Story In July ( End )

Story In July ( End )
Hari ke - 26


__ADS_3

"Loh.. Put kamu kok nggak pake seragam?!" tanya bunda.


Sontak papah dan aku yang sedang melakukan sarapan pagi pun melirik kearah Putri, tidak lama setelah itu disusul kak Rido yang mengikutinya dibelakang lalu ia langsung mendudukkan bokongnya dikursi yang kosong dan lagi-lagi ia duduk didekatku.


"Kamu juga Ido, emangnya kalian nggak sekolah?!" tanya bunda lagi.


"Hari ini para guru lagi rapat bun jadi sekolahnya libur" jawab kak Rido sambil mengambil roti dan mengoleskan selai coklat diatasnya.


"Bagus dong jadi kalian bisa bantu Zahwa sama bibi" celetuk papah.


"Bantuin apa pah..?!" tanya kak Rido sambil menyimpan roti yang ia oles tadi ke piringku lantas aku pun mengerutkan keningku.


"Yaah soalnya kan zahwa bakalan pindah ke kamar kosong yang ada disebelah kamar kamu Rido" jawab papah.


"Hah?!!" beo kak Rido dan Putri bersamaan sontak bunda dan papah pun terperenjat karena kaget.


"Kalian ini kenapa si! Suka banget teriak-teriak kayak gitu" sarkas bunda.


"Bun, kenapa Awa harus pindah?" tanya Putri.


"Memangnya kenapa? Ya baguslah. Lagian kasian kan Zahwa kalau harus terus sekamar sama kamu dan kalian kan juga udah pada ¹gede"


"Bukan gitu bun, maksudnya... Aku kan jadi kesepian kalau Awa harus pindah ke kamar yang lain"


"Zahwa itu mau pindah kamar bukan pindah provinsi, gimana si" Putri pun memanyunkan mulutnya lalu melahap roti yang ia pegang dengan rakus.


Yaah itulah Putri, jika dia marah maka ia akan melahap makanannya dengan rakus tapi sepertinya bunda dan papah belum mengenal baik sifat anak absurd mereka.


Setelah sarapan aku, Putri, kak Rido dan bibi pun bergotong royong mengangkat dan memindahkan barang-barangku ke kamar baruku.


"dek yang bener dong! Daritadi bawa barang-barangnya nggak bener mulu gimana kalau ada yang rusak!" ujar kak Rido.


Entah berapa kali kak Rido terus mengomel Putri namun yang diomeli justru malah bersikap cuek seakan menganggap omelan kak Rido sebagai angin lalu.


Aku hanya menghembuskan nafas dengan pelan karena aku tahu Putri itu tipikal orang yang tidak mau bekerja alias pemalas, bayangkan saja disekolah dia lebih memilih membayar denda dibanding ikut mengerjakan piket.


"Za..!" panggil kak Rido, aku pun membalikkan badanku kearahnya.


"Jangan bawa yang berat" ujarnya sambil mengangkat kardus yang berisi buku-buku pelajaran sekolahku.


Mendengar itu aku hanya mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaanku yang tertunda, tapi dikala aku mengangkat koperku aku merasakan sesuatu yang merayap dikakiku.


Perlahan aku melirik kearah kakiku dan ternyata itu adalah makhluk kecil yang paling ditakuti oleh semua orang, apa lagi kalau bukan...


"AAA KECOA!" teriakku, dengan sigap aku menepuk kecoa itu agar menjauh dari kakiku.


"Kenapa Za!" teriak kak Rido lalu menghampiriku.


"Awas kak ada kecoa!" jeritku.


"Mana!" teriak kak Rido lalu naik keatas kasurnya Putri.


Melihat itu mataku membulat sempurna bahkan mulutku menganga, apa ini?! Kenapa jadi kak Rido yang paling parah disini, aku akui aku memang takut kecoa tapii aku nggak pernah sampai segitunya juga. Pikirku.


"Kenapa Wa..?" tanya Putri.


"Ada kecoa Put"


"Dimana?!" tanya Putri sumringah dengan mata yang mencari-cari.


"Tuh di.."


"Jangan dikasih tahu Zahwa!" sela kak Rido sambil berteriak dan dengan kondisi yang masih setia berdiri diatas kasur empuknya Putri.


Aku mengerutkan keningku memangnya kenapa?! Kenapa Putri nggak boleh tahu. Pikirku.


"Dia itu jail Zahwa, jangan dikasih tahu"


"Nggak iih Wa, aku niatnya baik kok aku cuma mau buang tu kecoa jadi jangan dengerin abang. Udah deh bilang ajah kemana tadi kecoanya kabur"


"Ke..."


"Jangan dikasih tahu!!" teriak kak Rido.


lagi-lagi mulutku terbungkam dan Putri pun memutar bola matanya malas lalu mencari kecoa itu kearah toilet tempat kecoa itu pergi tadi.


"Ini kan?!" sorak Putri, sambil memegang antena kecoa itu aku yang melihatnya pun menganggukkan kepalaku beberapa kali.


Dan tidak lama setelah itu tiba-tiba saja raut wajah Putri tersenyum jahil, aku mengerutkan keningku ada apa dengan raut wajahnya itu.


"Wa. Nih!" ujarnya sambil mendekatkan kecoa itu kewajahku refleks aku pun mundur satu langkah.


"Heheh kamu takut yang kayak beginian Wa?!"

__ADS_1


"Jauhin!" tekanku, lalu dia pun memanyunkan bibirnya kedepan.


"Yaah nggak seru ah. Kamu mah cuma biasa-biasa ajah, kalau abang..." jeda Putri sekilas sambil melirik kearah kak Rido dengan raut wajah yang masih tersenyum jahil.


"Apa lo! Jauhin nggak?!" ujar kak Rido sambil memegang guling.


"Heheh tenang aja bang ini tuh cuma KECOA. Masa iya cowok takut kecoa nggak lakik lo mah bang" ejek Putri sambil menekankan kata 'kecoa'.


"Put! Gue serius yah... Jauhin tuh kecoa!"


"Cieee yang bahasanya berubah jadi 'lo' 'gue' bukannya 'abang' 'adek' padahalkan ini masih dirumah loh bang" goda Putri.


Untuk pertama kalinya aku baru tahu ternyata kak Rido sangat fobia dengan kecoa, sejak tadi aku terus menahan tawaku karena mau bagaimanapun rasanya tidak sopan menertawakan oranglain.


"Put! Jauhin nggak!!" bentak kak Rido.


"Uuh kalau aku nggak mau" sahut Putri sambil berjalan kearah kak Rido.


Karena melihat Putri yang semakin mendekat kearahnya akhirnya kak Rido pun melompat dari tempat tidur dan berlari keluar kamar.


"Bang! Ini kecoanya mau kenalan sama abang katanya" teriak Putri sambil berlari mengejar kak Rido keluar kamar.


Aku pun berjalan keluar kamar dan melihat mereka yang dibawah saling berlarian, rasanya aku melihat suasana keluarga yang sebenarnya disini.


Jujur saja baru pertama kalinya aku melihat dan merasakan suasana yang seperti ini, dirumahku yang dulu aku tidak memiliki siapapun untuk diajak bercanda bahkan dengan mbok saja aku jarang bercanda seperti ini.


Lagipula mbok kan sibuk dengan pekerjaannya jadi aku selalu menghabiskan waktuku dengan buku-buku dikamarku, ataupun mengulang semua pelajaran yang aku pelajari disekolah hanya itu tidak ada yang lain.


Intinya...


Bisa dikatakan aku adalah manusia yang kesepian, hah... Terdengar konyol yah. Sudahlah lupakan saja.


..._o0o_...


"Nah gitu dong. Beresin yang bener jangan ngasal" ujar bunda sambil memakan kripik dan duduk dikursi plastik.


"Iya bun.." sahut Putri dan kak Rido dengan malas.


Kini semua orang berada dikamar baruku dan disini bunda berperan sebagai mandornya, kak Rido dan Putri bertugas memindahkan barang-barangku dari kamar Putri ke kamar baruku sedangkan aku hanya merapikan saja.


"Zah mau?!" tanya bunda sambil menyodorkan keripik singkong yang sedang ia makan, aku hanya membalas dengan gelengan dan kembali melanjutkan pekerjaanku.


Apa kalian tahu...


Setelah kejadian tadi pada akhirnya bunda memarahi mereka berdua karena tanpa sengaja kak Rido memecahkan guci kesanyangan bunda.


"Yaah udah habis, bunda mau kebawah dulu yah" pamit bunda.


Setelah mengatakan itu bunda pun berlalu keluar dari kamarku menyisakan aku, Putri dan kak Rido.


"Put! Bantuin abang buat bawa 2 kotak kardus lagi dikamar kamu" ujar kak Rido.


"Idih! Nggak mau ah cape"


"Udah ayok!" paksa kak Rido sambil menarik tangan Putri.


Setelah mereka pergi aku pun mulai merapikan barang-barangku tapi sebelum itu ada satu kotak yang menarik perhatianku, aku pun membuka kotak itu dan isinya adalah hadiah ulangtahun yang mamah berikan waktu aku masih kecil dulu.


Aku pun berniat untuk menyimpan kotak itu diatas lemari dan karena lemari itu sangat tinggi pada akhirnya aku pun menarik kursi plastik yang bunda duduki tadi.


Kemudian aku menaiki kursi itu dengan hati-hati sambil memegang kotak berwarna ungu itu, lalu menyimpannya dengan sangat hati-hati juga.


Pada saat aku telah menyimpannya tiba-tiba saja kepalaku pusing dan membuat keseimbanganku terganggu, bahkan penglihatanku tiba-tiba saja berwarna hitam alhasil aku pun terhuyung kebelakang.


"Awa!!" teriak seseorang.


Aku pun tersadar sedikit namun tubuhku rasanya melayang dan penglihatanku pun mulai kembali terlihat jelas.


"Za kamu nggak papa?!" tanya kak Rido khawatir.


Aku tidak menjawab pertanyaannya karena aku terfokus pada tatapan khawatirnya  yang terlihat sangat jelas.


"Za.." panggilnya lagi.


Seketika aku tersadar dan ternyata aku berada digendongannya karena kak Rido berhasil menangkapku sebelum aku terjatuh.


"Ng-nggak papa cuma pusing" jawabku sambil menghindari tatapannya, lalu setelah itu kak Rido berjalan dan meletakkanku diatas kasurku.


"Awa serius kamu nggak papa?!" tanya Putri.


"Nggak, cuma pusing sedikit" jawabku sambil memegang kepalaku karena rasanya kepalaku mulai terasa sakit sekarang.


"Kenapa kamu naik kursi itu? Gimana kalau tadi nggak ketangkap" tukas kak Rido.

__ADS_1


"Iiih udahlah bang yang pentingkan sekarang Zahwa nggak kenapa-napa" sahut Putri.


Mendengar itu kak Rido menghela nafas kasar namun dengan tampang khawatir dan marah yang saling berpadu.


"Astagfirulloh kenapa ini?!" jerit bunda yang tiba-tiba datang lalu duduk didekatku.


"Bun! Tadi Awa jatuh dari kursi tapi untungnya abang sigap langsung nangkap Awa" ucap Putri.


"Kamu sakit?!" tanya bunda sambil memegang dahiku.


"Nggak papa bunda cuma pusing sedikit" jawabku sambil melepaskan tangannya yang memegang dahiku.


"Jangan bohong!"


"Iyah aku nggak bohong. Serius kok aku nggak papa" kekehku lalu bunda menatapku dengan tatapan menelisik. 


"Bunda mungkin Awa kecapean kali, soalnya kan baru juga sembuh" ujar Putri lalu kak Rido dan bunda pun menatap Putri bersamaan.


"Hem, mungkin iyah. Okeh udah yah besok lagi beres-beresnya biar bibi aja yang beresin"


"Ta-tapi bund.."


"Udah diam! Sekarang kamu istirahat terus tidur" sela bunda.


"Ido tidurin Zahwanya!" titah bunda.


Kak Rido pun mengangguk lalu menidurkanku dikasur Qing size ku setelah itu bunda dan Putri pun berjalan keluar kamar sedangkan kak Rido justru malah duduk dikursi plastik yang aku naiki tadi.


"Kenapa kakak nggak keluar?" tanyaku.


".... Kamu ngusir?!" tanya kak Rido.


"Ng-nggak kok"


Suasana berubah hening lalu aku pun mulai menutup mataku dan memilih untuk tidur, yaah mungkin itu lebih baik agar suasana tidak berubah canggung dan juga dengan begitu kak Rido pun akan pergi.


Cukup lama aku menutup mata namun aku tidak merasakan kantuk sama sekali yaah wajar saja aku tidak terlalu sering melakukan tidur siang.


Dikala aku ingin membuka mataku tiba-tiba saja aku merasakan sebuah kecupan singkat dipucuk kepalaku yang ditutupi oleh hijab, lalu aku mendengar perkataan yang sangat tidak aku sangka-sangka.


"Aku sayang kamu.." lirihnya.


Nafasku seketika tertahan dan jantungku berdetak sangat hebat, aku bahkan tahu siapa yang mengatakan itu dan itulah yang membuat jantungku semakin berdetak hebat.


Entah kenapa ada rasa senang dalam diriku bahkan wajahku rasanya sangat panas aku bahkan tidak tahu ada apa dengan wajahku.


Mulutku rasanya ingin tersenyum mendengar itu namun aku tetap berusaha untuk tetap dalam kondisi seperti biasa.


"Sebagai adik. Sebagai saudaraku sendiri" jedanya sekilas.


"Nggakk lebih!" tandasnya dengan penekanan disetiap katanya.


Untuk sesaat waktu rasanya berhenti dan dadaku tiba-tiba saja terasa sakit bahkan sangat sakit, disaat itu juga aku ingin menangis dan disaat itu juga rasanya aku ingin sekali marah, tapi. Kenapa aku harus marah?.


Setelah itu aku mendengar suara pintu yang berdecit kemudian aku memicing mataku dan terlihatlah pintu yang sudah ditutup, bahkan kak Rido tidak ada lagi bersamaku.


Cukup lama aku terdiam aku pun akhirnya bangkit dari tempat tidurku lalu menguncinya, sungguh rasanya hatiku sangat sakit sekarang.


Aku pun meringkuk didepan pintu dan menangis sendirian tanpa ada siapapun yang menemani, hatiku bertanya-tanya. Kenapa?, kenapa dia melakukan itu?, jika dia memang menyayangiku sebagai adik cukup untuk memperlihatkannya saja tidak perlu sampai harus melakukan hal jauh seperti ini.


Untuk sesaat aku merasakan benci padamu kak, untuk sesaat aku merasakan perasaanku dipermainkan disini.


Kamu keterlaluan kak! Keterlaluan..


Isi kepalaku terus mengatakan itu dan begitu banyak juga asumsi yang terus berkecamuk didalamnya.


Sejak saat itu aku memutuskan untuk mengubur semua perasaanku terhadapnya karena bagaimanapun semua perasaan itu adalah salah, bahkan kesalahan yang besar!.


"Mulai hari ini. Aku akan melupakan semua perasaan itu dan perasaan itu aku pastikan tidak akan pernah muncul kepermukaan lagi. Pasti!" ucapku dengan penuh tekad didalamnya.


Setelah mengatakan itu air mataku kembali jatuh dengan sendirinya dan itu membuatku seakan malah semakin terlihat tidak berdaya.


"5 menit. Izinkan aku menangis selama 5 menit saja!" lirihku dengan suara yang parau.


Perasaanku mulai kacau sekarang aku tidak tahu bahwa ternyata perasaanku terhadap kak Rido alias kakak kandungku sendiri tenyata sangat besar.


Aku tidak tahu..


Aku tidak tahu itu semua akan terjadi.


Bersambung....


^^^3 agustus 2022^^^

__ADS_1


^^^Wida pitriyani^^^


* ¹gede \= besar


__ADS_2