
Hari ini tidak ada kegiatan apapun yang kulakukan hanya berdiri di balkon kamarku lalu semilir angin pagi hari yang sejuk ini menyentuh wajahku, mataku teralihkan ke sebuah tangkai bunga mawar yang layu.
"Hah.., bunganya layu"
Aku mengambil gembor dan menyiram bunga mawar yang hampir mati itu. Disaat aku sibuk menyiram tanamanku mataku melihat mbok didekat pagar rumahku, mungkin dia akan pergi karena penasaran aku pun memanggilnya.
"Mbok!" sang pemilik namapun mendongakkan wajahnya dan melirik ke arahku.
"Kah non?!... Aya naon?!"
"Mbok mau kemana?!"
"Ke pasar non"
"Ke pasar...?!" gumamku, aku sempat berpikir sejenak.
"Ada yang mau dibeli non?!"
"eum.. Mbok bakalan lama nggak dipasarnya?!"
"Kayaknya nggak non"
"Aku ikut mbok, aku siap-siap dulu sebentar "
"Ouh... Iya non"
Aku kembali masuk ke kamar untuk bersiap-siap dan tidak butuh waktu lama aku berlari keluar dari kamar dan juga menuruni tangga, disaat menuruni tangga aku berpapasan dengan mamahku.
"Kamu mau kemana?!" tanyanya.
"Ke pasar, sama mbok"
"Mau ngapain?! di pasar itu panas, bau, berisik lagi, udah kamu diem aja dirumah"
"Hah... aku kesana hanya sebentar, lagian aku nggak bakalan sampe berhari-hari kok disana"
"Ya-yaudah terserah kamu, tapi hati-hati dijalannya"
"Hm... Assalamualaikum"
"Waalaikummussalam"
Setelah itu aku pun melenggang pergi dari sana dan saat diluar aku melihat mbok yang setia menungguku, lalu aku pun berlari menghampirinya.
"Yuk mbok!"
"Iya non"
..._o0o_...
"Mang, cabe rawit setengah kilo berapa?!" tanya mbok.
"Dua puluh rebu bu!" jeda mang tukang sayur itu, lalu matanya melirik kearahku dan mbok yang datang menghampiri dagangannya.
"Sok lah dipilih-dipilih murah meriah bu, tuh saleugeur keneh!"
"Mang ini sekilo berapa?!" tanya pelanggang yang lain.
"Tiga puluh rebu"
"Ihh.. Kok mahal banget si mang?!" sela ibu-ibu yang lain.
"ihh... Atuh bu, da udah dari sananya mahal"
"Pokok namah 20 rebu"
"Eh.. Si ibu, atuh tekor abi bu!"
Kalau dipikir-pikir ternyata pasar swalayan itu lebih ramai dibandingkan dengan mall yah.. Bagaimana tidak, perbedaannya pun terlihat jelas.
Jika di Mall kita tidak akan mungkin bisa ubtuk melakukan tawar menawar seperti ini, sedangkan disini antara pembeli dan penjual mereka tidak mau mengalah satu sama lain.
"Heh de! bisa sedikit geser nggak?! jangan disini kalau nggak mau belanja mah, nyempitin tempat ajah" sindir ibu-ibu bertubuh gempal itu.
Mataku seketika berdenyut-denyut dengan apa yang ibu-ibu itu katakan dan pada akhirnya aku mengalah bahkan lebih memilih untuk meninggalkan tempatku, hanya untuk ibu-ibu yang cantik, menawan dan baik hati itu.
Dan lagi ada satu tempat yang menarik perhatianku, tanpa ba-bi-bu aku pun menghampiri tempat itu.
"Bang! kue cubitnya berapa?" tanyaku.
"Seribu neng!" untuk sesaat aku sedikit termangu karena harganya sangat murah.
"Saya beli 10"
"Asiap neng!"
Lalu beberapa menit kemudian mang pedagang kue cubit itu pun telah menyelesaikan pesananku.
__ADS_1
"Ini neng!"
"Jadi sepuluh ribu ya mang..?" tanyaku memastikan.
"Iya neng. Jadi sepuluh ribu!"
Aku memberikan uangku pada pedagang kue cubit itu dan setelah memberikannya aku pun berjalan untuk menghampiri mbok sambil memperhatikan kresek yang berisi kue cubit itu, dan tiba-tiba...
DUKK...
Aku tidak sengaja menabrak punggung seseorang.
"Ah... Maaf saya nggak sengaja" ujarku.
Lalu dia membalikkan badannya, dan ternyata dia adalah Putri, orang yang kuselamatkan 2 hari yang lalu.
"Loh.. Zahwa! kamu kok ada disini, sama siapa emang?!" tanyanya sambil celingak-celinguk.
"Sama mbok" jedaku sekilas.
"Kamu..?"
"Oouh kalau aku sih sama..."
"Put cepet dong! Panas nih" sela seorang lelaki yang datang dari belakang putri.
"Eh, Zahwa kamu disini juga?! ngapain?!"
"Iya, aku cuma..."
"Beli laki... Ya belanja lah bang! orang ke pasar itu buat belanja, dasar malah nanya yang nggak penting" sela putri.
"Apaan si main nyambung ajah udah kayak kabel tahu nggak?!"
"Udah keyek kabel tahu nggak?!" ejek putri.
Disela-sela pertengkaran mereka mataku terarahkan ke seorang gadis kecil yang menangis dipinggir jalan, aku pun menghiraukan mereka berdua yang bertengkar itu dan memilih untuk menghampiri gadis kecil itu.
"Adek, kamu kenapa?!" tanyaku.
"Ibu, Hiks... Hiks... Ibu" ucapnya dengan nada sesenggukan.
"Emang ibunya kemana...?"
"Nggak tahu.."
Dengan ragu-ragu gadis kecil itu menganggukkan kepalanya dan aku pun memberikan 2 kueku padanya.
Aku sempat sedikit terkejut karena dia memakannya dengan lahap, mungkin dia dari tadi menangis tapi. Kenapa tidak ada yang menolongnya, menenangkannya, ataupun sekedar menghampirinya.
"Wah! anak siapa ni? anak kamu ya Wa?!" tanya putri yang tiba-tiba ada disampingku, mendengar itu aku pun berdecak kesal.
"Apaan si dia dari tadi nangis... Katanya juga kesasar" jedaku sekilas.
"Dia itu kepisah dari ibunya"
"Oouh biasa aja kali, aku juga tahu kok ya kali ini anak kamu"
"Yaudah kita cari tempat duduk yang teduh dulu, disini panas" saran kak rido, mendengar itu aku pun mengangguk dan menggandeng tangan gadis kecil itu.
..._o0o_...
"Kamu mau lagi?!" tanyaku.
Bukannya menjawab tapi dia malah diam membatu aku pikir mungkin dia masih lapar tapi dia malu mengakuinya, aku pun memberikan semua kueku padanya dan dia kembali tersenyum lalu memakannya dengan lahap.
"Nama kamu siapa?!" tanya kak rido.
"Ti-tiara" jawabnya.
"Namanya bagus" ujarku dan kak rido serempak.
Mataku melirik ke arahnya lalu tiba-tiba dia mengalihkan pandangannya dan berdeham sendiri, seakan-akan ada sesuatu yang menyangkut ditenggorokannya.
Untuk sesaat keadaan malah berubah menjadi canggung dan untuk menghilangkan rasa canggung ini, aku pun mengajak gadis kecil itu untuk mengobrol.
"Tiara kelas berapa?" tanyaku.
"Kata mamah sih, Tia kelas 1 SD"
"Ouh..., tapi lok bisa pisah dari mamah?!"
"Nggak tau kak, soalnya tadi itu aku lagi liat ikan. Eh.. Pas liat kesamping mamah udah nggak ada"
"Lain kali kalau kepasar atau ketempat yang ramai itu kamu jangan lepasin tangan mamah kamu yah, kamu nggak mau kan pisah dari mamah kamu lagi?!"
"Nggak mau kak"
__ADS_1
"Awas! Kamu harus ingat yah" gadis kecil yang ada dilahunanku pun menganggukkan kepalanya.
"Kak makasih yah" mendengar itu aku pun mengerutkan keningku.
"Makasih buat apa?"
"Makasih karena udah nasehatin aku, soalnya kata mamah kalau ada orang yang nasehat baik sebisa mungkin harus diterima" jedanya sekilas.
"Karena itu pun untuk kebaikan kita"
Aku sedikit tersentak dengan jawabannya dan jujur saja aku merasa... Iri pada anak kecil yang ada dilahunanku ini.
Karena masa kecilnya sekarang dipenuhi oleh didikan positif dari orang tuanya lain halnya denganku.
Saat aku masih seumurannya setiap harinya selalu dipenuhi oleh tuntutan, ancaman, bahkan perkataan toxic dari orang tuaku.
Meski sekarang mereka sudah meminta maaf padaku dan meski sekarang aku selalu berusaha untuk melupakannya, tapi tetap saja bayang-bayang itu selalu saja datang dan menghantuiku.
Tanpa kusadari air mataku turun dengan sendirinya aku tidak bisa menahannya lagi, aku pun menyembunyikan kepalaku dibelakang gadis kecil itu dan menangis dalam diam.
"Tiara!" samar-samar aku mendengar suara seorang wanita yang berteriak memanggil nama gadis kecil ini.
"Mamah.." aku sedikit tersentak dengan apa yang dia ucapkan.
"Mamah!" teriaknya, lalu melepas paksa tanganku yang melingkar diperutnya, gadis kecil itu berlari menghampiri mamahnya dan memeluknya.
Dengan kasar, aku berdiri dari tempat dudukku dan aku melihat mamahnya itu memeluk bahkan mencium semua area wajah gadis kecil itu.
Sungguh bagi orang lain yang melihatnya mungkin itu adalah pemandangan yang sangat indah dan penuh haru.
Namun lain halnya denganku yang justru merasa setiap kecupan dan kehangatan yang diberikan oleh ibu itu, bagaikan sebuah pisau yang mengiris-ngiris hatiku.
"Andai aku juga bisa merasakan hal yang seperti itu" gumamku dengan sangat pelan, tidak lama setelah itu aku melihat ibu itu menghampiriku lalu dengan cepat aku pun mengusap kedua mataku.
"Terimakasih yah nak dudah menolong saya" mendengar itu aku hanya tersenyum simpul.
"Kalau begitu saya pamit yah..!"
Lagi-lagi yang aku lakukan hanya bisa tersenyum dan ibu itu pun lalu membalasnya dengan senyuman juga, lalu setelah itu beliau pun berlenggang pergi meninggalkan aku dan kak Rido.
Setelah kepergian Tiara dan mamahnya tidak lama setelah itu Putri datang menghampiri kami berdua.
"Loh.. Wa! kamu kok nangis?!" jedanya sekilas.
"Abang! gue kan udah bilang jangan buat Zahwa nangis!"
"Idih... Apaan si lo?! orang gue diem-diem aja dari tadi. Fitnah aja lo!" sarkasnya dengan memasang mata yang julid.
"Lah.. terus Zahwa kenapa bisa na.."
"Nggak kok" selaku, Putri lalu menatapku dengan bingung.
"Lagian lo dari mana aja si! beli minum ajah lama emang belinya dimana?" sewot kak Rido.
"Kayak yang beli keluar kota aja lo" gerutu kak Rido.
"Dih..! lu nggak tahu aja bang!. Perjuangan gue buat.."
"Hem..hem, serah ah!" sela kak Rido.
Disela-sela perdebatan mereka handphoneku tiba-tiba saja berbunyi, akupun menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan telpon itu.
"Hem.. ada apa mbok?"
"Non dimana? mbok cariin dari tadi tapi non nggak ketemu-ketemu..!"
"Mbok sekarang dimana?"
"Ih... Si non mah, mbok nanya non malah balik nanya. kumaha ieu teh...?!"
"Yaaa yaaa..! kita ketemuan dipangkalan ojeg yang tadi ajah ya mbok, okeh?!" jedaku sekilas.
"Assalamualaikum"
"Eh..?! non.."
Tanpa mengatakan apapun lagi aku pun menutup panggilannya secara sepihak "Aku pulang duluan, assalamualaikum" pamitku, sepintas aku melihat mereka yang menatapku cengo namun aku mengabaikan tatapan mereka.
"Wa-Waalaikummussalam" jawab mereka serempak, aku pun melenggang pergi meninggalkan mereka bahkan tanpa berkata-kata lagi.
Bersambung...
^^^20-01-2022^^^
^^^Wida pitriyani^^^
Jangan lupa like🙃
__ADS_1