
"Awa!" panggil Putri, mendengar dia yang memanggilku aku pun melirik kearahnya.
"Liat deh ada yang galau" sindir Putri, aku pun mengerutkan keningku karena aku tidak mengerti dengan apa yang ia katakan.
Seolah mengerti Putri pun menggunakan matanya untuk menunjuk orang yang dia maksud, aku pun mengikuti arah matanya dan matanya menunjuk kearah bunda.
"Apa?!" tanya bunda sinis.
"Nggak bun. Bercanda!" tukas Putri dengan menampilkan senyuman bodoh diakhir kalimatnya.
"Kamu jangan mikir yang aneh-aneh, bunda nggak galau tuh. Bunda itu udah biasa jauh dari ayah" sarkas bunda dengan tangan yang masih sibuk melipat selimbut.
Untuk sesaat aku termanggu, apa mungkin bunda biasa jauh dari papah karena papah yang selalu pergi kerumahku dulu.
Karena dulu papah pun jarang pulang kerumah karena alasan bertemu klien, bahkan kadang beralasan harus pergi keluar kota dan bukan sekali dua kali juga papah selalu beralasan bahwa papah kerja lembur dikantor.
Aku dulu tidak terlalu memikirkan juga karena aku tidak pernah tertarik untuk bertanya, pernah sih bertanya namun itu kadang-kadang karena aku tahu jawaban mamah pasti akan sama.
"Awa!" teriak Putri, seketika aku tersadar dari lamunanku dan melirik kearahnya dengan penuh tanda tanya.
"Kamu kok melamun?!" sarkasnya.
"Enggak aku cuma..." jedaku sekilas.
"Aku cuma apa?" selanya, aku meliriknya sekilas.
"Aku cuma lagi mikir gimana keadaan sekolah sekarang"
"Perhatian banget sama sekolah. Sekolah aja nggak perhatian sama kamu" ucapnya julid.
"Kamu ini bicara apa sih Putput, daritadi cara bicara kamu itu sinis mulu. Kalau nggak mau ikut yaudah jangan ikut" sarkas bunda.
"Nggak bun, aku nggak sinis kok"
"Halah.. Alasan. Udah ah jangan ganggu bunda" mendengar itu seketika Putri mengerutkan keningnya.
"Siapa juga yang ganggu bunda?. Iih bunda geer" lanjut Putri.
Aku hanya menghembuskan nafas lelah karena melihat mereka yang terus bertengkar seperti kakak dan adik, yaah.. Bunda dan Putri memang terlihat bukan seperti ibu dan anak tapi lebih tepatnya seperti teman sebaya.
Tapi memang begitulah cara bunda agar dekat dengan anaknya, kenapa aku berkata seperti itu? Karena bunda-lah yang mengatakannya beberapa hari yang lalu.
Bunda bilang "Seorang ibu jika melihat anak gadisnya telah menjadi remaja, maka ia tidak akan menjadi seorang ibu lagi. Melainkan akan berubah menjadi seorang temannya" itulah yang bunda katakan.
Mendengar hal itu untuk sesaat aku berpikir bunda adalah seorang ibu yang baik dia tidak pernah menuntut anaknya untuk menjadi lebih, alih-alih bunda lebih menuntut anaknya agar menjadi orang yang selalu berfikir rasional dan lebih mengutamakan keluarga bukan yang lainnya.
Jika mengingat itu bibirku selalu tersenyum tipis ada rasa tenang didalam diriku, dan apa kalian tahu?! Aku mulai menganggapnya sebagai ibuku.
..._o0o_...
Panasnya sinar mentari memaksaku untuk berteduh dibawah pohon yang rindang serta dengan kepalaku yang bersandar pada pohon itu, mataku menatap teduh kearah laut yang masih bersih itu dan juga angin yang datang berhembus sepoi-sepoi membuatku merasa sangat betah untuk tetap diposisi yang sama.
Ditambah tidak ada siapapun disini entah kemana perginya orang-orang bahkan Putri, kak Rido, bunda dan papah pun tidak terlihat batang hidungnya sekalipun. Senyap hanya itu yang kurasa sedari tadi.
"Selama jantung ini berdetak, ku akan selalu menjagamu, hingga akhir waktu" jedaku sekilas, yah.. Jika kalian ingin tahu aku sedang bernyanyi lagu yang dinyanyikan oleh Rizky febian yang berjudul Hingga tua bersama.
"Selama nafas ini berhembus, tak akan ada cinta yang lain.."
"Hingga tua bersama~" mendengar seseorang melanjutkan nyanyianku seketika aku terduduk tegak lalu berbalik kearah belakangku.
Terlihatlah kak Rido dengan senyuman khas andalannya, senyuman yang hanya ada ketenangan dan kedamaian setidaknya itulah yang selalu aku rasakan dikala melihatnya.
Seketika jantungku berdetak keras karena aku belum pernah bernyanyi dihadapan siapapun, bahkan mbok saja tidak tahu bahwa aku suka bernyanyi. Yaah untuk apa mereka tahu.
Dengan susah payah aku berusaha untuk tetap tenang walau sebenarnya jantung dan pikiranku jauh dari kata tenang, aku ulangi sangat jauh!
Tiba-tiba saja kak Rido duduk disamping kiriku, aku pun menahan daguku dengan tangan kiriku serta dengan wajah yang menghadap kearah sisi kananku.
"Kamu kenapa?" tanyanya.
"Nggak.." jawabku langsung.
"Suaranya bagus" sahutnya sambil mengambil ranting yang tergeletak lalu menggunakan ranting itu untuk menggali-gali pasir.
Aku tidak menyaut justru karena mendengar pujiannya itu seketika wajahku terasa panas, rasanya ada menggelitik didalam perutku. Ouh ayolah, tolong hentikan semua ini rasanya aku ingin berteriak.
"Kok sendirian disini?!" tanyanya lagi dengan kondisi yang sama.
"Cuma lagi pengen sendiri" jawabku dan kak Rido hanya berkata 'oh' saja.
"Ouh iyah, abang punya ini" ujarnya sambil mencari sesuatu disaku celananya.
Karena penasaran aku pun melirik kearah tangan kak Rido lalu pada saat kak Rido mendongakkan kepalanya, aku pun langsung ke posisi semula.
__ADS_1
"Nih liat. Lucu nggak?!" tanya nya sambil memperlihatkan sebuah gelang yang berantuikan bintang disana.
"Lucu.." jawabku tanpa ekspresi.
"Buat kamu" ucapnya sambil tersenyum manis kearahku.
Aku pun mengerutkan keningku pertanda aku tidak mengerti lalu tanpa seizinku dia menarik tangan kiriku dan memasangkan gelang itu.
Jantungku kembali berdetak cepat dan ada rasa senang yang aku rasakan setelahnya, tapi entah kenapa pikiranku kembali mengingat perkataan kak Rido dikamarku saat itu.
"Aku sayang kamu.."
"Sebagai adik. Sebagai saudaraku sendiri"
"Nggak lebih!"
Perkataan itu masih terngiang-ngiang dalam telingaku dan jika aku mengingat itu dadaku selalu merasa sesak bahkan sekarang pun tiba-tiba saja dadaku terasa sesak.
"Nah baguskan?!" ucapnya sambil membolak-balikkan tanganku lebih tepatnya dia memegang telapak tanganku.
Aku sempat ingin menariknya namun kak Rido sudah melepasnya lebih dulu, lalu tubuhnya ia condongkan kebelakang dengan tangannya yang ia jadikan sebagai tumpuan.
"Hah... Disini tuh adem banget. Jadi pengen tinggal disini" ucap kak Rido bermonolog sendiri dengan senyuman diakhir kalimatnya.
"Ditambah disini tuh nggak ada Putri, yang suaranya cempreng naudzubillah" lanjutnya.
"Apa lo bilang?!" teriak seseorang.
Lantas aku dan kak Rido pun mencari asal suara itu kemudian terlihatlah seseorang dengan rambut kucir kudanya serta wajahnya yang ditekuk.
"Eh.. Adikkuh, kok disini?!" tanya kak Rido dengan sedikit candaan dan tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, entahlah mungkin saja karena gatal.
"Nggak usah alihin topik pembicaraan, tadi lo bilang kalo 'disini tuh adem banget jadi pengen tinggal' terus yang paling buat gue muak tuh perkataan lo yang kedua, 'Ditambah disini tuh nggak ada Putri yang suaranya cempreng naudzubillah' Jadi secara nggak langsung lo tuh udah ngehina gue!!" oceh Putri.
Mendengar ocehan Putri, kak Rido justru malah menguap malas sedangkan Putri yang melihat reaksi kembarannya itu justru malah semakin menekuk wajahnya.
"Udah bicaranya? Panjang bener" sahut kak Rido.
"Iih lo tu yah nyebelin banget jadi orang, pantes aja jomblo mulu. Dasar nggak laku!" cibir Putri.
"Liat aja. Kalau lo dah gede nanti, lo nggak bakal bisa kawin!" lanjutnya sambil melipat tangan didada.
Mendengar hal itu kak Rido lalu berdecak pinggang "Lo bilang apa? Gue?! Gue nggak bakal bisa kawin?!" tanya kak Rido sambil menunjuk-nunjuk dirinya sendiri.
"Yang ada lo yang nggak bakal bisa kawin! Modal bwadan kayak Kuda nil, sifat kayak Singa betina ajah bangga. Mana ada yang mau" cibir kak Rido, hoalah... Lihatlah cibirannya yang pedas itu.
Tanpa diduga tangannya bergerak untuk mengambil sendal yang ia gunakan sementara kak Rido terus mengoceh.
"Yaah... Kalo lo jadi perawan tua sampe nenek-nenek sih gue fine-fine ajah, tapi mungkin lo bakalan panas ama kehidupan indah gue"
"Sini lo, bangs*t!" teriak Putri, seketika aku membelalakkan mataku karena mendengar kata-kata mutiara yang keluar dari bibir manisnya itu.
Putri berlari kearah kak Rido dan sang korban langsung membelalakkan matanya serta berlari dari kejaran Putri.
Melihat itu aku hanya menghembuskan nafas lelah, lagi. Karena mereka telah mengganggu waktuku yang damai tadi, sungguh meresahkan.
..._o0o_...
"Zahwa kamu habis darimana nak?!" tanya bunda padaku, yang baru saja sampai ditempat penginapan.
"Nggak dari mana-mana bun, cuma duduk-duduk doang"
"Jangan kemana-mana lagi yah, soalnya bentar lagi kita pulang" aku pun menganggukkan wajahku satu kali lalu mendudukkan pantatku dikursi kayu yang berada tidak jauh dari ambang pintu.
Mataku memandang lurus kedepan melihat orang-orang yang mulai semakin banyak, yah... Tadi aku sengaja kembali kesini karena ditempatku tadi mulai banyak orang-orang yang berisik.
"Assalamualaikum janda anak tiga" sapa seseorang kepadaku.
Aku pun menatap asal suara itu yang dirasa sudah tidak aneh lagi, siapa lagi kalo bukan Putri entah kenapa dia malah semakin tengil saja padahal waktu pertama bertemu dia cukup baik, ingat hanya sedikit tidak ada kata lain lagi, jika ada itu hanya menurut kalian saja.
"Waalaikummussalam tante" jawabku.
"Bercanda Wa! Santai aja kali nggak bisa banget diajak bercan--daa!!" teriaknya diakhir kalimat dikala ada kucing yang mengelus-eluskan kepalanya pada kaki Putri.
Putri pun seketika terperenjat dan naik ke kursi yang ada disebelahku, dan jangan lupa dengan teriakan khasnya yang berhasil membuat hampir semua orang melirik kearah kami.
"Kenapa si?!" ucapku geram dengan tingkahnya.
"Hus! Hus! Pergi sana!" teriak Putri kearah kucing itu sedangkan sang kucing bukannya pergi justru malah semakin menghampirinya dan membuat Putri semakin menjerit ketakutan.
"Bunda! Bunda! Ada kucing, BUNDA!!" teriaknya histeris lebih keras, ouh kalian pasti akan sangat tersiksa jika menjadi aku karena posisiku berada sangat dekat disampingnya.
"Berisik Put!" geramku.
__ADS_1
"Udah tahu gue takut, yaudah bawa terus jauhin kucingnya dari gue"
Tunggu, apa dia bilang?! 'gue' tumben bukan 'aku' biasanya dia sedikit sopan jika berbicara denganku, ouh apakah rasa panik dan takut akan mengubah cara berbicara seseorang?!
Dengan malas aku berjalan kearah kucing itu dan mengangkatnya serta mengusapnya dengan sayang, lalu Putri perlahan mulai turun dari tempatnya.
"Gabuth tu kucing, dasar!" cicit Putri.
"Kamu takut kucing?!" tanyaku.
"Iyah!" ucapnya dengan wajah yang julid.
"Waktu dulu pernah dicakar sampe berdarah. Dari sejak itu aku takut sama kucing" lanjutnya.
"Oouh.." sahutku, lalu tiba-tiba saja ide jahil muncul dikepalaku.
"Put.." panggilku, yang merasa terpanggil pun melihat kearahku.
Dengan jahil aku berjalan satu langkah kedepan dan seketika Putri pun mundur satu langkah kebelakang.
"Mau ngapain lo?!" sentaknya, waw lihatlah cara berbicaranya berbeda lagi.
"Nih!" aku meletakkan kucing itu dikursi dekat Putri berdiri, seketika Putri terperenjat lalu mendorongku kesamping setelah itu ia pun berlari menjauh dariku.
Entah kenapa rasanya menyenangkan, aku pun mengangkat kucing itu lagi dan berlari kearahnya yang berdiri didekat pohon. Tanpa diduga ia melihat kebelakang lalu kedua matanya tiba-tiba saja terbelalak sempurna dikala melihatku yang berlari kearahnya dengan membawa kucing ditanganku.
Tanpa ba-bi-bu dia pun kembali berlari dan berlindung dibelakang tubuh kak Rido, seketika aku pun berhenti didepan kak Rido.
"Oouh pantesan lari-lari rupanya ada si meong alias kucing toh" ucapnya, lalu sedikit tersenyum jahil.
"Bang! Aku nggak tahu Zahwa kerasukan apa tiba-tiba aja dia jadi jail, bang! Please rebut kucingnya terus buang" rengek Putri.
"Eh, kok jadi ke gue?!" sahut kak Rido.
"Yaa lo mah nggak bisa diajak kompromi! Gue jadi ragu kalo lo saudara gue"
"Hem... Zah! Buang kucingnya kasihan Putri" ucapnya dengan sebuah kedipan mata beberapa kali diakhir kalimatnya, aku pun mengerutkan keningku tanda aku tidak mengerti.
Aku pun menurut dan mulai menurunkan kucing itu, tidak lama kemudian kak Rido bergerak kebelakang Putri secara gesit lalu mendorong Putri hingga tersungkur dengan indahnya didepan kucing yang sedang aku pegang itu.
Dan tiba-tiba Putri kembali berteriak histeris dikala si kucing yang tiba-tiba saja terperenjat kaget, dan kucing itu pun berlari entah kemana.
Seketika tawaku pecah ditempat karena melihat kejadian yang terjadi didepan mataku, rasanya sangat lucu disaat melihat kucing yang terperenjat serta membunyikan suara 'ngek' ditambah karena Putri yang berteriak histeris.
Bukan hanya aku yang tertawa bahkan kak Rido pun tertawa terbahak-bahak, sedangkan Putri justru malah merengek tidak jelas.
"Kalian kenapa?" tanya bunda tiba-tiba saja muncul, seketika aku menghentikan tawaku.
"Ayah!" rengek Putri sambil berlari kearah papah yang berada tidak jauh dari bunda lalu saat didekat papah Putri langsung memeluknya.
"Ayah, Awa sama Abang pada jahil!" rengeknya, sedangkan sang lawan bicara sama sekali tidak menyaut.
Bahkan papah justru malah mematung ditempat menatap tidak percaya kearahku, serta dengan mata yang tidak berkedip sama sekali.
"Ayah?!" beo Putri, lalu Putri melirik kearah mata papah yang sama sekali tidak berkedip itu setelah itu Putri menyusuri arah pandang papah dan berakhir padaku.
"Wawa.." gumam papah.
Aku yang awalnya tidak mengerti justru mulai gugup dengan sikap papah yang seperti itu "Kamu tertawa sayang.." ucap papah.
Jam itu, menit itu, detik itu dan saat itu juga aku mulai merutuki perbuatanku, entah kenapa aku merasa bahwa aku tertawa tadi adalah hal yang tidak boleh aku lakukan dihadapan papah.
Aku pun meremas bajuku dengan kuat hingga suatu rangkulan tiba-tiba saja terasa dibahuku.
"Biasa aja kali yah. Kayak yang pertama kali aja lihat dek Za ketawa" goda kak Rido.
Aku pun mendongakkan kepalaku melihat kearah rahang yang tirus dan tegas milik kak Rido, lalu matanya turun kearahku "Za lebih cantik pas lagi ketawa kan?!" ucapnya dengan senyuman manis diakhir kalimatnya.
Seketika mataku tidak bisa lepas dari matanya seakan-akan ada sesuatu yang mengunci, dan aku mulai tersadar saat ia mengatakan sesuatu.
"Yuk ah beli kucing bakar!" ajak kak Rido.
"Iih gila kali lo! Yakali ada yang jualan kucing bakar" sentak Putri yang bahkan belum 5 detik kak Rido mengatakan itu.
Mendengar sentakan Putri seketika bunda, papah dan mang Ujang tertawa ditempat, dan setelah itu kami pun pergi membeli 'kucing bakar' ralat maksudnya 'ikan bakar'.
Setelah menghabiskan banyak waktu di pantai Pangumbahan kami pun pulang kerumah, disaat perjalan rasa kantuk mulai menghampiriku lalu suara bising didalam mobil tiba-tiba saja hening dikala aku tertidur.
Entahlah...
Entah mereka yang berhenti berbicara dan bercanda atau mungkin aku yang sudah terlalu jauh dalam tidurku.
Bersambung...
__ADS_1
^^^14 agustus 2022^^^
^^^Wida Pitriyani^^^