
"Awa! Bangun udah subuh! Kamu udah sholat belum!!" teriak Putri dari luar kamarku sambil mengetuk pintu, ouh lebih tepatnya menggebrak-gebrak pintu bukan mengetuk.
Seketika aku pun terperenjat dari tidurku lalu aku melihat kearah jam dan jam menunjukkan pukul 05:00 aku pun memegang kepalaku, karena terasa sedikit pusing.
Setelah itu aku bangkit dari tempat tidurku lalu berjalan dan membuka pintu, terlihatlah Putri yang memperlihatkan senyum bodohnya.
"Ish.. Bisa nggak kalau bangunin orang itu biasa ajah" ujarku dengan suara serak khas bangun tidur.
"Hello!" teriaknya dengan suara cemprengnya dan seketika aku menutupi kedua telingaku.
"Kamu nya aja yang dibangunin daritadi nggak bangun-bangun" sahut Putri, mendengar itu aku pun menghela nafas kasar sambil menurunkan tanganku dari kedua telingaku.
"Terserah ah.." setelah mengatakan itu aku pun menutup pintu tapi sebelum itu Putri menahan pintu, lantas aku pun mengerutkan keningku.
"Apa?" tanyaku.
"Kamu lagi badmod yah" jedanya sekilas.
"Heh..! ini tuh masih pagi senyum dikit napa"
"Nggak" jawabku singkat dan padat lalu aku menutup pintu.
Aku berjalan menuju kamar mandi sambil mengambil handuk dan membuka hijabku setelah itu aku pun melaksanakan kegiatanku dipagi hari, apalagi kalau bukan mandi dan sholat subuh.
..._o0o_...
"Apa kalian nggak mau lari? Kan lumayan pagi ini itu lagi cerah tahu" terdengar suara bunda dari dapur.
"Nggak ah malas" jawab sang lawan bicara mungkin itu suara Putri.
Meski aku masih ditangga tetapi pembicaraan mereka terdengar cukup jelas, aku pun mempercepat langkahku namun tiba-tiba saja salah satu anak tangga itu terasa licin sehingga membuatku tergelincir kebelakang.
Untuk sesaat jantungku rasanya berhenti dan kepalaku sudah membayangkan hal yang tidak-tidak, tapi bayangan itu hanyalah angan-angan nyatanya aku tidak kenapa-napa.
Karena kak Rido berhasil memegang pinggangku dan menahan tubuhku, mataku melebar karena kami disini posisinya sangat dekat bahkan bukan hanya aku yang terbelalak.
Bahkan kak Rido pun justru memperlihatkan reaksi yang sama denganku, jantungku berdetak sangat hebat mungkin karena aku masih terkejut dengan yang terjadi. Atau mungkin karena yang lain, aku tidak tahu.
"Kamu nggak papa?!" tanya kak Rido dengan nada khawatir.
Melihat wajahnya yang khawatir untuk sesaat aku kembali terpaku dengan reaksinya namun dengan segera aku pun berusaha untuk berdiri.
"Nggak aku nggak papa" jedaku sekilas.
"Makasih kak" ucapku sambil berlalu meninggalkannya tanpa sepatah katapun.
"Pagi Awa!" sorak Putri, dikala aku baru saja sampai didapur.
Lihatlah baru saja aku tiba tapi aku disambut dengan sorakannya yang berisik itu seakan-akan mampu untuk merusak gendang telinga.
"hem... Pagi" sahutku.
Lalu aku mendudukkan bokongku dikursi dekat Putri tidak lama kemudian kak Rido datang lalu ia duduk didekat Putri juga, alhasil kini Putri berada ditengah-tengah.
"Ayok cepat dimakan sarapannya" ujar bunda.
"Sayur.." gumamku.
Inilah yang tidak aku suka kenapa? Kenapa harus sayur?! Dengan susah payah aku menelan saliva ku, aku tidak tahu bahwa hari dimana aku akan memakan sayur lagi kembali terulang.
"Kenapa Zahwa kok kayak takut gituh, kamu kan cuma perlu makan. Lagipula itukan sayur bukan racun" ujar bunda sambil menahan dagu dengan kedua tangannya dan juga dengan memasang bibir yang tersenyum penuh arti.
Jujur aku katakan aku tidak suka dengan tampang itu, apalagi bunda yang melakukannya bukannya tenang justru malah merasa diintimidasi.
"Ayo dong. Dimakan" tekan bunda.
__ADS_1
"I-iya bunda" sahutku, dan dengan susah payah aku berusaha agar tidak memutar mata malasku.
"Ouh iyah nanti siang kalian nggak boleh kemana-mana"
"Kenapa bun?" tanya kak Rido dan Putri bersamaan.
"Karena kita akan melakukan foto bersama" mendengar itu seketika aku terbatuk-batuk karena kaget.
Lalu dengan sigap kak Rido menyajikan air kedalam gelas lalu memberikannya padaku, aku pun meneguknya hingga sisa setengah.
"Foto bersama.." beo Putri.
"Ah.. Iyah. Emang kenapa?" tanya bunda balik.
"Nggak kenapa-napa bun, justru malah bagus jadinya foto keluarga kita komplit. Benarkan?!" ujar kak Rido dengan sedikit bertanya diakhir kalimatnya.
"I-iya juga sih, okeh!" sahut Putri sambil memasang jari huruf 'O' yang menyisakan tiga jari.
"Yasudah cepat habisin makanannya nanti keburu dingin"
"Eum.. Bun!" panggil kak Rido.
"Iyah..? Kenapa?"
"Ido pengennya kita itu jalan-jalan ke pantai bun, bisakan?!"
"Hem.. Boleh juga, kalau dipikir-pikir kita udah lama nggak ke pantai"
"Iyakan?! Terus sekalian juga kita buat foto keluarganya disana"
"Okeh bentar yah bunda mau ngobrol dulu sama ayah" ucap bunda lalu berlalu entah kemana.
"Bang! Yang bener aja, besok kan sekolah lagian ke pantai itu jauh mungkin nyampe disana juga sore. Terus kalau langsung pulang kan cape" tukas Putri.
"Tapi kan masalahnya kalau kita bertiga izin nanti gimana kata guru-guru sama temen-temen kita yang lain"
"Yaudah tinggal nggak usah kasih kabar aja, lagian juga cuma satu hari" jawab kak Rido enteng.
"Tapi kan..." belum sempat Putri menyelesaikan perkataannya tiba-tiba saja kak Rido menyumpal mulut Putri dengan tahu goreng.
"Udah diam! Ini tuh lagi makan, jadi syut!" ucapnya sambil menyimpan telunjuk dibibirnya, lalu matanya melirik kearahku.
"Iyakan, Za.." aku pun hanya berdehem lalu melanjutkan kegiatanku.
..._o0o_...
Setelah melewati perdebatan tadi pada akhirnya Putri pun mengalah, lalu kami pun berkemas untuk pergi ke pantai Pangumbahan yang ada didaerah Sukabumi.
Dan perjalanan yang dihabiskan pun tidak tanggung-tanggung bayangkan saja kami tadi berangkat dari bandung sekitar pukul 09:00 pagi dan kami sampai disini pukul 3:30 sore.
Bahkan mang Ujang sampai bergiliran dengan papah hanya untuk menyetir, yah.. Walaupun mang Ujang memang supir kami tapi papah sudah menganggap mang Ujang seperti saudara sendiri.
Dan disinilah kami sekarang yang sedang menikmati sunset dan yah sebelum menikmati sunset, kami sudah berfoto bersama terlebih dahulu jadi sekarang hanya tinggal bersantai.
"Haus iih pengen minuman" celetuk Putri.
"Yaudah yuk! Bunda juga pengen minuman" jeda bunda sekilas, lalu matanya beralih melihat kearahku.
"Kamu mau Zahwa?!" mendengar hal itu aku hanya menganggukkan kepalaku satu kali.
Setelah itu bunda lalu menarik tangan Putri dan berlalu pergi entah kemana, seketika suasana terasa canggung karena disini hanya menyisakan aku dan kak Rido.
"Hah... Subhanallah, bagus yah" celetuk kak Rido dengan mata yang menatap takjub kearah matahari yang terbenam.
Mendengar itu aku pun lalu kembali menatap matahari yang terbenam itu dan apa yang dikatakan kak Rido memang benar, lihatlah panorama disini memang indah.
__ADS_1
Warna-warnanya yang saling berpadu antara merah, jingga dan kuning membuat siapapun yang melihatnya akan sangat takjub bahkan sangat mampu untuk menghilangkan semua kepenatan yang ada.
"Za..." panggil kak Rido.
Mendengarnya yang memanggilku aku pun hanya membalasnya dengan dehemanku saja karena mataku masih terfokuskan dengan apa yang ada didepanku saat ini.
"Kamu tahu, hidup harus tetap terus dijalani tidak peduli berapa banyak ujian yang datang menghampiri, walaupun orang yang kita sayangi bahkan menyakiti kita entah itu sengaja ataupun tidak"
Mendengar penuturan katanya yang sedikit puitis aku pun seketika mengalihkan pandanganku sepenuhnya kearah wajahnya yang terkena pantulan sinar senja itu.
"Hidup terkadang pahit, terkadang pedih, terkadang tidak adil dan terkadang penuh dengan perjuangan bahkan penderitaan" jedanya sekilas.
"Terkadang kita tidak mampu untuk hidup, terkadang kita ingin menyerah untuk hidup, terkadang kita pernah berpikir untuk apa kita hidup jika hanya untuk menderita dan kemudian kita menganggap bahwa kita hidup tidaklah ada artinya"
Dia terus berbicara namun aku masih ingin terus mendengarkan kata demi kata yang ia ucapkan dari bibirnya.
"Namun, dalam hidup ini pun kita sering melakukan banyak hal dengan orang-orang yang kita sayangi bukan?! Dan itu sangat berharga" seketika wajahnya berubah menjadi melankolis, untuk sesaat aku mataku sempat terbelalak karenanya.
"Namun terkadang.." jedanya sekilas, lalu matanya tiba-tiba saja beralih melirik kearahku dan untuk sesaat pula aku sempat termangu dengan hal itu.
"Kita hanya perlu menerima apa yang ada dihadapan kita, dan kita hanya perlu untuk terus berjuang hingga titik. penghabisan darah terakhir" tandasnya dengan senyuman lembut diakhir kalimatnya.
Wajahnya yang terkena pantulan sinar senja serta mulutnya yang tersenyum lembut seta terlihat tulus, membuatku untuk sesaat teralihkan dengan semuanya itu.
Aku tidak lagi peduli dengan matahari terbenam yang hanya tinggal beberapa menit lagi akan habis, karena entah kenapa aku merasa bahwa momen ini sangatlah lebih berharga dari apa pun.
Dan entah kenapa rasanya dadaku sangat sesak melihatnya yang tiba-tiba saja seperti itu, sikapnya 180° jauh berbeda dari sikap aslinya.
"Jangan lupakan aku" mendengar itu seketika aku tersadar dari lamunanku.
"Hah..?!" beoku.
"Hey!" teriak seorang wanita dari arah belakang kami, lantas aku dan kak Rido pun melirik kearah asal suara itu dan terlihatlah Putri yang melambaikan kedua tangannya.
"Kalian mau terus disana, hah?! Udah mau maghrib nih" teriak Putri.
"Yuk!" ajak kak Rido yang sudah berdiri dari tempat duduknya sambil mengulurkan tangan. Aku pun melihat uluran tangannya lalu beralih melihat kearah wajahnya.
"Za, aku ini kakak kandung kamu dan selamanya akan terus menjadi kakak kamu" ucapnya dengan menekankan kata 'kakak kandung' mataku pun seketika berkaca-kaca, karena pada dasarnya apa yang diucapkannya itu memang benar.
Perasaanku kembali bercampur aduk ada rasa sesak didalam hatiku, namun aku sadar perasaan lebih ini tidaklah pantas untuk ada.
Aku pun menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar, aku tahu perasaan ini pasti akan hilang dengan sendirinya dan aku yakin suatu saat aku akan menemukan seseorang yang seperti dia. Aku yakin.
Perlahan aku mengangkat tanganku dan membalas ulurannya lalu dia menarik tanganku untuk berdiri.
"Terimakasih ka.."
"Jangan manggil kakak" sela kak Rido, aku pun mengerutkan keningku tanda aku tidak mengerti.
"Panggil abang. Kayak Putri alias kakak kamu juga yang cerewet nya itu naudzubillah" ucapnya dengan ada sedikit tawaan disela-sela perkataannya.
Aku pun ikut terkekeh, karena rasanya lucu jika mengingat sosok Putri yang dari sejak dulu selalu membuatku geram dengan tingkahnya.
Setelah itu kami pun berjalan beriringan menuju tempat penginapan kami, yah. Kini tekadku sudah bulat aku hanya akan menganggap perasaan itu tidak ada.
Dan aku akan memulai lembaran yang baru dengan mereka semua yang kini menjadi keluargaku.
Keluarga yang sesungguhnya yang tidak ada lagi sandiwara maupun ambisi yang haus akan harta, sudah cukup hanya sampai disana tidak ada lagi sandiwara atau apapun itu. Terutama kebohongan sudah cukup sampai disana aku tidak mau mengalaminya lagi.
Bersambung...
^^^06 agustus 2022^^^
^^^Wida pitriyani^^^
__ADS_1