
Sedang enak-enaknya tidur tiba-tiba saja aku dikagetkan dengan suara alarm dari handphoneku, tanganku pun meraba-raba ke setiap sisi meja mencari benda pipih itu.
Setelah itu aku mematikannya lalu mataku melirik kearah jam dinding dan disana jam menunjukkan pukul 05.00, aku pun beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamar mandi.
Setelah itu aku melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim, melaksanakan solat subuh dan bertadarus al-qur'an sebentar lewat aplikasi di handphoneku.
Beberapa menit kemudian aku pun merapikan mukenaku dan menghampiri brankar tempat berbaringnya mamah.
Berbagai asumsi terus berkecamuk dalam otakku aku bertanya-tanya apakah aku lebih baik sekolah? ataukah mungkin lebih baik aku menjaga dan merawat mamah disini, sungguh rasanya aku tidak punya siapapun disini.
Disaat seperti ini seharusnya keluarga ataupun orang terdekatlah yang menemaniku disini, namun sekarang apa yang aku alami sekarang memang sangatlah miris.
"Zahwa.." suara panggilan seorang wanita dengan suara yang parau yang memanggil namaku, seketika membuyarkan semua pikiranku lantas aku melirik kearah seseorang yang memanggilku.
"Mamah..!" beoku, lalu aku berlari kearah bel yang tersedia disamping brankar dan menekannya.
Tidak lama kemudian dokter pun datang dan memeriksa keadaan mamah, dokter itu bukanlah kak Riza melainkan orang lain namun aku hanya bisa menepi agar aku tidak menyulitkan mereka.
"Alhamdulillah ibu sudah sadar, bagaimana keadaannya bu?"
"Sangat pusing dok"
"Memang itu dampaknya bu, oleh karena itu ibu harus segera mendapatkan perawatan intensif. Kalau begitu saya permisi" pamit dokter, lalu berjalan keluar meninggalkan ruangan.
..._o0o_...
"Sayang, kamu nggak sekolah?" tanya mamah, beliau bertanya hal itu setelah melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.28 menit namun aku masih belum mengenakan seragamku bahkan aku malah sibuk membuka obat mamah.
"Nggak, aku udah bilang ke sekretaris kalau aku nggak sekolah dulu soalnya mamah sakit terus nggak ada yang ngejaga mamah. Jadi aku bilang kalau aku izin dulu" jelasku panjang lebar, tanpa melihat kearah lawan bicara dan malah sibuk membuka setiap tablet obat yang harus diminum olehnya.
"Kan ada mbok. Jadi kamu bisa sekolah bentar lagi juga mbok pasti datang"
"Mbok nggak ada disini, dari kemarin mbok nggak ada dirumah"
"Loh kok gitu, emangnya mbok kemana?" aku mendongakkan kepalaku dan melihat mamah dengan tatapan tanpa ekpresi.
Setelah itu aku mengambil air putih lalu menyimpannya dimeja dekat brankar serta dengan obat yang tidak jauh dari gelas itu, sedangkan mamah masih melihatku dengan tatapan tanda tanya menunggu jawaban dariku.
"Mbok katanya izin beberapa hari soalnya adiknya melahirkan terus suami adiknya lagi nggak ada dikampung. Suaminya lagi merantau" jawabku dan mendapatkan anggukan dari.
Setelah itu mamah langsung meminum obat itu serta memberikan gelas kosong padaku dan aku langsung mengambil gelas itu lalu menyimpannya ditempat semula.
"Sayang mending kamu sekolah ajah, mamah nggak mau jadi benalu buat kamu, lagian disini juga kan ada banyak suster jadi. Lebih baik kamu sekolah ajah yah..?"
"Kenapa?" tanyaku dengan mimik wajah yang sama.
"Hm? Kenapa apanya?" tanya balik mamah.
"Kenapa mamah lebih mementingkan pekerjaan dibanding kesehatan mamah sendiri?"
Seketika mamah terbungkam bahkan matanya membulat sempurna, sedangkan aku masih menatapnya dengan datar.
"Jawab..!" tekanku.
Seketika suasana berubah menjadi hening hanya ada suara ketukan jam yang terdengar saat ini, mamah masih terdiam dan sepertinya mamah enggan untuk menjawab pertanyaanku.
"Lihat?! Nggak bisa jawabkan. Mamah lebih mementingkan pekerjaan dibanding kesehatan dan nyawa mamah sendiri," jedaku sekilas, seketika mamah langsung melirik kearah lain.
"Kalau gitu aku juga bakalan turutin sikap mamah, aku bakalan tetap disini. Jagain mamah, perhatiin mamah, mengurus mamah sampai sembuh dan kalau perlu aku bisa kok keluar dari sekolah. Intinya aku bakalan fokus sama mamah" ujarku panjang lebar dengan nada santai, sedangkan lawan bicara menatapku dengan tatapan tidak percaya.
Lalu beberapa detik kemudian mamah menundukkan wajahnya "Sayang mamah ngelakuin ini tuh buat kamu, soalnya papah.."
"Buat aku?!" selaku, seketika mamah pun mendongakkan kepalanya.
"Mah emang aku pernah bilang kalau aku itu butuh uang yang banyak? Emang aku pernah bilang ke mamah kalau mamah nggak boleh pulang sebelum mamah bawa banyak uang" jedaku sekilas.
"Emang aku pernah nuntut mamah untuk mencari uang mau gimana pun caranya. Emang aku pernah?!" tanyaku, seketika mamah hanya mematung ditempat.
Aku membalikkan badanku berniat mengambil tasku "Zahwa, kamu sayang sama mamah kan?" tanya mamah, mendengar itu lantas aku membalikkan badanku.
"Kalau kamu sayang mamah kamu harus tetap sekolah, kamu harus belajar yang benar, jaga kesehatan jangan sampai sakit-sakitan dan juga raih cita-cita kamu yah... Karena mungkin mamah nggak akan---"
"Udah diam!" sentakku, seketika mamah langsung terperenjat karena kaget.
"Jangan berasumsi yang nggak perlu! Seolah-seolah mamah nggak bakalan lama lagi di dunia ini. Kata kak Riza juga mamah bakalan sembuh, jadi mamah jangan mikir yang aneh-aneh" bentakku dengan dada yang naik turun, setelah mengatakan itu aku kembali membalikkan badanku namun mamah mengatakan sesuatu yang diluar dugaanku.
"Tapi batas waktu kita didunia ini nggak ada yang tau sayang, mungkin ajah mamah sekarang, besok, lusa atau nanti mungkin mamah nggak ada lagi disisi kamu"
"Aku bilang diam, ya diam!!" raungku, dan lagi-lagi mamah kembali terlonjak kaget.
"Kenapa mamah nggak ngerti juga? Aku nggak mau dengar asumsi yang nggak perlu, nyolot banget si!" sentakku.
Yaah.. Gangguan mentalku kembali kambuh padahal beberapa hari ini gangguan mental itu telah jarang kambuh namun sekarang telah berbeda.
Tiba-tiba saja pintu dibuka dari luar dan terlihatlah kak Riza dengan kedua suster yang ada belakangnya, dengan segera kak Riza menghampiriku dan mengusap-usap bahuku.
"Sstt Zah kamu tenang yah. Tarik nafas" ucapnya seolah terhipnotis aku menuruti intruksi kak Riza.
"Bagus nah gitu pintar, terus buang dari mulut.." aku pun menghembuskan nafasku dari mulut seketika aku pun menjadi sedikit tenang, gejolak itu tidak lagi kurasakan.
"Kamu kenapa si? Marah-marah mulu, terus kenapa kamu masih disini?" jedanya sekilas sambil melirik kearah jam dinding.
"Bukannya kamu harus sekolah" lanjut kak Riza dengan nada lembut.
__ADS_1
"Aku bukan anak kecil kak, nggak perlu pake nada kayak gitu" ketusku dan mendapatkan nada cekikikan dari kak Riza.
"Habisnya kamu marah-marah mulu, nggak inget yah ini tuh rumah sakit?!"
"Ingat.." jawabku langsung.
"Yaudah kamu sekarang pulang terus berangkat sekolah, urusan mamah kamu biar kakak yang urus. Okeh" ujarnya sambil memperlihatkan jarinya yang berbentuk hurup 'O' menyisakan 3 jarinya yang lain tetap terbuka.
"Tapi.."
"Nggak ada tapi-tapian, sekarang juga kamu pulang" kukuhnya dengan menekankan kata 'kamu pulang', aku pun mendengus kesal lalu mengambil tasku dan pergi meinggalkan ruangan itu.
..._o0o_...
Dengan berlari aku terus menyusuri koridor sekolah bel sudah berbunyi 2 menit yang lalu dan aku menebak bahwa kelasku mungkin sudah ada guru, karena guru mata pelajaran matematika itu terkenal disiplin dan tidak suka terlambat dan naasnya guru itu adalah wali kelasku.
Setelah ada didepan pintu kelas lantas dengan ragu aku langsung mengetuk pintu lalu membukanya perlahan sambil berkata salam, seketika semua pasang mata memandang kearahku.
"Maaf bu, saya terlambat" ujarku, lalu bu Cici melirik kearah jam tangannya.
"Kamu telat sekitar 5 menit" monolognya dengan mata yang masih melihat kearah jam tangannya, lalu setelah itu beliau melirik kearahku dengan tatapan datar.
"Kenapa kamu telat?" tanyanya.
"S-saya tadi ada hambatan dijalan bu"
"Baiklah. Kamu boleh masuk" aku pun melangkahkan kakiku untuk masuk.
"Tapi.." jedanya sekilas, refleks aku pun menghentikan langkahku.
"Sebagai hukumannya kamu harus bisa menjawab pertanyaan ibu baru kamu bisa masuk dan kalau sampai kamu tidak bisa menjawab, maka kamu harus hormat pada sang bendera merah putih sampai waktu istirahat tiba. So do you understand?! "
Untuk sesaat semua orang dikelasku tampak terkejut dan bahkan ada juga yang berbisik-bisik, ouh ayolah mood ku lagi buruk bu dan sekarang ibu malah memperkeruh keadaan moodku, gerutuku dalam hati.
"Paham bu." jawabku.
"Baiklah. Ouh yah nama kamu Zahwa nur febrianita kan?" tanyanya, seketika aku mengerutkan keningku lalu beberapa saat kemudian aku menganggukkan kepalaku satu kali.
"Okeh ibu akan kasih kamu pertanyaan yang mungkin pertanyaan ini diluar jalur pembahasan. Apa kamu yakin mau jawab pertanyaan ini?" ujarnya dengan menekankan kata di akhir kalimat.
"Yakin bu" jawabku tanpa ekpresi, yaah.. Sebelum dicoba kenapa harus menyerah bukan? Lagipula aku tidak mau berpanas-panasan diluar.
"Bagus, ibu suka sama kepercayaan diri kamu" jedanya sekilas.
"Apa penemuan dasar matematika pada Mesir kuno?" tanyanya to the point.
Seketika semua orang dikelasku terperenjat kaget karena ternyata pertanyaan dari ibu Cici bukanlah main-main, semua menatap kearah ibu Cici dengan mimik wajah tidak percaya.
Cukup lama aku terdiam karena aku harus mengingat-ngingat kembali berbagai macam buku yang pernah aku baca waktu kecil, apa kalian tahu? Karena obsesi papah dan mamah yang menginginkan aku untuk sempurna dalam berbagai bidang, maka mereka memberikan berbagai jenis buku untuk aku baca dan pelajari.
Sebelum menjawab aku menarik nafasku dan menghembuskannya dengan perlahan, karena aku mulai mengetahui jawabannya.
"Matematika Mesir kuno diketahui dari Papirus Rhind yang dibuat pada sekitar tahun 1650 sebelum masehi, yang dapat dipahami setelah diuraikannya Batu Rosetta, suatu naskah matematika tiga bahasa yang dituliskan dalam huruf-huruf hieroglif, demotik dan Yunani." jawabku dengan lantang.
Seketika seisi kelas pun kembali terperenjat karena kaget tidak hanya itu mata mereka pun terbelalak dengan sempurna, bahkan ibu Cici yang terkesan dingin pun membelalakkan matanya.
"Gimana bu? Saya benarkan" beberapa kali mata bu Cici mengerjap-ngerjap, lalu kembali menormalkan mimik wajahnya lalu tersenyum kearahku.
"Benar.. Silahkan masuk"
aku pun melangkahkan kakiku untuk masuk kekelas menghiraukan berbagai tatapan orang-orang yang memandangku, lalu aku mendudukan bokongku dan memperbaiki tempat dudukku.
"Baiklah.. Kita akan mulai pembelajaran" akhirnya pembelajaran pun dimulai dan tidak ada lagi yang membuka suara diantara para murid.
Waktu terus berputar searah jarum jam dan mentari pun mulai berada ditengah-tengah, ouh ayolah ini hari yang sangat panas.
Kini sudah waktunya pulang dan kelas sudah mulai sepi karena semua murid sudah berhamburan keluar dari kelas, disaat aku keluar dari bangku yang ditempati olehku tiba-tiba saja Amel melingkarkan satu tangannya dileherku.
"Zah lo hebat banget bisa jawab itu, belajar dari mana lo?" tanyanya.
Mendapat perlakuannya yang seperti itu aku langsung melepaskan tangannya yang melingkar dileherku serta menatapnya dengan tajam, sedangkan yang ditatap malah menaik-naikkan kedua halisnya dengan tatapan mata yang seakan menggodaku.
Lagi-lagi yang aku lakukan hanya menghembuskan nafasku dengan kasar "Nggak ada, itu cuma dari buku yang nggak sengaja aku baca"
"Oouh gitu, btw nanti kalau ada pelajaran matematika lagi terus pembahasannya tentang kayak gitu aku nyontek yah!" aku memutar mataku dengan malas sambil berdehem.
"Uh makasih!" teriaknya sambil memelukku, ini Amel atau bukan sih kok beda.
"Btw Zah sekarangkan udah pulang sekolah nih, jadi... Kita jajan ke cafe dulu yuk!" ajak Putri.
"Hooh kuy lah mumpung gue lagi laper" timpal Amel.
"Nggak bisa" jawabku langsung.
"Kenapa?" tanya mereka serempak.
"Aku sibuk" jawabku sambil mengalihkan bola mataku dari mereka berdua.
"Ayolah Zah masa lo tega si nolak ajakan kita-kita mulu" rengek Amel.
"Mel lo kesamber apaan sih, biasanya juga lo itu jutek"
"Terus masalahnya buat lo apa?"
__ADS_1
"Au ah terserah lo deh" jedanya sekikas lalu matanya melirik kearahku "Jadi gimana Wa, mau kan?"
Cukup lama aku terdiam menimbang-nimbang ajakan mereka, pada akhirnya akub menerima ajakan mereka.
"Yaudah deh, tapi cuma sebentar"
"Wookey!" sorak mereka serempak.
Kami pun berjalan dan memasuki cafe yang katanya sedang hangat diperbincangkan, kami pun mendudukki masing-masing satu kursi dan setelah itu ada waitress yang menghampiri.
Lantas kami pun segera menyebutkan pesanan kami masing-masing, lagi-lagi diluar dugaan pesanan aku dan Putri sama.
"Aku mau ke toilet dulu ya" pamit Putri, aku dan Amel pun menganggukkan kepalaku, namun sebelum itu Putri memegang tangan Amel.
"Mel temenin gue yuk!" ajaknya.
"Ish ogah ah males gue, lo kan bisa sendiri"
"Iiiih Amel!" rengek Putri.
"Iya-iya berisik banget sih" geramnya, lalu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendahului Putri.
"Heh tungguin!"
Hening... Lagi-lagi rasanya sepi tanpa ada mereka berdua walau hanya sebentar, lantas aku pun menyibukkan diriku dengan handphoneku lalu tiba-tiba saja terdengar suara seseorang yang sangat familiar ditelingaku.
"Iya sayang, udah lama kita nggak makan berdua kayak gini" ujarnya.
Samar-samar aku mendengar pembicaraan mereka dibelakangku lalu dengan segera aku membalikkan badanku, terlihatlah seperti sepasang kekasih yang beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ambang pintu.
Setelah itu pada saat diambang pintu sang laki-laki sudah keluar lebih dulu dengan posisi yang masih membelakangiku, karena ia membukakan pintu untuk sang wanita lalu sang wanita berjalan keluar lebih dulu.
Sungguh rasanya sayang sekali karena aku hanya melihat jelas wajah sang wanita saja tidak dengan laki-lakinya
"Kayak suara papah" monologku, lalu seperkian detiknya aku memutar-mutarkan kepalaku beberapa kali, karena rasanya tidak mungkin jika itu papah bukannya dia ada diluar kota mungkin saja aku salah dengar pikirku.
"Dor!!!" teriak Amel.
Seketika aku terperenjat karena kaget, sedangkan sang pelaku malah tertawa terbahak-bahak lantas aku menatapnya jengah.
"Dor!!!" teriak Amel.
Seketika aku terperenjat karena kaget, sedangkan sang pelaku malah tertawa terbahak-bahak lantas aku menatapnya jengah.
"Santai dong Zah! Makanya jangan ngelamun"
Lalu Amel dan Putri kembali duduk pada tempat mereka masing-masing, sedangkan aku masih sibuk dengan handphoneku.
"Wawa boleh minjem hp nya nggak?" tanya Putri, aku lantas mengerutkan keningku serta menatapnya heran.
"Bentar ajah kok"
Tanpa berpikir apa-apa aku langsung memberikan handphoneku, lalu Putri langsung mencari aplikasi camera di handphoneku.
"Okeh siap yah. Cis kacang bun--"
"Ciss!" sorak Amel sambil mengaitkan lengannya dileherku sedangkan aku yang mendapatkan serangan tiba-tiba dari Amel langsung membelalakkan mataku dengan mulut yang menganga.
Cekrek...
Akhirnya hasilnya pun keluar terlihatlah aku yang dalam fose sangat memprihatinkan sedangkan mereka bergaya dengan keren, lalu tanpa meminta izin dariku terlebih dahulu Putri dengan seenak jidatnya malah langsung menjadikan foto itu sebagai walpaper kunci layar handphoneku lalu setelah itu ia memberikannya padaku.
"Nih! Awas ajah kalau diganti. Lagian nggak bosen apa? Walpaper handphonenya nggak pakek foto dari album sendiri. Kayak laki-laki ajah" gerutu Putri.
Lalu beberapa menit kemudian sampailah makanan pesanan kami, lalu tanpa ba-bi-bu Amel dan Putri langsung melahap pesanan mereka.
Sedangkan aku masih menatap foto walpaper kunci layarku lalu tanpa aku sadari senyuman tipis terbit diwajahku bahkan hatiku mulai terasa hangat, aku mendongakkan kepalaku melirik kearah mereka yang fokus pada makanan mereka.
"Kenapa nggak makan Zah? Kalau nggak mau bilang ajah biar gue bantu habisin tapi tetep. Lo yang bayar! Gue kan cuma bantu habisin doang" ucap Amel, lalu tangannya bersiap mengambil piring pesananku namun dengan sigap aku memukul tangannya dan sang korban pun meringis kesakitan
"Kejam amat sih lo!" sewotnya.
"Kamu liat wajah aku, emangnya aku peduli?"
"Iish.. dasar temen laknat" cicitnya namun masih terdengar telingaku.
"Put aku mau cerita" ujarku, seketika Putri mendongakkan kepalanya dan memfokuskan atensinya padaku.
"Tadi ada orang yang ngatain aku temen laknat, apa mending aku batalin aja ya tentang kasih contekan ke dia?" sindirku, Amel yang merasa tersindir pun langsung menatap kearahku dengan tatapan terkejut.
"Ya, ya, yaah Zah jangan gitu dong, gue kan cuma bercanda"
"Hem..." dehemku dengan memutarkan bola mata malasku.
Sedangkan Putri malah tertawa terbahak-bahak melihat pertengkaran antara aku dan Amel, oouh lebih tepatnya mungkin bukan disebut pertengkaran, karena memang akulah yang malah sangat suka menggoda Amel.
Aku ingin terus diwaktu seperti ini, aku ingin terus merasakan kebersamaan seperti ini dengan begitu aku bisa melupakan semua masalahku walau hanya sesaat.
Bersambung....
^^^10 April 2022^^^
^^^Wida pitriyani^^^
__ADS_1