Story In July ( End )

Story In July ( End )
Hari ke - 11


__ADS_3

"Pagi semua!!" sorak seseorang seumuranku diambang pintu dengan rambutnya yang dikucir kuda, dan disusul dengan seseorang berambut sebahu serta berperawakan tomboy yang berdiri dibelakangnya, yah mereka adalah kedua teman absurdku Putri dan Amel.


Tanpa basa-basi mereka langsung menerobos masuk kedalam kelas lalu berjalan kearahku, setelah melihat mereka aku pun menarik nafasku lalu menghembuskannya dari mulutku.


"Assalamualaikum yaaa ukhty!!" soraknya tanpa rasa malu, bahkan seisi kelas mulai merasa risih dengan sikapnya yang hampir setiap harinya selalu saja berisik.


"Waalaikummussalam.." jawabku dengan mata yang masih fokus kearah handphoneku.


"Apa lo liat-liat sahabat gue? Pake acara mandang sinis gitu lagi, mau gue colok tu mata!" sewot Amel, lalu mereka yang menatap sinis kearah Putri pun melenggang pergi keluar kelas.


"Nggak ada kerjaan banget jadi orang" gerutu Amel.


"Wa aku mau pinjem buku dong" rengeknya, aku menatapnya bingung maksudnya apa coba?!


Melihat reaksiku Putri pun menghembuskan nafas kesal dari mulutnya "Ituloh Wa buku Ekonomi. Minjem dong!" rengeknya lagi.


"Nggak!" jawabku langsung, lalu aku kembali terfokus pada handphoneku tanpa diduga tiba-tiba saja Putri mengambil handphoneku dan mengancamku.


"Pokoknya kalau kamu nggak kasih minjem, aku nggak bakalan kasih ini hp" ancamnya, membuatku menatapnya jengah.


"Yaudah ambil aja"


"Serius?!" tanya Putri tidak percaya.


"Iyah.. Ambil ajah! Tapi nanti aku laporin ke wali kelas kalau kamu ngambil hp aku. Udah kan masalah done, so jangan ganggu aku"


"Ayolah Wa aku takut dihukum, kali ini ajah bantu aku yah, yah, yah! PLEASE" rengeknya dengan menekankan kata 'please' dengan mata yang memandang penuh haraf sedangkan aku masih menatapnya dengan datar.


Sayang nya rencana Putri untuk meluluhkanku pada akhirnya gagal dan dia pun akhirnya menyerah lalu memberikan handphoneku sambil memasang wajah masam, entah kenapa ada rasa bersalah dan tidak enak saat melihatnya yang seperti itu refleks tiba-tiba saja tanganku menahan pergelangan tangan Putri, hah.. Aku kenapa? Pikirku sambil mengerutkan keningku.


Tidak lama kemudian aku menepis pikiranku lalu mengambil buku mata pelajaran Ekonomi milikku dan menyimpannya  pada telapak tangan kanan Putri, seketika wajahnya berubah sumringah.


"Makasih!!" soraknya lalu memelukku sekilas setelah itu dia mencium bukuku dan berlari ke bangkunya, aku hanya menggelengkan kepalaku sedangkan Amel dua tiba-tiba saja duduk di atas mejaku.


"Nggak sopan" tegurku, bukannya mendengarkan dia malah menganggap teguranku bagaikan angin lalu.


Seketika dia menatapku dengan tatapan mengintimidasi dan aku mulai risih dengan apa yang dia lakukan "Kenapa?" tanyaku.


"Lo belum jawab pertanyaan gue Zah, sekarang juga gue nuntut lo buat jawab pertanyaan gue!"desaknya, entah kenapa aku merasa diintrogasi.


"Zah tinggal jawab 'iya' atau 'tidak!' gitu aja susah" tekannya.


"Pertanyaan yang mana?" tanyaku.


"Yang kemarin Maemunah!"sewotnya, cukup lama aku terdiam hingga akhirnya aku memilih untuk menjawabnya.


"Iya.." jawabku seketika wajahnya berubah menjadi terkejut.


"Lo serius?!!" tanyanya dengan mata yang terbelalak sempurna.


"Yah... Tapi itu dulu, emang kenapa?" jawabku yang jika didengar lebih teliti terdapat tekad yang kuat didalamnya.


"O-ouh gitu, padahal waktu kemaren tinggal jawab. Susah amat" mendengar itu aku hanya berdeham saja.


"Tapi... Kalau sekarang gimana?!"


"Maksud?"


"Sekarang mau punya lagi gak"


"Nggak" jawabku langsung.


"Kenapa? Ouh jangan-jangan lo susah move on yah" godanya


"Nggak ajah" jawabku cuek lalu aku kembali fokus pada handphoneku.


"Zah.." lirihnya, seketika aku sedikit terpaku melihat dia yang tiba-tiba saja memasang wajah masam.


"Aku.." jedanya sambil memain-mainkan tangannya, baru kali ini aku melihatnya yang seperti ini dan apa dia bilang? 'aku' biasanya dia berkata 'lo' 'gue' tapi sekarang dia tiba-tiba saja berubah.


"Apa?" tanyaku dengan kondisi yang sama.


"Aku pengen hijrah tapi aku belum siap" mendengar itu aku pun lantas langsung melihat kearahnya.


"Mel yang namanya hijrah itu nggak nuntut kita buat seketika langsung berubah, semua juga butuh proses" jedaku sekilas.


"Menurut pendapatku kita nggak perlu nunggu siap atau nggak siap, karena yang paling penting itu tekad"


"Lagi pula.. manusia itu tempatnya salah dan juga lupa. Jadi kita nggak boleh putus asa" tandasku.


tiba-tiba Amel meraba dahiku dengan satu tangannya dan aku pun mengerutkan keningku "Kenapa?" tanyaku


"Ini bener lo kan, nggak biasanya lo bijak padahal kan biasanya lo suka ketus. Gue kira lo bakal anggurin omongan gue" aku hanya menggerutkan keningku.


"Jadi dimatamu aku kayak gitu?!"


"Nggak sih, hehe tapi makasih yak sarannya lo tuh emang temen yang selalu ada pas gue susah" ucapnya sambil mencubit pipi kananku dan aku langsung menepis tangannya yang mencubitku.


"Sakit!" ringisku sambil menatap tajam kearahnya.


"Hehe ternyata pipi lo itu mulus yak. Jadi pengen nyubit lagi" godanya, mendengar itu aku langsung menatapnya tajam.


"Wawa! Wawa ku sayang! Makasih yah.. " soraknya sambil berputar-putar lalu memberikan bukuku, aku hanya mengangguk kepalaku satu kali tidak lama kemudian bel masuk berbunyi dan semua murid pun berhamburan masuk kedalam kelas.


Beberapa menit kemudian masuklah bu Cici wali kelasku, kenapa bu Cici masuk? sekarangkan bukan mata pelajarannya pikirku.


"Selamat pagi anak-anak!" sapanya.


"Pagi!" jawab seisi kelas serempak.


"Kali ini.. Kelas ini kedatangan murid baru" jedanya sekilas, lalu kepala bu Cici menoleh ke arah ambang pintu refleks seisi kelas yang penasaran pun mengikuti apa yang bu Cici lakukan.


"Masuk!" titah bu Cici.


Dan masuklah seorang laki-laki berwajah tirus nan tegas, memiliki badan yang tegap serta tinggi dan juga berpenampilan rapi, karena memiliki wajah yang tampan ia sangat mampu membuat seisi kelas menjadi berisik.

__ADS_1


Seketika mataku terbelalak sempurna memandang tidak percaya ke arah seseorang yang ada didepanku saat ini.


"Dia.." gumamku, apakah ini mimpi? Ataukah ini nyata?, jika ini mimpi aku mohon bangunkan aku..


..._o0o_...


Aku masih termenung menatap nasi gorengku dengan tatapan kosong namun lain dengan pikiranku, pikiranku berputar-putar mengingat kejadian yang tidak terduga tadi aku masih sangat tidak percaya dengan semua ini..


Flash back on..


Sesaat setelah murid baru itu masuk aku membelalakkan mataku tidak percaya, mulutku mengeluarkan kata 'dia' tanpa seizin ku.


"Silahkan perkenalkan nama kamu siapa dan kamu berasal dari mana, pokoknya semua biodata kamu" ujar Bu Cici, lalu laki-laki itu memperkenalkan dirinya sendiri.


"Perkenalkan nama saya Angga putra wijaya, saya berasal dari Jakarta tapi saya asli orang yogyakarta, saya pindah kesini karena saya mengikuti orangtua saya. Ada pertanyaannya?!"


"Tuh anak-anak ada yang mau bertanya?!" sahut Bu Cici.


"Saya bu!" teriak salah satu teman kelasku panggil saja angel, laki-laki itu pun tersenyum simpul dan menganggukkan kepalanya satu kali.


"Kesukaannya apa aja? Udah punya pacar belum?! Sama minta nomor hp-nya doongg!" ujarnya dengan nada girang, aku hanya memutar mataku dengan malas dan beristighfar dalam hati.


"Saya sangat suka yang manis-manis, saya juga suka berolahraga. Dan.. Saya kebetulan masih jomblo dari sejak pertama kali pacaran tapi teruntuk sekarang.. saya mau fokus belajar. Lalu untuk nomor handphonenya, maaf itu privasi" jawabnya dengan santai.


"Yaah..." keluh semua siswi perempuan yang ada dikelasku, mungkin kecuali aku, Amel dan Putri. Aku tidak mendengar keluhan dari mereka berdua.


"Baiklah kamu silahkan duduk di bangku yang kosong.." titah b**u Cici.


Lalu laki-laki itu menatap ke sekeliling isi ruang kelas dan seketika mata kami bertemu dia membelalakkan matanya tidak percaya sedangkan aku cepat-cepat memalingkan wajahku darinya, dalam hati aku terus berdoa agar dia tidak memilih bangku denganku akan tapi...


Realita mengalahkan semuanya, ternyata dia lebih memilih sebangku denganku "Assalamualaikum Zah. Udah lama nggak jumpa" ucapnya setelah ia mendudukkan pantatnya dikursi sebelahku.


"Wa-waalaikummussalam. Hen..." jawabku tanpa melihat kearahnya dan memilih untuk memain-mainkan pulpen ditanganku, lalu tiba-tiba dia memegang pulpen yang ada ditanganku setelah itu dia merebutnya.


Karena sikapnya yang seperti itu aku pun mulai merasa jengah dibuatnya "Gimana kabarnya... Sehat?!" tanyanya sambil melihat kearahku dengan tangan kirinya yang menopang dagu serta tangan kanannya yang memain-mainkan pulpenku.


"Alhamdulillah" jedaku sekilas, lalu merebut kembali pulpenku dan menatap tajam kearahnya.


"Seperti yang dilihat" tekannya, entah kenapa setelah melihat reaksiku tiba-tiba saja dia tertawa geli lantas aku pun mengerutkan keningku, dia kenapa? Pikirku.


"Aku nggak nyangka kita bisa ketemu lagi, setelah kejadian itu kamu langsung nggak ada kabar. Zah... Kamu tahu nggak? Pas kamu minta putus secara sepihak, aku..."


"Yang lalu biarlah berlalu nggak perlu sampai diungkit-ungkit segala dan aku nggak mau ada hubungan apapun lagi, sekarang aku cuma mau fokus sama pendidikan, Jadi.."  jedaku sekilas lalu menatapnya dengan datar


"Jangan ganggu aku, lagi. Aku bisa terima kamu sebangku sama aku tapi inget! Aku bakal terus jaga jarak sama kamu karena kita sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi dan... NGGAK AKAN PERNAH ADA!" jawabku dengan penuh penekanan diakhir kalimatku.


Seketika dia tersenyum kecut dan menatapku dengan sendu "Aku tahu dan itu sebabnya aku bakalan terus tunggu kamu" jedanya.


"Zahwa nur febrianita" lirihnya.


Flash back of..


Semua perkataannya masih terngiang-ngiang dalam pikiranku dan aku merasa seakan-akan  dunia ini begitu sempit, kenapa aku harus bertemu lagi dengannya? kenapa dulu aku menerima ajakannya yang sudah tentu dilarang oleh agama.


"Ini juga mau makan.." ujarku lalu aku melahapkan nasi goreng kedalam mulutku.


"Boleh aku duduk disini" celetuk seseorang dibelakangku sambil membisikkannya ke salah satu telingaku, karena kaget aku pun pada akhirnya tersedak oleh nasi gorengku sendiri.


Dengan sigap kak Rido langsung memberikan botol air mineral padaku, dimejaku terdapat 5 orang, Aku, Amel, Putri, Kak erik dan tentunya kak Rido.


"Makasih..." ujarku dengan nada serak, dan meminum botol itu hingga sisa setengahnya.


"Heh! Angga! lo itu nggak sopan banget yah main bisik-bisik ketelinga orang" sarkas Putri.


"Sorry, sorry... Gue cuma bercanda, btw bolehkan gue duduk disini?!" tanyanya, apa dia bilang?  bercanda?! Bercanda juga ada batasnya pikirku.


"Angga bercanda itu boleh tapi ada batasnya" celetuk kak Rido.


"Iyah iyah kan gue tadi udah minta maaf. Mel gue boleh duduk disini kan?!" tanyanya pada Amel.


"Terserah lo.." ujarnya cuek tanpa melihat kearah lawan bicaranya dan justru malah lebih fokus dengan handphonenya.


"Okeh" tiba-tiba dia malah memilih duduk disebelahku bahkan tangannya dengan tanganku pun berjarak sangat dekat, karena tidak nyaman aku pun lantas memilih diam dan menggeserkan tubuhku sedikit ke kanan.


Okeh fix aku mulai geram sekarang karena dia malah ikut menggeser tempat duduknya untuk lebih dekat denganku, aku mulai bingung apa yang harus aku lakukan sedangkan jika aku lebih menggeser lagi maka aku akan berdekatan dengan kak Rido, dan apa Angga sudah gila sekarang, kenapa dia terus mendekatiku? Pikirku.


"Angga bukannya tempat kamu itu cukup luas yah, kenapa kamu terus menggeser ke dek Zahwa?" tanya kak Erik, seketika semua yang ada satu meja denganku pun melirik kearah kami berdua serta menatap bingung ke arah Angga.


"Enggak ada apa-apa kok cumaa pengen ajah" jawabnya santai.


"Tapi.. Angga! Zahwa kayaknya risih tuh kasian tauu! Dari tadi dia belom makan" geram Putri.


"Yaa.. Kan tinggal makan apa susahnya?!, lagian dari dulu juga dia.."


Brugh..


Aku menggebrak meja dengan keras dan semua orang memperhatikanku tak terkecuali Amel yang dari tadi malah sibuk dengan handphonenya.


"Aku mau kekelas, makan dikantin buat aku nggak nafsu" sindirku sambil menatap tajam kearah Angga, lalu meninggalkan mereka tanpa berkata apa-apa lagi, sungguh aku sangat muak dengannya.


..._o0o_...


Setelah beberapa jam berlalu akhirnya suara bel pulang pun berbunyi dan semua murid-murid disekolahku pun berhamburan keluar kelas. Aku, Amel dan Putri berjalan beriringan disepanjang lorong sekolah.


Apa kalian tahu? Entah berapa kali aku terus menarik nafas dan menghembuskannya dari mulutku, itu karena aku mendapatkan pesan dari mang Ujang katanya beliau tidak bisa menjemputku karena tiba-tiba saja mobilnya mogok saat akan menjemputku.


"Kenapa Zah?" tanya Amel.


"Nggak ada"


"Bohong!" celetuk Putri.


"Kali-kali curhat dong Wa! Jangan dipendam sendiri" ujar Putri.


"Mang Ujang nggak bisa jemput"

__ADS_1


"Kenapa?" tanya mereka serempak.


"Mobilnya mogok" jawabku dan mereka hanya mengatakan 'oh' saja, hanya tinggal beberapa meter lagi saja maka aku akan berpisah dengan mereka berdua, rasanya sangat lucu jika aku mengatakan bahwa aku tidak ingin ditinggalkan oleh mereka.


"Gimana kalau kamu aku anter?" celetuk seseorang dari belakangku, refleks Aku, Putri dan Amel pun membalikkan badan dan terlihatlah seseorang yang selama satu hari ini selalu saja menggangguku.


"Angga" beo Putri, sedangkan yang dipanggil hanya memasang wajah cengir kudanya.


"Gimana? Mau aku anter?!" tanyanya.


"Nggak, nggak usah, nggak perlu" jawabku langsung.


"Kenapa? Kan lebih efisien kalau aku yang anter" sahutnya.


"Sekali enggak tetep enggak!" kukuhku, dengan kasar dia menghembuskan nafas dari hidungnya lalu tanpa seizinku dia memegang lenganku dan menyeretku.


"Angga lepasin!" tekanku sambil memberontak mencoba untuk melepaskan cengkramannya


"Angga! Lepasin!!" sentakku, seakan tuli dia justru menghiraukan sentakanku dan terus menarikku hingga tempat parkir.


"Angga, aku bilang lepasin!" raungku lagi-lagi dia menghiraukanku dan orang-orang yang kami lewati mulai membicarakan kami.


Lalu tiba-tiba saja ada yang menahan tasku seketika tubuhku pun tertahan dan Angga pun menghentikan langkahnya, karena merasakan ada beban yang memberatkan dirinya untuk menarikku.


Refleks aku dan Angga pun membalikkan badan secara bersamaan, terlihatlah kak Rido dengan memasang wajah sangarnya seakan menahan gejolak yang berkobar-kobar didalam dirinya.


"Lepasin Zahwa!" titahnya dengan nada tertahan, bukannya menurut Angga justru malah lebih mencengkram lenganku lebih kuat lantas aku pun meringis karenanya.


"Gue bilang lepasin!!" bentaknya, dengan terpaksa Angga pun melepaskan cengkramannya lalu seperkian detik kemudian kak Rido menarik pergelangan tanganku dan menyembunyikanku dibelakangnya.


"Kenapa lo peduli sama dia?" tanya Angga lalu matanya menelisik kak Rido dari atas sampai bawah.


"Lo siapanya dia?!" tanyanya dengan nada tertahan.


"Gue bukan siapa-siapanya dia, tapi yang lo lakuin itu keterlaluan"


Mendengar itu Angga malah tersenyum sinis "Keterlaluan?! Gue cuma mau ngajak dia buat pulang bareng nggak lebih. Dan lo bilang gue keterlaluan?!"


Saat mendengar perkataan dari Angga seketika kak Rido melirik kearahku seakan meminta jawaban dariku, sedangkan aku malah menatap Angga dengan tatapan tidak suka.


"Sebelumnya aku udah bilang kan. NGGAK!" tekanku, lalu Kak Rido kembali menatap Angga menunggu reaksi apa yang akan dia berikan.


"Kenapa?" tanya Angga, aku mengerutkan keningku kenapa apanya?! Pikirku.


"Kenapa kamu nolak buat pulang bareng sama aku?" tanyanya lagi.


"Karena itu nggak boleh" jedaku sekilas.


"Takut ada fitnah" jawabku dengan mantap.


Lagi-lagi Angga tersenyum sinis "Fitnah, terus waktu dulu itu apa?" aku mengerutkan keningku, jangan bilang dia mau bongkar semuanya pikirku.


"Dulu?" beo kak Rido, Amel dan Putri serempak.


"Kalian nggak tahu yah?!" tanya Angga, semua hanya diam dan menatap Angga dengan penuh tanda tanya.


Kemudian Angga menunjukku dengan dagunya sambil tersenyum licik "Tanya aja ke dia!"


Aku menelan salivaku dan sudah pasti wajahku terlihat pucat sekarang, jantungku berdetak- detak sangat hebat sampai rasanya akan keluar bahkan aku mulai merasa tertekan sekarang.


"Zah, maksudnya apa?" tanya Amel.


"Iya Wa. Maksudnya apa?" timpal Putri.


Keadaan tiba-tiba saja hening ditambah suasana sekolah sudah sepi, tidak ada lagi yang berlalu lalang seperti tadi.


"Jawab dong sa--"


"Gue nggak mau jawab!" bentakku, belum sempat Angga menyelesaikan perkataannya aku sudah lebih dulu menyelanya.


"Sekarang juga lo pergi dari sini!" bentakku lagi sambil mendorong tubuhnya sangat kuat, hingga dia terjungkal kebelakang.


Angga menatapku dengan tatapan tidak percaya, sedangkan aku terus memadangnya dengan tatapan benci "Lo budeg ya, GUE BILANG PERGI! PERGI!" karena melihat dia yang tidak menurut lantas aku pun ingin menghampirinya untuk menendangnya, akan tetapi seseorang menahanku dari belakang dan pelakunya adalah Putri.


"Wa Sadar Wa! Istighfar!" teriak Putri, beruntung sekolah sudah sangat sepi sekarang jadi tidak akan ada yang menonton kejadian ini.


"Angga gue minta lo pergi dari sini! Kalau enggak.." jeda Amel sambil memperlihatkan telunjuknya didepan wajahnya.


"Gue bakal minta ama bokap gue buat balikin lo ke Jakarta!" ancamnya, seketika Angga bangkit dan menaiki motornya lalu melajukan motornya diatas rata-rata.


"Wa! Sadar Wa!!" teriak Putri sambil terus memeluk tubuhku sedangkan aku terus memberontak mencoba untuk melepaskan diriku darinya.


Amel membuka tasku dan mulai mencari sesuatu yang sangat dia butuhkan sekarang "Put, ketemu!" teriaknya.


"Kalian mau apain Zahwa?!" tanya Kak Rido panik.


"Bang! Mending lo tutup mata lo dan jangan ngintip kesini" titah Putri, tanpa bertanya-tanya lagi Kak Rido menutup matanya lalu membalikkan badannya membelakangi kami.


Sedangkan Amel dia berusaha untuk tenang lalu menyuntikkan suntikan itu kedalam tubuhku, aku hanya bisa menjerit dalam hati.


Kenapa? Kenapa aku harus terus hidup seperti ini padahal jauh didalam hatiku aku menginginkan kehidupan yang damai tanpa adanya sebuah tekanan dan rasa sakit seperti ini, percayalah hanya itu yang ku mau..


Beberapa menit kemudian semuanya gelap dan sunyi, tempat yang selalu menjadi menu utama setelah tekanan itu muncul, aku lelah... Ingin rasanya aku segera pulang meninggalkan semuanya.


Aku tidak peduli dengan adanya kata keluarga maupun teman. Karena dalam hidupku semua itu tampak begitu semu dan mungkin akan lebih baik jika aku hidup sendiri. Yah... Mungkin.


Bersambung...


^^^21 Maret 2022^^^


^^^Wida pitriyani^^^


Kakak...


Kasih like nya dong ☺

__ADS_1


__ADS_2