
"Jadi gimana?" tanya Putri.
"Apanya?" tanya Amel balik.
"Kerja kelompoknya mau dirumah siapa?! Og*p!" sewot Putri.
"Itu mulut" sindirku, lalu setelah mengatakan itu aku menelangkubkan kepalaku di kedua tanganku yang kulipat di atas meja.
"Hehehe Iya maaf" ujar Putri cengengesan.
"Okeh fix jadinya dirumah Amel yah.." ujar Celsi teman kelasku.
"Heh! Kok gitu kan gue belum jawab!" sewot Amel, mendengar itu aku pun berdesis kesal karena Amel mengatakannya dengan nada yang tinggi.
"Berisik! Jangan pake teriak-teriak segala" sarkasku dengan posisi yang sama.
"Ya nggak papalah Mel, orang kita cuma mau ngerjain tugas kok bukan buat nyusahin tuan rumah" sindir Erika.
"Masalahnya bukan itu, masalahnya gue belum izin ke bunda gue" elak Amel.
"Mel boleh katanya" sela Putri dengan tangan dan mata yang sibuk dengan handphonenya.
"Maksud?" tanya Amel.
"Gue udah chat bunda lo terus katanya boleh, okeh pulang sekolah nanti kita langsung otw ke rumah lo!!" sorak Putri.
Amel hanya memasang wajahnya cemberut dari tadi aku hanya mengamati mereka tanpa mau ikut campur, karena prinsipku mau ngerjain dimana ajah ayok! asalkan tugas beres.
"Wa! Mau langsung kerumah Amel atau pulang dulu?!" tanya Putri.
"Langsung.." jawabku.
"Okeh!!" ujarnya sambil menyatukan jari jempol dengan telunjuknya membentuk huruf O dengan menyisakan tiga jarinya.
"Emangnyaa lo nggak izin dulu ke mamah lo?" tanya Amel, seketika aku langsung menegakkan tubuhku, dan Amel terus menatapku seakan menunggu jawaban dariku.
"Nggak..."
"Kenapa?" tanya Amel dan Putri serempak.
"Yaa nggak ajah, lagian tinggal kasih tahu lewat hp juga bisa kan?!" jawabku, lalu mereka mengangguk-nganggukkan kepala mereka beberapa kali.
"Awas lo yah kalian harus hadir! Harus bantuin! Kalau mau dianggap dikelompok ini!" ancam Celsi dengan mata yang memicing kearah kami.
"Termasuk tuan rumah juga" tandasnnya dengan menekan perkataannya yang di akhir kalimat.
"Iye! Kagak usah pakek nyindir juga kali!" sarkas Amel karena merasa tidak terima jika dirinya menjadi bahan sindiran.
..._o0o_...
Hanya satu kata yang pas penilaianku untuk rumah Amel .... Megah, jujur aku baru tahu jika rumah Amel ternyata semegah dan semewah ini bahkan aku tidak pernah menyangka karena selama ini dia selalu berpenampilan biasa tidak seperti murid-murid siswi lain, yang mungkin mereka pasti akan lebih menunjukkan status mereka.
"Heh! Kalian kok bengong? atau kalian mau berubah fikiran?" goda Amel, yang langsung mendapatkan tatapan datar dari kami semua, kecuali putri yang justru tanpa permisi langsung masuk kedalam rumah.
Kami memasuki rumah Amel dan begitu disana kami disuguhkan oleh keadaan rumah yang begitu glamor dan ada begitu banyak barang-barang antik yang bertengger dengan rapih, dan mungkin jika diperkirakan harganya bahkan ada sekitar puluhan juta atau mungkin ratusan juta ouh mungkin saja lebih dari harga jutaan, bahkan ada begitu banyak asisten rumah tangga dirumah ini.
"My mommy im coming!" teriak Putri, aku langsung menatap tajam kearah Putri sedangkan yang ditatap malah sibuk mencelengak-celengukkan kepalanya mencari seseorang.
"Wahh! My little girl" teriak seseorang dari atas tangga, aku menduga mungkin itu adalah ibunya Amel beliau lalu menuruni tangga dan menghampiri setelah itu mendekapnya kedalam pelukannya.
"Aku merindukanmu my mommy" lirih Putri.
"Mommy juga.. Rinduuu banget ama kamu"
"Hadeuh pada akhirnya anak orang disayang dan anak sendiri dilupakan" celetuk Amel, membuat kedua orang tersebut saling melepaskan pelukan mereka.
"Ganggu ajah.." jeda ibunya Amel sekilas, lalu matanya melirik kearah kami.
"Eh?! Ada teman-teman barunya Amel ternyata" ujarnya girang.
Aku langsung menghampiri ibunya Amel dan meraih tangan kanannya untuk menciumnya "Assalamualaikum tante..." ujarku, lalu ibunya Amel mengelus pipiku.
"Waalaikummussalam, masyaalloh kamu cantik banget nak terus pipi kamu juga agak tembem. Nggak kayak yang disana kayak cacing" cibir ibunya Amel, seketika Amel pun memutarkan bola mata malasnya.
"Ouh iyah nama kamu siapa?" tanyanya.
"Nama saya Zahwa nur febrianita tante"
"Jangan panggil tante panggil ajah mommy" ujarnya dengan menekankan kata yang terakhir.
"Lalu nama kalian berdua siapa?" tanyanya saat melihat kearah belakangku.
"Saya Erika tante, dan Ini Celsi" ujar Erika.
"Assalamualaikum tante.." ujar celsi lalu mengambil telapak tangan kanan ibunya Amel.
"Waalaikummussalam.. Ouh iyah kalian mau kerja kelompok kan?!" tanyanya, yang langsung mendapatkan anggukan dari kami semua secara bersamaan.
Kecuali Amel, entah pergi kemana anak itu disaat kami sedang memperkenalkan diri dia malah menghilang begitu saja.
"Yasudah kalau begitu kalian langsung ke ruang belajarnya Amel aja, Amel kamu tunjukkin dimana---Eh? Kemana anak itu" ibunya Amel merasa heran karena anaknya sudah tidak ada dibelakangnya lagi.
"Mommy Amelnya udah ke atas" ujar Putri.
"Tu anak kebangetan banget yah bukannya kenalin teman-temannya ini malah pergi gitu ajah" gerutu ibunya Amel.
"My little girl kamu tahukan?! Dimana ruang belajarnya Amel?"
"Tau dong mommy.." jawab Putri sambil memperlihatkan gigi putihnya.
__ADS_1
"Yasudah.. Kalau gitu kalian langsung keruang belajarnya Amel, Putri kamu yang tuntun mereka yah.. Mommy mau kedapur dulu mau nyiapin cemilan buat kalian" lalu setelah itu ibunya Amel lalu melangkahkan kakinya.
"Mommy aku mau puding coklat!" teriak Putri dengan tanpa sopan santunnya.
"Okehh!" teriak ibunya Amel.
"Yaudah yuk!" ajak Putri lalu menaiki tangga diikuti oleh kami yang mengekorinya dibelakangnya, tidak lama kemudian tibalah kami di suatu ruangan dan tanpa berbasa-basi Putri langsung membuka pintu ruangan itu yang tidak dikunci.
Aku cukup tersentak karena keadaan ruangan itu yang begitu tertata dengan rapi bahkan ada begitu banyak buku-buku yang berjajar dengan rapi di lemari rak buku yang menjulang cukup tinggi, bahkan bau ciri khas perpustakaan begitu terasa disini ini bukan ruang belajar tapi lebih tepatnya seperti perpustakaan, pikirku.
Lalu Putri berjalan ketempat kursi santai bean bag oval yang bertata setengah lingkaran dan tempatnya ada disebelah kanan kami, tanpa izin Putri langsung menduduki salah satu kursi santai itu.
"Kenapa bengong? Buruan kesini duduk dulu sambil nunggu Amel, bentar lagi juga dia kesini" ujarnya dengan santai.
"Put izin dulu kali" tegur Erika.
"Udah buruan! Nggak apa-apa kok lagian mommy juga pasti nggak keberatan" bantahnya dengan sangat santai seakan dirumah ini dialah tuan rumahnya.
Lalu tanpa ba-bi-bu mereka langsung menghampiri kursi santai itu dan menduduki masing-masing satu, sedangkan aku hanya duduk di karpet di dekat kursi santai yang diduduki oleh Putri.
" Wa!! Kok kamu duduk dibawah? Udah duduk diatas ajah" titah Putri aku hanya menggelengkan kepalaku dan memilih membuka handphoneku.
"Kalian udah lama kenal ya Put?!" tanya Celsi.
"Iya sih... Bisa dibilang kalau aku sama dia itu gede bareng" jawab Putri, dan hanya mendapatkan kata 'oh' yang keluar dari mulut Erika dan Celsi.
Ceklek...
Tiba-tiba ada yang membuka pintu ruang belajar ini dan terlihatlah Amel yang memakai baju santainya sambil membawa tasnya, dan menghampiri kami lalu mendudukkan dirinya dengan kasar dikursi santai yang lain.
"Arrggh..." raungnya sambil mengacak kasar kepalanya dan rambutnya berubah menjadi kusut.
"Lo kenapa si?! Dateng-dateng langsung teriak nggak jelas!" sarkas Putri.
"Gue udah bilang kan , kalau tadi itu harusnya kerja kelompok dirumah lo!" teriak Amel.
"Kapan? Enggak tuh huh! Dasar!" teriak Putri sambil melemparkan bantal kecil ke arah Amel yang ada di sembrangnya.
"Gue itu paling MALES buat datang kesini.. Bikin ngantuk, bikin jenuh, bikin sesak, bikin frustasi tau nggak!!" geram Amel sambil menekankan kata 'Males' yang dia ucapkan.
"Udah mah gue males buat kerja kelompok, ditambah ngerjainnya disini, kan gue jadi makin males tau!" rengeknya.
"Heh!! Cucurut lo itu berisik banget yah, udah deh jangan banyak alasan kita kerjain tu tugas sekarang! Biar cepet beres keburu sore nih.. Entar gue ketinggalan film kesukaan gue lagi" tandas Celsi.
Lalu kami mengeluarkan buku kami dan mengisi tugas kelompok kami dengan berbagai aduan argumen, berbagai tukaran pendapat dan diakhiri dengan mufakat bersama.
"Duh! Laper banget nih" rengek Putri.
Kami merasa terkejut karena tiba-tiba saja pintu ruangan ini terbuka dan terlihatlah para asisten rumah tangga disini yang memakai seragam dengan masing-masing dari mereka membawakan cemilan yang telihat sangat lezat.
"Silahkan diminum sama dimakan cemilannya" ujar salah satu dari mereka yang menata cemilan itu di hadapan kami, jika dilihat umurnya mungkin tidak beda jauh dengan umurnya Mbok.
"Terimakasih.." ujarku.
"Gimana belajarnya aman sentosa dan terkendali kan?" tanya ibunya Amel.
"Sejauh ini sih aman-aman saja komandan!" ujar Putri sambil memberikan hormat kepada ibunya Amel, lagaknya seorang prajurit yang memberi hormat pada komandannya.
"Bagus sekali wahai kopral Putri!" jawab ibunya Amel sambil memberikan hormat pada Putri.
Lalu mereka berdua tertawa disusul dengan Erika dan Celsi yang juga ikut tertawa, sedangkan Amel.. Dia hanya menggelengkan kepalanya lalu tiba-tiba ibunya Amel menyentuh dahinya Amel seakan sedang memeriksa sesuatu, sedangkan yang disentuh menatap ibunya dengan heran.
"Kenapa?" tanya Amel.
"Nggak ada kirain demam kamu kambuh lagi, cuma periksa doang" jawab ibunya santai.
"Yaudah cepetan dimakan dong cemilannya!" titahnya.
Lalu Erika dan celsi memakan cemilan yang ada dihadapan mereka tak terkecuali juga dengan Putri, justru dia yang paling lahap memakan puding coklatnya itu.
"Eh?! Nak Zahwa kenapa nggak makan? Nggak suka yah, atau mau diganti sama cemilan yang lain juga boleh kok!" ujar ibunya Amel.
"Bukan begitu tante.."
"Mommy.. Bukan tante" sela ibunya amel dengan menekankan kata 'mommy' padaku.
"Udah nggak usah sungkan! Cepet dimakan cemilannya!" titahnya, lalu aku mengambil puding coklat itu dan melahapnya tidak lupa juga sebelum memakannya aku mengucapkan bismillah terlebih dahulu.
Tapi..
Aku merasa canggung karena setiap gerak gerikku selalu diperhatikan oleh ibunya Amel eh ralat maksudku Mommy, dan tiba beliau tiba-tiba saja menyentuh pucuk kepalaku aku pun lantas menatap Mommy dengan tatapan heran.
Merasa diperhatikan aku memberanikan diri untuk bertanya pada beliau "Eum-- iya?" tanyaku, lalu mommy menatapku dengan tatapan lembut.
"Seandainya bayi tante masih hidup, mungkin dia akan secantik kamu.." ujarnya.
"Maksud tan--Eh. Maksud mommy?" tanyaku dengan penuh tanda tanya, Maksudnya apa? Bukannya Amel itu kan.
"Sebenarnya dulu pas Amel berumur 3 tahun, Amel punya adek tapi Yah.. Mungkin memang karena sudah menjadi takdirnya. Beberapa jam setelah adek bayi lahir, tiba saja meninggal..." jeda Mommy sekilas.
"Karena gagal jantung.."
Uhuk.. Uhuk suara Putri yang tiba-tiba saja tersedak dia masih saja ceroboh, dengan segera Mommy memberikan air minum pada Putri.
"Maaf Mommy, aku ngeganggu yah?" ucapnya sambil cengengesan sendiri.
"Makanya kalau makan itu pelan-pelan.." saran Mommy, yang diberi saran hanya bisa cengir kuda saja
"Ouh iyah.. Sampai mana tadi? Maklum.. Faktor U"
__ADS_1
"Kalau aku nggak salah sampai gagal jantung tante" jawab Erika.
"Oouh iyah.. Itu" sahut Mommy.
"Setelah itu apa Mommy?!" tanya Erika.
"Waktu itu Mommy kerjaannya nangis mulu, yah.. Siapa yang rela juga kan ditinggalkan sama anak sendiri." jeda mommy sekilas.
"Tapi.. Mommy berusaha bangkit dari keterpurukan itu dan akhirnya Mommy bisa bangkit!" ucapnya dengan girang, aku hanya tersenyum tipis ternyata sangat seru bila saling bercerita dengan Mommy karena pembawaanya yang ceria dan energik seakan-akan mampu mengubah cerita yang awalnya menegangkan seketika berubah menjadi biasa saja.
"Wah! Mel aku nggak kepikiran gimana jadinya kalau kamu punya ade--Eh?!" ucapan Celsi terpotong karena melihat Amel sepertinya tengah menahan air matanya.
"Mel kamu kenapa?" tanya Erika, seketika Amel tekesiap dan mengusap kedua matanya lalu melenggang pergi, tapi sebelum itu dia sempat pamit untuk pergi ke kamar mandi.
Melihat sikap Amel yang seperti itu mommy menghirup nafas dan membuangnya dari mulutnya "Anak Mommy emang kayak gitu, suka nyembunyiin perasaan aslinya tapi.. Mommy nggak pernah hibur dia soalnya Mommy pikir mungkin dia butuh sendiri" jeda Mommy sekilas.
"Jaga Amel baik-baik yah terus kalau Amel bicaranya suka blak-blakan mohon dimaafin, soalnya Amel emang kayak gitu dari dulu kalau nggak percaya tanya aja ke Putri, iyakan my little girl" tanya Mommy.
"Eh.. Iya benar Mommy, Amel dari dulu nggak pernah berubah" jawab Putri.
"Ouh iyah.. Zahwa! Mommy mau tanya sesuatu boleh?!" tanya Mommy lalu aku menganggukkan kepalaku dua kali dengan sedikit ragu.
"Kamu itu.. Umurnya berapa? Maaf... Bukan maksud Mommy membuatmu tersinggung tapi. Mommy kepo sama kamu. Soalnya kalo dilihat dari sikap kamu kamu kayak lebih dewasa gitu nggak kayak temen-temen kamu yang lebih cerewet dan lebih mengekspresikan diri"
"Zahwa emang gitu Bun ... Jarang bicara, tapi sekalinya bicara kaca ajah langsung pecah" celetuk Amel yang entah datang dari mana lalu dia menduduki tempat yang semula ia tempati.
"Ish.. Nggak boleh gitu Amel! Bunda kan nanya nya ke Zahwa kenapa kamu yang nyaut" sarkas Mommy
"Udah.. Jangan dengerin Amel anggep ajah tawon lewat!" sindir Mommy, sambil menatap tajam kearah Amel sedangkan yang ditatap malah mencuekkannya dan lebih mengambil minumannya.
"Umur aku masih muda mommy ...13 tahun" jawabku dengan enteng.
Pyurr...
Seketika Amel menyemburkan minumannya ke depan, secara otomatis semburannya itu mengarah ke arah Putri yang sedang memakan kue coklat di genggamannya.
"Hah!!" teriak semua orang yang ada diruangan ini serempak tak terkecuali dengan Putri yang bahkan ia tidak menghiraukan kondisinya, kenapa? emang ada yang salah?! Pikirku.
"Wa lo serius!" tanya Putri histeris.
"Kok bisa?!" tanya Erika dan Celsi bersamaan.
"Lo jangan bohong Wa, Ini serius!" tukas Amel.
"Emang kenapa?" tanyaku.
"Bukan begitu nak Zahwa.. Soalnya rata-rata anak SMA itu umurannya sekitar 15 tahun keatas tapi kamu baru 13 tahun kok bisa masuk SMA" Mommy menjeda ucapannya lalu memperhatikanku dari atas sampai bawah.
"Tapi bagus yah bisa langsung masuk SMA emangnya kenapa bisa gitu?"
"Karena aku mengikuti akselerasi di sekolah SD ku dulu mommy" jawabku
"Oouh.. Gituu jadi kamu itu loncat kelas" ucapnya dan mendapatkan anggukan dariku satu kali.
"Mommy pikir kamu itu sama kayak Amel nggak naik-naik kelas contohnya aja sekarang, harusnya sekarang Amel itu kelas 3 SMA tapi.. Yahh segini juga Mommy udah besyukur sih" ujar Mommy dengan enteng sedangkan dari arah hadapanku aku merasakan aura dingin yang cukup kuat, darimana lagi kalau bukan dari Amel.
"Yaudah kalau gitu kami pamit mau pulang tante.." pamit Celsi disusul dengan Erika yang membereskan perlengkapannya.
"Oohh iyah-iyah. Eum.. Mau mommy antarin sampe rumah" tawar Mommy.
"Nggak usah tante.. Aku mau pulang bareung ama doi" jawab Celsi sambil memperlihatkan gigi putihnya, sedangkan Mommy hanya mebalas dengan senyuman yang dimataku terlihat seperti senyuman terpaksa.
"Iyah.. Saya juga" celetuk Erika.
"Assalamualaikum..." ujar mereka serempak lalu mencium punggung telapak tangan Mommy dan meninggalkan ruangan.
"Waalaikummussalam" jawab kami serempak, sepintas entah kenapa aku melihat raut wajah kecewa dari wajah Mommy tapi aku tidak berani bertanya karena yah.. Aku tidak berani lagi pula memangnya siapa aku?!, pikirku.
"Zah lo punya pacar?" tanya Amel, aku hanya menatapnya sekilas dan menjawab.
"Nggak.." jawabku singkat.
"Oouh... Kalau dulu?" tanya nya lagi, cukup membuatku seketika terbungkam aku hanya diam membisu tidak menjawab pertanyaannya.
"Zah Jawab dong punya nggak?" desaknya.
"A-aku.." jedaku, karena tiba-tiba saja handphoneku berdering dan tertera nama mang ujang yang terpampang jelas disana, tanpa basa-basi lagi aku langsung mengangkat panggilan itu.
"Waalaikummussalam.. Mang jemput ajah aku di jalan xxx perumahan xxx nomor xxx" ujarku, lalu yang disebrang mematikan sambungan panggilannya, aku pun lantas merapikan semua barang-barangku.
"Mommy aku pamit yah, assalamualaikum" pamitku lalu mengambil telapak tangan kanan milik Mommy.
"Wa-waalaikummussalam" jawabnya dengan nada sedikit terbata-bata.
Aku melenggang pergi meninggalkan ruangan itu, tanpa berkata-kata apa-apa lagi fikiranku hanya satu 'aku harus cepat-cepat pulang!' yah.. Hanya itu yang ada didalam fikiranku biarlah suatu hari nanti aku menjawabnya itupun jika aku siap untuk menjawabnya.
Karena aku tidak ingin membahas hal yang sudah lalu yang bahkan kertas saja jika sudah dibakar maka tidak bisa untuk dirangkai lagi, ataupun diperbaiki.
Aku ingin semua hal itu bagaikan kertas, hangus dan lenyap tanpa tersisa.
Bersambung...
^^^20 Maret 2022^^^
^^^Wida pitriyani^^^
*Ekhem...
Dua tiga buah pepaya
__ADS_1
Jangan lupa kasih likenya ya
Wkwkwkwk 😭*