Story In July ( End )

Story In July ( End )
Hari ke - 4


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang sangat panas bahkan tenggorokanku pun terasa sangat kering, sangat!.


Aku berjalan meninggalkan kamarku untuk pergi ke dapur dan padasaat didapur aku membuka lemari es untuk mencari sesuatu yang dingin dan manis, namun naasnya tidak ada apapun disana.


Disana hanya ada sayuran dan buah-buahan, aku terlalu sibuk mencari lalu tiba-tiba ada yang memegang pundakku.


"Non...?!"


Setelah itu terdengarlah suara 'Bruggh' yang sangat keras, aku bahkan tersentak karena pucuk kepalaku terbentur ke bagian atas lemari es.


"Aduhh!!" ringisku, refleks aku mengusap-usap pucuk kepalaku yang terbentur tadi.


"Waduhh..! non nggak papa?!"


"Aduhh... Mbok jangan ngagetin aah" rengekku, tanpa berbalik untuk melihatnya dan malah kembali pada kegiatanku untuk mencari sesuatu yang sedang kucari.


"Yaa maaf non. Tapi emangnya non teh lagi cari apa?"


"Cari eskrim tapi kok nggak ada ya?!"


"Hah..?, bukannya udah dimakan sama non ya"


"Mbokk... Kalau udah aku makan nggak mungkin aku tanya sama mbok"


"Dimakan sama nyonya kali non"


Aku menghentikan kegiatanku dan menutup pintu lemari es itu, sambil menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar.


"Yaudah aku keluar sebentar"


"Mau kemana non?!"


"Bilang ajah ke mamah aku keluar sebentar.." jawabku singkat dan padat.


"I-iya non hati-hati ya non"


"Hen..." jawabku sambil berlenggang pergi.


..._o0o_...


Sepanjang jalan rasanya seluruh kulitku semuanya terbakar, bahkan aku yang berhijab saja rasa panasnya seakan membakar semua kulit kepalaku.


Beberapa menit kemudian akhirnya aku sampai di sebuah cafe, dari luar tempatnya sangat bagus dan lumayan sepi.


Aku pikir mungkin didalamnya juga bagus dan mungkin juga sepi, yah... Ku harap begitu.


Dikala aku membuka pintu cafe terdengarlah suara 'Kring' yang terdengar cukup nyaring ditelinga dan seketika ... Raut wajahku pun berubah dari yang awalnya bersemangat kini semangat itu hilang bagai ditiup angin.


"Pantes diluar sepi, toh... Orang-orang pada pindah ke dalam" gumamku.


Aku mencari tempat yang kosong sambil memilih tempat yang sedikit jauh dari hiruk pikuk keramaian, mataku sibuk menjelajah kesemua ruangan yang cukup luas itu dan pada akhirnya aku memilih meja yang ada di pojokan, disaat aku mendudukan bokongku seseorang tiba-tiba saja  menghampiriku.


"Mau pesan apa kak?!"  tanya waitress yang menghampiriku tadi.


Kakak waitress yang ada dihadapanku itu memanggilku kakak padahal umurku baru 13 tahun, sedangkan kakak waitress yang ada didepanku itu mungkin sekitar 19 tahun ke atas.


Yah... Tidak aneh juga, toh akunya saja yang memiliki tinggi badan diluar seumuranku. tapi tetap saja.. Tidak nyaman.


"Eum.. Disini ada ice cream nggak kak?"


"Ya jelas ada dong kak.." jedanya sekilas.


"Ada banyak" jawabnya.


"Kalau... Ice cream oreo ada?!"


"Ada kak"


"Ice cream oreonya satu"


"Baik kak..." jedanya sekilas lagi.


"Eum... Ada lagi?!"


"Udah itu ajah"


"Dimakan dimana kak?!"


"Disini" mendengar itu kakak itu pun melenggang pergi.


Beberapa menit kemudian pesananku datang tanpa ba-bi-bu lagi aku pun langsung menyantap ice cream itu.


Rasa ice cream itu sangatlah manis dan lembut, ouh yah. Diantara semua jenis makanan aku paling suka makanan yang manis.


Dan.. Berbicara soal makanan, aku akan sedikit menceritakan kisahku dan keluargaku.


Apa kalian tahu? diantara keluargaku akulah yang paling suka dengan yang makanan yang memiliki rasa manis.


Dan ya... Aku sangat mengenal karakteristik mereka, ayah paling suka yang rasanya asin sedangkan ibu paling suka dengan yang rasanya asam. 


Terkadang aku merasa aneh sendiri bukankah anak selalu ada kemiripan dengan salah satu orang tuanya?! Tetapi.. Aku berbeda dengan mereka.


Setiap kali aku memikirkannya selalu terbesit pemikiran konyol dan bahkan sangatlah mengganggu, terkadang aku selalu berprasangka bahwa aku bukan anak mereka.


Hahah lucu yah..


Tetapi.. Aku selalu menepis semua prasangka yang tidak berfaedah itu dan kalaupun dugaanku itu benar, itu tidak mungkin.


Dan.. ouh yah, ini tentang kedua orangtuaku jika kalian ingin tahu tentang kisah hidupku, ketahuilah itu tidak enak didengar.


Dari sejak aku kecil, mereka tidak pernah ada dirumah mereka jarang sekali ada waktu untuk mengurusku, jangankan mengurus. Untuk bermain dan mengajariku tentang banyak hal saja sepertinya mereka tidak peduli.


Aku selalu sendirian dan hanya mbok yang selalu mengurus, mengajakku bermain dan membantuku dalam mengerjakan soal pekerjaan rumah yang diberikan oleh guruku di sekolah.

__ADS_1


Dan disaat pembagian rapot aku mendapatkan nilai terendah di sekolah, lalu papah dan mamah marah besar padaku mereka bilang kalau aku membuat mereka malu.


Lalu setelah itu papah dan mamah memberikanku guru les, tidak sampai disitu. Mereka bahkan menuntutku untuk selalu menjadi siswa yang terbaik di sekolah bahkan aku dilarang untuk mempunyai teman karena mamah bilang.


"Buat apa kamu punya teman hah?!, mereka cuma bisa membuang waktu kamu dan mengganggu konsentrasi belajar kamu, kamu itu harusnya belajar!, bukannya main! cepet pulang!!" teriak mamah.


Lalu mamah menarik tanganku dengan kasar, menarikku untuk meninggalkan teman-temanku yang saat itu sedang bermain denganku.


Aku hanya bisa menurut dan malangnya lagi selama di sekolah murid-murid lain selalu membicarakanku, entah itu sombonglah, sok cantiklah, sok pintarlah dan masih banyak lagi.


Akan tetapi aku selalu bersikap masa bodo, yah.. Untuk apa mendengarkan perkataan mereka yang tidak berguna itu.


Dan... Ada masanya aku berada dititik puncak tepatnya ditahun-tahun kemarin, disaat kenaikan kelas 2 SMP aku sengaja menurunkan peringkatku, karena aku sudah mulai muak dengan sikap mereka.


Disaat aku sampai di depan pintu rumah aku melihat papah dan mamah sudah menungguku di sofa ruang tamu, dengan mata yang melirik tajam kearahku dan tatapan mereka seperti elang yang menatap mangsanya.


Ayah lalu berdiri dan menghampiriku kemudian mengulurkan tangannya, tidak... Bukan bermaksud memintaku untuk mencium tangannya, tapi lebih tepatnya dia menginginkan rapotku.


Aku membuka tasku dan memberikan barang yang sudah pasti dia inginkan, lalu disaat dia membukanya dia membelalakkan mata lalu membantingkan rapotku dengan kasar.


"Dasar tidak berguna!!, lalu untuk apa papah memberikan guru les buat kamu, kalau kamunya ajah nggak becus!"  teriak ayah yang meraung raung kearahku.


Mamah yang tadinya sedang duduk manis di sofa, merasa terkejut dengan sikap papah lalu berdiri dan menghampiri kami berdua.


"Kenapa pah?! kok marah-marah" Tanya mamah.


"Anak kamu tuh, nilainya turun! dan dia mendapatkan peringkat ke dua di sekolah"


"Hah?!..." teriak mamah.


"Apa-apaan kamu ini Zahwa?!, kamu niat nggak sih sekolahnya kok bisa nilai kamu jadi turun?!" bentak mamah.


"Jangan salahkan orang lain salahkan diri sendiri!" papah menjeda ucapannya, lalu tiba-tiba saja ayah menyunggingkan mulutnya


"Makanya... kalau didik anak itu yang bener!, jangan terus mementingkan pekerjaan sampai lupa anak sama suami sendiri lagi. Parah..!" sindir papah.


"Apa kamu bilang mas? Kok kamu jadi nyalahin aku sih, aku kan udah berusaha jadi istri yang baik!"


"Berusaha?, berusaha dari mana, hah?! kamu selalu saja sibuk dengan pekerjaan salonmu itu." jeda papah sekilas.


"Kamu! nggak pernah ada waktu untuk aku ataupun Zahwa, jangankan untuk ngurus Zahwa. Ngurus aku aja kamu nggak becus!!" teriak papah sambil menunjuk-nunjuk kewajah mamah.


"Cukup mas!.." teriak mamah sambil mengarahkan telunjuk didepan wajah papah.


"Kamu disini juga ikutan salah! kamu selalu memprioritaskan pekerjaan kamu. jadi, jangan salahkan aku!, jika aku juga berbuat hal yang sama denganmu." jeda mamah sekilas.


"Dan yah.. Apa kamu bilang? aku nggak pernah ada waktu untuk Zahwa. Nggak ngaca kamu mas! Kamu juga ikut salah dalam mendidik anak!!" teriak mamah yang tidak mau kalah dalam meneriaki.


Aku berjalan melewati mereka dengan pandangan kosong sedangkan emosi yang selama ini selalu aku tahan mulai berkobar mencoba keluar dari dalam diriku,  aku tidak mendengarkan perkataan mereka yang saling menuduh dan saling meneriaki, lalu setelah itu...


"Diaam!!!" raungku dan..


'Prankk' suara vas bunga yang aku benturkan ke permukaan bagian atas meja tamu dan sebagian serpihan kaca itu mengenai dahiku.


"*Kalian nggak cape hah?!" bentakku.


"Kalian itu selalu aja bertengkar, bertengkar, bertengkar. Kalian nggak cape apa? Aku aja yang lihat kalian muak tahu nggak*?!"


Setelah itu merekapun seketika berhenti bertengkar dan rumah yang tadi terasa bising karena mereka yang saling meneriaki pun berubah menjadi hening.


Mereka melirikku dengan raut wajah yang bercampur aduk mulai dari terkejut dan juga khawatir, mereka mungkin terkejut dengan apa yang aku lakukan saat itu atau mungkin mereka juga khawatir dengan keadaanku saat itu.


Aku tertawa dan tersenyum miris lalu memegang dahiku dengan tangan kananku yang masih menggengam vas bunga, bahkan sebagian bawahnya sudah pecah karena ulahku tadi.


Perihnya luka yang ada didahiku tidak sebanding dengan luka yang ada dihatiku, yah... Mungkin ini yang orang-orang katakan kalau luka bathin lebih perih dibanding dengan luka fisik.


"Apa kalian tidak sadar?" jedaku sekilas.


"Semakin kalian saling menyalahkan, maka semakin membuktikan bahwa kalian tidak ingin disalahkan" ucapku dengan wajah yang melankolis.


"Apa kalian tidak sadar?" tanyaku lagi dengan mimik wajah yang datar, tanpa mempedulikan rasa perih yang ada di dahiku.


"KALIAN BERDUALAH YANG SALAH!" bentakku dan membuat papah dan mamah terperenjat karena kaget.


"Kalian tidak pernah  ada waktu buat aku, kalian..." jedaku sekilas lagi.


"Tidak pernah menghargai kerja kerasku bahkan kalian selalu saja memaksaku untuk terus belajar, belajar dan belajar!"


Papah dan mamah hanya diam membisu sedangkan telinga mereka terus mendengarkan setiap kata yang kulontarkan.


"Kalian selalu saja mengatakan bahwa kalian melakukan itu untuk kebaikanku. Sekarang aku tanya, kebaikan dari mana, hah?!"


"Jika cara kalian saja memperlakukanku bagaikan sebuah hewan yang harus tunduk dan patuh pada tuannya. Aku bukan boneka yang bisa kalian kuasai dengan sesuka hati!"


"Aku ini manusia mah! pah!, aku ini manusia. Aku tidak bisa untuk terlihat selalu sempurna dan aku pun masih punya hati!" 


Aku memberikan jeda pada ucapanku dan menghirup nafas dengan rakus, sungguh sangatlah perih jika aku mengatakannya lebih jauh akan tetapi aku tidak tahan lagi dengan penderitaan yang ku alami selama ini.


"Dan lagi, jika kalian ingin tahu sebenarnya aku capee mah, pah. Aku cape, aku cape!! selama bertahun-tahun aku selalu melakukan apa yang kalian mau!"


"Tapi apa, apa yang kudapat?!" 


"Semakin aku menuruti kemauan kalian, maka semakin meraja rela kalian mengendalikanku!" tandasku.


Dengan dada yang naik turun, dan setiap kata yang kuucapkan selalu mengalirkan cairan bening dari mataku.


Hening...


Keadaan berubah menjadi sangat hening bahkan cukup lama kami tetap berada dalam keadaan itu, hingga akhirnya mamah pun mulai mengatakan sesuatu.


"Sa-sayang maafin mamah nak, mamah tahu mamah salah. Tapii.." jeda mamah sekilas.


"Lihatlah dulu d-dahimu itu!" lirih mamahku dengan terbata-bata, lalu melangkah satu langkah depan ke arahku.

__ADS_1


"Jangan mendekat!" bentakku tiba-tiba sehingga membuat mamah seketika terperenjat karena kaget.


"Jangan ada yang mendekat!!" ancamku sambil menodongkan vas bunga yang masih ku genggam itu.


Dengan sigap, papah maju kedepan menghampiri mamah dan merangkulnya.


"O-okeh, okeh. Kami tidak akan menghampirimu tapi turunkan vas itu wawa..!" lirih papah, dengan tangan yang masih merangkul mamah lalu setelah itu papah dan mamah mengambil langkah mundur.


"Hehe.. Untuk pertama kalinya aku melihat wajah khawatirmu pah, kenapa kau memadangku dengan wajah yang seperti itu? apa kau takut. Jika aku..."


"Wawa!/Sayang!" teriak papah dan mamah bersamaan, namun dengan panggilan yang berbeda-beda.


Mereka berteriak dikala aku bermain-main dengan vas bunga yang ada digenggamanku serta menggores-goreskannya ke area denyut nadiku.


"Zahwa! kamu jangan melakukan hal yang bodoh, jangan kamu kira dengan melakukan ini maka semuanya berakhir!" teriak papah histeris.


"Cukup sayang, cukup... Maafin kami nak, kami tahu kami salah tapi jangan menghukum kami dengan cara yang seperti ini" lirih mamah.


"Aku bingung dengan kalian berdua, apa kalian memang benar-benar menyanyangiku atau kalian ingin aku tetap ada agar aku melakukan apa yang kalian mau, dan pada akhirnya kalian akan mendapatkan pujian dari orang-orang"


"Aku tanya satu kali lagi pada kalian, apakah perkataanku itu benar?" tanyaku dengan mata yang berkaca-kaca.


Hening...


Lagi-lagi hanya ada keheningan waktu itu tidak ada yang membuka mulut hanya sekedar untuk berbicara, bahkan tidak ada yang menjawab pertanyaan yang ku lontarkan pada mereka.


Mereka hanya mematung, mereka hanya berdiam diri bagaikan seorang tuna rungu dan lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum miris meratapi betapa malangnya hidupku karena memiliki orang tua yang hanya memikirkan diri mereka sendiri.


"Kenapa? kenapa kalian berdua diam?, aku tanya, benar atau tidak!" teriakku.


"Iya... Benar!!"  jawab papah dengan nada membentak.


"Tapi itu dulu. Untuk sekarang papah tidak akan memaksa ataupun menekanmu lagi" lanjut papah.


"Bohong. Aku tahu kalian pasti berbohong" jedaku sekilas.


"Aku tahu manusia-manusia seperti kalian tidak akan pernah merasa puas! dan manusia yang sekali berbohong akan tetap berbohong"


"Apa kalian tahu? KALIAN BERDUA ITU EGOIS TAU NGGAK?!, egois. Kalian egoiss!!"


Aku pun terduduk dengan kasar dilantai yang dingin, seluruh tubuhku rasanya lemas dan darah dari dahiku semakin banyak bahkan semakin mengalir tanpa henti, sehingga wajahku sepenuhnya hampir ditutupi oleh darah.


"Egois... Kalian egois. Egois!" lirihku, aku terus mengatakan itu dengan pandangan kosong.


Lalu tiba-tiba ada yang mencengkram vas bunga yang ku genggam, lalu menariknya secara kasar dan membuang vas bunganya kesembarang arah.


Tangan kekar itu menarik tubuhku kedekapannya dan memelukku dengan erat bahkan sangat erat, disela-sela itu samar-samar aku merasakan ada suatu getaran dari tangannya.


"Wawa.... Maafin papah nak" jedanya sekilas.


"Papah salah" lirihnya sambil mengelus-elus kepalaku dan entah berapa kali dia mencium pucuk kepalaku.


Lalu disusul dengan pelukan hangat lain yang datang menghampiri dan pelukan itu datang dari arah belakangku, yah.. Pelukan itu diberikan oleh mamahku.


"Maafin mamah juga sayang..." lirih mamah.


Mereka melepaskan pelukan mereka lalu melihat wajahku sedangkan aku melihat mata mereka membulat sempurna dan aku tidak tahu mereka mengatakan apa lagi.


Karena yang aku rasakan ada sesuatu yang keluar dari hidungku, disusul dengan rasa pusing dan rasa lemas yang semakin menjalar diseluruh tubuhku, kemudian semuanya menjadi gelap gulita.


Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu, yang aku tahu disaat aku terbangun tiba-tiba aku berada di rumah sakit.


Dan dari sejak itu mereka merubah sikap mereka terhadapku, mereka berubah menjadi sosok yang lebih perhatian, lebih memberikan kebebasan namun aku tetap diawasi dan bahkan mereka tidak menuntutku untuk selalu menjadi yang terbaik.


Namun... Dari sejak kejadian itu juga sikapku pun berubah, aku berubah menjadi orang cuek dan dingin terhadap mereka dan aku tahu itu salah.


Akan tetapi untuk sekarang aku ingin seperti ini, dan mereka memaklumi tindakanku meski terkadang mereka mengeluh padaku.


Namun keluhan mereka hanya bagaikan angin lalu bagiku, aku kejam?! aku tahu...


Tapi kalian pasti tahu kaca yang sudah hancur akan sulit untuk diperbaiki bahkan jika diperbaiki pun goresan-goresan yang rusak akan tetap terlihat.


Dan seperti itulah aku yang kini sudah hancur dan mereka kemudian memperbaikiku, tetapi itu percuma karena goresan-goresan itu akan tetap terlihat sampai kapanpun.


Aku menyendokkan sedokku kedalam mangkuk eskrim-ku, namun ternyata eskrim-ku sudah habis padahal rasanya baru sejak tadi aku memakannya.


Mataku kini melihat kesekeliling ruangan cafe ini dan disini terlihat begitu banyak orang yang berkumpul, aku mengaku aku benci keramaian namun aku membenci rasa sepi dan hampa ini.


Aku hanya ingin memiliki teman yang bisa menerimaku apa adanya dan aku ingin memiliki teman yang selalu ada untukku, kapanpun dan dimanapun itu.


Namun aku selalu sadar, bahwa tidak akan ada manusia yang menerima seorang manusia sepertiku.


Manusia yang akan bertindak seperti monster jika mereka membuatku marah, tidak akan ada dan aku selalu sadar itu tidak akan pernah ada.


Didunia ini tidak ada yang namanya teman sejati atau apapun itu karena itu hanya ada dalam cerita novel, cerita komik dan juga drama.


Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar lalu aku beranjak dari tempat dudukku, kemudian membayar harga eskrim yang kumakan tadi ke kasir.


Setelah itu aku melenggang pergi dari cafe itu dan lagi-lagi perasaan ini kembali muncul, perasaan yang walaupun aku berada ditengah-tengah hiruk pikuknya keramaian.


Namun aku selalu merasa bahwa aku bagaikan hidup sendirian di dunia ini, tidak ada canda tawa, tidak ada percakapan ringan, atau apapun yang selalu orang-orang lakukan.


Tapi tak apa, karena aku sudah terbiasa.


Apa kalian tahu?


Hidupku justru bagaikan selembar kertas yang hanya berisikan kosong, putih dan datar.. Tidak ada yang menyenangkan, tidak ada warna, hampa. tidak ada apapun.


Bersambung...


^^^17 februari 2022^^^


^^^Wida pitriyani^^^

__ADS_1


Jangan lupa like 👇🥺


__ADS_2