
"Mbok! Aku berangkat" pamitku, mbok yang sedang mencuci piring pun menghentikan kegiatannya, lalu melirik kearahku.
"Non udah makan..?"
"Nanti ajah" sebelum mbok mengatakan sesuatu aku pun segera berlenggang pergi berjalan keluar dari rumah.
"Jalan mang.." ucapku lalu aku langsung masuk kedalam mobil.
"Asiap non-lah" ujarnya lalu memasuki jok bagian depan setelah menghidupkan mobil, mang Ujang pun mulai menancapkan gas menyusuri jalan kompleks dan membelah kepadatan jalan raya.
Beberapa kali aku mengusap-usap hidungku karena terasa sedikit tersumbat, mungkin karena hujan-hujanan kemarin.
Tidak lama kemudian mang Ujang melirikku lewat kaca spion yang menghadap kearah jok belakang "Non sakit..?" mendengar pertanyaan mang Ujang aku pun mendongakkan kepalaku.
"Soalnya tumben non pakek sweater, daritadi non juga batuk-batuk sama bersin terus. Kalau non sakit mending jangan maksain sekolah non..!"
"Nggak, aku cuma flu biasa nanti juga sembuh sendiri"
Setelah aku mengatakan itu mang Ujang pun kembali fokus pada kemudinya, mungkin beliau tahu sikap keras kepalaku seperti apa.
Akhirnya aku sampai disekolah lantas aku pun membuka pintu mobil lalu berjalan menyusuri koridor. Hari ini masih pagi namun suasana sekolah sudah cukup ramai, mungkin karena hari ini adalah hari senin jadi mereka datang kesekolah dari sejak pagi sekali.
Sesampainya dikelas aku pun menuju tempat dudukku, lalu beberapa menit kemudian kedua temanku datang.
Dasar! Padahal mereka baru saja datang namun sudah mengajakku bertempur, yah... Jika sehari saja mereka tidak menjahiliku mungkin mereka akan kritis.
Siapa disini yang selalu jadi korban atas kejahilan teman kalian? Kalau ada fix kita satu server.
Tidak lama kemudian akhirnya bel sekolah berbunyi menandakan bahwa upacara akan segera dimulai, lantas aku dan kedua teman absurd-ku pun berjalan menyusuri koridor bersamaan menuju ke tengah lapangan. Namun tidak lupa juga sebelum berangkat aku sudah membuka sweater karena jika tidak mungkin sweater ini akan dirampas, oh no!
Cuaca yang sangat cerah dan bersamaan juga degan teriknya panas mentari, telah berhasil membuat semua tubuh siswa dan siswi dibanjiri oleh keringat mereka yang bercucuran dengan derasnya.
"Untuk amanat. Istirahat ditempat gerak!" teriak ketua osis kebetulan dia sekarang bertanggung jawab untuk menjadi pemimpin upacara hari ini.
Semua pun mengikuti arahan yang diberikan oleh pemimpin upacara dan yang menjadi pembawa amanat adalah .... Kepala sekolah lalu seketika semua murid menghela nafas lelah.
Karena siapa yang tidak mengenal pak kepsek? Yang amanat saja sangat lama bahkan tidak jarang selalu saja ada banyak korban pingsan yang jika pembawa amanatnya adalah pak kepsek.
Beberapa menit kemudian kepalaku tiba-tiba saja pusing dan mataku pun berkunang-kunang, mungkin pengaruh dari kondisi badanku yang sedang tidak fit.
Dan akhirnya aku pun terhuyung kedepan dan kepalaku juga membentur tanah dengan keras, alhasil membuatku kehilangan kesadaran dan semuanya pun menjadi gelap gulita.
..._o0o_...
Perlahan aku membuka mataku lalu cahaya dari jendela berhasil masuk kedalam kedua mataku, aku pun perlahan bangun dan mengusap-usap kepalaku karena terasa sedikit pusing.
"Udah enakan..?" tanya seseorang.
Aku pun melirik ke sumber suara itu dan ternyata itu adalah Beni si ketua kelasku, bukannya menjawab aku malah melanjutkan kegiatan mengusap-usap kepalaku.
"Masih sakit yah? Mungkin karena benturan tadi" jedanya sekilas.
"Makanya kalau lagi sakit jangan maksain diri buat ikut upacara"
Aku berusaha untuk tidak memutarkan mata malasku, aku ini lagi pusing ini malah diceramahi gerutuku dalam hati.
"Jam berapa sekarang?" tanyaku.
"Jam 09 pas. Emang kenapa?"
"Nggak ada"
Aku pun turun dari tempat tidur itu dan tiba-tiba badanku malah terhuyung kedepan, namun dengan sigap Beni memegang pergelangan tanganku refleks aku langsung menepisnya.
"Maaf nggak bermaksud bua--"
"Iya nggak papa. Makasih" selaku.
"Udah deh! Mending istirahat aja dulu. Lagian bentar lagi juga istirahat"
Aku terdiam sebentar mungkin apa yang ia katakan ada benarnya juga aku pun mendudukkan kembali tubuhku di atas kasur yang tersedia diruangan ini.
"Kenapa ada disini?" seakan mengerti Beni pun tersenyum kearahku.
"Aku kan PMR. jadi aku harus ngurusin orang-orang yang sakit"
"Tapi kan bisa orang lain"
"Semuanya pada nggak mau, jadi yah karena khawatir jadi aku---" Beni tiba-tiba menghentikan ucapannya.
"Karena sekarang aku udah baikan, jadi kamu bisa pergi"
"Nggak aku mau disini" jawabnya cepat.
"Beni, mending kamu pergi deh"
"Kenapa? Apa kamu nggak nyaman?" sungguh sang ketua kelas yang satu ini sangatlah keras kepala.
"Iyah" jawabku tanpa melirik kearahnya.
"Zah, aku bakalan pergi tapi sebelum itu, ada yang mau aku omongin" aku pun melirik kearahnya dengan malas dan diapun mulai menatapku dengan serius.
Cukup lama dia terdiam lalu ia pun mulai mengatakan mengatakan apa yang ingin ia ucapkan "Aku suka sama kamu" aku membelalakkan mataku dan menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"M-maksudnya..?"
"Aku tahu ini mendadak, jadi... Aku bakalan nunggu jawaban kamu" setelah mengatakan itu ia pun mulai melangkahkan kakinya.
"Tunggu! Kamu lagi bercandakan? Serius ini nggak lucu" tekanku.
"Aku serius Zah.." ia pun berbalik dan menghadap kearahku.
"Aku serius!" imbuhnya.
Dia menatapku dengan serius namun aku menatapnya dengan malas dan datar "Makasih udah suka sama aku, tapi aku nggak mau ada hubungan apapun" jawabku.
__ADS_1
Mendengar hal itu Beni terdiam sejenak lalu dia menghela nafas gusar, setelah itu matanya pun melirik kearahku dengan tatapan sendu.
"Maaf udah ngeganggu"
Setelah mengatakan itu dia berlalu meninggalkanku sendirian di UKS, setelah ia peegi aku langsung mengusap kepalaku dengan kasar sungguh rasanya kepalaku sangatlah pening.
"Dasar!" gumamku.
Akhirnya bel pulang berbunyi namun aku masih ditempat yang sama dengan kondisi yang sama, tidak lama kemudian Amel dan Putri datang menghampiriku.
Aku pun mengalihkan atensiku kearah mereka dan seketika aku tertegun ditempat karena melihat seseorang yang ada dibelakang mereka berdua.
"Kenapa tas aku dibawa sama kak Rido?" tanyaku.
"Itu aku yang nyuruh" jawab Putri.
Aku menghela nafas berat lalu kak Rido memberikan tas yang dipegangnya padaku, aku pun mengenakan tasku dan beranjak dari kasur itu.
"Zah lo mau pulang sekarang? Lo nggak mau periksa dulu gituh" tanya Amel.
"Mel kerasukan apa lo hari ini? Tumben lo perhatian" celetuk Putri.
"Bawel banget si lo! Kadang gue aneh sama lo, gue perhatian salah, gue cuek juga salah. Emang gue harus gimana si!"
"Iya iya maaf. Nggak usah pake sewot segala kali"
Baru saja aku melangkah tiba-tiba saja kepalaku pusing dan aku hampir saja terjatuh, namun dengan sigap kak Rido langsung memegang pergelangan tanganku.
"Copot! Eh copot!" latah Putri.
"Tuhkan apa gue bilang! Ngeyel si.." timpal Amel.
Aku melirik kepergelangan tanganku dan menyusuri tangan yang cukup besar yang memegang tanganku itu, seolah mengerti kak Rido pun langsung melepaskan genggaman tangannya.
"Maaf, refleks" ujar kak Rido, aku hanya menganggukkan kepalaku satu kali.
Lalu tiba-tiba ponselku berdering dan memperlihatkan nama mang Ujang disana, lantas aku langsung menjawab panggilan itu.
"Iya mang..?" tanyaku to the point.
"Haduh.. Maaf non, mang nggak bisa jemput soalnya mobilnya mogok" ujar mang Ujang dibalik telpon.
Cukup lama aku terdiam "Iya nggak papa" jawabku.
"Maaf yah non..." setelah mang Ujang mengatakan itu, aku pun mengakhiri sambungan panggilan tersebut.
"Kenapa..?" tanya Putri.
"Mang Ujang nggak bisa jemput. Mobilnya tiba-tiba mogok"
"Oouh yaudah bareng gue ajah, soalnya abang bawa mobil" jeda Putri sekilas.
"Iyakan bang..?"
"Hem, lagipula kita kan se-kompleks"
..._o0o_...
Dan disinilah aku sekarang dikamar Putri yang bernuansa serba warna pink, hampir semua dekorasi kamarnya berwarna serba pink mulai dari boneka, bantal, kasur, meja belajar dan sebagainya dasar maniak warna pink.
"Gimana? Kamarku rapi kan? Wangi kan?! Nggak bau kan? Berarti aku nggak jorok kan?" tanya Putri sumringah sambil menggoyang-goyangkan tubuhku.
"Lepasin!" ujarku karena mulai risih dengan sikapnya.
"Zahwa jawab!" rengek Putri.
"Hem..." jawabku dengan malas.
"Ya iyalah kamar siapa dulu dong.." ujarnya bangga, setelah mendengar Putri mengatakan itu lagi-lagi aku berusaha untuk tidak memutar mata malasku dan menggantinya dengan helaan nafas kasar.
"Ouh iyah kamu pasti lapar kan? Bentar, aku kebawah dulu yah" Putri pun beranjak dari tempatnya dan berjalan kearah pintu.
Lalu tiba-tiba dia menghentikan langkahnya kemudian berbalik menghadap kearahku "Kalau kamu ada butuh apa-apa ikut turun ajah kebawah yah.." aku hanya menganggukkan kepalaku satu kali.
Setelah kepergian Putri suasana berubah menjadi sepi mataku berkeliaran melihat kesetiap sisi kamar Putri. Sepintas aku berpikir bahwa Putri mungkin sangatlah dimanja oleh kedua orangtuanya, karena disetiap sisi ruangan ini dipenuhi dengan boneka.
Beberapa menit telah berlalu tapi Putri belum juga terlihat, karena merasa bosan akhirnya aku pun beranjak dari tempatku dan berniat untuk mengikutinya ke dapur.
Sesampainya di dapur aku tidak melihat Putri ataupun siapa pun, tiba-tiba saja aku dikagetkan dengan suara seorang wanita yang memanggilku dari belakangku.
"Kamu mencari siapa?" tanya wanita itu.
Dan padasaat aku membalikkan badan mataku pun seketika tertegun karena wajah wanita yang ada didepanku saat ini sangat mirip dengan wanita yang kulihat waktu dicafe saat itu.
"Hey! Kamu kenapa melamun?" tanya wanita itu lagi, lalu seketika aku terlonjak karena kaget.
"Saya mencari Putri" jawabku spontan.
"Astagfirulloh itu anak pasti lupa kalau kamu masih disini, soalnya kebetulan sekali ayahnya Putri baru saja pulang dari luar kota, jadi mungkin karena saking girang ayahnya pulang dia jadi lupa kalau kamu masih disini" jelasnya, mendengar itu aku hanya bisa tersenyum kikuk. Yah... Wajar juga sih pikirku.
"Ya-yaudah deh tante, kalau gitu saya pulang ajah. Takutnya ngeganggu" jedaku sekilas.
"Sa-saya pamit tante assalamualaikum" pamitku.
Baru saja aku melangkahkan satu kaki tiba-tiba saja lengan kananku ditahan oleh bundanya Putri "Kamu mau kemana? Udah disini ajah dulu. Sekalian kenalan sama suami tante"
"N-nggak usah tante.."
"Udah ayok!!" paksanya.
Belum sempat aku mengatakan apa-apa lagi, tante sudah menarik paksa lenganku sehingga mau tidak mau aku pun mengikutinya dibelakang.
Sesampainya disana aku melihat sepasang lelaki dan satu wanita, namun yang lebih mengejutkan wanita itu adalah Putri dan sedang duduk dipangkuan salah satu lelaki tersebut.
Melihat itu mataku pun langsung terbelalak sempurna karena melihat mereka yang terlihat sangatlah dekat bahkan tidak terlihat sedikitpun rasa canggung.
__ADS_1
Jantungku berpacu sangat cepat, tubuhku mati kutu, sedangkan tanganku bergetar sangat hebat. Pemandangan didepanku ini sangatlah diluar dugaanku.
"Sayang lihat deh. Ini tuh temannya Putput"
Aku semakin membelalakkan mataku, dikala wanita tersebut memanggil salah satu lelaki yang ada disana itu dengan sebutan 'sayang' dengan ragu aku melirik kearah wanita yang sedang memegang lenganku.
Sedangkan mereka yang awalnya sibuk dengan canda dan tawa, seketika menghentikan kegiatan mereka lalu melirik kearahku secara bersamaan.
Kemudian laki-laki yang sedang melahun Putri di pangkuannya seketika berdiri dari tempat duduknya serta dengan mata yang terbelalak kaget.
"Wawa..." sepintas aku melihat bibirnya yang berkata seperti itu, yah... Dia adalah papahku.
Aku melepas genggaman wanita tersebut lalu mundur beberapa langkah namun secara tidak sengaja aku menyenggol guci yang ada dibelakangku, dan suara guci yang terjatuh itu menggelegar keseluruh ruangan rumah ini.
Tanpa sengaja aku menginjak salah satu pecahan guci itu dan darah segar mengalir dari telapak kakiku, sungguh terasa perih memang tapi tidak sebanding dengan rasa sakit yang ada di hatiku.
Aku hanya bisa meringis kesakitan karena rasa perih itu malah semakin menjadi-jadi, bahkan air mataku pun pecah seketika namun bukan karena rasa sakit ini saja melainkan karena rasa sakit yang ada dihatiku.
Dengan Tergopoh-gopoh aku berusaha terduduk untuk melepaskan serpihan guci itu yang menancap dikakiku, bahkan ukuran serpihan guci yang menempel itu cukup besar.
"Zahwa!" teriak Putri, lalu berlari menghampiriku begitu juga dengan kak Rido yang sebelum Putri berteriak pun kak Rido telah berlari menghampiriku.
"Dek Zahwa! Kamu nggak papa?" tanya kak Rido khawatir.
"Eng-nggak aku nggak papa" jawabku cepat.
"Nggak apa-apa gimana? Itu kaki kamu berdarah terus serpihannya juga menancap banget!" teriak Putri histeris.
Sepintas aku melirik kearah papah dan setelah mendengar teriakan Putri papah pun berlari menghampiriku, lalu mataku kembali melirik kearah kak Rido yang berniat membantuku untuk mencabut serpihan guci itu.
"Udah beneran nggak papa, aku bisa cabut sendiri" cegahku.
Namun seakan tuli kak Rido justru tidak mendengarkan perkataanku justru dengan sangat hati-hati kak Rido berusaha mencabut serpihan guci itu.
Aku pun memejamkan mataku menahan rasa sakit serta gesekan yang terasa disetiap gerakannya, dan pada akhirnya serpihan itu tercabut dari telapak kakiku.
Setelah itu aku mencoba untuk berdiri berniat untuk segera pergi dari rumah ini, namun pergelangan tanganku ditahan oleh Putri.
"Kamu mau kemana? Diluar hujan, mending kamu disini aja dulu biar lukanya bisa diobatin"
"Nggak usah.." jedaku sekilas sambil melepaskan genggaman Putri, lalu aku melirik kearah papah yang menatapku dengan tatapan sendu.
"Aku nggak butuh obat, buat aku rasa sakit karena luka ini nggak seberapa" sindirku seketika papah langsung menundukkan pandangannya.
"Aku pamit" pamitku pada Putri.
Dengan jalan yang pincang aku berjalan meninggalkan mereka, setiap langkah yang aku lewati sangatlah sakit bahkan rasanya seakan-akan aku ini menginjak duri bukan lantai.
Kakiku sakit, hatiku pun juga hancur, ada begitu banyak pertanyaan dikepalaku dan aku menginginkan banyak penjelasan darinya namun aku merasa muak hanya untuk melihat wajahnya.
Kini hanya tinggal beberapa langkah lagi saja maka aku akan segera sampai di ambang pintu, bahkan suara hujan yang turun dengan lebatnya diluar sangatlah terdengar dengan jelas oleh kedua telingaku.
"Wawa..." panggil seseorang dibelakangku.
Seakan tuli aku bukannya menengok kebelakang namun aku malah semakin mempercepat langkahku untuk segera pergi dari tempat ini meski dalam keadaan pincang.
"Wawa!" panggilnya lagi sambil memegang pergelangan tangan kananku, lalu menarik tanganku agar aku menghadap kearahnya.
Seketika matanya terbelalak karena melihat mataku yang memerah, tanpa berkata-kata apa-apa lagi papah lalu menarikku kedalam pelukannya.
"Maafin papah Wawa.." lirihnya, didalam pelukannya itu aku terus berusaha memberontak.
"Lepas.." tekanku namun seakan tuli papah justru malah semakin mempererat pelukannya.
"Lepas!" bentakku.
"Maafin papah nak, Maafin papah" lirihnya lagi sambil mengecup pucuk kepalaku.
"Lepasin!" bentakku lagi dengan tangan yang terus mendorong tubuh papah, agar melepaskan aku dari pelukannya dan pada akhirnya aku pun berhasil lepas dari pelukannya itu.
"Saya bukan anak anda, anda siapa? Kenapa anda tiba-tiba saja memeluk saya seperti itu? Bukankah itu tidak sopan?"
"Nggak... Bukan gitu Wawa!" ujarnya dengan tangan yang berniat memegang lenganku namun aku segera menepisnya.
"Bukan?! Bukan apa yah pak maksudnya? Saya sudah bilang saya tidak mengenal bapak. Dan saya baru pertama kali bertemu dengan bapak"
"Sudah cukup Zahwa! Papah mau serius sama kamu!" sentaknya.
"Okeh sekarang kita mulai serius. Serius deh pah.. Aku kagum sama papah, aku kagum sama ketebalan muka papah!"
"Selamat!" ujarku sambil bertepuk tangan didepannya, seakan memberikan apresiasi atas kerja kerasnya.
"Selamat! Anda menang, anda adalah seorang lelaki pertama yang sudah menghancurkan saya" ucapku sambil tersenyum miris.
"Semoga bahagia dengan keluarga baru anda, dan yah anda tenang saja rahasia anda akan aman bersama saya"
"Anggap saja saya sudah tidak ada didunia ini bahkan saya tidak akan menganggu kehidupan anda sama sekali. Jangankan mengganggu untuk bergantung saja saya tidak akan melakukannya" setelah mengatakan itu aku pun berlari keluar rumah menghiraukan rasa sakit yang semakin menjalar ditelapak kakiku.
Aku terus berlari membelah derasnya hujan, setiap langkah yang aku lewati setiap itu pula air mataku mengalir dengan sendirinya.
Aku memejamkan mataku menahan rasa sesak yang terasa didadaku, bahkan beberapa kali aku memukul dadaku yang sangatlah terasa sakit.
Lalu saat aku membuka mataku tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang melaju kearahku dan sang pengemudi itu pun terbelalak kaget, dengan sigap pengemudi itu mengerem mobilnya bahkan suara decitannya pun sampai terdengar jelas di telingaku.
Namun hasilnya tetap nihil karena mobil itu pada akhirnya menabrakku setelah itu aku pun terdorong kebelakang, kepalaku membentur aspal dan aku merasakan sesuatu yang keluar dari belakang kepalaku.
Air yang berjatuhan dari langit membasahi wajah dan semakin membasahi tubuhku, kepalaku rasanya sangatlah sakit, jantungku berdegup sangat hebat, dan untuk menghirup nafas saja terasa sangat berat.
Mendadak pandanganku kabur dan lalu semuanya terlihat hitam dan gelap, aku sangatlah tersiksa dengan semua ini.
Aku mulai berpikir...
Apakah... Ini akhir hidupku?
Bersambung...
__ADS_1
^^^03 juni 2022^^^
^^^Wida pitriyani^^^