
Suara alat pendeteksi jantung begitu terdengar nyaring oleh kedua telingaku, mataku sedari tadi terus melihat kearah sosok yang kini berada diatas brankar tanpa berkedip sekalipun.
Tidak lama kemudian ada seseorang yang memegang pundakku "Wa makan dulu yuk!" ajak Putri, seakan tuli aku justru sama sekali tidak bergeming dari tempat kursi rodaku.
Setelah kejadian kemarin aku pun langsung diperiksa oleh dokter dan kakiku kembali dibaluti oleh perban, bahkan dokter itu terus mengomeliku karena aku tidak menurut padanya.
"Wa aku tahu kamu khawatir tapi ini tuh udah hampir tengah hari loh, dari sejak kemarin kamu nggak makan. Please mau yah?"
"Dari kemarin kak Rido juga nggak makan, apa dia nggak ngerasa lapar? Kenapa dia belum bangun-bangun juga?" lirihku, mendengar itu Putri pun menghembuskan nafasnya.
Seketika dia langsung melangkah kecil dan berdiri disamping kiriku lalu kemudian dia berjongkok "Kamu tenang ajah, abang itu orangnya kuat. Aku yakin dia pasti nggak apa-apa"
"Zahwa.." panggil bunda yang baru saja masuk.
"Makan dulu yuk! Dari kemarin kamu nggak makan" mendengar itu aku hanya menggelengkan kepalaku.
Melihat reaksiku bunda dan Putri menghembuskan nafas gusar dari hidung mereka, lalu tidak lama kemudian papah masuk dan setelah itu mata kami saling bertemu namun aku langsung memalingkan wajahku kearah kak Rido.
"Wawa papah tahu kamu masih marah sama papah, tapi kamu jangan menghukum papah dengan menyiksa diri kamu sendiri"
"Wa aku tahu kamu juga marah sama aku, tapi kamu jangan kayak gini dong" timpal Putri.
"Kalian semua pergi, aku mau disini sendiri" tekanku diakhir kalimat.
"Wa kamu itu kenapa sih nggak ngerti juga, cuman karena hal kayak gini ajah kamu marah" sentak Putri.
"Cuman?!" beoku sambil menatap tajam kearah Putri.
"Kamu nggak ngerti gimana rasanya jadi aku Put! Kamu kira nggak tahu apa-apa tentang masalah kayak gini itu enak, hah!"
"Iyah. Aku lebih baik nggak tahu apa-apa tentang hal kayak gini, kamu nggak tahu gimana rasanya setiap hari lihat orang yang kamu sayang ngerasain sakit."
"Kamu nggak tahu Wa. Kamu nggak akan tahu" tandas Putri.
Mendengar itu lantas aku langsung memalingkan wajahku darinya "Makanya pas aku tahu kamu adik aku, hati aku langsung bilang kenapa nggak dari dulu aja kamu datang jadi kamu bisa ngerasain hal yang sama kayak aku. Jadi aku nggak ngerasain itu semua sendirian" lanjutnya.
Lalu dia mulai melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruanganku, aku melihat punggungnya dari belakang dan punggungnya terlihat bergetar.
"Berisik, kenapa kalian saling adu mulut. Nggak tahu apa? Orang lagi enak-enaknya tidur" lirih seseorang.
Dan yang mengatakan itu adalah kak Rido refleks kami pun langsung mengalihkan atensi kami kearah kak Rido, bahkan Putri langsung menghentikan langkahnya lalu berbalik menghampiri sosok yang sedari kemarin tidak sadarkan diri.
"Abang! Abang nggak apa-apa kan? Mana yang sakit?!" tanya Putri beruntun.
"Tunggu biar ayah panggil dokter dulu" ucap papah lalu berlari keluar.
"Nah gini nih, baru juga bangun udah berisik ajah. Aku nggak apa-apa, serius!"
Seketika Putri dan bunda pun langsung terdiam dan tidak lama kemudian datanglah papah dan juga dokter bersama dengan kedua susternya.
"Haraf sedikit menjauh karena pasien sedang akan diperiksa" ucap salah satu suster.
Lantas kami pun langsung menjauh dan memperhatikan kak Rido yang sedang diperiksa dari jauh. Tidak lama kemudian pemeriksaan pun selesai lantas kami pun langsung mendekat.
"Bagaimana kondisi anak saya dok?" tanya papah.
Jujur aku merasa sedikit aneh dikala papah menanyakan hal itu, ada rasa sesak yang bercampur dengan rasa tidak nyaman didalam diriku.
"Untuk sekarang kondisinya sedikit membaik dari sebelumnya, namun tetap saja saran saya lebih baik anda segera membawanya keluar negeri agar mendapatkan---"
"Haduh dok aku tuh nggak apa-apa, kenapa harus pergi keluar negeri segala" sela kak Rido.
"Ido jangan menyela percakapan orang yang lebih tua dari kamu" tegur papah.
"Ayah dokter Andri itu masih muda, dia itu masih jomblo. Iyakan dok?!" goda kak Rido dengan alis yang diangkat-angkat sebelah.
Mendengar perkataan dari kak Rido seketika dokter yang memeriksanya pun menatap datar kearah kak Rido.
"Baru kali ini saya menangani pasien yang kayak kamu, lama-lama kamu itu ngeselin juga yah. Ouh yah kata siapa saya jomblo? Saya sudah tunangan" tekan dokter itu sambil memperlihatkan cincin yang melingkar dijari manisnya.
"Widih! Jadi ceritanya dokter yang berkepala tiga itu mulai sombong yah sekarang"
"Sudahlah dok. Pembahasannya tidak akan selesai kalo terus meladeni anak saya" ucap papah.
"Tapi dok anak saya harus diperiksa dimana?" tanya bunda.
Mendengar pertanyaan dari bunda dokter yang sering dipanggil dokter Andri itu pun mengalihkan atensinya kearah bunda.
"Negara New york atau mungkin di negara Singapura karena disana peralatan medis mereka cukup memadai"
"Nggak ah males" celetuk kak Rido, refleks semua orang pun melirik kearah kak Rido.
"Buat apa jauh-jauh kesana, disini juga udah lebih dari cukup" lanjut kak Rido.
"Keputusan berada ditangan kamu, saya hanya memberikan saran saja" finish dokter Andri, yang jika diperhatikan sepertinya ada rasa kesal didalamnya.
"Saya pamit, assalamualaikum" pamit dokter Andri.
"Waalaikummussalam" jawab kami serempak.
Dokter Andri pun langsung melangkahkan kakinya berjalan kearah ambang pintu namun sebelum itu, beliau membalikkan badannya dan berjalan menghampiri papah.
"Pak tolong nanti keruangan saya, ada yang ingin saya bicarakan" ujarnya dan mendapatkan anggukan dari papah, setelah itu dokter Andri pun berjalan keluar bersama dengan kedua susternya.
..._o0o_...
Waktu terus berputar dan kini waktu menunjukkan pukul 02.00 dan kini aku sudah melaksanakan solat dzuhur, sungguh untuk melaksakan solat saja rasanya sulit bahkan aku dibantu oleh bunda dan suster.
"Zahwa kamu nggak bosen disini terus, kita keruangan abang yuk!" ajak bunda, mendengar itu seketika aku langsung tersadar dari lamunanku dan menganggukkan kepalaku satu kali.
Setelah itu bunda mendorong kursi rodaku dan pergi menuju ruangan kak Rido, begitu disana aku disambut dengan kak Rido yang kembali dipasangi oleh alat-alat disekitar dadanya.
Melihat itu mataku pun seketika terbelalak sempurna bahkan mulutku pun menganga dan kemudian aku langsung menundukkan kepalaku.
"Zahwa kamu kenapa?" tanya bunda.
"Eng-enggak apa-apa" sahutku dengan posisi yang sama.
"Astagfirulloh bunda!!" teriak kak Rido.
"Bunda kenapa nggak ketuk dulu si! Orang lagi nggak pakek baju juga!" teriak kak Rido yang langsung mengambil bajunya dan mengancingkannya.
__ADS_1
"Emangnya kenapa? Biasanya juga nggak apa-apa"
"Iya nggak apa-apa kalo bunda yang lihat, ka-kalo Zahwa kan beda. Gimana sih"
Dokter Andri seketika tertawa terbahak-bahak melihat reaksi kak Rido "Dilihat sama adek saja ributnya udah kayak yang mau dilecehin, dasar. Gimana nanti kalo udah nikah" ujar dokter Andri diselingi dengan tawa disetiap katanya.
Mendengar hal itu kak Rido pun menatap dokter kesal "Dokter mau saya bongkar rahasia dokter?!"
"Apa maksud kamu?" tanya dokter Andri sambil menatap kak Rido dengan serius.
Mendengar pertanyaan dokter Andri seketika kak Rido tersenyum jahil "Za..!" panggil kak Rido, lantas aku pun melirik kearahnya.
"Kamu tahu nggak siapa tunangannya. Dokter. Andri"
Mendengar hal itu lantas aku mengangkat alisku sebelah "Siapa?" tanyaku dan bunda.
"Namanya adalah dokter Ri--" seketika perkataan kak Rido terhenti karena dokter Andri menutup mulut kak Rido dengan tangannya.
"Saya baru tahu yah, ternyata mulut kamu itu ember!" dengan kasar kak Rido melepaskan tangan dokter Andri yang membekap mulutnya.
"Tangan dokter bau"
"Diam! Saya peringatkan satu kali lagi sama kamu, jangan kasih tahu siapapun" ancam dokter Andri.
"Iya deh iyah, aku nggak akan kasih tahu kalo tunangan dokter itu kak Riza"
"Heh!!" sentak dokter Andri.
Mendengar hal itu lantas aku menatap dokter Andri tidak percaya bahkan bunda pun menatap dokter Andri dengan tatapan yang sama.
"Masyaalloh saya nggak nyangka loh dok!" ujar bunda histeris.
"Em anu itu--"
"Sama bun, Ido juga awalnya nggak percaya tapi ternyata cincin mereka sama. Sungguh diluar dugaan, benar 'kan dok?!" sela kak Rido.
"Diam kamu!" jeda dokter Andri sekilas.
"Tapi bu, saya minta tolong jangan dikasih tahu siapapun yah"
"Kenapa dok?" tanya bunda.
"Yaaa soalnya kalau mereka tahu, takutnya satu rumah sakit ini pasti akan menyerbu pertanyaan dengan saya dan menggoda-goda saya dengan Riza. Jadi kami tidak berniat untuk mengumbarnya" jelas dokter Andri.
Mendengar itu bunda pun mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali "Kalo nikah jangan lupa ngundang yah"
"Hehe siap bu"
"Ouh yah jangan lupa sama sate nyah, sisain buat pasien favorit dokter ini yah" ujar kak Rido.
"Ogah saya ngondang kamu, yang ada resepsi saya batal nanti" ujar dokter Riza sambil berjalan keluar.
"Hei nggak boleh gitu dong dok. Dokter!" teriak kak Rido karena dokter Andri sama sekali tidak bergeming dan justru malah langsung pergi setelah berpamitan dengan bunda.
"Dasar dokter aneh!" gerutu kak Rido.
"Bukan dokter yang aneh tapi kamu" ujar bunda sambil mendorongku hingga berada didekat brankar kak Rido.
"Ido nggak aneh bun, cuma Ido hobi aja jahilin orang"
"Belum"
"Kok gitu kenapa?"
"Males bun" jawab kak Rido sambil membaringkan tubuhnya.
"Zahwa juga belum makan, heran deh kalian ini emang susah banget kalo disuruh mak---"
"Apa? Zahwa belum makan?! Kenapa?" tanya kak Rido yang tiba-tiba saja bangun dari acara berbaringnya, membuat aku dan bunda terlonjak karena kaget.
"Kamu ini bikin kaget ajah"
"Kalo gituh Ido mau makan asalkan makannya berdua sama Za. Iyakan?!"
"Hah?!" beoku.
"Okeh, kalo gitu bunda mau bawa nasi dulu kebetulan bunda bikin ayam goreng tadi kamu pasti suka"
"Iya bun, makanan yang dikasih disini pada nggak enak. Hambar semua"
"Yaudah tunggu sebentar yah"
Setelah itu bunda pergi dan mengambil nasi serta ayam goreng yang sedang dibawa oleh Putri, sungguh keadaan tiba-tiba saja runyam dikala Putri datang.
Mengingat kejadian tadi pagi disaat aku dan Putri saling beradu argumen, tidak lama kemudian kak Rido tiba-tiba saja bertanya tetang hal yang cukup intim.
"Kenapa kalian saling diam?" tanya nya dengan mata yang menelisik kearah kami berdua.
Lalu tiba-tiba saja bunda menghembuskan nafas gusar dari mulutnya "Hah... Bunda nggak mau ikut campur, jadi bunda mau keluar dulu yah mau cari angin" pamitnya lalu bunda langsung keluar dari ruangan ini.
"Kenapa nggak ada yang jawab?" tanya kak Rido dengan wajah tanpa ekspresi.
"Maksud abang apa sih? Orang kita biasa-biasa ajah. Iyakan Wa" mendengar itu aku hanya menganggukkan kepalaku dengan ragu.
"Mungkin itu nggak penting buat kalian, tapi bagi abang itu penting. Jadi cepet jawab, kalian kenapa?"
Senyap sama sekali tidak ada yang berani menjawab pertanyaan kak Rido, lantas kak Rido pun menghembuskan nafas lelah dari mulutnya.
"Lihat sini!" titah kak Rido, lantas aku dan Putri pun mengalihkan atensi kami kearah kak Rido.
"Mau seberapa kesal atau marah sama keluarga sendiri, kita nggak boleh diam-diaman sampai berlarut-larut" perlahan tangan kak Rido mengambil tanganku dan tangan Putri lalu mengenggam kedua tangan kami dengan kedua tangannya.
"Kita keluarga, mau sampai kita mati pun status kita sebagai keluarga tidak akan berubah. Orang bilang darah lebih kental daripada air, jadi abang mohon" jedanya sekilas.
"Kalau ada pertengkaran diantara kalian ataupun diantara keluarga kalian dimasa depan nanti, jangan biarkan pertengkaran itu terus berlarut-larut apalagi sampai memutuskan silaturahmi"
"Bahkan lebih bagus jika kita meminta maaf lebih dulu, meskipun dalam pandangan kita sendiri kita tidak salah. Meminta maaf bukan berarti hal yang memalukan ataupun kalah"
"Dengan meminta maaf itu artinya kita menang, karena kita telah berhasil melawan keegoisan yang ada dalam diri kita"
"Ingat pesan abang. Jangan sampai kalian memutus silaturahmi, mengerti?!" tandas kak Rido.
__ADS_1
Tanpa berkedip kami terus menatapnya "Ngerti 'kan?!" seperkian detik kemudian kami menganggukkan kepala kami bersamaan.
"Pinter" ujarnya sambil mengelus pucuk kepalaku dan Putri.
"Wokey yuk kita makan" ajaknya.
Lantas kami pun menyantap masakan bunda lalu saat ditengah-tengah santapan kami, tiba-tiba saja kak Rido menyuapiku dan tentu saja itu membuat Putri sedikit risih. Mungkin! Entahlah aku tidak tahu.
Tiba-tiba saja Putri menyumpal mulut kak Rido dengan tulang bagian paha ayam, lantas aku pun sedikit tersedak karena sikap mendadak dari Putri, sungguh dia sangat kekanak-kanakan.
..._o0o_...
Jam menunjukkan pukul 08.00 malam yaah ada yang berbeda malam ini, yang dimana malam hari ini sungguh begitu. Sepi.
Bahkan sangat sepi, meski aku berada diruangan kak Rido yang bahkan sekarang sedang dipenuhi oleh banyak orang.
Kali ini yang ada disini bukan hanya ada Putri, bunda dan papah saja namun bertambah dua orang, siapa itu? Kalian pasti sudah tahu.
"Btw jajan yuk!" ajak Amel.
"Hah? Jajan jam segini?!" tanya Putri.
"Emangnya kenapa?"
"Heh udah lewat dari jam 7 malam, gue nggak bisa makan cemilan dari jam 7 malem."
Mendengar itu lantas semua yang ada didalam ruangan mengangkat sebelah alis mereka "Lo diet?!" tanya Amel dan kak Rido bersamaan.
"Kamu diet Putri?!" tanya kak Erik.
Yaah entah kenapa tiba-tiba saja kak Erik akan menginap disini, bahkan ia sudah membawa seragam pramuka jadi dia akan berangkat sekolah dari sini.
"Sejak kapan lo diet?" tanya kak Rido lagi.
"Sejak satu minggu yang lalu. Tahu nggak kenapa gue diet? Itu karena berat badan gue udah hampir 50 kilogram, dan itu semua gara-gara lo yang tiap hari hampir jajan martabak telor" oceh Putri.
"Lah kok jadi gue?!"
"Emang faktanya gitu 'kan"
Tidak lama kemudian bunda dan papah membuka pintu, lalu seketika kedua mahkluk yang saling adu mulut itu langsung terdiam.
"Kenapa tiba-tiba jadi pada diam?" tanya papah.
"Nggak ada apa-apa kok yah, siapa yang tiba-tiba jadi diam sih. Emang daritadinya juga gini" sahut kak Rido.
"Iya yah."
"Ouh yah bunda mau izin pulang dulu yah, jadi bunda nggak nginap disini dulu soalnya bunda mau nyiapin baju buat besok kita berangkat"
"Berangkat kemana?" tanya aku, Putri dan kak Rido bersamaan.
Seketika bunda, papah, Amel dan kak Erik mengalihkan atensi mereka kearah kami "Berangkat ke New york dong, nggak dengar apa sama sarannya dokter Andri"
"Nggak! Ido nggak mau kesana" bantah kak Rido langsung.
"Loh kok gitu?!" tanya bunda.
Seketika kak Rido terdiam ditempat dan mengalihkan pandangannya kearah lain "Rido dengerin bunda, kalau kamu khawatir tentang masalah biaya kamu tenang ajah. Kamu nggak perlu mikirin hal itu, okeh?!"
"Terserah bunda" lirih kak Rido.
Mendengar perkataan kak Rido seketika papah menghembuskan nafas gusar dari mulutnya, setelah itu papah berpamitan lalu pergi keluar dari ruangan.
"Rido emangnya kondisi lo semakin parah yah?!" tanya kak Erik sambil berjalan mendekat kearahbkak Rido.
"Nggak tahu, dokternya aja ngasih saran doang bukan berarti harus diturutin 'kan. Bunda tuh kadang suka berlebihan"
"Heh! Kenapa yah dari dulu lo suka gini? Ini tuh bukan penyakit batuk atau filek. Lo sadar nggak ama kondisi lo sendiri, dari kecil lo udah punya penyakit jantung kayak gini ya panteslah dokter kasih saran" sarkas Amel.
"Hem, hem iya deh iya. Gue denger kok, bawel banget sih emak"
"Apa lo bilang?" teriak Amel dan berniat memukul kak Rido dengan sapu.
"Eskrim!" teriak kak Rido, seketika semua orang pun mengerutkan dahi mereka.
"Gue pengen eskrim, beli eskrim yuk!" ajaknya.
Seketika Amel pun terdiam dan memikirkan ajakan kak Rido "Oke deh, gue juga kayaknya pengen itu deh. Beli yuk!" ajak Amel.
Mataku beberapa kali berdenyur-denyut melihat tingkahnya, sungguh dia memang mudah untuk dirayu.
"Okey kalo gitu kalian yang beli dan gue yang makan"
"Enak ajah, emangnya lo raja apa?"
"Iyalah masa iya orang yang sakit lo paksa buat keluar cuma buat beli eskrim"
"Oke deh, yuk Put!"
Putri dan Amel pun berjalan keluar, kemudian aku pun langsung tersadar jika aku berada disini rasanya sungguh aneh.
"Put! Aku ikut"
Refleks mereka pun menghentikan langkah mereka dan menatapku aneh "Hah! Ikut?" beo Amel.
"Tapi Wa gimana caranya kamu keluar? Kan kamu pakai kursi roda" timpal Putri.
Untuk sesaat aku pun langsung terdiam "Kamu disini aja dek Zahwa, sama aku juga nggak bakal diapa-apain kok" ujar kak Erik.
"Udahlah Rik, Zahwa mau ikut mereka katanya mungkin ajah dia mau cari angin. Lagian disini kan ada lift terus ada banyak penjaga juga, jadi pastilah mereka juga ikut bantu" sahut kak Rido.
Entah kenapa aku merasa kak Rido seakan mengusirku secara halus, namun aku menghiraukan pemikiran anehku itu.
Pada akhirnya Amel dan Putri setuju, lalu kami pun pergi keluar untuk membeli eskrim dan ternyata apa yang kak Rido katakan itu memang benar.
Ada begitu banyak penjaga dirumah sakit ini bahkan disini pun terdapat lift, jujur aku baru mengetahuinya ternyata disini terdapat liftnya juga.
Sungguh aku merasa menyesal karena aku mau mengikuti mereka, dan apa kalian tahu? Begitu kami kembali kami disambut dengan hal yang tidak dapat kami percaya.
Bersambung....
__ADS_1
^^^30 agustus 2022^^^
^^^Wida pitriyani^^^