Story In July ( End )

Story In July ( End )
Hari ke - 23


__ADS_3

Mentari mulai menampakkan sinarnya semua orang sibuk dengan aktivitas mereka sendiri dan begitu juga denganku yang sibuk berperang argumen dengan kak Riza, karena aku tidak ingin bertemu lagi dengan seorang pria yang datang kemarin yang tak lain dan tak bukan pria itu adalah papahku sendiri.


"Ayolah dek, kamu nggak boleh kayak gitu" ujar kak Riza.


"Aku nggak mau tahu intinya kalau pria itu datang lagi, aku bakalan pergi dari sini. Saat itu juga" sahutku dengan menekankan kata diakhir kalimat.


"Dek sebenci itukah kamu sama papah kamu sendiri?" tanya kak Reza.


Seakan tuli aku justru malah memalingkan wajahku dan melihat kearah jendela, lalu tidak lama setelah itu tiba-tiba saja pintu kamar ruang inapku terbuka.


Terlihatlah mang Ujang dan mbok yang membawa secarik kertas, lalu mereka pun menghampiriku dengan tergesa-gesa.


"Alhamdulillah non teh nggak kenapa-napa, mbok khawatir banget sama non" lirihnya dengan air mata yang keluar sambil memelukku dengan sangat erat.


"Non Zahwa teh mang cari dimana-mana tapi nggak ketemu-ketemu, tahu-tahu mang dapat kabar dari tuan katanya non masuk rumah sakit.." ujar mang Ujang.


Aku tersenyum melihat mereka yang terlihat sangat menghawatirkan aku, namun seperkian detik kemudian aku tersadar tentang hal lain dengan halus aku melepaskan dekapan mbok terhadapku.


"Mbok bawa sesuatu yang aku pinta 'kan?"  kodeku.


Awalnya mbok mengerutkan dahinya namun aku tidak mempedulikan reaksinya alih-alih aku justru malah mengulurkan tanganku sambil menunjuk kertas yang dipegang oleh mbok dengan mataku.


Setelah mengerti mbok pun akhirnya memberikan kertas yang dipegang olehnya dan memberikannya padaku.


"Kak Riza ini sertifikat rumah, kasih ini ke papah kalau papah datang kesini"


"Loh maksud kamu apa dek?" tanya kak Riza.


"Maksud aku kasih ini ke papah. Udah itu ajah" tandasku.


Lalu aku bangkit dari tempat dudukku dan mencabut infusan yang menancap dilengan kananku belum sempat aku melangkahkan kaki, tiba-tiba saja kak Riza menahanku dengan cara memegang lenganku.


"Dek bukan itu yang kakak tanyakan"


"Apa lagi sih kak?!" geramku.


"Maksud kakak, kenapa kamu kasih sertifikat rumah ini ke papah kamu. Maksudnya apa?"


"Udahlah kak aku nggak mau jelasin apa-apa lagi, kakak cuma perlu kasih kertas ini ke papah. Udah itu ajah"


Aku berusaha untuk melepaskan genggaman kak Riza namun lagi-lagi kak Riza menahan pergelangan tanganku bahkan sekarang ia menggengamnya dengan erat, ia tidak mempedulikan pergelangan tanganku yang kini mulai mengalirkan darah karena aku mencabut tancapan infusan tadi.


"Tunggu dulu" jedanya sekilas.


"Sekarang kamu mau kemana?"


"Aku mau kemasin baju-baju aku karena aku mau kembali ke Jakarta"


"Hah?!"


Tanpa berbasa-basi aku langsung menarik pergelangan tangan mbok lalu berjalan keluar dari kamar ruang inapku, menghiraukan kak Riza yang terus berteriak memanggil namaku dibelakang.


"Non maksud non apa?" tanya mbok.


Seakan tuli aku justru malah semakin mempercepat langkahku dan juga semakin mempererat genggaman tanganku dengan mbok.


..._o0o_...


"Non, non kenapa kemas-kemas baju non?" tanya mbok yang tidak henti-hentinya menanyakan hal itu, dikala melihatku yang terus mondar-mandir karena mengemaskan bajuku kedalam koper.


"Non" panggil mbok.


"Non!" panggilnya lagi sambil menahan bahuku.


"Apa sih mbok?" tanyaku geram.


"Jawab non"


"Aku mau kembali ke Jakarta aku mau tinggal dirumah yang dulu. Mbok mau ikut nggak? Kalau mbok mau ikut, mbok cepat kemas-kemas terus kita langsung berangkat" 


"Dan ouh yah... Sekarang" lanjutku.


"Ta-tapi non"


"Nggak ada tapi-tapi mbok, udah deh kalau mbok mau ikut ayo kalau nggak yaudah nggak usah. Lagian aku juga sekarang lagi sibuk jadi jangan ganggu aku!" 


Setelah mengatakan itu aku pun kembali sibuk dengan kegiatanku, sedangkan mbok justru memilih untuk keluar dari kamarku dan berlalu entah kemana.


Beberapa menit kemudian akhirnya aku telah mengemasi semua barang-barangku lalu aku mengambil poto masa kecilku dengan kedua orangtuaku yang ada diatas laci.


Apa kalian tahu?


Bagaimana rasanya menjadi aku?


Percayalah dadaku sangat sesak melihat kenyataan begitu pahit yang terjadi sekarang rasanya semua ini terjadi bagaikan sebuah mimpi, seandainya saja ini semua adalah mimpi maka aku ingin segera bangun dari mimpi buruk ini.


Kini tidak ada lagi keluarga didalam hidupku, keluargaku yang dulu telah sirna bersamaan dengan saat kejadian dimalam itu.


Papah telah membuktikan bahwa ia mampu untuk mengambil keputusannya sendiri, ia tidak peduli dengan pendapatku maka bagiku itu sudah lebih dari cukup sebagai bukti bahwa aku tidak lagi berarti didalam hidupnya.


Cukup lama aku merenung aku pun melangkahkan kakiku menuruni anak tangga dengan koper besar yang aku tarik dengan susah payah, dan tepat saat aku berada dianak tangga terakhir aku melihat sepatu berwarna hitam.


Lantas aku pun mendongakkan kepalaku keatas, dan ternyata itu adalah...


"Kamu mau kemana?" tanyanya dengan wajah tanpa ekspresi.


"Bukan urusan anda" jawabku dengan wajah tanpa ekspresi juga.


Setelah itu aku berjalan melewatinya namun tiba-tiba tanganku digenggam olehnya, refleks aku pun melirik kearah pasang mata miliknya.


"Wawa dengerin papah" tekannya dengan nada lirih.


Dengan kasar aku menepis genggaman tangannya terhadap tanganku, lalu menatapnya dengan wajah dingin.

__ADS_1


"Dengerin apa lagi?" jedaku sekilas.


"Saya rasa, saya tidak perlu mendengarkan penjelasan apapun lagi dari mulut anda" sahutku lalu aku kembali melangkahkan kaki namun lagi-lagi papah menahan lenganku.


"Apa maksud kamu ngasih ini ke papah hah?!" bentaknya sambil memperlihatkan sertifikat rumah ini.


Mendengar itu lantas aku pun tersenyum miris kearahnya "Aku tahu kok pah, kalau rumah ini mengatasnamakan aku. Dan aku sudah mengubah nama kepemilikan rumah ini menjadi milik papah"


"Namun sebagai gantinya aku akan tinggal dirumah keluargaku, yang dulu pernah ditempati" tandasku sambil menekankan kata 'keluargaku'.


Perkataan itu mungkin telah berhasil membuat papah menjadi emosi namun papah menahan gejolak amarahnya didalam dirinya dan membuat rahangnya mengeras.


"Okeh kalau begitu saya pergi dulu. Dan kayaknya mbok nggak mau ikut deh, its okey nggak apa-apa sih lagian mending hidup sendiri. Karena lebih berkualitas" jedaku sekilas.


"Benarkan pah?"


Sang lawan bicara hanya terdiam membisu lantas aku memiringkan senyumku lalu aku kembali melangkahkan kakiku melewati dirinya.


"Ouh yah..." lanjutku lalu aku berbalik kearahnya, seperkian detik kemudian papah melihat kearahku.


"Semoga bahagia sama keluarga barunya" tohokku.


Setelah mengatakan itu aku pun membalikkan badanku dan kembali melangkahkan kakiku namun baru saja beberapa langkah, tiba-tiba saja aku menabrak dada bidang seseorang refleks aku pun mendongakkan kepalaku keatas dan alangkah terkejutnya ternyata orang itu adalah....


"K-kak Rido" gumamku.


Wajahnya yang melankolis seakan cukup mampu untuk menjadi sorotan pertama yang aku lihat, sesaat aku merasa gelisah bahkan tanganku tiba-tiba terasa dingin.


"Udah cukup!!" teriak kak Rido.


Membuatku sedikit tersentak bahkan mungkin bukan aku saja yang merasa tersentak, papah dan mbok yang baru saja tiba pun merasa tersentak dengan teriakan kak Rido.


"Mau sampai kapan semua ini ditutup-tutupi hah?!!"


"Gue udah muak sama sandiwara ini! Gue udah muak!" teriak kak Rido dan suaranya menggema hingga keseluruh ruangan.


"Ayah! Sekarang juga. Rido minta sama ayah buat jelasin semuanya!!" raung kak Rido.


Keadaan seketika berubah menjadi tegang tidak ada seorang pun yang membuka suara bahkan mbok pun tidak berkutik sama sekali.


"Ce-ceritanya panjang Rido, mending kita selesaikan dengan kepala dingin"


Tanpa sengaja aku melihat tangan kak Rido mengepal dan rahangnya pun bahkan mengeras, untuk pertama kalinya aku melihat pemandangan ini.


"Okeh" jedanya sekilas.


"Kita bakal selesaikan ini semua dengan kepala dingin, tapi ayah harus janji. Kalau ayah bakalan cerita semua yang terjadi tanpa ada yang terlewat sedikit pun" ujarnya dengan mimik wajah yang penuh dengan amarah.


"I-iyah ... Ayah janji"


"Bunda, Putri kalian bisa masuk sekarang" panggilnya, tidak lama kemudian bunda dan Putri masuk hal itu cukup mampu membuatku dan juga papah sangat terkejut.


..._o0o_...


Diantara semua orang tidak ada yang berbicara bahkan sekedar untuk berdehem saja tidak ada hanya ada suara detakan jam yang terdengar saat ini.


"Ayah" panggil kak Rido.


"Mulai" kodenya.


Papah seketika terlihat seakan berpikir sangat keras jujur saja aku merasa sedikit aneh dengan sikapnya rasanya ia seakan-akan merasa diintrogasi, padahal apa sulitnya mengatakan bahwa aku ini anaknya dan ia menikah kembali karena istrinya telah tiada lalu masalah pun selesai.


Cukup lama papah terdiam lalu papah menarik nafas dari hidungnya lalu menghembuskannya dari mulutnya secara perlahan.


"Dulu ayah pernah menikahi seorang wanita dan itu pun tanpa persetujuan dari kedua orangtua ayah, saat awal menikah kami sangat bahagia dan tidak terasa hari pun berganti menjadi minggu lalu berubah menjadi bulan. Dan pada akhirnya kami dikaruniai anak" ucapnya dengan mata yang melirik kearah bundanya Putri.


"Beberapa bulan kemudian wanita tersebut melahirkan dua anak kembar, tentu saja kami sangat bahagia lalu kami pun membesarkan kedua anak kembar itu dengan penuh kasih sayang"


"1 tahun kemudian wanita tersebut mengandung seorang anak lagi, lantas ayah sangatlah bahagia namun kebahagiaan itu hanyalah sementara karena ayah dipanggil oleh orangtua ayah untuk segera pulang"


"Dengan terpaksa ayah meninggalkan wanita itu yang padahal sedang mengandung besar, namun ayah berjanji pada wanita itu bahwa ayah akan segera kembali setelah mengatakan semua yang telah terjadi selama ini pada kedua orangtua ayah"


Mendengar itu rasanya aku ingin memotong perkataan papah untuk menanyakan apa maksud dari cerita tersebut namun aku ingat, bahwa sebelum papah menyelesaikan perkataannya maka tidak ada boleh ada yang menyela.


"Dikala ayah akan mengatakan hal-hal yang telah terjadi selama ini pada kedua orangtua ayah tiba-tiba saja mereka mengatakan bahwa mereka telah menjodohkan ayah dengan teman bisnis mereka, dan jika ayah menikah dengan anak mereka maka perusahaan orangtua ayah akan diuntungkan"


"Pada awalnya ayah sempat ingin menolak namun mengingat keinginan itu adalah keinginan terakhir dari ibu ayah, maka dengan berat hati ayah menerima keputusan kedua orangtua ayah"


Lagi-lagi aku merasa sangat bingung dengan kisah yang papah ucapkan, namun aku tetap berusaha untuk sabar dan mendengarkan semua kisahnya dengan sangat teliti.


"Beberapa bulan kemudian setelah ayah menikah dengan wanita pilihan orangtua ayah itu tanpa sepengetahuan istri ayah, lalu tiba-tiba saja mertua ayah menginginkan seorang anak dari kami berdua dan jika kami memenuhi permintaan mereka maka mereka akan memberikan setengah harta warisan kepada kami disaat itu juga"


"Hah?" lirihku.


"Lantas ayah dan istri kedua ayah yang saat itu sedang berada diluar negri pun mulai merasa sangat terbebani dengan keinginan itu"


"Karena saat itu posisi kami menikah karena terpaksa dan kami tidak saling mencintai, lalu disaat kami kembali pulang ke Indonesia tiba-tiba saja ayah menerima kabar bahwa wanita pertama yang telah ayah nikahi itu ternyata kini sedang melahirkan"


"Seketika beban yang menumpuk dibahu ayah pun rasanya menghilang, malamnya ayah mengatakan yang sebenarnya pada istri kedua ayah bahwa ayah sudah pernah menikah sebelum menikahi dirinya dan kini wanita yang telah ayah nikahi itu telah melahirkan"


"Kemudian istri kedua ayah membuat sebuah usulan bahwa ayah lebih baik mengambil anak itu dan mengangkatnya menjadi anak kami"


Mendengar itu aku pun berdiri dari tempat dudukku "Tunggu.." selaku, sudah cukup! Aku sudah tidak tahan lagi.


"I-ini maksudnya apa?"


"Za kita sudah sepakat buat dengerin semua penjelasan ayah dan selama itu. Nggak ada yang boleh menyela" ucap kak Rido.


Mendengar itu aku pun kembali duduk dan mendegar semua kisah itu hingga akhir, menahan semua pertanyaan didalam otakku.


"Wanita pertama ayah melahirkan seorang anak perempuan yang sangat cantik dan manis dan itu adalah kenangan yang indah bagi ayah"


"Namun disisi lain rasanya ayah tidak sanggup untuk memisahkan bayi itu dari ibu kandungnya tapi saat itu, keserakahan ayah lebih besar dibandingkan dengan rasa iba"

__ADS_1


"Tanpa berfikir panjang ayah langsung menggantikan bayi perempuan ayah dengan bayi perempuan lain yang dikatakan telah tiada oleh suster"


"Namun dikala ayah menukarkan bayi itu ternyata ada seorang wanita yang melihat kejadian itu, lalu ayah memberikan wanita itu uang dalam jumlah besar agar ia mau menutup mulutnya tentang kejadian yang terjadi saat itu dan jika itu belum cukup maka ayah akan memberikan pekerjaan padanya serta dengan memberikan gajih yang tidak sedikit"


"Setelah itu, wanita itu pun akhirnya menyetujuinya dan ia bekerja menjadi pengasuh anak ayah yang baru lahir itu" 


Mendengar itu seketika aku langsung berdiri dari tempatku lalu tidak lama setelah itu semua orang pun juga ikut berdiri.


"A-aku masih belum ngerti" tanyaku.


"Wawa bayi perempuan itu adalah kamu dan wanita yang sering kamu panggil mamah itu bukanlah ibu kandung kamu" jelas papah.


"Te-terus wanita pengasuh itu.." gantungku lalu aku membalikkan badanku kearah mbok dan mbok yang melihatku pun seketika menundukkan kepalanya dariku.


"A-aku nggak percaya, aku nggak percaya! Ini pasti bohong, ini pasti bohong!" bentakku.


"Non.." lirih mbok dan berniat memegang pergelangan tanganku, namun aku langsung menepisnya dan memegang kedua lengannya.


"Mbok ini bohongkan? Semua ini nggak benarkan?!" bukannya menjawab mbok malah diam ditempat.


"Mbok! Jawab mbok!!" desakku sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya.


"Non.." jedanya sekilas.


"Yang dikatakan tuan itu benar, se-selama ini mbok membantu tuan dan nyonya untuk menutupi kebenaran itu dengan sangat rapat"


Disaat itu juga untuk pertama kalinya aku sangat kecewa dengan mbok, sosok yang sudah aku anggap seorang ibu ternyata dia selama ini menutupi hal yang sangat besar itu.


Perlahan aku menurunkan tanganku dari lengan mbok, rasanya aku tidak percaya dengan apa yang telah mbok perbuat selama ini.


"Wawa.." panggil papah lalu menghampiriku dan memelukku, namun dengan sangat kuat aku langsung mendorongnya kebelakang.


Dan itu membuatnya terjatuh dilantai serta dengan punggung yang membentur sofa bahkan karena saking kuatnya aku mendorong, sofa itu pun tergeser dari tempatnya seketika kak Rido, bunda dan Putri pun membelalakkan mata mereka serta menatapku dengan tatapan tidak percaya.


"Zahwa!" bentak Putri.


Aku melirik kearahnya dan tanpa diduga dia justru malah mendorongku kebelakang dengan sangat keras, bahkan aku sampai terduduk dilantai dengan sangat keras.


"Lo keterlaluan Zahwa!" bentak putri.


"Gue tahu lo marah!! Tapi lo nggak perlu sampe harus dorong ayah!" bentaknya dengan nada yang sangat tinggi.


Mendengar itu aku pun tersenyum miris kearahnya, "Keterlaluan? Keterluan lo bilang?" jedaku sekilas dengan air mata yang mulai mengalir dari mataku.


"Lo pikir sendiri Put, siapa yang keterlaluan dan siapa yang jadi korban!" bentakku seketika dia terdiam tidak berkutik sama sekali.


Dengan susah payah aku berusaha untuk berdiri dan kini aku tengah berdiri berhadapan dengannya "Lo tahu nggak? Bertahun-tahun gue hidup bagaikan di neraka. Gue diperlakukan bagai boneka yang harus selalu terlihat sempurna dihadapan orang-orang!" ucapku dengan dada yang naik turun serta dengan nafas yang bergemuruh.


"Dan semua itu terjadi gara-gara dia!" tekanku sambil menunjuk kearah papah.


"Wawa" panggil mbok.


"Jangan panggil aku Wawa!" teriakku.


"Maafin mbok, non" ucap mbok dengan mengganti nama panggilanku.


"Mbok" panggilku dengan nada lirih.


"Mbok tahu nggak? Dirumah ini hanya mbok yang aku percaya dan hanya mbok yang jadi sandaran aku" jedaku sekilas.


"Ta-tapi sekarang kepercayaanku terhadap mbok sudah runtuh dan disini aku lebih merasa sangat dikhianati. Oleh mbok, sangat!" ujarku dengan penekanan kata diakhir kalimat.


"Maafin mbok non.." lirihnya lagi, kemudian mbok berniat untuk merangkulku namun aku lagi-lagi menepis semua rangkulan itu alih-alih aku malah lebih memilih untuk berjalan mundur untuk menjauhi mereka.


"Ini nggak adil" lirihku dengan langkah yang terus berjalan mundur.


"Ini nggak adil!" lirihku lagi, lalu seperkian detik kemudian kaki dan tubuhku mulai terasa sangat lemas, dan pada akhirnya aku pun terduduk dilantai yang dingin itu.


"Kenapa setiap keadaan mulai membaik masalah yang lain selalu saja muncul, padahal aku juga ingin hidup lebih tenang seperti yang lainnya" ucapku, dengan suara yang parau serta dengan airmata yang terus mengalir dengan derasnya dari mataku.


Keadaanku sangat kacau saat ini dan mereka membiarkanku terus berada dikondisi seperti itu, tidak ada satu pun dari mereka yang berjalan mendekatiku hingga tiba-tiba aku merasakan sebuah rangkulan tangan yang lembut dan hangat tiba-tiba saja memelukku dari belakang.


"Syutt... Kamu nggak boleh nangis sayang, bunda tahu. Kalau kamu itu kuat bahkan lebih kuat dari bunda" ujarnya dengan suara yang sangat lembut.


Tubuhku pun seketika meregang hatiku tiba-tiba saja terasa sedikit tenang, apakah seperti ini rasanya dibekap oleh seorang ibu.


Dan seperti inikah bau dan rasa hangatnya? Begitu aman dan nyaman bahkan pelukannya pun selembut sutra, kehangatannya terasa seperti sinar mentari yang terbit setelah hujan reda.


Perlahan aku membalikkan badanku untuk melihatnya lebih dekat, setelah itu yang terlihat oleh mataku hanyalah senyuman tulus dan tatapan mata yang lembut.


"Anakku masih hidup. Lihatkan kak?" ujarnya sambil melirik kearah papah.


"Anak bungsu kita masih hidup.." ujarnya serta dengan sedikit tawaan disetiap katanya, bahkan dengan tangan yang terus mengusap lembut kepalaku yang ditutupi oleh hijabku, tidak lama kemudian air matanya mengalir dengan sendirinya dari kedua mata indahnya.


Mataku berkaca-kaca melihat moments yang sama sekali belum pernah kualami, jujur saja aku merasa sangat aneh dengan sosok yang ada dihadapanku saat ini. Aku merasa sangat heran karena ia sama sekali tidak memiliki rasa kesal ataupun dendam pada orang yang telah mengkhianatinya.


"Kenapa bunda nggak marah?" tanyaku dengan nada serak.


Mendengar hal itu lantas bunda pun tersenyum kearahku "Karena semua yang terjadi sudah terjadi tidak ada gunanya untuk marah ataupun bersedih. Bagi bunda yang terpenting itu..." jedanya sekilas sambil mengelus hijabku sekilas.


"Bunda masih bisa melihat anak bunda, dan itu sudah lebih dari cukup" ujarnya, lalu mengecup dahiku dan memelukku kedalam pelukannya.


Aku tidak tahu dengan apa yang ada didalam fikirannya dan bahlan aku tidak tahu apakah aku harus merasa senang ataukah bersedih.


Memang benar apa yang bunda katakan tadi yang terjadi maka sudah terjadi, kita tidak akan mungkin bisa untuk memutar waktu agar kembali ke masalalu.


"Aku benci kalian semua"


Bersambung...


^^^14 juli 2022^^^


^^^wida pitriyani^^^

__ADS_1


__ADS_2