
Mentari mulai terlihat dari ufuk timur bahkan sinarnya mulai menyinari kota bandung dan wilayah lainnya, mungkin bagi orang lain hari ini mereka sibuk untuk pergi weekend karena hari ini adalah hari minggu namun aku masih diposisi yang sama yaitu berdiri dibalkon kamarku dengan pandangan yang menatap lurus kedepan.
Kalian pasti bertanya-tanya kenapa aku masih disini..?
Jawabannya mudah saja karena aku tidak jadi pergi ke Jakarta dan aku juga menolak ajakan mereka untuk tinggal dirumah Putri. Eh.. Maksudku ke rumah keluarga baruku atau harus ku sebut rumah keluargaku.
Aku memejamkan mataku lalu menghirup nafas dengan rakusnya sambil meremas kepalaku dengan kedua tanganku, rasanya semua hal ini sangatlah membuatku frustasi ditambah apakah aku harus pergi kerumah mereka.
Dan bukan hanya itu saja yang menjadi bebannya namun yang menjadi beban terbesarku adalah aku harus bisa melupakan perasaanku terhadapnya, karena mau bagaimanapun orang yang aku sukai itu adalah kakak kandungku sendiri, tapi bagaimana caranya aku menghapusnya atau melupakannya? Aku rasa itu tidak akan mungkin bisa.
Sungguh ini sangatlah membuat otak dan mentalku tertekan ditambah hubunganku dengan Putri juga mungkin tidak akan baik apalagi karena kejadian kemarin, serius kepalaku mulai pening sekarang.
Disaat aku sibuk bergulat dengan pikiranku tiba-tiba saja ada yang memijit kepalaku, aku bernafas dengan lega karena pijitannya sangatlah enak.
"Pusing...?" tanya seseorang.
Seperkian detik kemudian aku tersadar aku membalikkan badanku dan terlihatlah bunda dengan senyum lembutnya, aku mulai merasa candu dengan senyumannya karena senyumannya sangatlah terlihat tulus dan menenangkan.
"Eh... Bunda" ujarku kikuk.
"Bunda tahu kok, pasti pusing banget yah..?"
"En-nggak kok bun, cumaa.."
"Ah! Cuma apa?" sela bunda.
"Cu-cuma..." aku terdiam karena bunda mendekap mulutku.
"Jangan bohong, bohong itu soda loh..."
"Soda..? Dosa mungkin bunda" sahutku.
"Nah... Itu, kan sama ajah 'soda' sama 'dosa' "
"Bedalah bun.."
"Sama"
"Beda!"
"Sama!" kukuh bunda sambil mengerutkan kedua alisnya.
"I-iyalah sama" ujarku sambil menyunggingkan senyumku sedikit, seperkian detiknya tiba-tiba saja bunda cekikikan sendiri aku pun mengerutkan keningku.
"Kamu itu mirip Putri yah"
"Mirip..?"
"Iya mirip, banget malah. Soalnya Putri itu sikapnya nggak mau kalah tapi terkadang dia itu ngalah juga sih"
Aku tersenyum mendengarnya karena memang faktanya seperti itu, Putri itu memang orang yang kepribadiannya tidak mau mengalah bahkan pada siapapun.
"Eum... Kapan bunda tiba disini?"
"Baru ajah" sahut bunda sedangkan aku hanya berkata 'oouh' saja.
Keadaan pun mulai hening aku bingung harus berkata-kata apa lagi karena aku tipikal orang yang jarang berbicara, tidak lama kemudian bunda berjalan satu langkah kedepan dengan mata yang menelisik kesemua arah.
"Waah... Rumah disini tuh bikin adem yah, apalagi pekarangan rumahnya juga luas banget!" ujarnya karena melihat pekarangan rumahku yang luas dan juga dipenuhi dengan tumbuhan bunga, membuat suasana menjadi sejuk.
Sesaat aku merasa itu adalah sindiran atau mungkin itu hanya perasaanku saja, aku jadi khawatir apa benar bunda tidak memiliki rasa dendam ataupun marah..?.
Karena tidak mendapatkan sahutan dariku bunda pun membalikkan badannya kearahku, melihatku yang merasa tidak nyaman sendiri.
"Kamu kenapa?" tanyanya, seketika aku terperenjat sendiri karena mendengar pertanyaan bunda.
"Hati-hati jangan salah sangka, bunda itu muji loh bukan menyindir" seketika aku merasa tenang lalu tersenyum kearahnya.
"Yaudah.. Yuk" ajaknya sambil menggenggam pergelangan tanganku lalu menariknya, namun aku menarik kembali pergelangan tanganku hingga membuat pergerakan diantara kami pun terhenti.
"Kemana?"
"Kerumah kita lah. Kemana lagi"
Disaat itu juga seketika aku terdiam mencerna apa yang bunda katakan tadi, aku sempat merasa takut dan khawatir sendiri namun. Tidak lama setelah itu bunda lalu memegang kedua bahuku.
"Bunda tahu kok, kamu khawatirkan..?" aku hanya terdiam tanpa menjawab apapun karena faktanya memang seperti itu.
"Dengar, terkadang kita harus bisa melangkah maju walaupun didepan kita hanya ada duri" jedanya sekilas.
"Setelah ini bunda janji nggak akan ada kebohongan apapun lagi. Yuk?!"
Kini didepanku ada seseorang yang mengulurkan tangannya yang jika aku menerima ulurannya maka semuanya akan berubah.
Jika aku menerima ulurannya akankah aku akan bahagia dengannya?
Perlahan namun pasti aku pun mulai mengangkat tanganku untuk memegang ulurannya, dan akhirnya tanganku dengan tangannya kini saling bertautan.
Setelah itu bunda menggenggam erat tanganku seolah-olah aku akan pergi jika ia melepaskan genggamannya terhadapku.
__ADS_1
"Mari kita buat... Kenangan yang baru" ujar bunda, dengan senyuman yang lembut diakhir kalimatnya.
..._o0o_...
Dan akhirnya aku pun memutuskan untuk ikut dengan bundanya Putri, oh.. Bukan maksudku bundaku juga.
Kini aku berada dipekarangan rumah Putri ini adalah kali kedua aku menginjakkan kakiku disini setelah kejadian mengerikan yang terjadi di malam itu, ouh ayolah aku tidak ingin mengingatnya.
Cukup lama aku termenung hingga suara panggilan bunda terdengar jelas ditelingaku lalu aku pun seketika tersadar dari lamunanku dan melirik kearahnya.
"Kamu itu bunda panggilin daritadi loh, kenapa?" mendengar hal itu seketika aku gelagapan sendiri.
"E-enggak apa-apa kok bun"
"Yang benar..?" tanya bunda dengan mata yang menyelidik melihat itu aku pun memalingkan pandanganku dari bunda.
"Yaudah deh, yuk! " ajaknya sambil menggandeng tanganku, namun entah kenapa tiba-tiba saja bunda membalikkan badannya.
"Ouh iyah, mbok tolong bawain barang-barangnya Zahwa yah.."
"I-iya nyonya" sahut mbok.
Seketika bunda tersenyum lalu kembali membalikkan badannya sambil menarik tanganku, disaat kami tiba didepan pintu rumah yang masih tertutup rapat itu entah kenapa aku malah menarik paksa tanganku hingga akhirnya gandengan tanganku dengan bunda pun terputus.
"Kenapa?" tanya bunda.
Sungguh jantungku berdegup sangat kencang bahkan tanganku saja sampai bergetar dengan sangat hebatnya, aku sangatlah gugup dan takut sekarang.
"Nggak perlu takut, kan ada bunda" ujarnya sambil merangkul bahuku mendengar itu aku lantas tersenyum mendengarnya, tapi tetap saja jauh didalam hatiku aku masih merasa takut.
Tidak lama setelah itu tiba-tiba saja pintu terbuka dan yang membuka pintu adalah..
"Putri..! Bikin bunda kaget ajah" ujar bunda, sedangkan yang dipanggil hanya diam membatu ditempat dengan mata yang terus melirik kearahku, sedangkan aku justru malah menghindari tatapannya dan melirik kearah lain.
"Yuk masuk!" ajak bunda sambil menggenggam dan menarik tanganku lagi.
"Alhamdulillah, kita sampai juga" ujar bunda sambil berdecak pinggang dan juga dengan mata yang menelisik kesetiap ruangan.
"Oh iyah, bibi.." panggil bunda.
"Iya nyonya..?" sahut seseorang yang tiba-tiba saja muncul.
"Tolong kamu bantuin mbok buat bawain barang-barang Zahwa ke kamarnya Putri yah"
"Hah?!!" Putri tiba-tiba saja berteriak dengan mulut yang menganga, membuatku dan bunda terperenjat mendengarnya.
"Kenapa? Kok kamu kaget gituh" tanya bunda dengan alisnya yang saling bertautan.
"Yaudah, kalau gitu bunda mau pergi ke dapur dulu mau bikin sarapan"
Aku dan Putri hanya menganggukkan kepala satu kali lalu bunda berlenggang pergi ke dapur, seketika suasana berubah menjadi hening dan canggung tidak ada yang memulai pembicaraan antara aku maupun Putri.
Entah kemana perginya Putri yang cerewet dan berisik itu, bagiku seorang Putri yang sekarang sangatlah berbeda karena Putri yang sekarang lebih banyak diam dan tidak banyak bertingkah.
"Ayok.. Ikut aku" ajaknya, entah kenapa aku merasa dia bersikap dingin sekarang.
Ouh ayolah aku seharusnya sadar karena disini memang aku yang salah, kenapa aku harus mengikuti bunda tadi? seharusnya aku langsung pergi saja ke Jakarta dan menghidupi diriku sendiri, baiklah.. Nanti malam aku akan langsung pergi dari sini. Pikirku.
Setelah cukup lama kami berjalan akhirnya kami sampai didepan pintu kamar Putri yang masih tertutup dengan rapat, disaat itu juga aku mulai tidak nyaman dengan atmosfer yang ada disekeliling Putri.
Dengan berani aku pun mengatakan apa yang seharusnya aku katakan daritadi.
"Put! Aku tahu kamu nggak nyaman kalau aku tinggal disini, jadi aku bakalan pergi nanti malam asal kamu bantuin aku buat bisa pergi dari sini" ujarku to the point, aku memang tipikal orang yang tidak pernah bisa basa-basi mendengar hal itu Putri pun melirik kearahku dengan tatapan heran.
"Kamu bakalan langsung pergi nanti malam, asalkan aku bantuin kamu untuk bisa pergi dari sini?!"
"Iyah"
"Tapi kenapa..?" tanya Putri langsung, mendengar itu aku terdiam dan melirik kearah lain.
"Wa! Segitu bencinya kamu sama aku? Karena masalah kemarin" timpalnya.
"Aku nggak benci siapapun aku cuma..." jedaku sekilas.
"Nggak mau ngerepotin siapa pun" cicitku.
"Wa! Kamu itu nggak ngerepotin, justru sekarang itu kamu tanggung jawab bunda sama ayah dan juga" jedanya sekilas.
"Maafin aku soal masalah kemarin dan maaf soal sikap aku yang tadi. Bukan maksud aku buat bersikap kayak gitu sama kamu, tapi.."
"Aku masih, masih nggak percaya dengan semua ini Wa" tandasnya.
Putri memang benar semua ini terjadi diluar dugaan aku tidak pernah menyangka semua ini akan terjadi, bahkan aku saja masih menduga bahwa semua ini adalah mimpi.
"Maafin aku Wa..!" teriak Putri histeris, lalu tiba-tiba saja dia memelukku dengan sangat erat bahkan aku sampai terhuyung kebelakang, aku hanya terdiam karena aku tidak tahu apa yang harus aku katakan dan apa yang harus aku lakukan.
Sungguh keheningan berat apa ini kenapa suasana disini begitu sangat hening? Keheningan ini membuat dadaku sesak, melihat sikap dan juga mendengar Putri yang terus mengatakan 'maaf' akhirnya aku pun lantas ikut menangis, untuk pertama kalinya aku memperlihatkan kesedihanku dihadapan oranglain.
..._o0o_...
__ADS_1
Setelah kejadian tadi aku dan Putri kembali bersikap biasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa, kini aku dan semua orang yang tinggal dirumah ini berada di meja makan, kecuali bibi asisten rumah tangga dia sekarang sedang mencuci alat masak yang bunda gunakan tadi.
"Nah.. Sekarang tinggal sarapan pagi!" ujar bunda sambil menyimpan sayur sup.
Semua orang mulai mengambil piring masing-masing dan juga mengisinya dengan nasi dan lauk pauk, sedangkan aku hanya memandang semua makanan itu.
"Loh... Kok kamu nggak makan Zahwa?!" tanya bunda.
Aku pun hanya tersenyum kikuk lalu tanganku mulai meraih piring tapi sebelum itu bunda sudah mengambilkan satu piring untukku dan mengisinya dengan nasi setelah itu bunda memberikannya padaku.
Aku pun mengambil tahu goreng dan tempe goreng, jangan bertanya padaku kenapa aku tidak mengambil sayur alasannya adalah karena aku tidak suka.
"Wa! Kenapa kamu cuma ngambil itu ajah?" tanya Putri.
"Wawa emang gituh, nggak suka sayur" celetuk papah sambil melahap makanannya.
Sontak semua yang ada di meja makan pun melirik kearahku tak terkecuali juga dengan bibi asisten rumah tangga yang sedang mentata alat masak ketempatnya.
"Kamu nggak suka sayur Zahwa..?" tanya bunda, lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum kikuk.
"Kenapa nggak bilang?" timpal bunda.
"N-nggak papa bun, ini juga udah cukup" ujarku, setelah itu aku berdoa dalam hati-hati lalu aku mulai menyantap makanannya.
"Nggak, nggak, nggak pokoknya kamu harus makan sayur" ujar bunda, sontak aku membulatkan mataku karena bunda yang tiba-tiba saja menambahkan sayur sop itu kedalam piringku.
Dengan susah payah aku menelan salivaku karena melihat sayur dipiringku yang kini sudah berkubang dengan nasi disana, aku merasa bingung sendiri karena disini pertama kalinya aku diperlakukan seperti ini, biasanya jika aku menolak maka mamah pun tidak pernah memaksa bahkan papah juga tidak pernah!.
Perlahan aku melirik kearah bunda dan bunda hanya tersenyum manis dengan tatapan tanpa dosa, sedangkan papah hanya melongo melihat semua yang terjadi itu lalu setelah itu papah memalingkan wajahnya menahan tawa.
"Makan aja Za. Masakan bunda itu enak banget loh!" celetuk kak Rido.
"Udah makan aja Wa! Kalau kamu makan sayur juga kamu nggak bakalan keracunan kok" timpal Putri sambil sesekali melahap makanannya.
Perlahan aku mulai menyendokkan nasi lalu melahapnya dan seketika aku langsung menyipitkan mataku sambil menelan makanan yang ada di mulutku, setelah itu aku langsung meneguk air yang ada digelasku hingga habis.
Uh tubuhku rasanya merinding setelah memakannya, entah bagaimana caranya aku harus menghabiskan semua ini.
"Habisin yaaah, nggak baik buang-buang makanan" celetuk bunda sambil menyantap makanannya dan sesekali menahan tawa.
"Ayok Wa! Habisin.." timpal Putri.
Hah... Sudahlah hancur masa depanku karena aku harus menyantap sayur yaitu makanan yang sangat tidak aku sukai, kenapa aku harus makan sayur? Aku kan bukan kelinci dan entah berapa milimeter air yang akan aku teguk nanti.
Beberapa menit kemudian semuanya sudah selesai dengan makanan mereka masing-masing sedangkan aku masih bergulat dengan makananku sendiri, disaat semua sudah pergi aku pun menengok kebelakang untuk mengecek apakah semuanya sudah pergi dan ternyata benar semua orang sudah pergi.
Tanpa ba-bi-bu aku pun langsung berjalan kearah kloset dan bersiap untuk membuang makananku, namun sebelum itu ada tangan yang menggenggam tanganku refleks aku pun langsung melirik kearah tangan yang menggenggamku itu.
Dan ternyata orang itu adalah...
"Mau dikemanain itu sayur, mau dibuang..?" tanyanya, seketika aku merasa gelagapan sendiri.
"Jangan dibuang mubazir makan ajah, kan tinggal sedikit lagi" timpalnya lagi.
Aku menghembuskan nafasku dengan kasar lalu berjalan dengan malas kearah kursi yang aku tempati tadi, ouh ayolah tidak ada seorang pun yang mengerti dengan penderitaanku, pikirku.
"Ayo habisin.." ucapnya lagi, sedangkan aku hanya terdiam dan melihat kearah makananku itu.
Karena melihatku yang terus seperti itu, akhirnya dia pun lalu mendudukkan bokongnya dikursi kosong yang bersebelahan denganku setelah itu dia mengambil piringku dan mulai menyendok makananku.
"Ayok, bilang A!" titahnya dengan mulut yang terbuka cukup lebar, disaat itu juga seketika aku mengerutkan keningku sambil menahan bibirku untuk tidak tertawa.
"Kenapa? Ayok cepat bilang A!" perlahan aku pun membuka mulutku lalu dia mulai menyuapiku.
Apa kalian tahu, siapa orang yang menyuapiku itu? Dia adalah orang yang diam-diam sangat aku sukai, dia adalah orang yang akhir-akhir ini selalu ada dalam doaku, dalam doaku aku selalu meminta agar dia suatu hari nanti bisa menjadi seseorang yang akan menemani sisa hidupku, namun kini aku tahu bahwa doaku tidak akan pernah terkabulkan bahkan sampai kapanpun.
Seandainya saja kita tidak bertemu mungkin aku tidak akan berpura-pura terlihat baik-baik saja seperti ini, seandainya saja dulu aku tidak menaruh rasa terhadapmu mungkin aku tidak akan merasakan sakit seperti ini.
"Za..!" panggilnya, seketika aku tersadar dari lamunanku.
"Kamu kenapa? Kok melamun?!" tanyanya, mendengar itu aku hanya menggelengkan kepalaku beberapa kali.
"Ini sisa satu suapan lagi.." aku sempat tertegun karena rasanya baru saja tadi aku memakannya kenapa sekarang hanya tinggal satu suap lagi.
Aku pun membuka mulutku lalu kak Rido mulai menyuapiku lagi, setelah itu dia bangkit dari tempatnya dan menaruh piring bekasku itu di kloset setelah itu dia pun berjalan kearahku lalu mengusap pucuk kepalaku.
"Jangan males makan sayur" jedanya sekilas.
"Dasar manja" tandasnya, setelah itu dia langsung menahan tawa lalu berlalu pergi meninggalkanku sendiri.
Sungguh aku mulai bertanya-tanya apakah aku bisa menghapus perasaan itu? Apakah aku mampu untuk menganggap perasaan itu hanya angin lalu saja? Seandainya aku bisa, maka aku ingin perasaan itu segera mati saat ini juga.
Walaupun aku selalu menenangkan diriku bahwa dia sekarang adalah kakakku namun tetap saja perasaanku tidak pernah bisa berbohong, tidak pernah bisa.
Bersambung...
^^^22 Juli 2022^^^
^^^Wida pitriyani^^^
__ADS_1
^^^Jangan lupa like sama favoritnya okeh 🌻^^^