
"Upacara selesai barisan dibubarkan" ucap sang mc tata upacara.
Apa kalian tahu? ada 4 kata yang ingin sekali aku teriakkan, namun rasanya akan tidak mungkin jika aku meneriakkannya.
"Aku benci hari senin" gumamku, yah.. Aku hanya bisa menggumamkannya saja karena tidak lucu bukan?! Jika aku harus meneriakinya.
Sungguh tidak lucu kawan!
"Lo benci hari senin Wa?! Gue juga benci, tapi kalo gue sih pakek banget.." celetuk Amel yang ada disebelah kiriku dia mengatakannya dengan nada berbisik ke telingaku.
Mendengar hal itu aku hanya memutar mata malasku dan kembali melihat kearah depan dengan malas "Silahkan kembali ke kelas kalian masing-masing!" seru pak guru yang ada di tengah-tengah lapangan, tanpa basa-basi semua murid di sekolahku pun memasuki kelas mereka masing-masing.
Saat di dalam kelas aku langsung mencari botol minumku lalu mendudukkan bokongku dikursi, setelah itu aku membuka tutup botol minumku dan meneguk airnya hingga tersisa setengahnya.
Disaat aku sedang santai-santainya meminum air dibotolku itu tiba-tiba saja Putri berteriak histeris dengan suara cemprengnya.
"BUNDA!!" teriaknya, seketika aku pun langsung tersedak dan melirik kesal kearahnya, seolah mengerti yang dilirik pun mengatakan sesuatu.
"Wa! Aku lupa bawa minum mana ini tenggorokan udah haus banget lagi" rengeknya, setelah itu matanya melirik kearah botol minumku.
"Wa! Aku boleh minta airnya dong aku males buat ke kantin" pintanya.
Aku terdiam sejenak lalu karena aku merasa tenggorokanku masih terasa haus lantas aku pun meminumnnya sedikit, setelah itu aku pun memberikan botolku padanya.
Namun belum sempat Putri mengambilnya botol itu malah direbut seseorang dan dia malah menghabiskan air yang ada dibotol itu, mataku terbelalak kaget karena yang meminumnya adalah...
"Angga! Kenapa lo yang minum sih Itukan buat gue" sentak Putri.
"Woy Put berisik lo!" teriak anak laki-laki yang ada dikelasku, tapi yang bersangkutan malah mencuekkannya dan malah menatap Angga dengan tatapan tidak suka.
"Soalnya gue haus, jadi gue minum deh!" sahutnya dengan santai.
"Itupun tanpa izin dari aku" selaku.
"Iyalah nanti aku ganti, lagian cuma air minum juga" ucapnya santai lalu memasukkan botol itu kedalam tasku.
"Bentar, bentar, bentar! Wa lo habis minum botol itukan?!" tanya Putri, aku mengerutkan keningku tanda aku todak mengerti.
"Waw Angga! Berarti tadi itu lo habis minum bekas Zahwa" ujar Putri sumringah, mendengar itu Angga mengangguk setelah itu ia mengangkat alisnya sebelah.
"Emangnya kenapa kalo minum bekas dia?"
"Itu berarti lo udah ngelakuin kontak fisik se---"
"Berisik!" selaku dengan nada membentak, lalu aku membalikkan badanku kedepan dan mengeluarkan buku lalu mengipas-ngipaskannya ke wajahku.
Yang benar aja nggak ada hal yang begituan dasar konyol, umpatku dalam hati.
"Zah kamu keringetan" celetuk Angga yang duduk disebalahku, lalu secara tiba-tiba ia mendekatkan tisu yang dipegangnya ke dahiku namun dengan segera aku keluar dari bangku.
"Jaga jarak" tekanku dengan nada sedikit dinaikkan seketika semua seisi kelas pun menghentikan kegiatan mereka dan memperhatikan kami.
"Hey tenang..! Aku cuma mau ngusap dahi kamu pakek tisu ini kok, nggak lebih"
Mendengar itu aku pun mulai merasa muak dengannya "Kamu tuh yah semakin hari semakin nyebelin tahu nggak, bisa nggak sih jaga jarak dari aku. Jaga jarak doang kok nggak lebih" ucapku sambil menatap tajam kearahnya.
"Heh brondong!" panggil Amel, yang merasa dipanggil pun membalikkan badannya.
"Lo jangan ganggu dia terus, mending lo pindah bangku deh" lanjut Amel.
"Sebangku ama siapa?" tanya Angga, aneh yah padahal bangku masih banyak yang kosong.
"Ya terserah lo aja asalkan jangan disini"
"Emangnya lo siapa? Pakek ngatur segala"
"Angga putra wijaya lo pindah bangku sekarang juga" tekan Amel dengan wajah garangnya.
"Kalo gue nggak mau" tantang Angga, mendengar itu Amel pun berdecih kesal dan menatap tajam kearah Putri.
"Put lo pindah dari bangku ini, sekarang!" seru Amel dengan menekankan kata diakhir kalimatnya.
"Kok jadi gue sih" sahut Putri.
"Nggak usah banyak bac*t, sekarang juga lo pindah terus duduk ama si Zahwa" tekan Amel dengan mata yang menatap nyalang penuh amarah dimatanya.
Setelah itu pandangan matanya melirik kearah Angga dengan pandangan yang sama "Dan lo!" jedanya sekilas.
"Pindah ama gue, cepet!!" bentak Amel sambil menunjuk kursi yang harusnya diduduki oleh Putri dengan dagunya.
Sepintas aku melihat dagu Angga yang mengeras seakan-akan menahan amarahnya, dengan kasar dia bangkit dari duduknya dan mengambil tasnya lalu Putri pun mendudukkan bokongnya dikursi tempat Angga dan begitupun sebaliknya.
Fuuh...
Ini baru hari kedua dia sekolah disini namun keadaannya sudah begitu panas, kenapa hidupku dipenuhi dengan adegan-adegan yang dramatis?
..._o0o_...
Triinggg...
Triinggg...
Triinggg...
Akhirnya bel istirahat berbunyi dan semua murid pun berhamburan keluar dari kelas mereka masing-masing, begitu juga denganku yang saat ini aku ada dikantin bersama dengan kedua temanku.
Saat sedang santai-santainya tiba-tiba saja Putri menghela nafas lelah dari mulutnya "Untung masih ada sisa bangku, kalau nggak. Mau makan dimana kita?" ocehnya.
"Put! Lo nggak bakal pesen?" tanya Amel.
"Nggak dulu deh males" lalu matanya beralih melihat kearahku dengan tatapan berharaf.
"Wa! Sekali-kali kamu yang pesen dong" rengek Putri.
Aku mengerutkan keningku "Ayolah Wa kali ini ajah! Soalnya aku lagi mager nih. Mau yah, yah, yah?" bujuknya.
__ADS_1
Mendengar itu menghela nafas dengan kasar lalu menganggukkan kepalaku dengan terpaksa "Mana uangnya?" tanyaku sambil mengulurkan tangan kananku, dengan sumringah Putri memberikan uangnya lalu memesan pesanannya setelah itu aku dan Amel berjalan beriringan untuk membeli sesuatu.
"Bi batagor kuahnya 3" pesanku, lalu bibi pun mulai membuatkan pesanan kami beberapa menit kemudian beliau memberikan pesanan kami.
Aku dan Amel pun segera kembali ke tempat meja kami namun secara tidak sengaja aku malah tersandung oleh kakiku sendiri, pada akhirnya tubuhku pun terhuyung ke depan namun diwaktu yang tepat tiba-tiba saja ada yang menahan kedua lenganku.
Untuk sesaat mataku terbelalak karena kaget bahkan jantungku pun berpacu dengan cepat, setelah itu mataku pun turun melirik kearah 2 mangkuk yang sedang kubawa untungnya mangkuk itu tidak jatuh bahkan tidak ada yang tumpah sama sekali.
Beberapa saat kemudian aku pun tersadar lalu melirik kearah kanan dan kiriku, terlihatlah 2 orang laki-laki yang menahan lenganku.
Apa kalian tahu? Menurutku posisi ini cukup ambigu, karena disebelah kananku kak Rido sedangkan disebelah kiriku adalah Angga, mereka berdua saling melirik satu sama lain tanpa melepaskan genggaman mereka terhadap lenganku.
Cukup lama kami berada diposisi yang sama bahkan tidak ada yang bergerak sama sekali, pada akhirnya aku mulai risih dengan mereka berdua.
"Ekhem.." kodeku, kak Rido sedikit tersentak lalu melepaskan genggamannya segera sedangkan Angga dia malah terus menggenggam lenganku.
Melihat tingkahnya yang seperti itu lantas aku melirik Angga dengan tatapan tajam "Angga, lepas!" tekanku lalu mataku turun melihat kearah tangannya yang menggenggamku.
"Aku cuma mau bantu kamu kok, biar nggak jatuh" aku semakin menatapnya dengan tajam, sedangkan dia malah menatapku dengan tatapan menggoda.
"Lepas nggak? Kalau enggak, kaki kamu aku injak" ancamku.
"Injak aja kalau berani" tantangnya lalu tanpa berbasa-basi aku pun langsung menginjak kakinya dengan keras.
Hoho...
Kebetulan aku sedang memakai sepatu pantofel apa kalian tahu aku menginjak kakinya dengan bagian belakang pantofelku, rasanya pasti AH MANTAP.
"Awss a-aduh!!" ringisnya sambil memegang kaki sebelahnya yang mungkin terasa sakit, entah itu refleks atau sengaja tangannya pun melonggarkan genggamannya sedangkan aku langsung menarik tanganku dan berjalan ke tempatku.
"Nih!" ujarku memberikan batagor kuah milik Putri.
"Uh makasih bebeb!" soraknya sambil memelukku, aku melirik kearah Amel yang duduk disebelah Putri dia sibuk dengan handphonenya sambil memakan batagor kuahnya.
Enak banget yah udah ninggalin, terus sekarang beliau memakan batagor kuah dengan santainya gerutuku dalam hati.
Saat aku hendak memakan batagor kuahku tiba-tiba ada seseorang yang duduk disebelahku siapa lagi kalau bukan...
"Assalamualaikum Zahwa" panggil Angga dengan menampilkan senyum bodohnya, yah.. Hama datang lagi.
"Kamu lagi makan apa? Bagi dong!" lanjutnya sambil mencondongkan tubuhnya kearahku, karena merasa risih aku pun menggeser tubuhku dari tempatku tadi.
"Angga! Kamu ngapain duduk disini?!" sewot Putri.
"Kenapa? Emang nya nggak boleh"
"Nggak! Lo itu laki-laki harusnya bareng ama yang laki-laki dong bukan disini" tukas Putri.
"Tapi dia boleh" ujar Angga sambil menunjuk ke arah kak Rido dan kak Erik yang baru saja duduk di meja kami.
"Yaa.. Dia beda soalnya dia abang gue. Kalau lo kan orang asing"
"Bagi Amel gue itu sepupunya jadi gue bukan orang asing. Iyakan Mel" sahut Angga sambil menatap Amel dengan menampilkan senyum bodohnya.
"Terserah.." jawab Amel cuek.
"Iiih au ah, kesel gue lama-lama kalo ngomong ama lo!" geram Putri.
"Yaudah diem, buang-buang tenaga tau nggak kalau debat ama gue"
"Angga!" panggil kak Erik, yang dipanggil pun menatap kak Erik dengan tatapan malas.
"Mending kamu duduk aja disini kasihan dek Zahwa nya, kayak yang nggak nyaman tuh" lanjut kak Erik.
"Masa sih" tanya Angga, lalu ia menopang dagunya dengan satu tangan dan mata yang melirik kearahku sedangkan aku meliriknya dengan tatapan tidak suka.
"Tapi.. Aku suka banget kalau deket sama dia, gimana dong" Angga beralih melirikkan matanya ke arah kak Erik dan kak Rido secara bergantian.
"Angga pindah!" titahku dengan nada tertahan, matanya lalu kembali melirikku dan dengan tangan yang masih menopang dagunya.
"Aku kan udah bilang. Nggak mau!" tekannya.
"Angga. Kamu yang pindah atau aku yang pergi" setelah mendengar ancamanku dia lalu menegakkan tubuhnya.
"Yaah... Nggak seru ah, padahal aku kan niatnya mau liatin kamu makan. Kalau kamu nya pergi entar misi aku gagal deh" jedanya sekilas.
"Yaudah deh aku pindah, tapi... Aku bakalan terus liatin kamu walaupun dari jauh" ujarnya, lalu ia menyondongkan wajahnya ke telingaku.
"Sayang" bisiknya, seketika nafasku tertahan dan mataku menatapnya dengan tatapan kesal, sedangkan yang ditatap malah menatapku dengan tatapan mengejek.
Lalu dia bangkit dari tempatnya dan pindah duduknya menjadi didekat Amel, setelah itu dia menopang dagunya sedangkan matanya melirik kearahku.
Aku menghela nafasku dengan kasar karena kesal dan aku pun menghiraukannya yang terus menatapku.
Apa kalian tahu? Sepintas aku melihat tangan kak Rido yang mengepal keras namun aku tidak berani bertanya karena itu bukan urusanku. Lagi pula aku tidak ada hak untuk bisa bertanyakan?
..._o0o_...
Akhirnya setelah beberapa jam telah dilalui bel pulang pun berbunyi dan sorakan para siswa begitu menggema mengisi seisi ruangan kelasku, aku menghela nafas dengan kesal karena melihat tingkah mereka yang menurutku berlebihan. Kenapa mereka harus bersorak antusias seperti ini? Itu yang aku pikirkan.
"Wa! Kamu kenapa?" tanya Putri yang ada disampingku, lalu tangannya bergerak untuk memegang dahiku.
"Kamu sakit yah?!" tanya Putri, dia khawatir padaku karena aku menyandarkan kepalaku pada meja.
"Nggak. Cuma lemas aja dikit" jawabku, yah aku sedikit terbuka pada mereka sekarang. Aneh.. Padahal baru beberapa hari aku berteman dengan mereka namun aku mulai merasa nyaman dengan mereka.
"Ouh kirain sakit, yaudah yuk pulang! Emangnya kamu mau nginep disini?" goda Putri, sambil menyandarkan kepalanya dimeja tanpa aku sadari senyuman terbit diwajahku.
"Dasar..!" gumamku.
"Baru kali ini... Aku liat kamu senyum Zah" celetuk Angga tiba-tiba, mataku pun melirik kearahnya yang ada di belakang Putri.
Seketika senyumku pun memudar lalu aku menegakkan kembali tubuhku, setelah itu aku mengenakan tasku dan keluar dari kelas meninggalkan mereka tanpa berkata-kata lagi.
Koridor sekolah...
__ADS_1
Banyak sekali para siswa siswi yang berlalu lalang dan banyak pula dari mereka yang berjalan secara berpasang-pasangan, yah... hanya aku yang sendiri disini hingga tiba-tiba terdengar seseorang yang memanggil namaku dari belakang lantas aku pun membalikkan tubuhku kebelakang.
"Kak Rido?" gumamku, kenapa? Tumben manggil, pikirku.
"Eumm.. Kamu lagi deket sama dia yah?" tanyanya, sepintas aku mengerutkan keningku seolah mengerti kak Rido pun memperjelas maksud dari pertanyaannya "Itu... Laki-laki yang ganggu kamu di kantin"
"Oh.. Enggak. Dia cuma suka ganggu aja" jawabku tanpa ada ekspresi apapun.
"Oouh gitu yah.. Btw liat kembaran kakak nggak?!" tanyanya.
"Dikelas" jedaku sekilas.
"Kalau nggak ada yang dibicarain lagi, aku pergi" pamitku, kak Rido lalu tersenyum kikuk dan membiarkan aku untuk melanjutkan langkahku, pdisaat aku membalikkan badanku tiba-tiba saja ada seseorang yang mengatakan sesuatu dan membuatku urung untuk melangkahkan kakiku.
"Oouh pantes aja kamu main nyelonong pergi tadi" celetuk seseorang, refleks aku membalikkan badanku lagi dan terlihatlah hama yang selalu menggangguku seharian ini.
"Ternyata kamu mau ketemuan ama laki-laki ini" ejek Angga sambil menunjuk kak Rido dan memasang wajah meremehkan.
"Maaf yah Eem... Siapa?" jeda kak Rido sambil menurunkan telunjuk Angga ke bawah.
"Angga" jawab Angga langsung.
"Nah ituh, sebenarnya sih nggak penting juga. Cuma ada sesuatu yang perlu ditanyain sama Zahwa jadi ini dari awal nggak direncanakan"
Mendengar itu Angga malah memperlihatkan senyumamn yang meremehkan "Nggak usah sok ramah, sok baik deh. Kalau pun emang ada yang perlu ditanyain. Emangnya.." jeda Angga sekilas lalu melirik kak Rido dari atas sampai bawah.
"Lo tadi nanya apaan? Kayaknya serius banget" kak Rido menanggapi Angga dengan senyumannya yang dipaksakan.
"Maaf tapi, semua orang itu kan punya privasi" mendengar jawaban yang tidak memuaskan seketika Angga pun berdecih kesal.
"Dasar! Gue tahu lo itu cuma modus biar bisa ngedeketin dia kan?!"
Yah...
Keadaan mulai memanas, apa aku harus pergi meninggalkan mereka atau melerai mereka? Mungkin bersikap masa bodoh akan lebih baik.
Cukup lama aku berperang dengan bathinku akhirnya aku memutuskan untuk bersikap masa bodoh dan membalikkan badanku lalu mulai melangkahkan kaki.
"Zahwa! Lo harus jelasin semuanya ke gue! Apa yang dia tanyain ke lo!" teriak Angga, aku bersikap acuh tak acuh lagipula ini bukan urusanku.
"Kalo lo maju satu langkah lagi, gue pastiin dia bakalan gue habisin disini!" teriaknya lagi, yah.. Mungkin itu hanya omong kosong pikirku.
BUUGHH...
Suara bogeman yang begitu keras tedengar begitu menggema dan seketika langkahku terhenti lalu aku membalikkan badanku, terlihatlah pemandangan yang begitu tidak mengenakkan disana yang dimana kak Rido tergeletak begitu saja di lantai.
"Angga!" teriakku tidak percaya, mataku terbelalak melihatnya lantas aku berlari menghampiri mereka.
"Abang!!" disusul teriakan dari arah depanku, itu adalah suara teriakan dari Putri, dan ada juga Amel yang mengekorinya dibelakang.
"Bang lo nggak papa kan bang, mana yang sakit?" pekik Putri, sedangkan yang ditanya malah terus mengatakan bahwa dia 'baik-baik saja'.
"Oouh pasti ini sakit yah" tanyanya sambil menekan luka lebam dipipi kak Rido karena pukulan Angga.
"Aaws.. Sakit Put, jangan ditekan juga kali!" ringis kak Rido.
"Ya-yaa maaf nggak sengaja, habisnya kan gue panik"
"Heh Brondong! Lo kenapa si cari masalah mulu!" bentak Amel.
Melihat orang yang dipukul olehnya langdung tidak berdaya lagi-lagi Angga pun langsung tersenyum sinis "Dipukul sekali ajah udah kapar, gimana caranya nanti lo lindungi dia coba" ejek Angga, seketika Putri, Amel dan aku pun terkejut mendengarnya.
"Apa lo bilang!" teriak Putri, lalu bangkit dari duduknya dan mencengkeram kerahnya Angga.
"Kenapa? Emang kenyataannya kan" sahut Angga santai.
"Lo tu emang.." jeda Putri sekilas.
"Nggak punya hati yah. Tega banget ya lo ngomong kayak gitu, emangnya salah abang gue sama lo tuh apa hah!" bentak Putri.
"Asal lo tahu, Dia itu---"
"Gue nggak apa-apa" sela kak Rido sambil memisahkan Putri yang mencengkeram kerah Angga.
"Udah deh mending kita pulang. Sekarang" ajaknya dengan nafasnya yang sedikit tersengal-sengal disetiap perkataannya.
Putri terus menatap tajam kearah Angga, lalu mengarahkan telunjuknya didepan wajah Angga sedangkan Angga hanya melihat telunjuk itu dengan cuek.
"Dengar yah! Gue peringatin satu hal sama lo. Kalau sampe lo sakiti abang gue lagi walau cuma secuil ajah, atau apapun itu yang terjadi sama abang gue dan itu semua gara-gara lo.." jeda Putri sekilas.
"Liat ajah, GUE NGGAK AKAN SEGAN-SEGAN BUAT NYAKITIN LO BALIK! ingat itu, Angga putra wijaya" ancam Putri dengan menekankan kata disetiap kata yang diucapkannya serta dengan mata yang terus menatap tajam kearah Angga tanpa berkedip sekalipun.
"Udah Put!" bentak kak Rido, lalu setelah itu kak Rido menggenggam tangan kanan Putri dan berjalan meninggalkan kami.
"Angga" panggil Amel, yang dipanggil pun mengalihkan wajahnya kearah Amel.
"Gue tunggu lo dirumah" tekan Amel, lalu berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Cukup lama kami berada dalam keadaan hening, lalu tiba-tiba Angga membuka suara "Zah aku.." perkataan Angga seketika terhenti karena aku mengarahkan lima jariku didepan wajahnya.
"Aku nggak mau dengar apapun. Dan aku juga nggak mau tahu tentang hal apapun" ujarku.
"Nggak bukan gitu Zah, dengerin aku dulu!" aku tidak mendengarkan ocehannya dan malah langsung meninggalkannya disana, beruntung suasana koridor sudah nampak sepi jadi tidak ada yang melihat kejadian ini.
"Zah seenggaknya kamu dengerin aku dulu!" teriak Angga, namun teriakannya aku anggap angin lalu dan jangankan berbalik aku justru malah semakin mempercepat langkahku.
Untuk hari ini, pertama kalinya aku melihat Putri semarah itu biasanya aku selalu melihat dia yang sembrono, pecicilan dan cerewet. Namun sekarang untuk pertama kalinya aku melihat sisi lain dari Putri dan untuk sesaat aku melihat dia itu bukan Putri yang ku kenal dia lebih seperti orang lain.
Yah...
Mungkin sekarang aku mulai menganggap bahwa 'Marahnya seorang pelawak akan lebih mengerikan dari siapapun'
Bersambung...
^^^24 Maret 2022^^^
__ADS_1
^^^Wida pitriyani^^^
Awas!! Likenya kelupaan (((o(*゚▽゚*)o)))