Story In July ( End )

Story In July ( End )
Epilog


__ADS_3

"Ummah!!" teriak seorang gadis kecil dari arah belakangku, seketika aku pun langsung tersentak karena kaget dan lamunanku pun menjadi buyar.


"Kirah.." beoku, lalu aku membalikkan badanku.


"Ummah! Aku nggak bisa tidur" rengeknya dengan bibir yang ia majukan kedepan.


"Kan ada baba, katanya kan mau tidur sama kalian" ujarku, sambil berjongkok dihadapannya agar sejajar dengannya.


"Iih nggak mau. Maunya sama ummah!" rengeknya lagi, aku pun menghembuskan nafas lelah dari mulutku yaah aku harus tetap sabar menghadapi anak kecil yang sangat manja ini.


"Adek!" teriak seorang anak kecil yang entah darimana asalnya.


Lalu anak kecil yang berteriak tadi pun langsung masuk ke kamarku karena melihat orang yang ia cari ternyata sedang ada bersamaku.


"Zaki kamu nggak boleh teriak-teriak kayak gitu!" tegurku.


"Maaf ummah" ucapnya sambil menunduk, mendengar itu aku pun menggelengkan kepalaku beberapa kali.


Kalian tahu mereka adalah anak-anakku yang baru berumur 8 tahun dan mereka terlahir secara bersamaan, dengan kata lain mereka adalah anak kembar.


Anakku yang perempuan bernama Zakirah nur wijaya sedangkan yang laki-laki bernama Muhammad zakira as-siddiq wijaya.


Meskipun mereka kembar tetapi sikap dan sifat mereka sangatlah jauh berbeda, jika dulu kak Rido dan Putri memiliki sifat yang sama. Yaitu cerewet, jail, ngeselin dan banyak tingkah.


Justru lain dengan kedua anakku mereka malah sangat berbeda bahkan perbedaan sikap dan sifat mereka sangat terlihat dengan jelas.


Zaki memiliki sifat yang cuek, jarang berbicara dan juga acuh tetapi terkadang dia bisa menjadi sosok yang perhatian, sedangkan Kirah dia justru sangatlah cerewet, jail, blak-blakan dan juga polos tapi meskipun begitu kehadirannya mampu merubah suasana.


"Ouh iyah, ummah!" panggil Kirah sambil menggoyangkan lengan kananku.


"Hem..?"


"Kakak mukul aku!" rengeknya, sambil menunjuk Zaki dengan telunjuknya.


"Hush! kapan aku mukul kamu?" sarkas Zaki.


"Kemarin.."


"Ng-nggak tuh" elak Zaki.


"Iih abang bohong, ummah abang bohong!" teriak Kirah.


"Enggak! A-aku nggak bohong" elak Zaki kikuk.


"Zaki, kamu pilih jujur atau bohong" tekanku.


Seketika Zaki terdiam dan menundukkan kepalanya "I-iya ummah, Zaki ngaku. Kemarin Zaki pukul adek"


Aku mengajarkan anakku untuk bersikap jujur dari sejak kecil, karena jika tidak maka mereka akan terbiasa dengan berbohong hingga mereka dewasa nanti.


Dan yah Zaki dulu pernah berbohong, dia berbohong bahwa ia hanya memakan satu buah eskrim dikulkas namun anehnya eskrim yang kubeli itu hanya tersisa satu padahal aku membeli 5 buah eskrim.


Seingatku aku memberikan masing-masing satu eskrim pada Kirah dan Zaki, akan tetapi ekrim itu malah menyisakan satu.


Dan saat aku bertanya pada mereka berdua tidak ada yang mengaku, karena curiga aku pun melihat kamera CCTV yang ada didapur.


Dan pelakunya adalah Zaki, aku sempat marah karena dia telah berbohong namun aku memendamnya dan memilih untuk tidak mengajaknya bicara selama dua hari.


Lalu pada hari ketiga Zaki menangis dengan tersedu-sedu kearahku bahkan memeluk kakiku dengan sangat erat, dan yang membuatku sangat tertegun adalah dikala ia mengakui kesalahannya.


"Ummah maafin aku. Aku mengaku salah, aku yang udah makan dua eskrim itu. Maafin aku ummah. Ummah jangan marah lagi yah jangan diemin aku terus"


Dari sejak kejadian itu Zaki enggan untuk berbohong lagi, bahkan Kirah pun tidak pernah berbohong semenjak melihat kejadian yang menimpa abangnya mungkin ia takut untuk melakukannya.


"Tapi itukan kemarin, bukan sekarang!" imbuh Zaki.


"Yaa intinya abang mukul aku. Kemarin aku mau aduin ke ummah tapi aku lupa"


"Iih dasar tukang aduan" gerutu Zaki.


"Aku nggak aduan!"


"Terus tadi apa?"


"Aku cuma bilang aja ke ummah. Nggak aduan kok"


"Itu sama aja"


"Nggak! itu beda"


"Beda apanya?" mendengar hal itu seketika Kirah pun langsung berpikir.


"I-iyaa intinya beda, titik!"


"Padahal sama" gumam Zaki


"Iiihh beda! Iyakan ummah, bedakan?!" rengeknya dengan suara yang cukup melengking.


Lagi-lagi aku berusaha untuk sabar dengan cara menghembuskan nafas dari mulutku lagi, sambil memijat lembut keningku yang mulai terasa sedikit pening.


"Iya beda" sahutku.


"Tuh kata ummah juga beda"


"Udah. Mending sekarang kita tidur lihat deh udah jam 09.00 malam dan kalian berdua masih belum tidur" mendengar argumenku mereka berdua pun akhirnya mengangguk.


Lalu pada saat aku berdiri tiba-tiba saja ada seseorang yang berbadan tinggi, juga memiliki badan yang cukup berisi serta dengan rambutnya yang terlihat berantakan sedang berdiri diambang Pintu.


Orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah sosok yang kini memegang status sebagai suamiku, dia adalah orang yang selalu sabar dalam menghadapiku dan juga dia adalah orang yang telah menarikku dari keterpurukan.


Cintanya sangat besar terhadapku bahkan dia rela menungguku selama bertahun-tahun hanya agar aku bisa menerimanya, dia adalah Angga putra wijaya orang yang dulu selalu aku sakiti dan orang yang dulu sangat aku benci.


"Mas..?" beoku.


"Aku kira mereka kemana. Eh ternyata disini" ucapnya dengan suara serak sambil mengucek-ngucek kedua matanya.


"Ummah" panggil Kirah, aku pun berdehem sambil melihat kearahnya.


"Baba aneh" sontak Angga pun langsung melirik kearah Kirah dengan tatapan tanda tanya.


"Aneh" beoku dan Angga bersamaan.


"Aneh kenapa?" tanyaku dan Angga bersamaan lagi.


"Iyah aneh" jedanya sekilas.


"Katanya mau nina boboin Kirah, eh tapi malah baba sendiri yang tidur" seketika aku pun menahan tawa mendengarnya, lalu mataku melirik kearah Angga.


Dan Angga hanya berdehem lalu memalingkan wajahnya kearah lain, inilah yang kumaksud. Kirah itu polos dan terkadang perkataannya tidak pernah bisa dijaga jujur aku tidak tahu sikapnya itu mirip siapa.


"Udah. Sekarang ummah yang bakalan nina boboin kamu, okeh?!" mendengar hal itu Kirah pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali.


Aku hendak melangkahkan kakiku namun lagi-lagi Kirah menahan lenganku sehingga aku pun melihat kearahnya.


"Kenapa lagi?" tanyaku yang mulai risih dengan sikapnya.


"Ummah kata baba, Kirah sama abang Zaki harus bangun pagi-pagiii banget!"


"Iyalah 'kan kalian harus solat subuh"


"Iih bukan itu!" rengeknya lagi, jujur aku ingin sekali berteriak karena Kirah anak yang sangat suka berbicara sedangkan aku.


Aku tipikal orang yang tidak suka percakapan ringan, ataupun berbasa-basi aku lebih menyukai percakapan yang penting saja bukan seperti ini.


Namun anehnya Kirah lebih lengket denganku bukan dengan Angga sedangkan Zaki dia lebih suka bermain game ataupun menjahili Kirah, aku tidak tahu dia lebih melekat pada siapa karena dia jarang berekspresi.


Terkadang aku berpikir apakah Zaki itu sepertiku karena jika diingat-ingat pun Zaki itu seakan memiliki sifat sepertiku saat dulu.


"Ummah tahu nggak kenapa?" aku pun mengangkat alisku sebelah.


"Karena kita akan pergi kerumah nenek! Sambil ngerayain ul---" ucapan Kirah seketika terhenti karena ulah Zaki dan Angga yang menutup mulutnya.


Seketika aku membelalakkan mataku karena sikap mereka berdua yang sama-sama menutup mulut Kirah.


"Kalian itu ngapain? kasihan Kirah" sarkasku.


Bukannya melepaskan Zaki dan Angga justru malah memperlihatkan gigi putih mereka berdua, sedangkan aku lagi-lagi hanya menggelengkan kepalaku beberapa kali.


"Mas emang ada acara apa kita ke rumah ibu kamu?!" tanyaku sambil menatap Angga dengan tatapan tanda tanya.


"Eum... Bukan kerumah ibu. Tapi kerumah bunda" jawabnya kikuk.


"Bunda?" beoku.


"Iyah" jedanya sekilas.


"Yaa kita kan udah lama nggak kesana, lagipula aku besok juga nggak ada pekerjaan jadi kita bisalah kerumah bunda buat. Eum.. Main gituh?!"


"Oouh yaudah deh, terserah kamu aja" ucapku lalu aku pun berjalan mendahului mereka.


Pagi mulai menyapa dan kini aku sedang disibukkan dengan mengurus pakaian yang akan dikenakan oleh Zaki dan Kirah, sejak menjadi seorang ibu entah kenapa gangguan mental bipolarku jarang kambuh.


Bahkan jika kambuh pun tidak separah waktu dulu dan bahkan aku sudah jarang mengonsumsi obat-obatan, hanya dengan melihat Zaki dan Kirah pun entah kenapa seketika gejolak itu menghilang dengan sendirinya.

__ADS_1


"Ummah! Aku udah mandi, coba deh cium wangi nggak?" tanya Kirah, yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Dengan pasrah aku pun menuruti keinginannya "Hem wangi. Ini bajunya" ujarku, sambil memberikan gaun padanya.


"Ummah baju aku mana?" tanya Zaki, mendengar pertanyaannya lantas aku pun memberikan baju kemeja dan celana jans padanya.


Setelah itu Zaki berjalan menuju kamar mandi dan memakai baju sendiri disana, dia memang cukup dewasa dan mandiri padahal umurnya sama dengan Kirah.


"Ummah bantuin! Ini resletingnya kok susah banget" aku mengalihkan atensiku kearah Kirah lalu aku membantunya untuk meresleting gaun yang panjangnya hanya sampai lutut.


"Udah!"


"Sayang!" panggil Angga dengan nada berteriak dari arah kejauhan.


"Iyah..?" tanyaku lalu beranjak dari tempatku dan mengambil sesuatu didalam laci.


Tidak lama kemudian terlihatlah Angga yang tampak begitu kebingungan "Kamu lihat kunci mo---bil" seketika dia langsung memperlihatkan gigi putihnya.


Dikala aku sudah memperlihatkan kunci mobil dihadapannya "Cari ini 'kan?" tanyaku.


"Hehe iyah kok tahu" tanyanya sambil menggaruk tengkuknya.


"Itu udah kebiasaan kamu" jawabku, lalu aku menyimpan kunci mobil itu kedalam saku kemeja hitamnya.


Kemudian aku berjalan menghampiri Kirah dan menyisir rambutnya "Sama itu, kamu tahu nggak dimana dompet ak--"


"Dilemari bagian bawah" jawabku dan Zaki yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Ouh okeh" tandas Angga, lalu ia langsung mencari dompet dilemari.


"Baba itu pelupa banget ya ummah, udah tahu barang suka disimpan disitu tapi masih tetep aja nanya" oceh Kirah.


"Baba bukan pelupa Kirah cuma nggak ingat ajah" elak Angga, dengan kondisi yang masih sibuk mencari dompet.


"Yaa tetap aja sama. Iyakan ummah" aku hanya membalasnya dengan deheman saja.


"Yaudah yuk berangkat, udah hampir siang nih!" ujar Angga sambil berjalan keluar dari kamar kami.


"Udah kan ummah?" tanya Kirah.


"Udah. Udah rapi" jawabku sambil sedikit merapikan anak rambut Kirah.


"Ouh iyah, ummah jangan pergi dulu yah aku mau ngambil boneka dikamar aku" mendengar itu aku hanya menganggukkan kepalaku satu kali.


Setelah itu Kirah dengan girangnya langsung keluar dari kamar dan diikuti oleh Zaki yang mengekorinya dibelakang, lalu secara tidak sengaja aku melihat Zaki yang memakai baju sedikit tidak rapih dibagian belakangnya.


"Zaki kesini!" seruku.


"Kenapa ummah?" tanyanya sambil berjalan kearahku.


"Pakai bajunya yang benar" sahutku sambil memperbaiki bajunya yang sedikit tidak rapih.


..._o0o_...


Perjalanan dari rumahku kerumah bunda cukup jauh kami memerlukan waktu selama 3 jam diperjalanan, selama diperjalanan juga Zaki dan Kirah mereka terus saja tidur.


Begitu sampai dipekarangan rumah aku pun langsung keluar dari mobil, diikuti juga oleh Angga yang keluar dari mobil lalu membangunkan anak-anak.


"Ummah aku lapar!" ujar Kirah.


"Iyah nanti makan yah" tanganku menggenggam tangan kecilnya Kirah sedangkan Zaki dia sudah berada didepan kami.


Tidak lama kemudian terdengar helaan nafas lelah dari Angga "Hah... Kenapa sulit banget yah buat ngedekatin Zaki, padahal aku aja kata ibu waktu masih kecil aktip banget, terus lucu lagi. Nggak kayak Zaki"


Mendengar itu aku mengalihkan atensiku kearahnya "Zaki emang gitu, dari kecil dia emang banyak diam nggak kayak Kirah"


"Iya tapi kan----- arrgh sudahlah" ucapnya frustasi, lalu berjalan mendahului aku dan Kirah.


"Nanti juga bakal berubah kok, jangan terburu-buru namanya juga anak kecil nanti kalo sudah besar juga bakalan berubah sendiri"


Begitu kami sampai didepan pintu rumah bunda tiba-tiba saja suasana terasa sangat berbeda, namun aku menghiraukan perasaan itu.


Perlahan aku membuka pintu sambil mengucapkan salam namun tidak ada yang menjawab sama sekali bahkan kondisi rumah sangatlah gelap dan sunyi, dengan hati-hati kami melangkahkan kaki kami secara bersamaan.


Dan tiba-tiba saja terdengar suara sesuatu yang meledak bahkan aku pun terlonjak kaget, tidak lama kemudian lampu rumah menyala dan memperlihatkan orang-orang yang berdiri dari tempat persembunyiannya.


"Happy birthday!!" sorak semua orang.


Cukup lama aku tertegun karena aku masih mencerna dengan apa yang mereka ucapkan. Apa mereka bilang happy birthday? Bukannya sekarang itu masih januari yah.


"Zah! Kaget dong, masa lo nggak kaget atau terhura gituh" sarkas Amel.


"Iyah Wa, emangnya kamu nggak seneng yah" timpal Putri.


Sontak semua orang pun menjatuhkan rahang mereka bahkan tidak terkecuali juga dengan anak-anak yang berkumpul disini.


"Bibi! Sekarang kan tanggal 5 februari, masa bibi nggak tahu" celetuk Gibran anak pertama Putri dan Beni.


Yaah sebelum aku dan Angga menikah mereka sudah  menikah lebih dulu dan mereka dikaruniai 2 anak, yaitu Gibran dan Zidan anak mereka bertaut perbedaan umur 2 tahun.


Umur Gibran adalah 10 tahun sedangkan Zidan ia berumur 8 tahun, mereka satu sekolah dengan Kirah dan Zaki bahkan rumah mereka tidak jauh dari kompleks kami sungguh diluar dugaan ternyata sekarang mereka ada disini.


"Hehe bibi lupa" sahutku pada anak berumur 10 tahun itu.


"Yaudah nih potong kue nya. Sengaja nggak dikasih lilin kan kamu suka nggak mau kalo ditaro lilin diatasnya" celetuk bunda sambil berjalan kearahku.


"Yaa buat apa tiup lilin bunda. Lagian kayak anak kecil ajah pake ngerayain kayak gini" omelku sambil memotong kue bolu yang sedang dipegang bunda.


"Ini nih tante yang paling aku nggak suka sama dia!" sentak Amel.


Sontak semua orang pun mengalihkan atensi mereka kearah Amel sedangkan aku seakan tuli justru malah lebih sibuk memotong kue.


"Dia itu nggak pernah berubah! Selalu aja ket--mtus" sebelum Amel melanjutkannya aku sudah membungkam mulutnya dengan kue bolu.


"Diam! Bawel banget. Pengen banget yah punya anak bawel, lagi ngidam juga" ucapku dengan santai lalu menjilati jariku yang terdapat olesan coklat.


"Loh kok suapan pertamanya buat cucurut bukan buat aku" celetuk Angga.


"Hei! Yang anda panggil cucurut itu istri saya loh" sahut kak Erik dengan wajah tanpa ekspresi.


Terkadang terasa lucu melihat mereka yang berjodoh padahal jika dilihat dari kegiatan mereka sepertinya akan terasa tidak mungkin, karena kak Erik yang sibuk dengan pekerjaannya sebagai dokter dan Amel yang sibuk mengurus perusahaan ayahnya.


"Hem iyah. Dan yang anda sebut sebagai istri anda itu adalah sepupu saya, jadi ya terserah saya" sahut Angga sambil tersenyum aneh kearah kak Erik.


"Pandai sekali anda bersilat lidah"


"Ouh ya jelas, orang yang ada dihadapan anda saat ini adalah seorang pengusaha sukses"


"Udahlah berisik!" ucapku dan Amel bersamaan. Hubungan mereka terkadang tidak baik namun aku tahu itu hanya candaan.


"Ekhem... Kalau gituh kita langsung makan bersama aja yuk! Papah sudah laper banget nih" ajak papah, lalu semua orang pun mengalihkan atensi mereka kearah papah setelah itu mereka menganggukan kepala mereka satu kali.


"Eh tunggu sebentar aku punya hadiah buat yang lagi ulangtahun" ujar Angga.


Lantas semua orang pun menatap bingung kearah Angga tidak terkecuali juga denganku yang juga menatap aneh kearahnya.


"Udah nanti ajah, kasihan pasti udah pada laper" sahutku.


"Iih sebentar kok!" kekeh Angga.


Setelah itu ia mengambil handphonenya didalam sakunya lalu menekan sesuatu disana, itu semakin membuat semua orang merasa penasaran dengan apa yang akan Angga lakukan.


"Nih! Jangan tekan tombol warna merah, okeh" dengan malas aku mengambil handphone itu dan terlihatlah nama dokter Lili disana.


Aku mengerutkan keningku apa maksud Angga menelfon dokter Lili? Apa dia ingin mengundangnya kesini? Bukankah itu akan mengganggu waktu kerjanya?


"Maksudnya?" tanyaku kearah Angga.


"Syut! Diam, kalo udah terhubung tekan loudspeaker-nya biar kedengaran sama semua orang"


"Apa sih!"


"Udah diam ajah!"


Tidak lama kemudian terdengar suara salam dari dokter Lili dan semua orang pun membalas salam dari dokter Lili.


"Dokter Lili! Katanya ada sesuatu yang mau dokter katakan 'kan?" ujar Angga.


"Ouh iyah ada, saya hanya ingin mengatakan selamat untuk Zahwa"


"Iyah dokter terimakasih" sahutku.


"Bukan hanya selamat ulangtahun tapi juga selamat anda akan menjadi seorang ibu lagi"


Seketika keadaan berubah menjadi hening tidak ada yang mengatakan apapun bahkan anak-anak pun yang awalnya berisik langsung senyap dan memperhatikan kami.


"Hah?" beoku.


"Sekali lagi selamat yah! Dan maaf sekali karena saya harus mematikan telefonnya sebab saat ini ada pasien yang akan saya tangani. Assalamualaikum"


Dan setelah itu panggilan pun berakhir tidak ada lagi suara dokter Lili sedangkan keadaan disini masih tetap sama yaitu sepi.


"Waah! Berarti Kirah bakalan punya adik ya ummah" celetuk Kirah.

__ADS_1


Seketika semua orang pun melihat kearah Kirah secara bersamaan "Kenapa lihatin Kirah kayak gituh? Emangnya Kirah salah yah"


"Za-zahwa ini serius kan?!" tanya bunda.


"En-enggak tahu bunda" sahutku.


"Terus tadi kata dokter Lili katanya kamu ham---mil"


"Iyah! Sekarang kehamilannya sudah menginjak 2 minggu" celetuk Angga dan lagi-lagi mereka mengalihkan atensi mereka kearah seseorang yang berceletuk tadi.


"Kamu udah tahu mas?" tanyaku.


"Iyap"


"Terus kenapa nggak bilang daritadi!" teriak semua orang dewasa bersamaan bahkan anak-anak pun sampai terkejut karena teriakan kami.


"Yaa kan nggak ada yang nanya" ujar Angga sambil menggaruk tengkuknya.


"Waah jadi sekarang calon ade bayinya ada 2 dong!" sorak Putri.


"Tapi kok waktu kita periksa ke dokter Lili. Dokter Lili nggak bilang apa-apa" ucapku penuh tanda tanya.


"Yaa kan aku sengaja minta sama dokter Lili biar kehamilan kamu dirahasiakan dulu, buat hadiah gituh" sahut Angga dengan nada santai.


"Selamat yaah sayang kamu menjadi seorang ibu lagi" ucap papah yang tiba-tiba saja ada dihadapanku lalu mengecup dahiku sekilas.


"Hem iyah pah"


Sepintas aku melihat kearah Angga dan terlihat jelas diwajahnya terdapat tatapan cemburu, lalu saat papah membalikkan badannya papah menatap datar kearah Angga.


"Ada apa Angga?!" tanya papah penuh arti.


Seketika Angga tersenyum paksa "Hehe nggak ada apa-apa kok pah"


"Jangan cemburu, Zahwa anak gadis papah jadi yaa terserah papah dong!"


"Heheh iya pah. Tapi sekarang anak papah sudah menjadi istri saya" sahutnya sambil menekankan kata 'Istri saya' bahkan dengan menampilkan senyuman bodohnya.


"Iyah-iyah papah tahu kok" finish papah, mungkin papah tahu sifat fosesif menantunya itu.


"Selamat yah Zahwa, bunda seneng banget loh!" sorak bunda sambil memelukku.


"Iyah bun"


"Yaudah yuk semua kita makan!" ajak bunda pada anak-anak dan mereka pun mengekori nenek mereka dibelakang.


"Mel! Gue udah punya tiga anak nih, masa lo masih satu ajah bahkan satu juga belum keluar. Kapan nambahnya nih!" goda Angga setelah anak-anak tidak lagi ada disini.


"Yakali gue nambah lagi, satu aja belum keluar!" sentak Amel.


"Makanya harus cepet punya lagi dong!"


"Lo nyebelin banget sih jadi orang! Aduh!!" ringis Amel sambil memegang perutnya yang sedikit besar karena kandungannya yang berusia 6 bulan


Dengan segera aku langsung menghampiri mereka serta menatap Amel dengan khawatir, bahkan bukan hanya aku Angga pun langsung berjongkok dihadapan Amel.


"Sayang kamu kenapa?" tanya kak Erik.


"Eh!! lo kenapa?" teriak Angga.


"Mel..!" panggilku khawatir.


"Eng-nggak, nggak apa-apa tadi bayinya nendang" jawab Amel dengan sedikit ringisan disela-sela ucapannya.


"Dasar bikin kaget aja lo, gue kira lo mau lahiran" ujar Angga sambil berdiri dari tempatnya.


"Gara-gara lo sih!" geram Amel.


"Kok gara-gara gue"


"Udahlah sayang, anggap saja radio rusak. Kami duluan ya dek Zahwa" ucap kak Erik lalu berlalu meninggalkan kami dengan tangan yang masih merangkul Amel.


"Jangan panggil istri gue adek! Dia bukan adek lo!" geram Angga.


"Hem iya terserah!" teriak kak Erik.


"Cih dasar!" decih Angga.


Melihat reaksinya aku hanya bisa menggelengkan kepalaku "Kamu itu kayak anak kecil" ucapku.


"Enggak kok!"


"Hem terus tadi apa?"


"Sekali dua kali yaa nggak apa-apalah" jedanya sekilas.


"Ouh yah senang nggak?!" tanyanya.


"Hem? Senang apanya?" tanyaku.


"Punya dedek lagi" sahutnya dengan tatapan yang menggoda-goda.


"Dasar! Seorang ibu mana yang nggak senang kalo didalam rahimnya ada kehadiran bayi lagi" ucapku lalu melihat kearah gelang yang ada ditangan kiriku.


"Iya juga sih" lirih Angga lalu menundukkan kepalanya.


"Ummah!!" teriak Kirah yang berlari kearah kami.


Sontak aku dan Angga pun melihat kearahnya secara bersamaan "Kata nenek cepetan kesini! Kita makan bareng" aku dan Angga pun menganggukkan kepala kami bersamaan.


"Ouh iyah baba!" panggil Kirah merasa dipanggil Angga pun melihat kearahnya


"Gendong!" rengeknya.


Angga lantas tersenyum mendengarnya lalu menggendong Kirah didepan setelah itu Kirah melihat kearahku yang masih melihat kearah gelangku dengan pandangan kosong.


"Baba, kenapa ummah suka lihat gelang kalo lagi senang?" tanya Kirah.


Sontak aku tersadar dari lamunanku lalu melirik kearahnya dan Angga secara bergantian, terlihatlah Angga dengan tatapan yang tidak bisa aku baca.


"Karena gelang itu pemberian dari sosok yang spesial buat ummah"


Seketika jantungku rasanya berhenti berdetak karena mendengar jawaban Angga. Saat mendengarnya aku merasa bahwa ia kini sedang menyindirku.


Memang wajar sih, siapa tidak cemburu atapun marah jika istrinya masih mengingat sosok yang pernah dicintainya.


"Oouh gituh"


"Jadi Kirah juga harus nemuin orang yang seperti itu"


"Seperti siapa?" tanya Kirah.


"Seperti sosok yang selalu ummah rindukan" jawab Angga sambil memegang hidung mancungnya Kirah.


"Iyakan ummah?" tanya Angga.


"Ah i-iyah" jawabku kikuk.


Setelah itu dia tersenyum manis "Jangan lama-lama disini, nanti bunda marah" ujarnya sambil mengelus pucuk kepalaku yang ditutupi oleh hijabku setelah itu dia berjalan meninggalkanku.


Aku terus menatap punggungnya dari belakang, aku sadar bahwa mungkin ia sedikit marah dan cemburu terhadapku. Namun ia memendamnya karena dia mungkin akan merasakan hal yang sama jika dia menjadi aku.


Perlahan aku menarik nafas dari mulutku lalu menghembuskannya secara perlahan juga, rasanya aku tidak sanggup jika harus kerumah ini lagi.


Walau hanya sekedar untuk bermain, menginap ataupun silaturahmi karena rasanya sangatlah berat. Perlahan mataku menelisik kesetiap ruangan dan terbayang ketika sosoknya, aku dan Putri sedang bersama.


Terbayang juga ketika ia yang berlari dari kejaran Putri karena kembarannya itu memegang hewan kecil yang sangat ia benci, apalagi jika bukan kecoa.


Sungguh dadaku kembali terasa sakit bahkan nafasku kembali terasa sesak jika kembali mengingat masa itu, ini semua terasa sangat berat bagimu.


"Kak. Gimana kabarnya sekarang?" ucapku bermonolog sendiri, dengan kasar aku mengusap mataku yang mulai mengalirkan air mata.


Sungguh aku tidak ingin mengingatnya lagi, namun semakin aku berusaha untuk melupakannya semakin sosoknya menghantui pikiranku.


Dalam kehidupan ini ada begitu banyak yang terjadi, bahkan entah berapa banyak hal yang telah aku alami.


Perasaan yang aku sayangi, sosok yang selalu aku jaga, semua yang aku suka dari dirinya seketika hancur begitu saja. Dihari itu juga.


Aku selalu menyibukkan diriku agar aku dapat melupakannya, namun apalah daya jika kenangan itu terus membelengguku dengan sangat erat.


Orang bilang...


Gajah mati meninggalkan gadingnya, harimau mati meninggalkan belangnya dan manusia mati meninggalkan nama.


Aku sudah mengikhlaskannya. Sungguh!


Namun kehadirannya dan juga kebiasaannya terhadapku terkadang masih bisa kurasakan. Walau ia telah tiada sekalipun.


Terimakasih orang baik! Walau kau hadir hanya untuk sesaat. Namun bagiku itu sudah lebih dari cukup.


Selamat jalan...


Kakak.

__ADS_1


...___ TAMAT ___...


__ADS_2