
Suara adzan subuh terdengar remang-remang ditelingaku lalu perlahan aku pun mulai membuka mataku, aku melirik kearah kananku dan Putri masih tertidur dengan pulas.
Cukup lama aku termenung sambil mendengarkan suara adzan dari arah masjid dekat sini, setelah itu aku pun beranjak dari tempatku lalu aku mencari handuk dari koperku setelah itu aku pun pergi ke kamar mandi dan melakukan mandi pagi.
Beberapa menit kemudian akhirnya aku selesai dengan mandi pagiku, entah inisiatif dari mana aku ingin mandi subuh bahkan sampai melalukan keramas.
Setelah memakai baju aku pun langsung melaksanakan sholat subuh dan tidak lupa juga aku melaksanakan sholat qobla subuh, cukup lama aku melaksanakan kegiatanku hingga akhirnya mataku teralihkan kearah Putri yang masih tertidur dengan pulasnya.
Aku pun bangkit dari tempatku sambil melipat mukena dan sejadahku, setelah itu aku pun menyisir rambutku sambil berjalan kearah Putri.
Tepat sebelum itu tiba-tiba saja terdengar suara pintu yang diketuk dari luar aku pun mengurungkan niatku untuk membangunkan Putri, aku berjalan kearah pintu sambil menyisir rambutku.
Tepat saat didepan pintu aku pun memutar kunci dan menarik pintu, lalu aku melirik kearah pelaku yang mengetuk pintu tadi dan seketika mataku terbelalak kaget melihat siapa pelaku yang mengetuk pintu tadi.
Untuk sesaat aku tertegun dengan orang yang adabdihadapanku saat ini karena ia memakai baju jubah berwarna abu dan peci yang berwarna putih, bahkan dia sendiri pun terbelalak melihatku.
"Ka-kak Rido" gumamku.
Yang dipanggil hanya melihatku tanpa berkedip sama sekali, disaat itu aku tersadar karena aku tidak memakai hijabku dan memperlihatkan rambut ku yang terurai panjang serta bergelombang dengan segera aku pun masuk kembali kekamar dan menutup pintu.
"Kenapa Wa?" tanya Putri dengan suara serak.
Seakan tuli aku justru malah berlenggang pergi ke kamar mandi menyisakan Putri yang merasa bingung sendiri, dikamar mandi aku menangis sendiri entah kenapa aku malah ingin menangis disini.
"Wa..!" panggil Putri dibelakangku seketika aku terperenjat kaget.
"Kamu kenapa Wa? Kok nangis?!" tanyanya lagi seketika aku menatap Putri dengan berkaca-kaca dan kembali menangis.
"Wa!" panggil Putri.
"Jawab Wa..!" desak Putri.
"Nggak tahu!" bentakku.
"Kok nggak tahu?!"
"Aku nggak tahu Put, aku nggak tahu kenapa aku nangis" jawabku dengan sesenggukan disetiap kataku.
Seakan mengerti Putri pun menarikku kedalam pelukannya, sambil mengusap-usap kepalaku.
"Aku ngerti Wa, aku paham kok. Tapi tenang yah..." jedanya sekilas "Jangan nangis"
Aku tahu bagi setiap orang mungkin ini terlihat dramatis atau dalam kata lain orang mungkin akan menganggapku berlebihan ataupun semacamnya, tapi jika saja mereka tahu bagaimana perasaanku mungkin mereka akan mengerti.
Aku tahu ini salah, seharusnya aku sudah bisa belajar beradaptasi dengan semua yang terjadi sekarang tapi mau bagaimanapun ini semua sangatlah sulit bagiku.
Dan jujur saja aku belum pernah memperlihatkan rambutku pada siapapun kecuali papah.
..._o0o_...
Setelah kejadian tadi aku pun kembali bersikap biasa dan seperti biasa juga aku bersikap seakan tidak terjadi apa-apa, kini semua orang sedang berkumpul untuk sarapan.
Bahkan Putri pun terlihat mengenakan baju pramuka dengan rapi serta dengan rambut yang dikucir kuda namun disini kak Rido belum terlihat bahkan batang hidungnya saja belum, mungkin ia masih bersiap dikamarnya.
Tidak lama kemudian papah datang dengan koper berwarna hitam yang selalu ia bawa disaat dia akan pergi ke kantor, lalu papah duduk dikursi yang kosong dan disusul dengan bunda yang duduk bersebelahan dengan papah.
"Loh, kopinya mana?" tanya papah, aku pun langsung melirik kearah papah.
"Nggak boleh!" sahut bunda.
"Sekali ini aja kok bun.."
"Nggak boleh! Minum aja tuh susunya jangan minum kopi terus nanti kolestrolnya naik" mendengar itu papah seketika terlihat muram, apa kalian tahu.. Aku baru saja ingin mengatakan itu tapi sepertinya bunda sudah tahu.
Hah...
Seharusnya aku sadar pastilah bunda sudah tahu, tapi.. Diluar dugaan ternyata bunda itu tidak seperti mamah, mamah tidak pernah melarang apapun pada papah aku ulangi tidak pernah!
"Pagi semua!" sapa seseorang yang baru saja tiba.
__ADS_1
Mendengar sapaan itu, semua yang berada dimeja makan pun mengalihkan pandangan mereka kearah seseorang yang menyapa tadi, lalu mereka pun membalas sapaannya dengan kata 'pagi' kecuali aku karena aku tidak terbiasa.
Setelah mengatakan itu orang yang menyapa tadi pun lalu duduk dikursi yang berada didekatku tepatnya disampingku, apa kalian tahu siapa dia?! Yang tak lain dan tak bukan seseorang itu adalah kak Rido.
"Loh Za kamu kok nggak pake seragam?" tanyanya.
"Jangan panggil Za dong. Dia itu kan adik kamu Ido" celetuk bunda.
"Eum.. Tapi sama ajakan bun, Ido ajah ke adek juga kadang manggil Putri" sahut kak Rido.
"Hus! Kata siapa abang suka manggil aku adek Kadang-kadang juga manggilnya 'lo' "
"Eeeh itu kan pas lagi diluar kalau didalam rumah yaaa biasa adek, gimana si!"
"Bunda nggak mau tahu pokoknya kalian berdua harus manggil Zahwa adek, titik"
"Loh aku juga..?!" tanya Putri sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iyah, kamu juga" mendengar itu Putri seketika memanyunkan bibirnya kedepan sambil mengunyah rotinya.
"Iya deh iyah" jeda kak Rido sekilas, lalu dia mengalihkan pandangannya kearahku.
"Ouh iyah dek, kok nggak pakek seragam?!" tanya kak Rido, disaat aku akan menjawab pertanyaan kak Rido tiba-tiba saja papah menjawab lebih dulu.
"Wawa nggak boleh dulu sekolah, kata dokter Riza sebenarnya Wawa belum sembuh total jadi Wawa harus sembuh total dulu baru bisa pergi kesekolah lagi" jelas papah.
"Oouh gitu, okeh.. Tapi kenapa kamu belum makan?" mendengar hal itu aku pun melirik kearah piringku dan ternyata memang benar aku belum memakan apapun.
Karena biasanya mamah sudah menyiapkan sarapan dipiringku jadi saat aku akan berangkat sekolah aku hanya tinggal menyantapnya, tapi disini justru berbeda disini setiap orang mengambilnya masing-masing kecuali papah karena papah selalu disiapkan oleh bunda.
Seakan mengerti papah lalu mengatakan suatu hal yang tidak pernah aku duga.
"Wawa kalau makan harus disiapin dulu baru dia makan" ujar papah, aku pun langsung melirik kearah papah dan papah malah tersenyum kearahku.
"Sip! Biar kakak siapin deh sarapannya" ujar kak Rido sambil membawa roti dan akan mengolesnya dengan selai rasa stroberi.
"I-iya..?"
"Jangan pakai selai stroberi Wawa sukanya pakai selai coklat kalau stroberi dia jarang dihabisin"
"Ouh siap pah.." ujar kak Rido lalu mengoles rotinya dengan selai Coklat.
"Wah wah! Kamu enak banget ya Wa! Papah tahu banget apa aja kebiasaan kamu sama apa yang kamu suka" celetuk Putri sambil menahan dagunya.
"Put..! Kamu lupa yah..?" ujar bunda.
"Iyah, iyah.." setelah itu Putri bangkit dari tempatnya dan lalu mencium pipi bunda dan juga papah.
"Aku berangkat yah, assalamualaikum" pamit Putri.
"Heh! Adek tungguin!" teriak kak Rido, dengan segera kak Rido mengambil roti dan meneguk susu coklat hingga habis dan setelah itu tidak lupa kak Rido bersalaman dengan Ayah dan bunda.
Dan sesuatu pun terjadi, setelah kak Rido bersalaman dengan papah dan bunda kak Rido kemudian mengelus pucuk kepalaku.
"Dimakan rotinya terus minum obat biar cepat sembuh" ucapnya dengan senyuman diakhir kalimatnya.
Setelah itu kak Rido pun berlenggang pergi sambil membawa roti ditangannya, untuk sesaat jantungku masih saja memburu dan bahkan berdetak sangat keras.
Hah...
Jika bisa tolong benci aku kak agar aku tidak lagi terus seperti ini mungkin akan lebih baik jika aku merasakan sakit karena dibenci, daripada harus merasakan perasaan yang meluap-luap seperti ini.
Cukup lama aku bergulat dengan pikiranku tiba-tiba saja papah memanggil namaku membuatku seketika terperenjat dan mengalihkan pandanganku sepenuhnya kearah papah.
"Kamu kenapa?" tanya papah.
"Ng-nggak ada" elakku lalu aku pun segera melahap roti yang sudah kak Rido siapkan tadi.
"Kalau gitu ayah pergi dulu ya bun"
__ADS_1
"iya kak, ouh iyah kamar yang mau Zahwa tempati toiletnya bermasalah kapan mau dibenerinnya. Soalnya kasian kan kalau Zahwa harus sekamar terus sama Putri"
"Iyah ayah tahu kok, waktu kemarin ayah udah panggil tukang jadi nanti siang katanya bakalan kesini. Yaudah ayah pergi dulu assalamualaikum" pamit papah, lalu papah menghampiriku dan mengusap pucuk kepalaku sekilas kemudian papah berlenggang pergi hingga pundaknya tidak lagi terlihat.
"Habisin yah.. Ouh iyah, dimana obatnya..?"
"Biarin aja bunda, aku bisa sendiri kok" jawabku sambil tersenyum dengan paksaan.
"Nggak apa-apa biar bunda bantu okeh..?!" ujarnya dengan tangan berbentuk huruf 'O'.
Aku pun tersenyum dan menjawab bahwa obat itu ada didalam koperku, lalu bunda pun berlenggang pergi juga menyisakan aku yang terduduk sendiri disini.
Tidak lama kemudian aku tersadar kenapa aku belum melihat mbok pagi ini?!, biasanya mbok selalu terlihat mondar-mandir namun disini terlihat lain mbok daritadi tidak terlihat, apa mungkin mbok kembali ke kampung halamannya?! Pikirku.
Tidak lama kemudian bibi asisten rumah tangga pun datang menghampiri meja makan mungkin untuk merapikan meja makan sisa sarapan tadi. Eh dan ternyata dugaanku benar.
"Bi.." panggilku.
"Iya non..?"
"Bibi tahu nggak wanita yang kemarin?!" bibi pun tampak mengingat sesuatu.
"Oouh wanita yang sering dipanggil mbok itu?!" aku pun menganggukkan kepalaku.
"Mbok katanya kembali ke kampung halamannya non"
Seketika aku berdiri dari tempatku dengan mata yang terbelalak kaget, aku sangat tidak percaya dengan apa yang aku dengar sekarang ini meskipun aku marah dan kecewa pada mbok tapi mau bagaimanapun beliau adalah orang yang sudah membesarkanku dan beliaulah yang selalu ada untukku.
"Kapan perginya?" tanyaku dengan nada serak.
"Wa-waktu kemarin malam non"
Seketika tubuhku terasa lemas dan aku pun kembali terduduk dikursiku kenyataan ini sungguh berat bagiku, kenapa mbok harus kembali ke kampung halamannya? Dan apakah mbok tidak akan kembali lagi kesini?, berbagai asumsi terus berkecamuk didalam kepalaku.
"Kamu tenang aja zahwa"
Mendengar itu aku membalikkan badanku dan terlihatlah bunda yang tersenyum dikala aku melihatnya.
"Bunda.."
"Mbok bakalan kesini lagi kok, waktu malam katanya mbok mau pulang ajah. Bunda udah melarang mbok untuk nggak pulang tapi mbok tetap kukuh sama pendiriannya, terus mbok juga bilang katanya mbok bakal kesini lagi kalau Zahwa udah nggak marah lagi sama mbok" jelas bunda.
"Bun" panggilku.
"Hem..?"
"Semua ini gara-gara aku harusnya aku bisa lebih tahan emosi, kalau aja waktu itu aku bisa lebih tenang mungkin ajah mbok nggak bakalan pulang"
Itu benar, seharusnya aku bisa lebih bijak dalam menyikapi suatu permasalahan dan aku pikir kak Riza juga benar aku adalah orang yang egois dan juga kekanak-kanakan.
Tidak lama kemudian bunda menarikku kedalam pelukannya, untuk sesaat aku membelalakkan mataku karena untuk kedua kalinya aku kembali merasakan pelukannya.
Dan lagi-lagi hatiku kembali tenang, ternyata apa yang dikatakan oleh orang-orang benar dekapan seorang ibu adalah obat untuk semua rasa sakitmu.
"Kamu nggak salah sayang. Papah nggak salah dan mbok juga nggak salah, intinya semua yang sudah terjadi itu nggak ada yang bersalah" jedanya sekilas.
"Karena apa? Karena semua ini adalah takdir, kamu hanya perlu menerima lalu setelah itu lepaskan dan lupakan"
"Tetaplah semangat anakku, kamu lebih kuat dibandingkan bunda" tandasnya, lalu aku merasakan sebuah kecupan singkat dipucuk kepalaku.
Yah...
Bunda memang benar, jika masih dibelenggu oleh masalalu itu tidak akan ada yang berakhir hanya akan menimbulkan rasa sakit yang tidak berujung.
Bersambung...
^^^27 Juli 2022^^^
^^^Wida pitriyani^^^
__ADS_1