Story In July ( End )

Story In July ( End )
Hari ke - 14


__ADS_3

Drap.. Drap.. Drap.. Drap.. Drap, suara langkah kakiku yang menggema ke seluruh ruangan dikala aku menuruni tangga, selepas dibawah aku berlari kecil menuju dapur lalu mendudukkan bokongku di kursi meja makan.


Daritadi mataku menilik ke seluruh ruangan karena aku merasa rumah seakan sangat sepi, yah... Walaupun sebenarnya


rumahku memang selalu sepi akan tetapi untuk sekarang justru rasanya sangatlah berbeda.


"Mbok papah sama mamah mana? Dari sejak kemarin malam aku nggak liat mereka" Mbok yang sedang mencuci piring pun menghentikan kegiatannya dan berbalik menghadap kearahku.


"Eh ¹enya mbok teh lupa" ujarnya sambil menepuk jidatnya lalu berbalik kearahku.


"Kemarin pas non Zahwa masih disekolah, nyonya sama tuan bilang katanya mau ada urusan sebentar. Maafin mbok karena baru kasih tahu non soalnya mbok teh kelupaan"


"Oh iyah nggak papa" sahutku, lalu aku memasukkan roti panggang kedalam mulutku.


"Non.. Sekarang disekolahannya non waktunya olahraga yah?" tanya mbok, entah kenapa sepertinya mbok sengaja menanyakan hal yang tidak penting, mungkin bagi siapa saja yang melihatpun pasti akan tahu kalau aku ada pelajaran olahraga karena aku memakai baju olahraga.


"Hemm iya mbok" jawabku singkat, mbok pun hanya berkata 'oh' saja.


..._o0o_...


Perasaan dejavu apa ini? Mereka tidak saling tegur sapa, tidak saling mengoceh dan bahkan begitu pendiam. Siapa lagi jika bukan Amel dan Putri jujur saja rasanya ini sangatlah canggung namun aku mencoba untuk menghiraukannya dan memilih untuk menyibukkan diriku dengan handphone.


"Hey! Kata pak Banton sekarang kelapangan!" teriak salah satu teman sekelasku, aku pun lalu menyimpan handphoneku kedalam tasku lalu menatap Amel dan Putri secara bergantian, sedangkan Angga dia sudah keluar daritadi.


"Kalian mau disini terus. Nggak mau kelapangan?" mendengar hal itu bukannya menyahut mereka malah saling membuang muka, entah kenapa Amel beranjak dari bangkunya dan meninggalkan kami tanpa sepatah kata pun lantas aku pun mengerutkan keningku. Ada apa dengan anak itu? Pikirku.


"Nggak usah dipikirin Wa, entar juga baik lagi dia emang suka gitu, kalau lagi marah sama satu orang semua orang kena embatnya" ujar Putri, lalu menarik tanganku untuk keluar dari kelas.


Mentari masih terasa hangat dan semua murid dikelasku pun pertama-tama melakukan pemanasan, setelah itu pak Banton mengintruksikan kepada seluruh teman sekelasku bahwa olahraga hari ini kita akan melakukan olahraga voli dan sepak bola.


Dan tentu saja semua laki-laki dikelasku memilih sepak bola sedangkan para perempuan kebanyakan memilih bola voli, jadi pada akhirnya laki-laki bermain sepak bola sedangkan kami bermain bola voli.


"Untuk laki-laki silahkan bagi 2 tim, setelah itu kalian memisahkan diri dari kaum perempuan dan berolahraga disana" intruksi pak Banton sambil menunjuk kearah lapangan sepak bola.


"Terus buat ciwi-ciwi kalian pasang net nya, bapak ada keperluan sebentar. Dan yah jangan lupa kalian buat dua tim, kalian ngertikan?"


"Mengerti pak!" sorak semua perempuan yang sekelas denganku.


"Ouh iyah ini jaring net nya" ujar pak Banton, sambil memberikan jaring net yang dipegang olehnya padaku lantas aku pun mengambil jaring net itu.


Sebagian teman-temanku mengambil bola voli di gudang sedangkan aku sibuk memasang jaring net sendiri.


Ouh lihatlah ini tidak adil, sebagian dari mereka bukannya membantu tapi malah mengobrol dan tiang net ini pun begitu tinggi. Secara tidak sengaja mataku melihat ada kursi plastik yang diduduki oleh teman kelasku.


"Rina aku minjam kursi ini sebentar" pintaku, sambil memegang kursi plastik itu lalu dia beranjak dari kursi itu dan aku pun membawa kursi itu.


Aku mengecek terlebih dahulu takutnya ada hal yang tidak diinginkan terjadi, lalu aku menaiki kursi itu dan mengikat jaring net itu ditiang.


Pada saat aku sedang mengikat jaring net itu pada tiang, tiba-tiba saja kursi yang dinaiki olehku bergoyang dan tubuhku nyaris saja terjatuh namun seseorang memegang kursinya tepat waktu. Sehingga kursi itu tidak lagi bergoyang-goyang untuk sejenak aku menghela nafas lega, karena pada akhirnya aku tidak terjatuh.


"Makasih" ujarku tanpa melihat seseorang yang membantuku, lalu aku kembali melakukan kegiatanku.


"Sama-sama." sahut orang yang memegang kursi itu, aku mengerutkan keningku kenapa suaranya kayak laki-laki? Pikirku, lalu aku melirik kearah seseorang yang memegang kursi itu dan seseorang itu adalah...


"Angga" beoku sambil mengerutkan keningku.


"Iya, kenapa? Aku cuma bantu megangin doang kok"


"Lepasin, aku bisa sendiri"


"Masa sih? Tadi ajah hampir jatuh, untung ajah aku tahan"


"Lepasin Angga" tekanku.


"Nggak mau ah, nanti kamu bisa aja jatuh Zahwa"


"Yaudah, kamu ajah yang pasang ini" aku turun dari kursi itu, membiarkan Angga yang mengikat jaring net itu.


Seketika Angga menghela nafas dan mengikat jaring net itu, tidak lama kemudian jaringnya sudah terpasang di tempatnya.


Melihat itu aku pun memilih untuk meninggalkannya dan beralih menghampiri Putri "Zah! Makasih nya mana?" teriak Angga, mendengar itu aku hanya memutar bola mata malasku.


"Okeh sama-sama" lanjutnya dengan nada berdeteriak.


Aku mengacuhkanya bahkan aku menganggapnya bagaikan angin lalu, sedangkan Putri menatapku dengan tatapan tidak suka secara terang-terangan aku lagi-lagi mengerutkan keningku menatapnya heran.


"Apa?" tanyaku yang mulai risih dengan tatapannya.


"Aku nggak suka ya Wa! Kalau kamu dekat-dekat sama dia" aku menatapnya dengan datar.


"Kenapa?"


"Nggak, nggak ada.." untuk sesaat mataku berkedut melihat sikapnya yang aneh.


"Dasar aneh, siapa juga yang ngedeketin dia." tukasku lalu berjalan kearah timku.


Aku satu tim dengan Erika, Celsi, Putri dan Rina, yah.. Sayangnya aku tidak satu tim dengan Amel karena Amel malah memilih ke tim lain, aneh memang! Marah ke siapa eh semua orang kena embatnya.


Prit...


Suara peruit yang ditiup oleh pak Banton dan disini Celsi yang pertama memulai servis lalu bola itu melambung tinggi, namun bolanya berhasil ditahan oleh Angel salah satu anggota tim Amel


Setelah itu bola voli itu mengarah ke arah Anggita dia adalah setter di tim Amel, bola itu dikembangkan olehnya untuk menyerang.


Pada akhirnya bola itu melambung keatas dan Mia langsung meloncat serta memukul bolanya dengan keras, namun aku berhasil memblocker bolanya sehingga timku mendapatkan satu poin.

__ADS_1


Prit...


Peruit kembali ditiupkan dan kini giliran tim Amel yang memulai server lalu bolanya melambung tinggi kearah timku dan berhasil ditahan oleh Putri, naasnya bola itu malah kembali melambung tinggi dengan mudah memasuki tim lawanku.


"Kyaaa bundaaa!" pekik Putri.


"Berisik lo Putri jangan teriak-teriak nggak jelas gitu  ahk, fokus tuh!" tukas Celsi.


Lagi-lagi bola berhasil ditahan oleh Angel lalu dia mengoper bolanya kearah Anggita lalu dengan sigap dia melambungkan bola voli itu ke atas, setelah itu Amel meloncat dan memukul bola itu dengan keras lalu tanpa diduga bola itu malah melayang cepat kearahku dan berhasil mengenai jidatku alhasil aku langsung terjungkal kebelakang.


Brugh...


Jangan ditanya sakitnya itu seperti apa dan kenapa Amel malah mengarahkan bola itu kearahku? Aku tahu aku selalu bersikap menyebalkan padanya akan tetapi ini kan keterlaluan! Permainan baru saja dimulai dan aku malah terkapar seperti ini.


"Zahwa!" teriak Putri, lalu berjalan menghampiriku aku berusaha bangkit namun rasanya sangat sulit, apalagi kepalaku rasanya seakan-akan berputar.


"Zah maafin gue! Gue nggak sengaja!" teriak Amel, sambil berjalan menghampiriku dan tidak lama kemudian tampak semua teman kelasku berkerumun mengelilingiku.


"Awas-awas jangan berkerumun!" seru pak Banton.


"Amel bawa Zahwa ke UKS terus obati dia yang lainnya kembali keposisi. Olahraganya tetap dilanjut" intruksi pak Banton lalu semua orang yang berkerumun pun kembali keposisi mereka masing-masing.


"Pak! Saya mau bantu Amel" celetuk Putri, sedangkan pak Banton hanya menganggukkan kepalanya satu kali, setelah itu Putri memegang lenganku dan membantuku untuk berdiri.


"Masih sakit Wa?" tanya Putri.


"Nggak Put, dia nggak kesakitan liat tuh segar bugar gini badannya" sahut Amel, sambil *******-***** badanku.


"Apaan sih orang aku nanya Zahwa"


"Put! Kalo mata lo sehat lo pasti tahu kalau dia itu lagi nggak baik-baik aja. Gimana sih"


"Bisa diam nggak?" tekanku, seketika mereka pun langsung bungkam.


Disaat kami sibuk berjalan tiba-tiba saja ada sebuah bola sepak yang melayang kearah kami dari arah samping lalu dengan sigap Amel menundukkan badannya, sedangkan aku yang tidak siap hampir saja terkena bola sepak itu namun seseorang berhasil menangkap bola itu lalu berbalik kearahku.


"Zah kamu baik-baik ajakan?!" tanya laki-laki itu karena khawatir, aku mengerjapkan mataku berkali-kali dan laki-laki itu adalah Angga.


"Nggak" jawabku.


"Beneran..?" tanyanya lagi, aku hanya memutar mataku dengan malas lalu tidak lama kemudian Amel kembali menegakkan tubuhnya.


"Iyah! Zahwa baik-baik aja dan bakal lebih aman lagi kalo lo nggak disini" tukas Putri, sambil menatap sinis kearah Angga.


"Heh! Maksud lo apa? Harusnya lo itu bersyukur gue datang tepat waktu, kalo aja itu bola nggak gue tangkap bisa aja itu bola kena juga ke lo. Bukannya terimakasih juga" oceh Angga.


"Iya, iyah tapi itukan tadi kalo sekarang kan udah nggak papa, terus kenapa lo masih disini?"


"Udah berisik!" leraiku, sambil menutup kedua telingaku dan dengan langkah gontai aku berjalan meninggalkan mereka yang masih berdebat.


..._o0o_...


Aku saja tidak tahu dimana mereka sekarang entah pertengkarannya belum selesai atau mereka pergi ke kantin, karena bel istirahat sudah berbunyi beberapa saat yang lalu.


Beberapa kali aku terus menghela nafasku dengan kasar, terkadang aku berpikir akhir-akhir ini hari-hariku sangatlah berat.


Ceklek..


Suara pintu yang tiba-tiba saja terbuka dan terlihatlah Amel yang memegang lengan Putri, sedangkan Putri memasang wajah sebalnya setelah itu mereka berjalan kearahku dan mendudukkan bokong mereka di kursi.


"Zah maafin gue, tadi gue nggak sengaja serius" ujarnya, aku meliriknya dengan datar sedangkan yang ditatap memasang wajah penuh rasa bersalah.


"Hem..." aku hanya berdehem sambil memijit pelipisku, rasa pusing itu kembali terasa berdenyut-denyut lagi.


"Wa kalo kamu udah nggak kuat, kamu bisa pulang kok. Biar aku sama Amel yang bilang ke guru kalo kamu sakit" ucap Putri.


"Nggak, nggak usah aku nggak papa"


"Ouh okeh.." sahutnya sambil melirik kearah lain.


"Kalian nggak istirahat?" tanyaku.


"Yakali kita istirahat sedangkan lo terkapar disini sendirian" celetuk Amel.


"Mel lo itu sebenarnya khawatir atau ngejek sih" sarkas Putri.


"Dua-duanya" sahut Amel.


Mendengar percakapan mereka rasanya kepalaku semakin berdenyut-denyut "Ish.. Yaudah kalian istirahat aja sana, aku juga bentar lagi nyusul" ringisku.


"Nggak bisa gitu dong Wa, masa iya kita ninggalin kamu.." jeda Putri sekilas.


"Atau gini ajah deh, kamu mau nitip apa?" aku berpikir sejenak memikirkan usulannya.


"Terserah asalkan makanan bukan racun"


"Lo itu gimana sih orang niatnya baik ini malah ngejawabnya gitu. Parah lu!" tukas Amel.


"Yaudah.. Aku bakalan beli sandwich sama susu coklat yak" ujar Putri aku hanya meresponnya dengan deheman serta sedikit anggukan.


"Okeh! Tungguin yaa" setelah Putri mengatakan itu mereka pun beranjak dan pergi keluar ruangan UKS.


Beberapa menit kemudian mereka datang menghampiriku dan jumlah orang-orang pun bertambah 2 orang siapa lagi kalau bukan kak Rido dan kak Erik, hah... Padahal aku ingin jauh dari jangkauan orang-orang sekarang pikirku.


"Nih, udah aku beliin" ujar Putri, aku bangkit dari tidurku dan lalu meraih keresek yang dipegang oleh Putri.

__ADS_1


"Jadi berapa?" tanyaku.


"Heh emangnya harus yah ngulangin perkataanku tadi. Free! Alias gratis, tis, tis, tis" aku mengangkat alisku sebelah.


"Kenapa?" tanyanya, lantas aku pun hanya menggelengkan kepalaku lalu membuka keresek itu, emang kapan dia bilang gitu pikirku.


Disaat aku akan membuka roti sandwich itu tiba-tiba saja ada seseorang yang merebutnya "Sini biar aku yang bukain!" serunya.


Aku mendongakkan kepalaku dan ternyata itu adalah hama yang selalu saja mengangguku selama 3 hari ini, seketika aku pun langsung menghela nafas dengan kasar dan memasang wajah malas.


Setelah dia membukakan sandwich lantas dia langsung memberikannya padaku dan dengan kasar aku mengambil sandwich itu darinya lalu melahapnya dengan malas. "Sama-sama.." ucapnya dengan memperlihatkan senyum konyolnya.


Aku menatapnya dengan malas entah ini perasaanku atau memang keadaannya sekarang terasa sangat panas sekarang.


Aku merasa tenggorokanku tersangkut dengan segera aku pun mencari susu coklat didalam keresek itu, namun ternyata susu coklat itu malah tidak ada didalam keresek tersebut. Lantas aku pun menatap heran kearah Putri namun  yang ditatap malah menatap tajam kearah Angga.


Akhirnya aku mengalihkan pandanganku pada Angga dan terlihatlah Angga dengan cengir kudanya sambil memberikan susu coklat yang sudah ditusukkan sedotan diatasnya, lagi-lagi aku menerimanya dengan kasar dan meminumnya dengan malas.


"Ada lagi?" tanya Angga, aku menatapnya dengan datar sedangkan yang ditatap malah menampakkan wajah bodohnya.


Aku memutar mataku dengan malas dan membuang nafas dengan kasar, jujur aku mulai risih dengan kehadirannya "Ada lagi yang bisa aku bantu Zah?" tanyanya lagi.


Aku kembali melihatnya dengan malas "Kamu bisa tolong aku nggak?" seketika matanya berbinar dan wajahnya berubah sumringah.


"Boleh, boleh! Mau minta tolong apa?"


"Tolong.. Kamu pergi dari sini sekarang juga" jawabku, seketika terdengar tawaan yang ditahan dari Putri lalu Angga menatap tajam kearah Putri, sedangkan yang ditatap tajam malah membalasnya dengan tatapan datar miliknya.


"Apa lo liat-liat? Ngajak berantem ya lo" tukas Putri, mendengar itu seketika Angga berdecih kesal lalu matanya kembali memandang kearahku.


"Tapi aku nggak bisa nolongin hal itu Zah"


"Putri" panggilku, yang dipanggil pun melihat kearahku dengan tatapan heran.


"Kamu ingat nggak, siapa tadi yang bilang katanya bakal bantuin aku?" Putri pun mengerutkan keningnya.


"Kenapa sih Zah? segitu benci nya yah kamu sama aku" aku membelalakkan mataku kearahnya, pertanyaan intim apa ini? Dihadapan semua orang lagi.


Lagi-lagi yang ku lakukan hanya bisa menghela nafas dengan kasar lalu menidurkan kembali badanku, menghiraukan pertanyaan Angga yang sangat tidak penting.


"Zah! Mending lo pulang aja deh" ujar Amel.


"Iya Dek mending kamu pulang ajah" timpal kak Erik.


"Woy sejak kapan Zahwa jadi adik lo!" teriak Angga.


"Yaa.. Karena dek Zahwa inikan adik kelas saya" sahut kak Erik.


"Halah.. Ya nggak bisa gitulah! orang lain juga nggak pernah ada tuh yang kayak gitu. Lo itu cuma modus kan" sarkas Angga.


"Terserah dek Angga mau menganggapnya bagaimana, tapi bagi saya adik kelas saya itu seperti adik saya sendiri"


"Jangan manggil gue adek, asal lo tau ajah gue itu lebih dewasa dari lo!" bentak Angga.


Seketika Putri, Amel, kak Rido dan kak Erik pun memandang Angga dengan heran tak terkecuali juga denganku yang juga menatapnya heran, Jika dipikir-pikir kembali memang aku merasa ada yang aneh disini pikirku.


"Maaf maksudnya apa yah?!" tanya kak Rido yang mulai merasa tertarik dengan apa yang Angga katakan, seketika Angga pun gelagapan dan menggulungkan bibirnya serta menatap kearah lain.


"Nggak ada lupain ajah. Tapi intinya gue nggak terima kalau lo" jedanya sekilas dengan telunjuk yang menunjuk kearah kak Erik.


"Manggil Zahwa gue adek" tekannya.


"Dan lo juga!" kini telunjuknya mengarah kearah kak Rido.


"Jangan kira gue nggak sadar, kalau sebenarnya lo itu SUKA sama dia dan kalo lo mau hidup lo aman. Mending lo jangan coba-coba buat ngedeketin dia" ancamnya.


"Angga!" sentak Putri.


"Gue udah pernah bilangkan! Kalau sampe abang gue kenapa-napa dan itu penyebabnya gara-gara lo. Gue nggak bakal segan-segan buat sakitin lo!" ancam Putri.


Mendengar ancaman itu Angga pun langsung tersenyum sinis kearah Putri "Lo kira gue takut sama ancaman lo?"


"Udah diam! Berisik tau nggak" bentakku, seketika mereka terperenjat karena kaget lalu melirik kearahku.


"Kalian kalau mau debat jangan disini! Ganggu orang istirahat ajah" finishku lalu beranjak dari tempatku dan meninggalkan mereka dengan keadaan yang sempoyongan.


Aku berjalan menuju kelas dengan keadaan yang sama lalu aku mengambil tas dan berjalan keluar dari gerbang sekolah, beruntung pak satpam tidak ada disana mungkin beliau sedang pergi.


Dan lalu saat dijalan raya aku menaiki ojeg online yang sebelumnya sudah aku pesan.


"Dengan mbak Zah--"


"Iya jalan pak!" selaku.


Awalnya bapak ojeg online itu merasa heran denganku namun ia mungkin menghiraukannya dan malah memberikan sebuah helm padaku, disaat aku sudah mengenakan helm serta sudah duduk dengan nyaman lantas sang bapak pun menancapkan gas dan menjalannya dibawah rata-rata.


Rasanya kepalaku sangat pening kenapa mereka selalu saja bertengkar, apakah mereka tidak bisa lebih damai walau hanya satu hari saja?


Bersambung ...


^^^25 Maret 2022^^^


^^^Wida pitriyani^^^


* ¹enya : iyah

__ADS_1


Like nya dong kak  (。•́︿•̀。) 


__ADS_2