan tangan kakak sama kamu. Aneh yah!


Za...


Kamu tahu nggak? Kakak sebenarnya sudah tahu kalau kamu itu adik kandung kakak, kakak tahu itu saat kakak menyelamatkan kamu dari paksaan Angga.


Kamu ingatkan saat itu kamu pingsan lalu yang membawamu kerumahmu adalah kakak, Amel dan Putri.


Dan..


Saat kakak menggendongmu ke kamarmu tanpa sengaja kakak melihat foto keluargamu, kakak sempat tidak percaya dengan apa yang kakak lihat tapi kakak memutuskan agar ayah yang menjelaskannya sendiri.


Untung saja Putri dan Amel masih diluar karena mereka masih ngobrol sama mbok, terus tanpa berpikir panjang kakak pun langsung menyembunyikan foto itu dilaci jadi mereka tidak tahu. Tentang hal itu.


Lucu yah...


Ternyata kita bersaudara. Hidup itu ternyata penuh dengan kejutan


Aku sedikit tertegun dengan pengakuan kak Rido yang mengatakan bahwa ia sudah tahu sedari awal, itu berarti selama ini kak Rido sudah mengetahui semuanya namun ia bersikap seakan ia tidak tahu apapun. Perlahan aku membalikkan kertas itu ke lembaran baru yang masih belum ku baca.


Za jangan berbuat hal yang aneh lagi, seperti saat kamu mencoba bunuh diri dengan melompat dari ruang inapmu seperti waktu itu.


Kamu tidak tahu Za waktu itu adalah hal terberat yang belum pernah kakak alami, waktu itu yang ada dalam fikiran kakak adalah...


Jika kakak gagal menangkapmu maka kakak akan melihatmu mati didepan kakak dan kakak tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kakak jika melihatmu yang seperti itu, jadi dengan sekuat tenaga kakak berusaha agar bisa menangkapmu.


Za jujur saja...

__ADS_1


Sebenarnya kakak, sudah lama menyukaimu.


Seketika aku langsung mematung ditempat dan menatap kata tulisan itu dengan tatapan tidak percaya "Ha-hah?!" beoku.


Namun kakak memendam perasaan itu karena mau bagaimanapun perasaan itu tidak pantas untuk ada.


Sejak dulu kakak selalu mengeluh kenapa kakak harus memiliki penyakit seperti ini? Padahal kakak masih ingin lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain.


Padahal kakak masih ingin lebih banyak mengenal banyak orang, padahal kakak ingin meraih cita-cita kakak sebagai tentara dan kakak masih ingin melewati banyak hal dengan orang-orang yang kakak sayangi.


Namun sekarang kakak bersyukur karena diberikan penyakit ini, kamu tahu kenapa?


Karena dengan begitu kakak akan dengan mudah untuk menghapus perasaan kakak, tidak akan ada yang merasa tersakiti dan kakak tidak akan menderita karena memendam sebuah perasaan yang sangat besar ini.


Kamu ingat saat kakak mengatakan "aku sayang kamu..." percayalah ungkapan itu tiba-tiba keluar dengan sendirinya dari mulut kakak.


Kakak sadar dengan apa yang kakak lakukan disaat matamu berkedut-kedut akhirnya kakak tahu bahwa ternyata kamu sedang berpura-pura tidur, kakak pun lalu mengatakan bahwa kakak menyayangimu hanya karena sebatas adik, tidak lebih.


Tapi sebenarnya itu salah, kakak lagi-lagi telah berbohong sama kamu. Maafkan kakak karena kakak telah sering membohongimu.


Tapi kali ini....


Kakak tidak akan berbohong lagi, kakak akan berkata jujur padamu Zahwa nur febrianita.


Jantungku berdetak hebat padahal aku belum membaca kelanjutan suratnya, dengan perlahan aku membuka lembar baru lagi dari surat itu dan terlihatlah kata yang terpampang dengan sangat jelas disana.


Aku mencintaimu Za...


Sangat!


Seketika nafasku pun kembali tertahan, setelah membaca surat itu, lalu aku kembali membaca isi surat itu dibagian bawahnya.


Jangan membenciku dan jangan lupakan aku, tetaplah memakai gelang itu. Kamu jangan melepasnya yah apalagi sampai membuangnya.


Sampai jumpa lagi!


Za.


^^^Tertanda kakakmu ^^^


Lagi-lagi tangisku pun kembali pecah dengan derasnya, sungguh ternyata dia adalah laki-laki yang kejam dan juga egois.


Bukankah dia mengatakan bahwa perasaan itu tidak pantas untuk ada, lantas untuk apa dia mengungkapkan perasaannya padaku bukankah itu konyol?!


Apa dia tidak menyadari bahwa aku selama ini juga diam-diam menyukainya, perlahan mataku turun kearah coklat itu.


Dan teringat saat tanpa sengaja dia melihatku yang sedang memakan coklat itu saat kami sedang dikantin, dikala itu perasaanku tiba-tiba saja merasa tidak nyaman dan hanya dengan memakan coklat itu perasaanku berubah menjadi sedikit lebih baik dan samapi saat ini hal itu sudah menjadi kebiasaan bagiku.


"Kamu suka coklat itu?!" mendengar pertanyaannya lantas aku menganggukkan kepalaku.


"Coklat apa?" tanya kak Rido.


Tanpa berpikir panjang aku pun langsung memberikan salah satu coklatku padanya "Ouh coklat ini toh, dulu Putri suka makan coklat ini tapi sekarang dia udah jarang"


"Kenapa?" tanyaku.


"Katanya sih coklatnya terlalu manis jadi dia sekarang udah jarang makan coklat ini" jawabnya sambil membuka coklat itu dan kemudian memakannya.


"Widih makan apa tuh?!" tanya Amel.


"Coklat, mau?" tanya kak Rido sambil memperlihatkan pembungkus coklat itu.


"Nggak sudi gue, masa iya gue makan plastik sih!" tukas Amel.


"Yaudah kalo nggak mau"


Semua itu sudah beberapa minggu yang lalu namun ia masih mengingatnya, aku gerakkan tanganku untuk mengambil coklat yang ada dipeti itu lalu aku memakan coklat itu.


Rupanya dia sengaja menyiapkan coklat itu agar aku segera memakannya dikala aku sudah membaca suratnya, dia memang cerdik!


"Hidup manusia memang tidak abadi, tapi kenangannya akan selalu abadi"


Disela-sela memakan coklat tiba-tiba saja perkataan itu terlintas begitu saja didalam pikiranku, aku tahu itu. Namun tetap saja kenapa harus sesakit ini? Kenapa harus sangat sesak seperti ini.


Perlahan aku kembali mengaitkan gelang itu ditangan kiriku lalu setelah itu aku mendekapnya kedalam pelukanku dengan cukup erat.


Dari dulu aku membenci perasaan ini, perasaan yang membuatku nyaman dengan seseorang namun kemudian dikala aku mulai nyaman dengan kehadiran mereka dengan mudahnya mereka pergi begitu saja.


"Aku benci kamu kak, aku benci kamu!" isakku, setiap aku mengatakannya maka setiap itulah aku semakin mendekap tangan kiriku yang melingkarkan gelang pemberiannya.


"Kalo mau pergi, ya pergi ajah. Kenapa malah buat banyak kenangan diwaktu yang singkat. Dasar egois, manusia kejam, nggak punya hati!" umpatku.


Jauh dalam hatiku aku sama sekali tidak menganggapnya seperti itu, hanya saja aku sangat kesal dengan sikapnya terhadapku.


Sungguh ini semua sangatlah membuatku lelah secara mental dan fisik, selamat kak! Kamu menang dan aku yang kalah.


Sekali lagi aku ucapkan selamat untukmu...


Kamu hebat, dalam sekejap kamu mampu membuatku merasa nyaman denganmu namun dalam sekejap pula kamu mampu membuatku terluka.


Semoga aku tidak menemukan manusia yang sepertimu lagi, semoga saja.


Bersambung...


^^^02 september 2022^^^

__ADS_1


^^^Wida pitriyani^^^


__ADS_2