Story In July ( End )

Story In July ( End )
Hari ke - 12


__ADS_3

Minggu...


Hari yang pas untuk berolahraga ataupun hanya sekedar untuk berjalan-jalan, tapi.. Aku bahkan bingung apa yang harus aku lakukan.


Setelah mengerjakan solat subuh yang aku lakukan hanyalah termenung di balkon kamarku menikmati sejuknya pagi hari, kalian pasti pernah membayangkan bagaimana dinginnya kan?!


Dan yah.. Setelah kejadian kemarin aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya, saat aku bangun tiba-tiba saja aku sudah ada di kamarku lalu setelah itu aku mulai bertanya-tanya dari mana mereka tahu rumahku?


Saat aku sibuk bergulat dengan pikiranku tiba-tiba saja ada suara pintu yang dibuka seketika aku pun terperenjat karena kaget, dan terlihatlah mamah yang memasuki kamarku lalu berjalan menghampiriku sedangkan aku malah memalingkan kepalaku dan lebih memilih untuk kembali termenung melihat kearah luar.


"Sayang ada yang nyari kamu diluar" ujar mamah, aku melirik ke mamah dengan tatapan tanda tanya.


"Mungkin mereka itu teman-teman kamu" tebak mamah.


"Dimana mereka?!"


"Mereka menunggu diruang tamu" dengan segera aku berlari kecil menuju ruang tamu, apa yang mereka lakukan sepagi ini kerumahku? pikirku.


Saat menuruni tangga terlihatlah Amel, Putri dan kak Rido yang sangat kompak menggunakan baju olahraga, aku menghampiri mereka dengan tatapan tanda tanya seolah mengerti Putri lantas tersenyum dan mengatakan "Jangan bengong, cepat ganti baju! Kita lari pagi sekarang" ujarnya.


"Ganti baju, baju apa?" tanyaku dengan bodohnya malah menanyakan pertanyaan itu.


"Baju penganten! Yaa baju olahraga-lah, heh! Lo itu kan pinter! masa yang kayak beginian aja lo pake acara nanya segala" sarkas Amel.


Bukannya menurut aku justru malah diam mematung karena kesal Amel pun berjalan menghampiriku dan mendorong tubuhku "Udah sana buruan!" usirnya.


Melihat sikapnya yang seperti itu lantas aku pun berdecak kesal "Iya!" ucapku malas, lalu aku berjalan menaiki tangga dan mengganti pakaianku dengan pakaian sport, rasanya cukup aneh antara malas dan senang keduanya muncul secara bersamaan.


Setelah aku mengganti baju dengan setelan baju sport lantas aku pun berjalan menuruni tangga dan mendapati mereka yang masih menungguku.


"Yuk!" kodeku.


Dinginnya angin pagi hari serasa menusuk kedalam pipi dan tubuhku dan mungkin hal serupa juga dirasakan oleh mereka, akan tetapi meskipun begitu tidak membuat hati mereka gentar untuk tidak melakukan lari pagi.


"Dingin!" sorak Putri yang ada didepanku, melihat reaksinya yang seperti itu aku hanya memutar mataku dengan malas.


Beberapa waktu kemudian mentaripun mulai memancarkan sinarnya sepintas aku melihat baju kak Rido yang basah kuyup karena keringatnya yang bercucuran dengan deras.


"Hah... Istirahat dulu yuk!" ajak kak Rido dengan nafas yang tersengal-sengal disetiap katanya.


"Bang kata gue juga apa? Mending lo jangan ikut ngeyel banget si! Makanya harus sering olahraga" ejek Putri.


"Kalau gitu kalian istirahat aja, biar gue yang beli botol minum" ujar Amel lalu menyebrang jalan.


"Okeh!" sahut Putri sambil melingkarkan telunjuk dan ibu jarinya berbentuk huruf O.


"Eh iyah, Mel anterin langsung ke taman yah! Kita-kita nunggu di taman" teriak Putri sambil menarik tangan kak Rido dan tanganku.


"Nggak sudi gue!" sentak Amel tidak terima dari arah sebrang.


"Babay!!" seakan tuli Putri justru malah semakin mempercepat langkahnya dengan tangan yang masih menarikku dan juga kak Rido.


..._o0o_...


"Nih!" ketus Amel sambil memberikan 3 botol minuman yang dibungkus keresek hitam.


"Makasih!" sorak Putri sambil cengir kuda, lalu ia membuka tutup botol dan meneguk air mineral itu hingga sisa setengahnya.


Setelah itu mata Putri melihat kearah Amel yang terus menekuk wajahnya sama sekali tidak ada senyuman sedikit pun disana.


"Mel jangan ngambek dong" rengek Putri sedangkan yang ditatap hanya sibuk meneguk botol minumnya tidak mempedulikan rengekan Putri.


Aku berusaha untuk membuka tutup botol yang masih disegel itu namun sekuat apapun aku berusaha hasilnya tetap nihil, memang aku jarang membuka tutup botol yang masih disegel karena selalu ada mang Ujang yang selalu membantuku.


Tapi sekarang.. Apa iyah aku harus telpon mang Ujang agar kesini hanya untuk membuka tutup botol? Bukankah itu tidak lucu.


"Sini..!" tiba-tiba uluran tangan terpampang jelas di depan wajahku dan itu adalah tangan kak Rido, melihat perlakuannya yang tiba-tiba seperti itu lantas aku pun memandang kak Rido heran.


"Sini botolnya biar Kakak bukain" usulnya, aku pun memberikan botol mineralku padanya lalu dia membukanya dengan mudah setelah itu memberikannya padaku. Entah kenapa aku merasakan ada sebuah desiran dalam diriku padahal hanya dibukakan tutup botol saja, aku kenapa?


"Zah lo ada masalah apa ama sepupu gue?" tanya Amel, aku yang hendak minum pun menghentikan niatku lalu melirik bingung ke arah Amel.


"Angga!" timpalnya setelah itu ia kembali meneguk air mineralnya.


Satu nama, yah hanya dengan satu nama itu cukup membuat keadaan saat ini sedikit runyam, mendengar hal itu aku pun seketika bungkam hanya rasa gugup yang kurasakan saat ini.


"Nggak ada" elakku, setelah itu aku pun memajukan botol minumku untuk segera diminum namun Amel menahannya.


"Jangan bohong! Sepupu gue itu orangnya nggak pernah ngeganggu orang lain" jedanya sekilas.


"Jujur aja Zah, JUJUR" tekannya.


"Nggak penting buat diceritain.." alibiku lalu aku kembali mendekatkan botol itu ke mulutku berniat untuk segera diminum, dan kini Putri yang menghentikan niatku.


"Buat kamu mungkin nggak penting, tapi bagi kita itu penting!" tekan Putri, aku sempat tertohok karena Putri mengatakan kata 'kami' itu artinya bukan hanya Amel ataupun Putri yang ingin tahu.


Perlahan atensiku melirik kearah kak Rido namun kak Rido hanya menunduk dan justru malah berpura-pura sibuk.


"Jawab Zah!" tekan Amel lagi, aku pun menarik nafas dari hidungku dengan rakus dan lalu menghembuskannya dari mulutku dengan kasar.


"Dia dulu pacar aku" jawabku to the point tanpa melirik kearah mereka, seketika rahang mereka pun terjatuh mendengarnya serta menatapku dengan tatapam tidak percaya.


"Serius?!" teriak Putri dan Amel bersamaan.


"Kapan?" tanya Kak Rido, aku meliriknya dan aku melihat ada raut kecewa disana akan tetapi bukan hanya kak Rido yang kecewa disini aku saja bahkan kecewa pada diriku yang dulu.


"Waktu duduk dibangku SMP kelas 1 tapi, tidak sampai 1 bulan aku langsung minta putus sama dia"


"Kenapa?!" tanya mereka serempak, kenapa jika menyangkut tentang hal yang tidak penting mereka sangat ingin mendengarnya.


"Nggak ada aku cuma sadar kalau yang aku lakuin itu salah" jawabku santai lalu meneguk air mineralku lagi.


"Tapi Mel gue baru tahu kalau ternyata lo itu punya sepupu" ujar Putri sambil menyimpan telunjuknya di dagunya.


"Dia itu jarang ke rumah gue, dan nggak tau kerasukan apa dia sekarang! tiba-tiba ajah mau pindah sekolah disini" gerutu Amel.


"Apa Jangan-jangan dia ngikutin kamu Wa! Yah.. Aku nggak bisa langsung nyimpul sih, takutnya suudzon" ujar Putri, yah jika dipikir pun itu bisa jadi.

__ADS_1


"Btw Zah lo masih punya rekaman itu kan?!" tanya Amel, aku mengerutkan keningku maksudnya apa coba? Lagi bahas apa tiba-tiba aja tanya tentang rekaman.


"Ituloh.. Si trio macan" lanjutnya.


"Oh yang di koridor waktu itu yak?!" tebak Putri, dan langsung mendapatkan anggukan dari Amel.


"Ada. Emang buat apa?" tanyaku, seketika mereka tersenyum penuh arti melihat mereka yang tersenyum seperti itu aku pun hanya mengernyitkan keningku.


"Zah ayo dong! Kita kasih tu bukti ke pak kepsek" ajak Amel antusias.


"Nggak akan.." jawabku langsung.


"Kenapa? Lagian mereka tuh pasti bakal cari gara-gara lagi, buruan ah biar seru!" desak Amel sambil mengguncang-guncangkan tubuhku.


"Emangnya kenapa?" tanya Kak Rido.


"Ituloh waktu itu---" Putri pun mulai menceritakan semua tentang kejadian itu.


Sementara mereka sibuk membicarakan kejadian tentang 2 hari yang lalu pikiranku justru malah mengingat kembali kejadian 3 tahun yang lalu, kejadian yang dimana aku menerima seseorang itu hanya untuk dijadikan sebagai pelampiasan.


Wajahnya yang berseri-seri masih bisa ku ingat dengan jelas dikala aku mengajaknya untuk bertemu, kenapa dia berseri-seri? Itu karena aku untuk pertama kalinya mengajak dia untuk makan siang bersama.


Namun.. seketika ekspresinya berubah drastis dikala aku mengatakan bahwa aku ingin mengakhiri hubunganku dengannya.


Brugh...


Dengan keras dia menggebrak meja milik cafe yang kami tempati, lalu dia menarikku keluar dari cafe dan secara kebetulan saat itu kami belum memesan apapun, dia terus menyeretku tanpa peduli ringisanku bahkan dia membawaku kesebuah gang sempit.


"Zah... kamu lagi bercanda kan? Ini nggak lucu. Emangnya aku salah apa? apa karena aku cuek? Apa karena kamu nggak nyaman lagi sama aku? Ouh atau mungkin karena aku kurang perhatian sama kamu?!" tanyanya secara beruntun, aku hanya diam dan menatapnya dengan datar.


Karena melihatku yang tidak menjawab pertanyaannya tiba-tiba saja dia tersenyum miris kearahku "atau Jangan-jangan, kamu diam-diam suka sama laki-laki lain yang lebih dari aku" jedanya sekilas.


"Iya?! Aku benarkan Zah!" sentaknya sambil mencengkram tanganku dengan kuat, melihat reaksinya yang seperti itu lantas aku pun mengerutkan keningku.


"Jawab Zah!" bentaknya lagi bahkan lebih keras dari sentakan yang tadi, aku sedikit tersentak bahkan mataku terbelalak karena kaget namun aku langsung mengubah wajahku menjadi biasa-biasa saja dan lalu aku melepaskan cengkramannya dengan kasar.


"Aku udah bilangkan, aku pengen semuanya berakhir disini. Aku nggak mau ada hubungan yang tanpa ada ikatan apapun"


"Tapi kenapa Zah? Kenapa?" tanya lagi, bukannya menjawab aku justru malah memalingkan wajahku dari tatapannya.


"Kenapa kamu dulu nerima aku?"


"Apa kamu tahu? Alasan kenapa aku nerima kamu?" tanyaku, mendengar itu dia hanya diam membisu lalu perlahan dia menggelengkan kepalanya dengan ragu.


"Karena kamu adalah pelampiasan yang terbaik" jawabku dengan mantap, namun jauh di dalam hati kecilku aku merasa bersalah karena telah mengatakan hal itu.


Mendengar itu seketika dia menatapku dengan tatapan tidak percaya "Ja-jadi kamu nerima aku karena..." Angga terus menatapku dengan tatapan tidak percaya dan mungkin dia sangatlah kecewa dengan apa yang aku perbuat terhadapnya.


"Iyah.." jawabku tanpa ada keraguan sedikit pun dan tanpa ada rasa bersalah sedikit pun, setelah mengatakan itu aku pun berbalik dan melangkahkan kakiku meninggalkannya yang tertunduk diam.


Namun tiba-tiba saja pergerakanku terhenti karena dia menahan pergelangan tanganku, lantas aku pun membalikkan badanku melihat kearahnya yang terlihat sedikit kacau.


"Aku nggak peduli" lirihnya lagi-lagi aku mengerutkan keningku.


"Aku nggak peduli kalau kamu nerima aku cuma buat jadi pelampiasan!" sentaknya dengan menatap kedua bola mataku lekat-lekat, dari sana aku melihat matanya yang begitu merah entah itu karena menahan air matanya atau mungkin karena menahan amarahnya padaku.


"Nggak! Setelah semua kebaikan yang ku lakuin buat kamu, harusnya kamu juga bisa membalas kebaikanku juga Zah"


"Tapi aku mau--- tapi aku mau kita putus! Aku nggak mau ada hubungan apa-apa lagi ... Aku mau berubah Angga!" kekehku.


"Yah aku tahu! Tapi seenggaknya kamu harus tanggung jawab sama perasaan aku Zah"  mataku berdenyut-denyut melihat sikapnya yang seperti itu.


"Angga.. Aku nggak ngerti apa yang kamu omongin! Tapi yang pasti aku mau semuanya berakhir disini, titik!" finishku lalu melepaskan genggamannya dengan kasar dan melangkah maju untuk menjauh darinya.


"Zah, Zah, Zah! Dengerin dulu" panggilnya, seakan tuli aku justru malah semakin mempercepat langkahku.


"Aku udah suka sama kamu dari dulu!" teriaknya, seketika aku pun mematung ditempat dan untuk sesaat aku merasakan bahwa waktu rasanya telah berhenti.


Setelah itu aku mendengar langkah kaki yang berjalan menghampiriku dari belakang "Iya Zah, aku udah suka sama kamu dari dulu. Seenggaknya hargai aku Zah" lirihnya, cukup lama aku terdiam membisu lalu lagi-lagi perkataannya berhasil membuatku mematung ditempat.


"Okeh! Kita anggap hubungan ini udah berakhir. Tapi, aku masih bisa berharap sama kamu kan Zah" setelah mendengar itu aku semakin menundukkan kepalaku.


Cukup lama aku terdiam dan aku pun akhirnya mengatakan hal yang telah mutlak aku putuskan "Nggak..." jedaku sekilas, lalu aku mendongakkan kepalaku menatapnya dengan tatapan tanpa ekspresi,


"Kamu nggak boleh berharap sama aku. Karena aku sampai kapan pun, nggak akan pernah SUKA sama kamu.." hanya dengan mengucapkan kata itu, aku telah mampu membuatnya sangat terkejut. Dan lalu setelah mengatakan itu aku dengan segera berbalik pergi meninggalkannya tanpa menoleh kebelakang sedikit pun.


Sejujurnya aku tidak ingin dia berharap padaku, aku tidak ingin dia merasakan sakit karena pedihnya pengharapan.


Setelah hari itu, aku jarang berkomunkasi lagi dengannya dan ada saat yang dimana jika berpapasan dengannya aku selalu menghindarinya.


Tapi..


Ada satu pertanyaan dalam benakku, kenapa? Kenapa dia bisa sekelas denganku? Bukankah saat dulu itu dia kelas 1 SMA otomatis mungkin seharusnya dia sudah tidak sekolah lagi bukan? Lantas apa yang terjadi.


"Zahwa!" teriak Putri, membuatku tersentak dan pikiranku seketika menjadi buyar, lalu aku pun menatap Putri bingung.


"Apa?" tanyaku.


"Lo mikirin apa si?! Serius amat dari tadi" tanya Amel menatapku dengan tatapan mengintimidasi.


"Nggak, nggak ada. Udah ah aku mau pulang! Udah siang" ucapku sambil beranjak dari tempatku dan membenarkan jaketku yang sedikit kucal.


"Yah.. Main dulu yuk!" ajak Putri, aku menatap putri dan memikirkan ajakannya sejenak.


"Yaudah, tapi nggak bisa lama"


"Yes!" ucapnya sambil menarik tangannya dari atas ke bawah dengan telapak tangannya yang dikepal.


"Yuk!" ajaknya sumringah lalu beranjak dari tempat duduknya dan berdiri didekatku setelah itu tiba-tiba saja dia menggandeng tanganku.


"Zah lo umur 13 tahun kan, tapi tinggi badan lo kok kayak sepantaran SMA" celetuk Amel sedangkan aku justru menghiraukan perkatannya entahlah, entah itu pujian ataukah sindiran.


"Hah! 13 tahun, maksudnya?" tanya kak Rido sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Iyah 13 tahun. Ngak nyangka banget kan bang" sahut Putri.


"Kok bisa sekarang udah kelas 1 SMA?"

__ADS_1


"Ya bisalah bang!, abang tanya ajah ke diri abang sendiri, kenapa abang bisa jadi kelas 12 padahal kan harusnya kelas 10"


"Yaa.. Kan abang ikut program ekselerasi di sekolah"


"Nah! Itu tahu pakek nanya lagi"


"Berarti bentar lagi lo lulus dong" ujar Amel sambil memukul-mukul bahu kak Rido.


"Masih lama. Tunggu beberapa bulan lagi" sahut kak Rido.


"Tapi.. Kok pinternya nggak nular ke lo ya Put, padahal kalo lo pinter gue jadi bisa ¹niron terus ke lo!" ejek Amel dengan tangan yang dilipat didadanya.


"Yang disini tuh yang harusnya malu itu lo Mel! Harusnya lo itu sekarang sekelas ama abang gue. Lo si keenakan duduk dibangku SMP kelas 2 jadinya deh sekelas ama gue!" ujar Putri dengan bangga.


"Au ah males.. Jangan ngomongin yang kayak beginian, ²teu rame!"


"Lo mah gitu orangnya, suka LARI DARI KENYATAAN padahal kan nggak bakalan bisa"


"Udah ah diem!" sarkas Amel dengan kaki yang berjalan cepat melewati kami.


..._o0o_...


Setelah perdebatan tadi, pada akhirnya kak Rido mengajak kami ke sebuah cafe karena Putri yang kukuh pengen makan yang manis-manis otomatis kak Rido hanya bisa pasrah.


"Okeh kalian mau pesan apa?" tanya Putri.


"Gue!" ujar Amel sambil mengangkat tangannya.


"Gue mau fasta ama fruit tea" pesan Amel lalu waitress itu menulis pesanannya.


"Kalau saya mau kentang goreng sama minumannya hot tea" pesan kak Rido.


"Saya pisang goreng sama minumannya hot coco" pesanku dan Putri bersamaan.


Seketika semua atensi di cafe pun saat itu memperhatikan kami, refleks aku pun melirik ke arah Putri dan begitupun sebaliknya.


"Wah kamu suka itu juga Wa?! Nggak nyangka bisa barengan gini yah" sorak Putri disusul gelak tawa darinya.


"Ada lagi kak?" tanya waitress itu.


"Nggak ada kak udah itu ajah" sahut kak Rido.


"Tunggu sebentar ya kak" ujar waitress itu lalu meninggalkan meja kami.


"Mel padahal lo rekam tadi, pasti bakalan viral" ujar Putri, lalu matanya melirik kearahku "Kamu kalau pesen makanan emang suka itu Wa?!" tanyanya.


"Nggak cuma pengen"


"Kirain emang suka gitu" ucap Putri sambil mengerucutkan bibirnya.


"Put! Lo jangan terlalu maniak-lah sama ya"


"Heh gue masih remaja yak! masa iya punya penyakit diabetes, kalau sirik tu bilang"


"Dih! Gue cuma ngingetin"


"Gue cuman ngingitin.." nyinyir Putri.


"Tumben lo peduli ama gue! Biasanya juga mau gue jatuh ke solokan kolomberan juga palingan lo ngetawain doang. Dasar temen lakn*t" ujar Putri sambil mengacungkan jari tengahnya.


"Kalian kayak anak kecil ajah, udah diam!" tegur ka Rido, Putri dan Amel pun seketika terdiam dan lalu mereka memainkan handphone mereka.


Yah..


Setidaknya sekarang cukup hening akan tetapi entah kenapa perasaanku saat ini merasa bahwa kak Rido sepertinya memperhatikanku, namun lagi-lagi aku selalu menepis pikiran itu.


Okeh ... karena kini aku mulai pensaran akhirnya aku pun mendongakkan kepalaku melihat ke arah ka Rido, dan seketika kak Rido gelagapan sendiri lalu bergumam.


"Astagfirulloh.." itulah samar-samar yang aku dengar dari gumamannya.


"Bang! Lo kenapa?" tanya Putri yang ada di sebelah kak Rido.


"Nggak ada" jawabnya lalu kembali sibuk dengan memainkan handphonenya.


Aneh aku merasa jantungku sepertinya tidak beres, masa iya. Anak berumur 13 tahun punya penyakit jantung? Nggak mungkin kan, terus kenapa wajahku rasanya panas? Apa mungkin efek karena aku duduk di dekat jendela.


"Zah lo sakit?!" tanya Amel yang ada disebelah kiriku.


"Nggak"


"Wajah lo merah Zah! Lo kenapa?" tanyanya yang mulai sedikit panik.


"Mungkin karena dekat jendela kali Mel" sela Putri.


"Iya juga, Zah lo geser kesini deh entar lo sakit lagi" titah Amel seketika aku menatapnya dengan tatapan tidak percaya, bagaimana tidak? seorang Amel yang terlihat selalu blak-blakan, selalu kasar dan acuh ternyata memiliki sisi yang seperti ini.


"Apa? Jangan liatin gue kayak gitu, gue itu niatnya baik perhatian ama lo! Gini-gini juga gue punya hati"


"Gue kira lo cuma punya jantung" celetuk Putri dengan mata yang masih fokus kearah handphonenya.


"Heh! Lo kira gue pohon pisang apa?"


"Yah.. Mirip-mirip lah"


"Sial*n lo!" umpat Amel lalu disusul gelak tawa dari Putri.


Aku tersenyum sangat tipis karena rasanya baru kemarin aku mengira jika keluarga dan teman tidak akan ada dalam hidupku, namun sekarang aku merasa mereka seakan seperti sosok teman dan keluarga bagiku. Yaah tidak buruk juga, kini aku mulai merasa nyaman berada didekat mereka.


Bersambung...


^^^23 Maret 2022^^^


^^^Wida pitriyani^^^


*¹niron \= menyontek


*²teu rame \= tidak seru

__ADS_1


Tekan like nyaaa ( •̀∀•́ )b


__ADS_2