
Hari ini adalah hari senin lebih tepatnya hari ini adalah hari pertamaku untuk kembali sekolah, dan kini aku bukan lagi anak pelajar SMP tapi kini aku adalah seorang pelajar SMA.
Aku melihat diriku di depan cermin besar yang ada di kamarku, jujur.. Aku sedikit gugup untuk hari ini. Karena aku akan menempati tempat yang sangat baru bagiku.
Aku melangkahkan kakiku untuk keluar dari kamarku, lalu berjalan ke dapur untuk sarapan.
'Sreett' suara kursi yang berdecit karena ulahku yang menggeser kursi itu kebelakang, lalu aku mendudukkan bokongku di atas kursi itu.
"Non ini sarapannya" ujar mbok sambil memberikan nasi goreng ke arahku.
Aku bergidik ngeri melihat nasi goreng itu bukan karena tidak enak ataupun tidak suka, hanya saja aku merasa bosan jika sekarang aku harus sarapan dengan nasi goreng, lagi.
"Mbok, aku pengennya roti panggang. Yah..?!" aku memohon sambil memasang wajah yang memelas.
Aku memang bersikap acuh dan tidak peduli terhadap kedua orangtuaku tetapi aku justru bersikap sebaliknya jika pada mbok, karena hanya beliau lah yang selalu merawat dan menemaniku dari sejak aku kecil hingga sekarang, yah... Kurang lebih begitu.
"Oouh.. Ke sakedap nya non"
Mbok pun berbalik dan membakar roti di mesin roti bakar, beberapa menit kemudian roti bakar yang kupinta pun akhirnya selesai, lalu mbok memberikannya padaku.
Tanpa ba-bi-bu, aku langsung melahapnya dan menghabiskannya kemudian aku meminum obat yang sudah menjadi kegiataan yang wajib ku minum setiap harinya.
"Mbok, aku berangkat!" seruku, lalu 'cup' aku mengecup singkat pipi kiri mbok yang sudah terlihat sedikit keriput disana.
"Iyah... Hati-hati ya non!" ujarnya sambil tersenyum dengan tulus.
Mbok tidak terkejut dengan ulahku karena mungkin beliau sudah terbiasa, aku ingat saat pertama kali aku melakukannya mbok sangat terkejut bahkan matanya seperti akan keluar saja.
Aku berlari keluar rumah dan menghampiri mang Ujang, beliau adalah supir pribadi yang sudah mengantar jemputku dari sejak pertama aku sekolah.
Tanpa berbasa-basi aku langsung memasuki mobil hitam itu, dan mendudukan bokongku di jok yang ada di belakang supir.
... ...
..._o0o_...
Aku cukup merasa kagum dengan sekolah yang ada dihadapanku ini, sekolah ini sangatlah besar dan tentunya juga sangat luas.
Aku berjalan menyusuri koridor dan mengecek setiap jendela kelas yang menempelkan sebuah kertas yang didalamnya berisi daftar nama siswa yang menempati kelas tersebut.
Dan aku memasuki kelas 10 IPS 1 aku pun langsung masuk ke dalam dan memilih bangku barisan ke 3 yang berhadapan langsung dengan meja guru, yah.. Aku tidak suka bagian yang terlalu depan dan terlalu belakang.
Aku mendudukkan bokongku, lalu aku membuka handphone dan membuka sosial mediaku dan tidak lama kemudian tiba-tiba.
'Braak' suara meja yang di gebrak dengan keras dan parahnya meja yang dia gebrak itu adalah mejaku, aku melirik si pelaku dari ekor mataku sambil memasang mata yang tajam dan juga sinis.
"Nggak sopan" cicitku.
"Zahwa yah?" tanyanya yang justru mengacuhkan pernyataanku tadi, untuk seperkian detiknya aku langsung merilekskan kembali raut wajahku, ouh ternyata dia...
"Hen.." jawabku, lalu kembali memainkan handphoneku.
"Wah.. Nggak nyangka banget yah! ternyata kamu sekolahnya disini toh, berarti kita sekelas dong" godanya sambil menyenggol-nyenggol tanganku, aku pun menghela nafas dan sedikit berdecak kesal.
"Hen.." jawabku
"Putput!" teriak seseorang sambil merentangkan tangannya, lalu memeluk Putri dengan keras sampai-sampai putri terjungkal ke belakang.
"Iih... Apaan si? lebay tau nggak! udah kayak anak TK aja" ujar putri ke seseorang yang tiba-tiba memeluknya itu.
"Lo nggak rindu apa ama gue?!" ucapnya sebal.
"Eh tapi serius deh, gue kira gue bakalan pisah ama lo!" serunya, lalu matanya beralih melirik ke arahku.
"Eh?! lo siapa?" tanyanya, Nggak sopan juga ini anak, pikirku.
"Zahwa" jawabku singkat dan padat.
'Plak' tiba-tiba putri memukul anggota badan bagian belakang orang yang tidak sopan itu, lantas sang korban pun mengusap-usap bagian belakangnya sambil meringis.
"Aw.. Sakitt weh!!" ringisnya.
"Lo nggak sopan banget si jadi orang" ucap Putri sebal, lalu ia mencondongkan badannya kearah telinga seseorang yang ada disebelahnya.
"Basa-basi dulu kek!" bisik Putri.
"Heh!" teriak Amel. Seketika Putri terperenjat karena temannya tiba-tiba saja berteriak.
"Gue tu orangnya nggak suka basa-basi ya, ngarti..?!" tekan orang itu.
"Kenalin... Gue Amelia biasa dipanggil Amel, tapi kalau mau nambahin kata cantik dibelakangnya juga boleh" ujarnya dengan percaya dirinya bahkan sambil memegang dadanya dengan tangan kanannya.
Mataku berdenyut-denyut dikala aku mendengar perkataannya yang percaya diri itu, lalu amel melirikku dengan tatapan yang tidak suka.
"Kenapa lo liatin gue kayak gitu? jangan bilang lu suka ama gue. Sorry ya gue tolak!" tukasnya.
Mendengar pernyataannya yang seperti itu cukup mampu membuat darahku seketika mendidih ke atas, yang benar saja apa dia bilang? aku? suka sama dia? yang benar saja.
"Maaf, tapi saya masih WARAS" tekanku sinis.
__ADS_1
"Dih biasa aja kali. By the way Put yuk cari bangku!" ajaknya.
"Idih! cari aja sendiri gue mau sebangku ama Zahwa. Lagian cari bangku matamu, lo nggak liat. Semua bangku di kelas ni udah penuh!!" sewot Putri.
"Yah... Masa sih lo tega ama sahabat orok lo sendiri!, pliss dong ama gue aja yah?!" pintanya.
"Ck.. Iya iyah. Gak bisa banget ya lo hidup tanpa gue?!" mendengar gerutu Putri seketika Amel berteriak frustasi.
"Udah deh jangan banyak ngoceh, kita cari bangku sekarang!" titah amel.
"Heh! lo nggak denger kata gue apa tadi. Udah penuhh cintaa!" sewot putri.
"Iyaa! Gue denger, gue nggak budeg kok. Makanya kalau udah tahu penuh kenapa diem aja, ayo cepet!" jedanya sekilas, lalu tangannya menggenggam tangan Putri dan menariknya.
"Lagian kalau nggak dapet-dapet bangku tinggal rebut kek, atau gimana kek. Kalau perlu ancem aja sekalian, biar tahu rasa!" gerutu Amel dengan tangan yang masih menggenggam tangan Putri.
"Kejam banget lo"
Pada akhirnya mereka memilih bangku yang ada di belakangku, yah.. dengan menggunakan drama sebagai alat, adu mulut sebagai bumbu dan kegaduhan sebagai pelengkapnya.
Miris...
Dunia putih abu-abuku yang berharga ini mungkin akan semakin runyam dengan kehadiran mereka, ku haraf mereka tidak akan berteman denganku.
Tapi jika dipikir mungkin mereka tidak akan mau berteman denganku, yah... Itu sudah pasti.
... ...
..._o0o_...
Okeh...
Aku tarik kembali kata-kataku tadi mereka ternyata mau berteman denganku, buktinya mereka terus mengikutiku daritadi padahal aku sudah memberikan kesan tidak suka pada mereka dengan cara terang-terangan.
Tetapi mereka masih kukuh untuk tetap menjadi temanku ingat kami hanya 'teman' bukan 'sahabat', teman dan sahabat beda kan?!, okeh bodo amat yang penting mereka tidak mengganggu ketenanganku.
"Zah! lo mau apa?" tanya amel.
"Mel bisa nggak sopan dikit?!" tegur Putri, fixs Putri tumben kamu pintar, mendengar itu Amel seketika berdecak sebal.
"Ck.. Iya iyah, tapi lo jangan ngetawain gue ya, pas gue ngomong sopan" ancam Amel.
"Mel dimana-mana itu, kalau ada yang ngomong sopan suka adem liatnya plus adem dengernya. Mana ada orang ngetawain orang yang ngomongnya sopan"
"Okeh, okeh, gue coba. Ekhem..." Amel menarik nafas lalu membuangnya dengan perlahan.
Mataku sesekali berdenyut-denyut dengan tindakan Amel ini kan cuma tinggal buka mulut terus jaga ucapan, tapi ini kok kayak tes wawancara, pikirku.
Walau tidak pantas untuk ku katakan tapi rasanya dia tidak pantas berkata-kata sopan, ups hanya asumsi kok.
"Gimana, mau nggak?!, kasian loh cacing-cacing kamu pada keroncongan minta jatah"
Sekali lagi mataku semakin berdenyut-denyut, bahkan rasanya geli melihat dia yang berbicara seperti itu, seketika Putri pun tertawa terbahak-bahak.
"Lo kenapa si! padahal gue udah bener, iyakan Zah" tanya nya sambil melirikku, saat dia melirikku aku sedang menahan bibirku untuk tidak tertawa.
"Kata gue juga apa? Gue tu nggak pantes bicara sopan di puji kagak diketawain iyah" rajuk Amel.
"Mel maaf bukannya gue ngetawain, tapi lu itu kayak yang lagi ngegoda tau. Mirip banget kayak para buaya darat yang nyoba-nyoba buat ngajak PDKT ke cewek"
"Hen... Terserah!!" sewotnya
"Udah diem berisik!" leraiku lalu mataku melihat ada orang-orang yang membeli batagor, lalu aku berdiri dari bangku kantin dan berjalan untuk membeli batagor.
"Heh... Zahwa tungguin!" panggil Putri disusul dengan Amel yang mengikutinya di belakang.
Saat aku sudah membeli batagor tanpa sengaja aku menabrak seseorang, dan batagorku mengenai bajunya alhasil bajunya menjadi kotor karena ulahku.
"Lo nggak punya mata ya, liat ni baju gue kotor!" teriak laki-laki itu.
"Ma-maaf kak teman saya tidak sengaja!" ujar Putri.
"Maaf-maaf. Emang bisa buat baju gue jadi bersih!" sewotnya.
Semua orang yang ada di kantin pun mulai memperhatikan kami, sedangkan aku terus menahan gejolak yang menjalar didalam diriku.
"Wah.. bro gimana tuh baju lo kotor bro. Mana lo mau apel ama si Lidya lagi!" ucap temannya yang berusaha mengkompori suasana.
"Eh.. Bener juga tuh. Jadi apel nya gatot nih!" goda laki-laki yang ada dibelakangnya, mendengar hal itu laki-laki yang kutabrak tadi pun seketika berteriak kesal.
"Semua ini gara-gara lo!" sentaknya, sambil mengangkat tangan kanannya berniat untuk memukulku, aku berniat untuk menangkisnya tapi ada seseorang yang menahan tangannya.
"Ama cewek kok kasar, emangnya lo lahir dari lubang mana? lubang semut" sindir orang yang menahan pergelangan laki-laki yang akan menamparku itu dengan sedikit candaan didalamnya.
"Halah... Lo jangan ikut campur deh!" sewot laki-laki itu.
"Wajar gue ikut campur karena gue mau nahan lo dari tindak kekerasan dan gue bisa aja laporin lo ke kepala sekolah. Tapi kalo lo mau, gue mampu kok laporin lo ke polisi" ancam kak Rido menatap sengit laki-laki yang ada dihadapannya.
Yah... laki-laki yang menahan pergelangan tangan itu adalah kak Rido dengan kasar laki-laki itu menangkis genggaman kak rido.
__ADS_1
"Lo diem deh, denger yah! gue peringatin satu kali lagi sama lo.." jedanya sekilas sambil menunjuk kak Rido.
"JANGAN. IKUT. CAMPUR. URUSAN. GUA!!" tekannya, lalu laki-laki itu melirik kearahku menatapku dengan tatapan rasa benci, sedangkan aku menatapnya dengan tatapan datar.
"Dan lo.." jedanya sambil menunjuk ke arahku.
"Urusan kita belum kelar!" ancamnya, lalu pergi disusul dengan kedua temannya yang mengekorinya di belakang.
"Zahwa kamu nggak papa?" tanya kak rido, bukannya menjawab aku malah diam membisu menahan setiap gejolak yang mulai menggunung didalam diriku.
"Kenapa harus sekarang" gumamku, lalu aku pergi meninggalkan mereka tanpa mengatakan apapun sedangkan mereka menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya.
..._o0o_...
Setelah kejadian tadi aku berlari ke WC umum siswi mencoba untuk menenangkan diri disana, aku terus mondar-mandir sambil *******-***** tanganku tanpa henti.
"Tenang Zahwaa... Tenang, tenang, nggak boleh disini, nggak boleh disini" monologku sendiri.
Aku terus bertakbir dan beristigfar aku harus bisa menenangkan diriku sendiri setelah itu aku mengeluarkan sebuah obat dari dalam rok panjangku dan meminumnya, air minum itu aku beli tadi saat menuju ke kamar mandi tadi.
Aku terus mengatur nafas dan terus berusaha menenangkan diriku, ini adalah sisi kondisi yang sangat sulit untukku kendalikan.
Akhirnya beberapa menit kemudian aku kembali menjadi tenang meninggalkan setiap keringat yang bercucuran di wajahku, aku terduduk di lantai dengan lemas menelangkubkan wajahku diantara kedua tanganku yang ku letakkan di atas lututku.
Tanpa ku sadari ternyata aku tertidur dalam kondisi seperti itu dan entah berapa lama aku dalam kondisi itu karena obat itu mengandung rasa kantuk, lebih tepatnya itu adalah obat penenang, kenapa aku meminumnya? Kalian akan tahu nanti.
Aku mulai kembali sadar lalu tanpa menunggu apapun lagi aku pun beranjak dari tempat dudukku, lalu berjalan gontai menuju kelasku dan diaat aku memasuki kelas, kelas ternyata sudah kosong lalu aku melirik jam tanganku dan jam tanganku menunjukkan pukul 13.00.
Pantas saja kosong pikirku, lalu aku menghampiri mejaku untuk mengambil tasku setelah itu aku meninggalkan kelas yang sudah kosong dan tidak berpenghuni itu.
Aku menyusuri koridor yang kosong dan sepi sendirian tidak ada seorang pun yang kulihat disini, jika saja aku mempedulikan kondisi disini rasanya sekolah ini terlihat seperti sebuah sekolah yang angker yah.. Mungkin.
"Zahwa..!" panggil seseorang dibelakangku.
Lalu aku pun membalikkan tubuhku dan terlihatlah 2 wanita dan 1 laki-laki, mereka adalah Amel, Putri dan kak Rido.
"Zahwa, kamu kemana aja? Dicariin dari tadi juga" tanya Putri khawatir.
"Heh! Lo kalau mau pergi tu bilang-bilang mau kemana. Bikin orang susah ajah" sarkas Amel.
Tiba-tiba Amel terhuyung kedepan karena ulah Kak Rido yang mendorongnya.
"Apa si?!, emang benerkan?!" gertaknya dengan mata yang melirik tajam.
Hening, tidak ada yang berbicara dan suasana tiba-tiba berubah menjadi canggung.
"Eumm... Yaudah kita pulang yuk, sekolah juga kayaknya udah sepi banget" saran kak Rido.
"Hello Rido! Matamu apa kabar? Mata lo sehatkan, lo tu buka ebar-lebar matanya ini tuh udah bukan 'kayaknya' tapi emang udah sepi beg*!" sentak Amel.
"Lo sama abang gue nggak ada sopan-sopannya yah..." tegur Putri.
"Terus? emangnya kenapa?. Suka-suka gue dongs mulut-mulut gue" ujar Amel.
"Iyap betul terserah anda deh. Tapi yang gue tahu biasanya yang lebih tua itu ngasih contoh yang baik dan gue juga tahu kalau lo harusnya kelas 2, bukan kelas 1" jeda Putri sekilas.
"Idih amit-amit cewek kok nggak naik kelas, makanya kalau sekolah itu yang benar bukannya cari masalah mulu" sindir Putri.
"Heh!, gini-gini juga gue jago maen voli!" mendengar pernyataan Amel seketika Putri berdecak kesal.
"Halah jago main voli aja bangga. Gimana kalau bisa jadi juara kelas kayaknya bakalan jontor dah dah tu mulut"
"Apa lo bilang?!" sentak Amel.
"Untung banget ya lo jadi temen gue kalau aja nggak udah gue cincang terus gue lempar deh ke kandang singa biar tahu rasa"
"Berisik!!" sentakku dan Kak Rido, Amel dan Putri seketika terlonjak kaget karena ulahku dan Kak Rido.
"Cie barengan!!" goda Amel dan Putri.
"Serah deh aku duluan, Assalamualaikum" ucapku sambil melenggang pergi.
"Wa-waalaikummussalam" jawab mereka gugup. Mungkin mereka sedikit tidak suka denganku yang seperti itu. Tapi mungkin itu lebih baik agar mereka bisa menjauh dariku.
..._o0o_...
Akhirnya aku sampai di parkiran sekolah dan terlihatlah mang ujang yang menunggu di tempat yang teduh, aku langsung menghampiri mang ujang.
"Jalan mang..." kode ku.
Lalu aku membuka pintu mobil dibagian belakang dan menidurkan tubuhku disana, memang terlihat tidak sopan.
Tapi... toh mang ujang yang minta waktu dulu, katanya kalau aku capek aku boleh langsung menidurkan badanku di jok supaya lebih rileks, yah karena mang Ujang tahu bagaimana kondisiku.
Dan tanpa waktu lama semua pun berubah menjadi gelap, yah... Aku telah masuk kedalam zona nyamanku yang tidak lain adalah tidur.
Bersambung....
^^^2 maret 2022^^^
__ADS_1
^^^Wida pitriyani^^^
Like dong jan pelit 😕