Story In July ( End )

Story In July ( End )
Hari ke - 15


__ADS_3

"Zah kepala lo masih sakit nggak?!" tanya Amel.


"Nggak terlalu.."


"Tumben lo perhatian Mel, biasanya juga cuek." goda Putri sambil menyenggol-nyenggol lengan Amel.


"Yaa... Ini kan beda, kali ajah si Zah kena gegar otak gara-gara gue" elak Amel dengan santainya, tidak lama kemudian Amel mendapatkan pukulan dipunggungnya membuatnya terhuyung kedepan dan pelakunya tidak lain adalah Putri.


"Lo tega banget yah ngomong gitu! Lo tau nggak kalau ucapan itu adalah doa" sarkas Putri sambil mengadahkan kedua telapak tangannya.


"Iya-in aja dah.. Soalnya kan beda kalo ngomong ama orang yang udah mulai belajar ilmu agama" mendengar perkataan Amel aku pun refleks menatap ke arah Putri, yang ditatap malah memalingkan wajahnya dan menutup wajahnya dengan satu tangan.


"A-apaan sih yaa baguskan?! Soalnya nyari ilmu itu kan wajib, lagian juga kan nggak ada batas umur"


"Belajar dimana?" tanyaku, beberapa saat kemudian aku mengerutkan keningku karena tidak biasanya aku tertarik dengan urusan orang lain.


"Nggak kemana-mana sih, cuma belajar dirumah" jedanya sekilas, aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku, lalu Putri mengatakan sesuatu diluar dugaanku. "Itupun diajarin sama abang"


Seketika aku membelalakkan mataku dan melirik kearah Putri dengan mata yang masih terbelalak sempurna, yang dilirik pun melihatku dengan tatapan heran karena malihat reaksiku yang seakan tidak percaya.


"Nggak nyangka banget kan?" godanya sambil mengacungkan telunjuknya diwajahku.


"Sebenarnya sih waktu abang masih duduk dibangku SD, abang sekolah sambil nyantri tapi tahun kemarin abang nggak lagi nyantri" 


"Kenapa?"


"Ada deh! Hehehe"


"Itu tandanya abang lo itu pinter! Nggak kayak lo ¹Lemot!" ejek Ame, dengan penekanan kata diakhir kalimat.


"Apaan sih! Denger yah gue itu paling nggak suka dibanding-bandingin" sentaknya.


"Walaupun udah biasa si.." cicitnya.


Sepintas aku melirik wajahnya untuk sesaat aku tertegun melihatnya, karena ekspresi diwajahnya begitu masam.


Selama di koridor sekolah kami berjalan beriringan tak terasa kami sudah berada didepan kelas, kami pun berjalan ke arah bangku kami masing-masing dan tentu saja Putri masih sebangku denganku sedangkan Angga masih sebangku dengan Amel.


Namun ada satu hal yang mengganggu pikiranku, kenapa hama itu belum masuk kelas? Karena biasanya dia yang selalu datang lebih awal.


Tidak lama kemudian suara bel masuk sudah berbunyi dan semua murid disekolahku pun berhamburan masuk ke kelas mereka masing-masing. Bersamaan dengan itu Bu cici pun masuk kedalam kelasku beliau adalah guru matematika sekaligus wali kelas kami, yah... Sarapan pagi pun telah dimulai.


..._o0o_...


Waktu berjalan bagai air yang mengalir tidak terasa kini sudah waktunya pulang dan yah ada yang mengejutkan untuk hari ini, hama itu.. Ah ralat maksudku Angga.


Dia tidak sekolah hari ini yah.. Baguslah karena kejadian kemarin kepalaku masih sangat sakit, setidaknya dengan dia tidak sekolah aku dapat merilekskan kepala, otak, pikiran, atau apalah hem.. Mungkin aku bisa merilekskan semuanya yang ada dalam diriku.


"Zah lo kesambet apaan. Dari tadi lo senyam-senyum, senyam-senyum sendiri jadi merinding gue liatnya" celetuk Amel, lantas aku menatap Amel dengan tatapan heran emang kapan aku senyam-senyum?, pikirku.


"Kenapa lo liat gue kayak gitu? Jangan bilang lo nggak sadar yah kalo lo dari tadi senyam-senyum sendiri" ocehnya lagi.


"Yaa biarinlah Mel. Jarang-jarang loh bisa liat Zahwa senyam-senyum kayak tadi. Mungkin aja dia lagi kasmaran dana!" timpal Putri.


"Ouh iya juga ya, kenapa gue nggak kepikiran kesitu" jedanya, lalu Amel menyimpan tangannya dibahuku.


"Nah.. Jadi gimana?" tanyanya.


"Maksud?" tanyaku.


"Yaelah... Masa lo nggak peka si" geramnya sambil memukul bahuku dengan keras saking kerasnya, bahuku yang dipukul olehnya bahkan terdorong kedepan.


"Ish.. Apa sih" risihku.


"PJ!"


"PJ?" beoku.


"Pajak Jadian Maemunah!" aku hanya mengerutkan keningku apa maksudnya? Hanya itu yang ada dalam pikiranku.


"Lo itu katro, lemot, atau kudet sih masa iya PJ ajah kagak tahuu!" geram Amel bahkan saking gereget nya bahkan dia rasanya ingin mencakar-cakar wajahku.


"Mel sebenarnya dia itu masih polos mana tahu hal yang begituan. Meskipun dia sekelas ama kita ya tetep ajah dalemnya kan dia masih anak kencur" ujar Putri dengan mata yang sibuk dengan handphonenya.


"Bener juga sih maaf ya dek. Kakak udah salah sama kamu" ujar Amel sambil menepuk-nepuk pucuk kepalaku.


"Ish.. Apaan si" risihku sambil menyingkirkan tangannya dari pucuk kepalaku.


"Ya wajarlah aku nggak tahu, dari dulu juga aku nggak pernah gaul apalagi punya temen" 


"Kenapa?" tanya mereka bersamaan.


"Dilarang" jawabku dengan mata yang melirik kearah lain.


"Maksudnya? Gue nggak ngerti deh Zah" sahut Amel, seketika aku pun langsung menghela nafas dengan kasar.


"Udahlah.. Anak kecil mana paham. Bye!" tanpa berkata-kata lagi aku langsung memasuki mobil dan menutupi pintu.


"Heh! Zah keterlaluan ya lo! Lo yang bocil enak aja lo manggil gue bocil" sentak Amel diluar mobilku.


"Heh keluar lo! Denger yah dari dulu gue belum pernah dipanggil bocil ama siapapun. Keluar lo!" sentak Amel dari luar, aku hanya terkekeh lalu tersenyum dengan penuh kemenangan dan juga dengan memperlihatkan jari tengahku padanya.


Amel yang melihat itu sontak membelalakkan matanya bahkan dia berusaha membuka mobil, namun hasilnya nihil karena aku dengan sigap langsung mengunci pintu mobil.


"Jalan mang!" sorakku dengan padangan yang masih melirik kearah luar jendela, bukannya menghidupkan mobil mang Ujang malah melongo melihat tingkahku dari kaca sepion mobil yang menghadap kearah jok bekakang.


Karena merasa mobilnya tidak segera melaju lantas aku pun melirik ke arah mang Ujang "Mang jalan!" pekikku.


Mang Ujang seketika tersadar dan dengan segera mang Ujang menghidupkan mobil lalu melajukannya, aku terus melirik ke belakang terlihatlah Amel yang memberikan jari tengahnya padaku.


Seketika tawaku pun pecah melihatnya yang seperti tadi, jujur saja aku tidak pernah menyangka bahwa menjahilu oranglain bisa semenyenangkan ini.


Aku menyeka ujung mataku yang sedikit mengeluarkan air mata bahkan perutku rasanya sakit, aku memperbaiki posisi dudukku serta memperbaiki jilbabku di kaca sepion, lalu secara tidak terduga mataku dan mata mang Ujang saling bertemu.


Mang Ujang melongo melihatku, namun beberapa kali mata beliau tetap fokus kedepan dengan berani aku bertanya padanya.


"Kenapa mang?"


"Eng-nggak non. Mang cuma kaget ajah baru kali ini mang Ujang liat non Zahwa ketawa" aku mengerutkan keningku.


"Emang iya?"


"Iya neng... Dari dulu setiap pulang sekolah non Zahwa cuma cemberut terus, kesannya itu kayak semua beban keluarga itu dipikul sama neng"


Memdengar itu lantas aku menyandarkan tubuhku pada jok mobil dan lalu aku menghembuskan nafasku dengan kasar namun juga lirih, jika dipikir-pikir memang benar.


Dari dulu aku jarang mengekspresikan diri bahkan jika bercanda dengan mbok pun, tidak pernah terbahak-bahak seperti tadi bahkan jika bercanda selalu mbok yang memulainya duluan.

__ADS_1


Mungkin kalian bisa membayangkan bagaimana rasanya seorang anak yang baru saja berumur 6 tahun sudah bertanggungjawab untuk terus menjaga martabat dan nama baik keluarganya dipundak kecilnya, miris bukan?!


Masa kecilku bukan dipenuhi oleh bermain maupun canda dan tawa seperti anak-anak yang lain, masa kecilku kuhabiskan hanya untuk belajar, belajar, dan belajar. Bagaimana dengan kalian? Apa kalian juga sama denganku?


Ckit...


Suara gesekan ban mobil dengan aspal rumahku, aku membuka pintu mobil lalu melangkahkan kakiku untuk masuk menuju rumahku.


Aku terus berjalan hingga tiba didepan pintu namun begitu aku membuka pintu dan aku disuguhkan dengan suasana rumah yang sudah tidak asing bagiku.


Yah.. Suasana ini sudah tidak aneh lagi bagiku karena aku sudah terbiasa, dengan malas aku melangkahkan kakiku untuk masuk kedalam dan begitu kakiku menaiki sebuah anak tangga tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggilku.


"Non Zahwa"


Refleks aku membalikkan badanku, terlihatlah mbok dengan tas besarnya. Melihatnya yang seperti itu lantas aku mengerutkan keningku, seolah mengerti mbok pun mengatakan sesuatu.


"No-non Zahwa, mbok mau izin pulang kampung soalnya adik mbok mau lahiran katanya" jedanya sekilas.


"Te-terus disana nggak ada yang nemenin, soalnya suaminya lagi merantau ja-jadi. Mbok mau disana dulu selama 1 minggu non, sama.. Anu itu.." mbok tampak ragu mengatakannya tentu aku tahu apa yang mbok butuhkan sekarang.


"Mbok.." panggilku sembari menuruni tangga dan menghampiri beliau.


"Mbok duduk dulu ajah, Zahwa mau keatas" pintaku, lalu mbok mendudukkan bokongnya di sofa meja tamu.


Sedangkan aku kembali menaiki tangga menuju kamarku untuk mencari sesuatu dilaci, setelah menemukannya aku keluar dari kamarku dan menuruni anak tangga lalu menghampiri mbok, setelah itu aku pun duduk bersebelahan dengan mbok.


"Mbok kemungkinan besar bakalan lama kalau nunggu mamah sama papah transfer, jadi..." jedaku sekilas lalu memberikan amplop coklat yang ada digenggamanku dan memberikannya pada mbok.


"Ini itu uang Zahwa tapi mbok pakai ajah, buat biaya bersalin, ongkos mbok pulang kampung, sama mungkin buat keperluan lainnya"


"Waduh... Nggak bisa gitu atuh non. Nggak bisa gitu ini kan uang bulanan milik non.." jedanya sekilas.


"Udah buat non ajah" tolak mbok sambil sedikit mendorong amplop coklat yang dipegang olehku.


"Udah mbok.. Terima ajah" paksaku sambil mendorong kembali amplop coklat itu.


"Lagian aku tinggal minta kan nanti sama mamah. Nih.." ujarku namun mbok tetap menolak karena merasa risih akhirnya aku pun mengambil tangan kanan mbok dan menyimpan amplop berwarna coklat itu ditelapaknya.


"Mbok! Nggak ada penolakan, udah terima ajah" ucapku yang mulai merasa kesal.


Dengan berat hati mbok menerimanya lalu beliau merangkulku dan menangis mungkin karena terharu, terkadang aku selalu bertanya-tanya kenapa orang-orang selalu memangis disaat mereka sedang bahagia?


"²Haturnuhun nyaa Non.. Udah bantuin mbok" ucapnya sambil sesenggukan, sedangkan aku hanya menganggukkan kepalaku lalu beliau melepaskan pelukannya denganku.


"Maafin mbok udah ngerepotin.."


"Nggak kok mbok, Mbok nggak ngerepotin" ucapku sambil tersenyum lalu kami pun beranjak dan melangkah beriringan sampai gerbang depan rumah.


Apa kalian tahu? Mbok terkadang sangat keras kepala, padahal aku sudah memaksa mbok untuk diantarkan sampai terminal oleh mang Ujang namun mbok malah menolak.


"Mbok pamit ya non. Assalamualaikum"


"Waalaikummussalam" jedaku sekilas.


"Mbok!" panggilku, mbok yang mau memasuki taksi pun seketika mengurungkan niatnya dan melihat kearahku.


"Hati-hati" mendengar itu mbok pun lantas tersenyum hangat dan menganggukkan kepalanya.


Setelah itu mbok masuk mobil dan menutup pintu, tidak lama kemudian taksi pun mulai melaju dengan kecepatan rata-rata dan perlahan mobil itu tidak lagi terlihat oleh kedua mataku.


..._o0o_...


Yah... Disinilah aku berada dengan tv yang menyala menayangkan sebuah film jackie chan dan tentu saja kalian pasti sudah tahu kan dengan film itu? 


Entah panggilan dari mana, tiba-tiba aku membayangkan cemilan dan makanan-makanan yang manis-manis mungkin hanya sekedar coklat atau apalah itu.


Dengan segera aku mencari jaket dan mengenakan hijab simpelku, yah... Lagi pula supermarket cukup dekat dari sini lantas aku mengambil kunci rumah dan mengunci rumah.


Dinginnya angin malam justru terasa sangat sejuk bagiku, jika saja mbok tahu aku keluar malam-malam mungkin beliau akan menceramahiku.


Sepanjang jalan aku berjalan dengan santai dan keadaan disini cukup mencekam, karena sisi kondisinya yang cukup gelap, sepi dan mungkin karena para penghuni kompleks disini sudah berada dalam mimpi mereka.


Tidak terasa kini aku berada dipinggir jalan aku menyebrangi jalan dengan hati-hati, lalu memasuki supermarket itu dan memilih cemilan yang ingin aku beli, setelah itu aku memberikannya ke kasir dan membayarnya.


"Terimakasih sudah berbelanja" ucap sang kasir itu dengan ramah, aku hanya menanggapinya dengan anggukan dan senyuman secara bersamaan.


Setelah itu aku berjalan keluar dan tiba-tiba saja terdengar suara seseorang yang memanggilku, lantas aku membalikkan tubuhku dan terlihatlah sosok yang satu hari ini tidak terlihat olehku.


"Angga" gumamku dengan keningku yang berkerut, sedangkan yang dipanggil malah tersenyum hangat kearahku.


"Eumm... Zah ada yang mau aku omongin."


"Nggak! Nggak ada yang harus diomongin, aku udah bilangkan aku nggak mau ada hubungan apa-apa lagi sama kamu" finishku.


Setelah megatakan itu aku pun melangkahkan kakiku berniat untuk pergi menjauh namun dia menjegatku dengan memegang pergelangan tanganku, beruntung jaketku panjang jadi tangan kami tidak saling bersautan.


"Zah dengar! Aku tahu itu... Tapi ini penting Zah! Please sekali ini ajah, setelah ini aku nggak bakalan ganggu kamu lagi" perlahan aku mulai merilekskan kembali mimik wajahku.


"Yaudah cepet! Aku nggak punya banyak waktu" ujarku sambil melipat tanganku didada.


"Eum... Kita duduk dulu yuk! Nggak enak diliatin banyak orang"


Seketika aku mulai tersadar lalu aku pun menganggukkan kepalaku satu kali setelah itu aku berjalan mengikutinya dibelakang, entah kenapa dia membawaku ketaman yang berada cukup dekat dengan kompleks.


Dia mendudukkan dirinya di kursi taman yang sudah disediakan, sedangkan aku justru berdiri cukup jauh dari jangkauannya melihat sikapku yang seperti itu lantas Angga membuang nafasnya dengan kasar.


"Zah aku mau jujur, sebenarnya besok aku harus kuliah diluar negeri"


Seketika aku membelalakkan mataku karena kaget bukan kaget karena dia akan jauh dariku melainkan hal yang lain, bagaimana bisa dia kuliah sedangkan kini bukankah dia masih sekolah SMA? itu yang aku pikirkan.


"Hah?" beoku aku tidak habis pikir dengan apa yang ada didalam pikirannya lalu dia kemudian mengatakan sesuatu yang tidak aku sangka-sangka.


"Se-sebenarnya aku udah lulus ditahun kemarin Zah. Tapi.. Karena aku tahu kamu pindah pada akhirnya aku ngikutin kamu kesini dan aku berniat buat dapetin hati kamu lagi Zah, niatnya aku mau ngajak kamu buat ikut aku keluar negeri kita sekolah bareng-bareng disana Zah"


"Angga! Kamu udah gila yah kamu... Aku nggak habis pikir sama jalan fikir kamu!" ucapku.


"Zah aku tahu kamu nggak mau pacaran sama aku jadi..." jedanya sekilas, lalu ia beranjak dari tempatnya dan berjongkok dihadapanku melihat sikapnya yang seperti itu lantas aku mengerutkan keningku.


"Angga kamu ngapain?" tanyaku.


Tanpa aku duga tiba-tiba saja dia mengeluarkan sebuah kotak cincin berbentuk love dan membukanya lalu memperlihatkan padaku, dengan posisi yang sama.


"Zahwa nur febrianita, will you marry me?" ujarnya, seketika aku sangat tertohok dengan apa yang ia katakan, apa dia bilang? Menikah?


"HAH!" teriakku tidak percaya bahkan dengan mulut yang menganga lebar, sungguh rasanya aku ingin tertawa mendengarnya.


"Angga jangan bercanda deh ini tuh nggak lucu" tekanku.

__ADS_1


"Aku nggak lagi bercanda Zah, aku serius. Yaah bukan menikah sekarang tapi nanti"


Sungguh rasanya sangat aneh disisi lain aku ingin tertawa dan disisi lain aku pun ingin sekali marah, katakan apa yang harus ku lakukan? Bolehkah aku tertawa dengan sikap konyol nya?


"Maaf Angga, aku nggak bisa. Please jangan ganggu aku lagi.." ucapku, lalu aku berjalan melewatinya namun tidak lama kemudian Angga malah berteriak kesal sambil mengusap rambutnya dengan kasar.


"Kenapa kamu egois Zah? Emangnya apa yang aku nggak punya dari Rido hah?!" mendengar itu seketika aku langsung menghentikan langkahku dan mengerutkan keningku lalu menatapnya dengan tatapan heran.


"Hah?" beoku.


"Jawab dengan jujur Zah, kamu suka kan sama dia?" tanyanya dengan nada yang ditekankan.


"Ini nggak ada hubungannya sama kak Rido" tukasku.


"Tuhkan..." jedanya sekilas.


"Kamu manggil  dia dengan sebutan kakak, sedeket itu yah kamu sama dia?"


"Udah cukup Angga! Intinya aku sama kak Rido nggak ada hubungan apa-apa" finishku dan lalu aku kembali membalikkan langkahku.


"Oouh jelas untuk sekarang mungkin belum. Tapi nanti mungkin akan lain, maksud kamu itukan?!" lagi-lagi aku menghentikan niatku untuk melangkah.


Dan kemudian aku memijit pelipisku yang terasa pening, rasanya tidak ada gunanya jika aku terus beradu argumen dengannya justru hanya akan semakin menambah asumsi saja.


"Terserah kamu mau nganggep apa, yang pasti aku cuma mau bilang JANGAN. GANGGU. AKU" tekanku.


Aku kembali membalikkan badanku dan mulai melangkah kan kakiku, namun tiba-tiba saja dia menahan lenganku dan mengeluarkan sebuah sapu tangan dari saku celananya disaat melihat itu perasaanku mulai terasa tidak enak.


"Angga kamu mau ngapain?!"


"Maaf Zah jika dengan cara baik-baik kamu tetap kayak gini. Aku nggak ada pilihan lain" mendengar itu aku pun menegerutkan keningku.


Tidak lama kemudian dia mulai mendekatkan sebuah sapu tangan itu ke hidungku, namun dengan segera aku langsung memberontak dan naasnya dia malah mengunci tubuhku. Sehingga aku tidak bisa melepaskan diriku darinya bahkan belanjaan yang kubeli tadi pun rusak karena terinjak-injak olehku.


Aku terus berusaha memberontak sedangkan dalam hati aku terus berdoa agar diberikan pertolongan, jujur untuk sesaat aku merasa putus asa karena disini begitu sepi dan mungkin akan sangat mustahil orang-orang melihatku.


Tidak lama kemudian terdengar suara 'BRUGH' yang terdengar begitu keras, ternyata itu adalah suara dari sebuah pukulan yang mendarat cukup keras di pipi kirinya Angga.


Seketika Angga terhuyung kesamping kirinya dan aku terjatuh tidak jauh dari Angga, dengan sigap aku segera berdiri dan berlindung dibelakang laki-laki yang memukul Angga tadi.


"Sial*n lo Rido! Jangan ikut campur urusan gua!" bentak Angga, lalu beranjak dari tempatnya.


"Brengs*k ya lo! Tega-teganya lo berbuat hal gila kayak gitu" bentak kak Rido.


"Terus kenapa hah! Lo jangan ikut campur!"


"Gue bakal ikut campur, mau gimanapun juga yang lo lakuin ini tuh salah!"


Seakan tuli Angga justru malah meraung kesal dan berlari kearah kak Rido dengan salah satu tangannya yang dikepal, dengan sigap kak Rido sedikit mendorongku untuk menjauh sedangkan tangannya menahan serangan pukulan yang dilayangkan oleh Angga.


"Sadar Angga, gue nggak mau nyakitin lo!" seakan tuli Angga justru malah berteriak kesal dan semakin melayangkan pukulannya.


"Banyak bacot lo bangs*t!" teriak Angga.


Perkelahian antara mereka terus terjadi, ouh tidak justru lebih tepatnya Angga lah yang lebih melayangkan pukulan demi pukulan kearah kak Rido.


Sedangkan kak Rido malah sibuk menghindar dan sesekali melayangkan pukulan kearah Angga, hingga tidak lama kemudian kak Rido tersungkur ditanah sedangkan Angga terus menyiksanya.


Tanpa ampun Angga terus menyiksa kak Rido yang walaupun mulai terbatuk-batuk, seakan belum puas Angga justru mencengkram kerah baju kak Rido dan memaksanya untuk berdiri.


"Bangun lo!" teriak Angga.


Dengan keadaan tubuh yang mulai melemah kak Rido berusaha untuk berdiri serta menatap Angga dengan tatapan tanpa ekpresi, aku melihat ada begitu banyak keringat yang bercucuran dari tubuhnya sungguh keadaannya sangatlah memprihatinkan.


Sekali lagi Angga hendak melayangkan pukulannya kearah sang lawan, namun sebelum itu entah kenapa tubuhku rasanya bergerak sendiri dan justru malah melindungi kak Rido dari pukulannya Angga.


Brugh....


Pukulan itu berhasil mengenai pipi kiriku bahkan aku sampai tersungkur kesamping kananku dan kepalaku mengenai kursi taman yang lain.


"Zahwa!" teriak kak Rido, lalu dia menghampiriku dan bahkan merangkulku


Aku meringis kesakitan karena area pipi kiriku sangatlah terasa ngilu bahkan kepalaku sangatlah sakit mungkin karena terbentur ke kursi taman itu, sepintas aku melihat Angga yang menatapku dengan tatapan tidak percaya bahkan dia mulai melangkah mundur.


"Zah.." lirihnya, aku pun melirik kearahnya.


"Kamu rela ngelakuin hal itu demi dia?!" aku tidak mempedulikan perkataannya dan memilih untuk mengusap ujung bibirku yang terasa sangatlah perih bahkan mengeluarkan sedikit darah.


"Zah jawab aku! Kenapa kamu rela ngelakuin itu?" bentak Angga, seketika aku dan kak Rido menatapnya dengan bersamaan.


"Aku nggak nyangka Zah, aku benar-benar nggak nyangka!" jedanya sekilas.


"Kenapa kamu rela terluka cuma demi dia?" bentaknya lagi.


Dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk berdiri, dan menghampirinya lalu tersenyum kecut kearahnya.


"Karena aku nggak bisa liat orang yang berharga bagi aku malah terluka" lirihku.


Seketika dia membelalakkan matanya seakan-akan tidak percaya dengan apa yangaku katakan tadi, perkataanku tadi sangatlah menyakitkan untuknya.


Cukup lama dia terdiam dan menatapku dengan tatapan sendu "Aku kalah Zah, kalau gitu berarti aku udah kalah" jedanya sekilas.


"Berarti aku udah nggak berharga lagi, tapi Zah izinin aku buat peluk kamu. Sekali ajah!" pintanya dengan mata yang berkaca-kaca.


Mendengar permintaannya lantas aku pun langsung menggelengkan kepalaku, lalu menangkubkan kedua tanganku di depan dadaku.


"Maaf Angga kita bukan muhrim"


5 kata...


Hanya dengan 5 kata itu aku telah menghancurkan segalanya dan membuatnya semakin menderita, setelah itu dia pun seketika terdiam dan lalu beberapa saat kemudian dia membalikkan badannya.


"Kalau gitu, selamat tinggal Zah sekarang aku nggak akan ganggu kamu lagi, dan setelah kejadian ini pun itu artinya aku udah kalah." lirihnya.


Sepintas aku melihat badannya yang sedikit bergetar, jujur ada perasaan tidak enak didalam diriku. Namun... Aku berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja.


Hanya satu yang ku tahu pasti jika dia memang jodohku maka mungkin Alloh akan mengirimkannya lagi untukku, yah... Setidaknya itu yang aku pikirkan.


Perlahan namun pasti Angga mulai melangkahkan kakinya, sedangkan aku terus memandang pundaknya hingga dia tidak terlihat lagi oleh kedua mataku.


Bersambung...


^^^29 Maret 2022^^^


^^^Wida pitriyani^^^


* ¹lemot \= pikirannya lambat.

__ADS_1


Kakak yang baik hati... Like nya dong, hehe( •̀∀•́ )b


__ADS_2