
Pagi mulai menyapa serta silauan sinar mentari pun mulai mengganggu mataku yang masih terpejam, perlahan aku mulai membuka mataku dan pandangan mataku yang pertama kali terlihat adalah kak Rido yang tertidur dengan kondisi duduk disebelah sisi kiriku.
Perlahan aku menggerakkan tangan kiriku dan mengusap halus rambutnya, melihatnya yang sedang tertidur seperti itu untuk sesaat aku merasa sangat tenang.
Jika mengingat tentang kejadian kemarin sejujurnya aku tidak terlalu mengingatnya akan tetapi ada satu yang masih ku ingat, itu adalah dia yang selalu ada bersamaku hingga suntikan penenang itu dilakukan.
Cukup lama aku berada diposisi yang sama hingga akhirnya mata kak Rido perlahan mulai terbuka, lantas aku pun langsung menarik kembali tanganku dan memalingkan wajahku kearah jendela.
"Za ternyata kamu udah bangun" ucapnya dengan suara serak sambil mengusap-usap kedua matanya.
Bersamaan dengan itu aku pun berusaha untuk mendudukkan tubuhku lalu dia memindahkan bantal kebelakang tubuhku.
"Kak--abang nggak solat subuh?!"
"Ya solat dong, cuma entah kenapa malah ketiduran" ucapnya sambil memperlihatkan gigi putihnya setelah itu.
Hening, suasana berubah menjadi hening tidak ada lagi percakapan diantara kami. Yah mungkin karena aku tipikal orang yang jarang berbicara ringan.
"Abang/Adek. Eh!" ucapku dan kak Rido bersamaan dengan panggilan yang berbeda.
"Kamu aja dulu" sela kak Rido.
"Nggak! Abang aja dulu"
"Nggak, nggak, nggak! Kamu aja dulu"
"Abang aja yang du--" ucapanku seketika terhenti karena kak Rido tiba-tiba saja memegang bibirku dengan telunjuknya.
"Udah, kamu aja dulu" finishnya sambil menurunkan telunjuknya dari bibirku.
Untuk sesaat aku tertegun dengan tindakannya yang begitu terang-terangan, namun beberapa saat kemudian aku mulai tersadar bahwa orang yang ada dihadapanku ini bukanlah orang lain melainkan kakakku sendiri.
"Abang semalaman disini?" tanyaku, lalu dengan ragu ia menganggukkan kepalanya dengan senyuman simpul yang ia ciptakan dibibirnya.
"Iyap tapi nggak cuma abang doang kok, Putri, ayah sama bunda juga nemenin kamu disini. Cuma mereka lagi pulang kerumah dulu"
Setelah itu keadaan kembali hening tidak ada percakapan apapun diantara kami, bahkan aku daritadi hanya memainkan jariku.
"Oh yah gimana perasaan kamu sekarang?" tanyanya.
"Nggak ada yang aneh, biasa aja kok" mendengar itu lantas ia kembali tersenyum lembut kearahku.
"Abang nggak sekolah?" tanyaku.
"Nggak, heheh" jawabnya yang diakhiri dengan cengengesan diakhir kalimatnya.
"Oh iyah Amel sama Erik katanya mereka mau kesini" imbuhnya.
Mendengar itu lantas aku mengerutkan keningku "Mereka mau ngapain kesini?" dengan bodohnya aku malah bertanya hal itu.
Seketika aku meringis karena mendapatkan sebuah dia yang tiba-tiba saja menyentil dahiku "Aws sakit" ringisku.
"Kamu ini pelajaran sekolah ajah gampang ngertinya masa hal kayak gini aja nggak ngerti. Mereka dateng kesini buat jenguk kamu Zahwa!" tekan kak Rido.
"Ya nggak pake nyentil juga" ucapku dengan mimik wajah datar.
Keadaan kembali hening namun kak Rido terus saja memperhatikanku lekat-lekat, karena merasa tidak nyaman aku pun memalingkan wajahku kearah jendela.
"Ke-kenapa kak---abang liat kayak gitu?" tanyaku dengan posisi yang sama, sungguh aku tidak terbiasa memanggilnya dengan sebutan abang.
"Rambut kamu bagus dek" ujarnya.
Seketika aku langsung membelalakkan mataku lalu dengan perlahan aku pun melihat kearahnya, dan untuk sesaat aku kembali tertegun karena melihat dia yang menatapku dengan tatapan wajah melankolisnya.
Beberapa detik kemudian dia memejamkan matanya lalu menundukkan kepalanya, setelah itu dia berdiri dari tempatnya.
"Abang pergi dulu yah" pamitnya lalu berjalan kearah ambang pintu.
"Kemana?" tanyaku, refleks ia menghentikan langkahnya lalu berbalik kearahku.
"Biasalah panggilan alam" jawabnya diselingi dengan tawaan ringan diakhir kalimatnya, setelah itu ia pun keluar dari ruanganku.
Perlahan tanganku ku gerakkan untuk memegang rambutku karena memang aku tidak menggunakan hijab saat ini, lalu aku kembali membaringkan tubuhku dan memalingkan wajahku untuk melihat kearah luar jendela.
"Kenapa keluarga sendiri terasa seperti orang asing?" monologku sendiri.
Meskipun pada kenyataannya mereka adalah keluargaku namun kenapa aku sering merasa bahwa mereka seperti orang asing.
..._o0o_...
"Assalamualaikum yaa ahli kubur!" sorak seseorang yang tiba-tiba masuk, membuat semua orang yang ada diruanganku mengalihkan atensi mereka kearah seseorang yang baru masuk itu.
"Eh! Maaf. Kirain cuma ada Zahwa disini" ujarnya kikuk.
Lantas semua orang yang ada diruanganku pun menggelengkan kepala mereka beberapa kali, termasuk suster dan dokter yang kini sedang memeriksa keadaanku.
"Adek, temen kamu miring semua..!" bisik kak Riza.
"Dia bukan temen aku" cicitku.
"Yang bener?! Padahal kakak bersyukur kamu punya temen kayak gitu, yaah mungkin aja kamu ketularan ama mereka"
Mendengar kak Riza berkata seperti itu lantas aku menghembuskan nafas dari mulutku dengan kasar "Hah.. Dasar!" gumamku.
"Luka di kaki masih basah jadi diusahakan jangan sampai kena air dulu yah" ucap dokter yang memeriksa luka yang ada di telapak kakiku.
"Baik dok" sahut papah.
"Kalo begitu saya permisi" pamitnya dan diekori oleh satu suster dibelakangnya.
Lalu dokter itu berjalan menuju ambang pintu namun sebelum itu sang dokter memegang salah satu pundak Amel dan tersenyum kearahnya.
"Waalaikummussalam.." ucap sang dokter, lantas Amel yang mendapatkan perlakuan itu seketika langsung tersenyum kikuk kearahnya.
Setelah itu dokter pun keluar dari ruanganku serta disusuli oleh kak Riza juga yang keluar dari ruanganku.
"Gila, tu dokter senyumnya ngeri amat" monolog Amel sendiri.
"Makanya lain kali kalo masuk keruangan orang itu ucap salam yang benar jangan kayak gitu" tegur kak Erik.
"Yaa kan gue nggak tahu kak, kalo ternyata si Zahwa lagi diperiksa"
"Heh Zah! Lo nggak bosen apa masuk rumah sakit mulu" imbuh Amel.
Mendengar penuturan kata Amel seketika kak Erik hanya bisa menepuk dahinya sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali, sambil menghembuskan nafas lelah dari mulutnya.
"Ini mah udah nggak ketolong, hancur sudah tatakramanya" monolog kak Erik.
"Nggak tuh. Nggak bosen, malah seru kesini terus jadinya kan bisa nyusahin semua orang" jawabku, lantas papah, bunda, kak Rido dan kak Erik yang mendengarnya pun menatap datar kearahku.
"Widiih god job" sorak Amel sambil memperlihatkan kedua ibu jarinya padaku diselingi dengan tawa yang terbahak-bahak diakhir kalimatnya.
"Hadeh, anak kamu tuh mas" ucap bunda.
"Anak aku anak kamu juga" sahut papah.
"Ouh yah nih gue bawa bawah tangan, gue baikkan?!" ujar Amel sambil memberikan keresek yang berisi apel didalamnya.
"Hem alhamdulilah, makasih yah" ucapku sambil menerima keresek itu dan menyimpannya diatas laci yang berada disebelah brankar.
"Zah mau dikupasin nggak?! Gue bawa pisau lipat soalnya" tawar Amel, sambil memperlihatkan sebuah pisau lipat padaku.
"Boleh"
"Sini! Biar gue aja yang kupasin" tawar kak Rido, lantas Amel pun memberikan pisau lipat itu pada kak Rido.
"Btw Zah tadi pak killer ngasih ulangan dadakan, hoalah gue auto bingung dong! Karena lo sama Putri nggak sekolah yaudah gue ngasal ajah, daripada mikir iyakan" oceh Amel.
"Hem seterah" jawabku, sambil menerima apel yang kulitnya sudah dikupas oleh kak Rido.
"Woy bagi dong!" ucap Amel, sambil mengambil apel yang kulitnya sudah dikupas.
__ADS_1
"Heh! Buruk sikut lo entar, masa iya makanan yang udah dikasih dimakan lag--" sarkas kak Rido.
"Kenapa lo kupas kulitnya? Padahal kan kulitnya juga vitamin" sela Amel.
"Nggak tahu udah kebiasaan" ketus kak Rido.
Setelah itu tidak lama kemudian terdengar pintu yang dibuka kasar oleh seseorang dan siapa lagi kalo bukan dia.
"Bang dipanggil mang Ujang tuh, katanya cepetan kesini" ucap Putri sambil berjalan kearahku.
Mendengar itu lantas aku mengerutkan keningku, kenapa mang Ujang manggil kak Rido? Itu yang ada dalam fikiranku.
"Ouh iyah bentar" sahut kak Rido, sambil berdiri dari tempatnya dan keluar dari ruanganku diikuti oleh papah dan bunda yang juga mengikutinya dibelakang.
"Kenapa mang Ujang manggil abang?" tanyaku.
"Nggak tahu, mungkin ada urusan yang penting kali" jawab Putri sambil berjalan kearah keresek hitam dan mengambil satu apel dari sana.
"Bentar kok lo manggil dia abang?!" tanya Amel.
Sontak aku langsung menggulungkan bibirku dan memalingkan wajahku kearah jendela "Heh! Gue nanya ama lo"
"Eum Mel. Bukan nggak mau cerita tapi ceritanya panjang" timpal Putri.
"Yaa disingkat aja kali" geram Amel.
Cukup lama Putri terdiam mungkin ia tidak mau menjelasnya sekarang "Amel.." panggilku.
Sang empu pemilik nama pun mengalihkan atensinya kearahku "Bisa 'kan jelasinnya tunggu nanti" ucapku tanpa ekspresi.
"Iya deh terserah kalian" sahutnya, lalu kembali melahap apel yang sudah dikupas dan dipotong oleh kak Rido.
Seketika keadaan berubah canggung tidak ada yang memulai percakapan lagi diantara kami lalu tidak lama kemudian kak Erik membuka pembicaraan.
"Ekhem... Ini kenapa pada dimakan sama kalian? Bukannya itu buat dek Zahwa" ucap kak Erik, sambil mengangkat alisnya sebelah.
Seketika atensi Amel dan Putri langsung mengarah kearah kak Erik "Halah namanya juga amal, iyakan Zah!" sahut Amel.
Mendengar hal itu aku hanya menantapnya datar kemudian aku memutar mata malasku "Terserah..!"
..._o0o_...
Waktu terus berjalan dan berputar searah jarum jam, kini awan mulai menampakkan warna kekuning-kuningan yang bercampur dengan warna kemerah-merahan.
"Mel lo nggak bakalan pulang?" tanya Putri, dan yang bersangkutan sama sekali tidak mempedulikan pertanyaan yang diberikan oleh Putri. Justru dia malah lebih sibuk dengan handphonenya sendiri.
"Dah sore nih entar mommy nyariin loh" imbuh Putri, lagi-lagi Amel hanya sibuk dengan handphonenya.
Karena kesal Putri pun pada akhirnya merebut handphone Amel "Lo denger nggak sih!" sentak Putri.
"Iyah! Bawel banget si. Orang gue nggak budeg juga" sentak Amel balik.
"Lah terus kenapa nggak nyaut-nyaut?"
"Masalahnya gue lagi bingung mau pulang ama sapa, kan gue dianterin kesini ama sopir gue. Tapi pak sopir gue tadi bilang katanya nggak bisa jemput soalnya mobilnya tiba-tiba aja mogok" jelas Amel.
"Heran gue, segitu mahalnya tu beli mobil tapi tetep aja mogok! Lama-lama gue jual dah" geurutu Amel.
"Yaudah tinggal naik angkot aja apa susah nya si!" geram Putri.
"Nggak, nggak, nggak! Nggak mau ah males! Entar harus dempet-dempetan lagi"
"Yaudah pesen ojol ajah"
"Idih nggak sudi gue! Lo tahu nggak sekarang tuh lagi banyak kasus pelecehan, kalo tiba-tiba aja ojol itu ngelecehin gue gimana? Nggak mau ah!"
Mendengar penuturan kata Amel sontak Putri menghembuskan nafas lelah "Ya terus sekarang gimana? Mang ujang kan lagi nganterin bunda sama ayah pulang kerumah. Jadi mang Ujang nggak bisa nganterin lo"
"Yaudah kamu pulangnya bareng sama kakak ajah, soalnya kita juga kan searah" celetuk kak Erik.
"Okeh ayo jalan!" jawab Amel langsung.
"Apa sih lo! Senyum-senyum kayak gituh" sarkas Amel.
"Lo lagi cari kesempatankan?" goda Putri.
"Ke-kesempatan apa?!!" tanya Amel kikuk.
"Hehe nggak ah nggak jadi, tenang ajah gue tuh orangnya peka kok!" ucap Putri sambil tersenyum manis penuh makna.
Lalu tidak lama kemudian Amel pun langsung tersenyum manis juga kearah Putri "Pinter juga lo! Tumben peka"
"Woo ya jelaslah, anak siapa dulu dong!"
"Sip! Tapi ini rahasia yak"
"Tenang aja brodi, gue nggak bakalan bocor kok"
"Yaudah kalo gituh gue cabut yak, bye!"
"Moga sukses!" bisik Putri.
Mendengar bisikan Putri, Amel pun langsung memperlihatkan jempolnya pada Putri setelah itu Amel langsung belenggang pergi keluar dari ruanganku dan begitu juga dengan kak Erik yang mengekorinya dibelakang.
"Widih nggak nyangka banget, ternyata si Amel mulai kesem-sem apa pak dokter"
"Pak dokter?!" beoku.
"Ituloh si kak Erik! Dia 'kan cita-citanya mau jadi dokter---eh!" Putri langsung menutup mulutnya.
"Yaah keceplosan" monolog Putri.
Mendengar itu aku langsung berdecak sebal "Tenang ajah, dari dulu aku dah tahu kok" sahutku sambil menggerakkan kursi roda yang sedang aku duduki.
"Tahu apa?" tanya Putri sambil berjalan kearahku.
"Tahu kalo Amel itu suka sama kak Erik"
"Hah?! Beneran emang dari sejak kapan?" tanyanya lagi sambil mendorong kursi rodaku untuk keluar dari ruanganku.
Mendengar pertanyaan Putri aku langsung menghembuskan nafas lelah "Dari sejak kita suka makan bareng sama kak Erik pas jam istirahat"
"Oouh gitu. Btw kita mau kemana nih! Aku langsung main dorong kamu ajah"
"Kita jalan-jalan ajah males diruangan terus"
"Asiap!"
Cukup lama kami terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit lalu tidak lama kemudian terdengar percakapan serius dari arah satu ruangan, dan yang membuatku penasaran adalah ada suara kak Rido dari arah ruangan tersebut.
"Rido dengarkan saya, kamu harus segera pergi ke New york karena disana fasilitasnya akan sangat terjamin untuk kamu" ucap laki-laki berseragam putih yang sedang duduk berhadapan dengan kak Rido.
Bukannya menyahut kak Rido justru malah terus menunduk "Rido kamu mendengarkan saya 'kan?"
Lagi-lagi kak Rido tidak menyahut sama sekali bahkan dia sama sekali tidak bergeming "Dengar kondisi kamu itu---"
Tiba-tiba saja Putri menarik kursi rodaku kebelakang, lantas aku menatap heran kearahnya "Putri kamu ngapain?" tanyaku.
"Eum... mungkin sebaiknya kita cepetan pergi dari sini deh" ujar Putri kikuk tanpa melihat kearahku.
Mendengar hal itu lantas aku mengerutkan keningku, lalu aku mengabaikan perkataannya dan memilih untuk menggerakkan kursi rodaku untuk kembali mendekati ruangan itu.
Namun lagi-lagi Putri menahan kursi rodaku, lantas aku pun melirik kesal kearahnya "Kamu ngapain si!"
"A-aku pengen buang air kecil nih, anterin aku dong!" pinta Putri tiba-tiba.
"Kamu bisa sendirikan, kenapa minta harus dianter segala?"
"Ta-tapi aku nggak mau sendiri. So-soalnya aku nggak tahu dimana toiletnya"
"Put kamu tuh aneh banget si! Apa susahnya tinggal keruangan aku, lagian tinggal nanya ke suster yang lewat kalo emang nggak tahu" geramku.
__ADS_1
"Udah deh aku mau dengar percakapan mereka" imbuhku.
Setelah itu aku kembali menggerakkan kursi rodaku namun lagi-lagi Putri menahan kursi rodaku, sungguh aku sangat kesal dengan ulahnya. Oleh karena itu dengan terpaksa aku mencoba berdiri dengan kedua kakiku.
"Wa jangan berdiri, nanti luka kamu berdarah lagi!"
Seakan tuli aku justru malah terus memaksakan diriku untuk mendekati ruangan itu, sungguh aku sangat penasaran dengan percakapan mereka. Setelah aku berada didekat ambang pintu aku langsung membuka pintu itu sedikit lebih lebar.
"Rido kenapa kamu tidak mau menurut, apa kamu tahu? jantung kamu semakin hari semakin lemah" geram dokter itu.
Untuk sesaat aku tertegun dengan apa yang dokter itu katakan, apa dia bilang, jantung? Maksudnya apa? Itulah pertanyaan yang ada dalam pikiranku.
"Saya mengerti, tapi mungkin itu hanya akan sia-sia lagipula saya tidak ingin jauh dari siapapun disisa hidup saya ini" sahut kak Rido sambil menatap dokter yang ada dihadapannya itu tanpa berkedip sekalipun.
Seketika jantungku rasanya berhenti berdetak, rasanya aku sulit untuk bernafas bahkan tubuhku pun sangatlah bergetar dengan sangat hebat.
"Wa! Aku bilang jang----an" Putri sangat tertegun dengan ekpresiku.
"Apa itu tadi? Maksudnya apa?" tanyaku, sambil memandang pintu dengan tatapan sendu.
"Zahwa ... Kamu udah dengar semuanya?"
Perlahan aku berjalan mundur dan menatap kosong kearah pintu itu lalu secara tidak sengaja aku menyenggol suster yang sedang membawa buku berkas.
"Aduh! Dek kamu tidak apa-apa?" tanya sang suster.
Dan tidak lama setelah itu nampaklah kak Rido yang baru saja keluar dari ruangan itu, dan seketika matanya terbelalak sempurna karena melihatku.
"Zahwa" beonya.
Lalu matanya turun kearah kakiku yang masih dibalut oleh perban "Kenapa kamu berdiri? Kata dokter 'kan kamu jan--"
"Kenapa bohong? Kenapa kakak bohong?" selaku.
Seketika kak Rido menelan salivanya "Apa maksud kamu? Emangnya abang bohong tentang apa?" tanyanya sambil menggaruk tengkuknya.
"Bang, Zahwa udah tahu" bisik Putri namun dengan mata yang melihat kearah lain.
"Hah?" beo kak Rido.
"Nggak usah memalingkan pembicaraan, kenapa? Kenapa kakak selama ini nggak pernah bilang kalo sebenarnya kakak..." seketika aku langsung terdiam, rasanya aku tidak sanggup untuk mengatakannya.
Cukup lama kak Rido terdiam "Kita obrolin ini nanti sekarang kamu harus duduk dikursi roda dulu yah, lihat luka kamu berdarah lagi"
Tangan kak Rido terulur untuk memegang tanganku namun sebelum itu aku sudah menepisnya "Kenapa semua orang selalu aja bohongin aku? Aku tahu aku bodoh! Tapi bukan berarti aku harus selalu dibohongi ataupun dibodohi 'kan?!" sentakku.
"Zahwa" beo Putri.
"Putri, bukannya kamu bilang kalo kamu nggak pernah suka bermain rahasia? Terus kenapa kamu malah ingkar sama ucapan kamu sendiri?"
"I-itu.."
"Udahlah Za, mau bagaimana lagi Ini 'kan emang udah takdir abang, lagipula abang yang minta mereka buat merahasiakan hal ini dari kamu bahkan--"
"Ini nggak adil, jadi kakak cuma mau aku tahu tentang penyakit kakak disaat kakak udah pergi? Iyah gituh?!" selaku, mendengar hal itu kak Rido hanya menundukkan wajahnya.
Melihat reaksinya yang seperti itu aku pun lantas berdecih kesal "Dasar egois!" tekanku dengan mata yang menatap benci kearahnya.
Setelah mengatakan itu aku langsung berlari menjauh dari mereka dan menghiraukan rasa sakit yang menjalar dikakiku, bahkan aku menghiraukan teriakan mereka yang terus memanggilku.
..._o0o_...
Orang bilang terkadang kita harus berbohong untuk kebaikan orang lain, namun aku tidak menerima pernyataan itu. Karena bagiku kebohongan tetaplah kebohongan, kebaikan darimananya?
Aku kecewa dengan mereka, kenapa mereka dengan sok bijaknya beralasan bahwa yang mereka lakukan itu adalah benar.
"Za.." panggil seseorang dibelakangku.
Seakan tuli aku sama sekali tidak melirik kearahnya bahkan hanya sekedar untuk menyahut panggilannya, aku masih tetap diposisi yang sama yaitu duduk dikursi taman rumah sakit dengan pandangan yang kosong kearah depan.
Telingaku mendengar langkah kaki yang berjalan mendekat kearahku dan langkah itu berhenti tepat didepanku, kemudian dia berjongkok dihadapanku.
"Za..!" panggilnya lagi.
Lagi-lagi aku sama sekali tidak bergeming "Abang tahu kamu marah sama abang, tapi abang---"
"Pergi!" selaku.
"Dengerin dulu"
"Pergi!"
"Seenggaknya kamu harus denger--"
"Pergi!!" sentakku, sambil menatap tajam kearahnya.
Seketika kak Rido mematung ditempat karena melihat mataku yang menatap tajam kearahnya "Iyah. Abang bakalan pergi, bahkan pergi jauh dari kamu"
Mendengar hal itu lantas tatapan mataku pun berubah sendu "Dek semua yang telah terjadi bukanlah kehendak kita, semua terjadi reel atas kehendak Alloh" jedanya sekilas.
"Abang tahu abang egois, tapi abang ngelakuin ini karena abang nggak mau sampai kamu khawatir"
Perlahan kedua tangannya terulur dan menangkub kedua pipiku "Hidup manusia memang tidak abadi, tapi kenangannya akan selalu abadi"
Perlahan air mataku mulai turun dengan sendirinya lalu aku langsung menutup mataku dengan lengan kiriku.
Sejujurnya aku marah bukan karena kebohongannya namun aku marah karena aku menerima semua kenyataan itu, hingga pada akhirnya air mataku-lah yang mewakili semuanya.
Aku mulai terisak karena semua kenyataan itu, sungguh dadaku sangatlah sakit. Sangat! Padahal baru kemarin aku kehilangan sosok seorang ibu.
Walaupun ia bukan ibu kandungku namun ia tetaplah seorang ibu yang telah membesarkanku, walaupun dengan cara yang berbeda.
Tidak lama kemudian aku merasakan seseorang yang mendekapku kedalam pelukannya, dengan posisi dia yang bediri sedangkan aku yang masih duduk dikursi taman.
Perlahan tanganku terulur untuk membalas pelukannya dan menumpahkan semua yang aku rasakan "Kenapa? Kenapa semuanya pergi kak? Padahal baru kemarin aku kehilangan seseorang dan sekarang akan bertambah lagi satu, aku sendirian. Aku nggak punya siapapun lagi"
"Hey jangan bilang gitu! Kata siapa kamu sendiri. Kan ada bunda, ayah, Putri, Amel dan masih banyak lagi"
"Tapi tetap ajah, aku nggak mau kehilangan kakak. Nggak mau!" isakku.
Tangan kak Rido mulai mengelus lembut pucuk kepalaku yang ditutupi oleh hijabku "Maafin aku Za. Maaf karena udah buat kamu nyaman sama aku"
"Aku nggak mau tahu, pokoknya kakak harus bertahan. Aku mau kakak tetap hidup jangan pulang dulu"
"Kamu nggak boleh egois Za"
"Aku nggak peduli, sekali ajah. Izinin aku buat egois kak" selaku.
Cukup lama kak Rido terdiam hingga pada akhirnya tiba-tiba saja kak Rido mengeratkan pelukannya terhadapku serta menghembuskan nafas lelah dari mulutnya "Hah.. Za mau bagaimanapun kondisinya, kamu jangan egois yah." jedanya sekilas.
"Maafin aku Zahwa..."
Tidak lama kemudian aku merasakan tubuh kak Rido yang terasa berat dan pelukannya terhadapku tiba-tiba longgar.
"Kak? Abang? Kamu kenapa?" tanyaku.
Namun yang dipanggil sama sekali tidak bergeming, dengan susah payah aku mendudukkan kak Rido disebalahku.
"Kak! Kakak bangun kak! Kak ini nggak lucu. Kakak!" sentakku sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya.
Tidak lama kemudian terdengar teriakan Putri yang memanggil kak Rido "Abang, bang bangun bang! Lo jangan buat gue khawatir"
"Putri panggil dokter!" seruku.
Putri langsung mengangguk dan pergi entah kemana, lalu beberapa saat kemudian datanglah para pihak rumah sakit dan membawa kak Rido masuk kedalam dengan menggunakan brankar.
Bersambung....
^^^29 agustus 2022^^^
^^^Wida pitriyani^^^
__ADS_1