
Daribalik pejaman mataku aku merasakan sebuah silauan cahaya yang sangat mengangguku, pada akhirnya dengan perlahan aku pun memaksakan diri untuk membuka mata.
Dan begitu aku membuka mataku, aku melihat tembok yang bernuansa serba putih serta bau obat yang sangat menyengat menggorek masuk kedalam hidungku.
Sepintas aku berpikir mungkin ini adalah rumah sakit dan mungkin sang pengemudi itulah yang bertanggung jawab membawaku kesini. Padahal biarkan saja aku tergeletak tadi bahkan jika boleh mati saja sekalian, pikirku.
"Dokter! Pasien sudah sadar" panggil suster yang tiba-tiba saja masuk kedalam ruangan tempatku berada.
Sepintas aku melirik kearah suster itu dan kemudian aku kembali menatap lurus kedepan dengan pandangan yang kosong.
"Adek..!" panggil salah seorang wanita yang terasa familiar.
Untuk sesaat aku tertegun mendengar suara itu lalu aku melirik kearah sumber suara itu berasal "Kakak" cicitku.
Dengan tergesa-gesa seorang wanita yang memanggilku itu berlari kearahku dan memelukku dengan erat, padahal aku masih terbaring di atas brankar jujur saja untuk pertama kalinya aku merasa tangannya terasa sangat bergetar.
Cukup lama kami berada di posisi seperti itu, pada akhirnya dia pun melepaskan pelukannya dan setelah itu menangkub kedua pipiku.
"Kamu nggak papakan? Kamu masih ingat kakak kan? Mana yang sakit? Ouh yah bagian belakang kepala kamu masih sakit nggak?!" tanya nya bertubi-tubi sambil menangkubkan kedua pipiku.
"A-anu dokter, mungkin dokter harus memeriksanya sendiri. Karena mau bagaimana pun pasien baru saja sadar dari masa kritisnya" ucap suster itu dengan sangat hati-hati.
Aku mengerutkan keningku lalu menatap dokter yang ada dihadapanku itu dengan tatapan tanda tanya.
"Kak Riza, aku kritis?" tanyaku.
Kak Riza pun melirik kearahku dengan ragu lalu menganggukkan kepalanya dengan ragu pula "Iyah, kamu sempat kritis. Karena banyak sekali darah yang keluar dan juga terjadi benturan yang sangat keras pula di belakang kepala kamu" jedanya sekilas.
"Lagian si! Ngapain kamu lari-larian di tengah jalan mana hujan lagi deras-derasnya lagi. Kalaupun kamu mau hujan-hujanan ya dihalaman rumah aja! Jangan di tengah-tengah jalan raya" geram kak Riza.
"Bikin orang khawatir ajah. Untung kamu selamat kalau enggak gimana!" sentak kak Riza.
"Dok.." tegur suster.
"Jangan belain dia terus Sil dia itu udah kelewatan tahu nggak!" bentak kak Riza.
Yah... Suster yang ada disebelah kak Riza juga adalah orang yang sangat dekat dengan kak Riza, jadi kak Syilla juga cukup akrab denganku. Karena dia selalu menemani kak Riza dikala sedang melakukan pemeriksaan tentang gangguan mentalku.
"Aku nggak bela siapapun. Cuma liat sikonnya Riza ini tuh rumah sakit lagian juga kan kasian Zahwa nya baru juga sadar udah dimarahin ajah" jelas kak Syilla.
"Udah. Daripada marah-marah nggak jelas kayak gitu, mending cepetan periksa Zahwa deh" tandas kak Syilla.
Aku tidak terlalu memperhatikan mereka yang memeriksa, dari awal yang aku lakukan pun hanya melihat kearah jendela dengan pandangan kosong.
..._o0o_...
Beberapa jam telah berlalu namun aku tidak bergeming dari tempatku, bahkan mungkin ada banyak solat yang harus aku qodho nanti. Sungguh rasanya seluruh badanku remuk bahkan kepalaku pun sangat sakit, tapi sebisa mungkin aku menahan semua itu karena aku tidak ingin menyulitkan siapapun.
Tidak lama kemudian terdengar suara pintu yang dibuka, dengan malas aku melirik kearah seseorang yang membuka pintu itu.
"Dek!" panggilnya lalu menghampiriku sambil membawa nampan berisi bubur, aku hanya bisa menghela nafas dengan kasar sambil memutar bola mata dengan malas.
"Makan dulu yah.." ujarnya, dengan tangan yang bersiap untuk menyuapiku bukannya membuka mulut justru aku malah membaringkan tubuhku lalu membelakangi kak Riza.
"Please dek makan dulu, satu suap ajah. Dari pagi kamu belum makan" ujarnya, sedangkan aku masih tidak bergeming dari tempatku lalu tidak lama setelah itu terdengar helaan nafas gusar dari kak Riza.
"Ouh iyah kakak mau kasih tahu, kalau papah kamu nanti malam bakal kesini" mendengar itu aku pun langsung membalikkan badanku dan menatap tajam kearah kak Riza.
"Kenapa kakak kasih tahu?" tekanku.
"Yah... Mau bagaimanapun juga papah kamu harus tahu dek" mendengar pernyataan itu aku berdecih pelan lalu memutar bola mataku dengan malas.
"Kasih tahu dia. Kalau dia nggak perlu jenguk aku dan aku nggak mau ketemu dia" ucapku dengan nada santai.
Lalu setelah mengatakan itu aku pun kembali keposisi semula, yaitu membelakangi kak Riza dengan selimbut yang menutupi tubuhku hingga bagian kepalaku.
"Kok gitu sih dek. Adek nggak boleh gitu sama papah adek, mau bagaimanapun dia itu papah kamu" ujar kak Riza sambil menekankan kata 'papah kamu'.
Mendengar itu rasanya aku ingin tertawa, apa kakak bilang? Papah?! Lucu yah, seorang ayah mana yang pantas disebut seorang ayah jika dia saja lebih mementingkan kebahagiaannya dibanding anaknya. Ironis!
"Dek...! Dengerin kakak. Kakak tahu kamu masih kesal sama papah kamu, tentang beliau tidak bisa datang disaat mamah kamu dirawat dirumah sakit, tapi nggak gini juga caranya" jeda kak Riza sekilas. Bukan, bukan karena itu kak gumamku dalam hati.
"Kalau kamu begini terus yang ada justru masalah nggak bakalan kelar-kelar, terus kalau ada masalah itu dihadapi bukannya lari dari permasalahan. Jadi kalau begini itu kamu tetap aja salah kamu nggak boleh egois Zahwa, kamu harus bisa lebih..."
"Berpikir dewasa" tandas kak Riza dengan menekankan kata itu.
Mendengar itu tentu saja aku cukup tersulut emosi, bagaimana tidak? Aku berpikir bahwa kak Riza itu seakan sedang memprovokasiku bahwa disini permasalahannya akulah yang salah, lucu banget yah, padahal dia tidak tahu apa-apa tentang masalahku lalu dengan sok bijaknya dia terus menceramahiku.
Dengan kasar aku mengibaskan selimbut yang aku pakai untuk menutupi tubuhku, lalu aku menatap tajam kearah kak Riza.
"Jadi maksud kakak. Aku yang salah dan papah yang benar, iyah.. gituh?!"
"Nggak dek, bukan begitu"
"Lah.. Terus tadi apa?" jedaku sekilas.
"Kakak itu nggak tahu apa-apa, jadi kakak nggak usah sok bijak dihadapan aku kak!" sewotku.
"Kakak bukannya sok bijak dek, kakak cuma ngasih saran sama kamu"
"Saran?!" selaku.
"Saran kakak bilang. Aku nggak minta saran dari kakak dan aku juga nggak butuh saran dari kakak, paham!" sentakku dengan mata yang menatap tajam serta menusuk kedalam hati.
Mendengar itu kak Riza terdiam sejenak lalu kemudian kak Riza mengatakan sesuatu yang diluar dugaanku.
"Ini yang kakak nggak suka dari kamu, kamu nggak pernah bisa nahan emosi kamu"
Mendengar itu tiba-tiba aku tidak bisa berkata-kata lagi, mulutku tiba-tiba saja diam membisu dan rasa kesal yang meluap-luap tadi tiba-tiba saja hilang dengan sendirinya.
"Riza!" panggil seseorang, yang dipanggil pun melirik ke asal suara yang memanggilnya.
"Kenapa kamu ngomong gitu?"
"Memang kenyataanya 'kan"
__ADS_1
"Tapi sisi kondisinya dek Zahwa kan beda" kak Syilla menjeda ucapannya sekilas. "Kamu lupa..?"
Mendengar itu seketika suasana berubah menjadi hening, mungkin kak Riza lupa bahwa apa yang ia katakan telah membuat kondisiku semakin buruk.
Mungkin ia lupa bahwa orang yang ada disebelahnya itu bukanlah orang biasa, melainkan orang yang memiliki gangguan mental dan kondisiku jauh dari kata baik-baik saja.
"D-dek.." panggil kak Riza dengan nada ragu-ragu.
Bukannya menjawab namun aku malah langsung kembali keposisi semula, yaitu membelakangi kak Riza dengan selimbut yang menutupi tubuhku hingga bagian kepalaku.
"Maafin kakak dek, Kakak nggak----"
"Pergi!" selaku, seketika kak Riza pun terbungkam begitu saja.
"Jangan ganggu aku, simpan aja makanannya. Kalau aku mau nanti juga dimakan." tandasku.
Dari balik selimbut itu tubuhku sedikit bergetar karena aku yang menangis tanpa suara, aku tahu mungkin ini juga salahku yang tidak mampu untuk mengontrol emosiku dan aku membenci gangguan mental sial*n ini.
Dan karena gangguan mental inilah aku selalu saja bertindak dan berkata tanpa berpikir ulang, sehingga membuatku selalu saja dijauhi oleh orang-orang. Termasuk orang terdekatku sekalipun.
"Aku benci diriku sendiri" lirihku.
..._o0o_...
Langit yang biru kini berubah warna menjadi sedikit kemerah-merahan, yah... Langit telah berubah dan waktu tidak terasa sekarang sudah sore.
Daritadi aku hanya terduduk diam diatas brankar sambil melirik kearah jendela, sungguh disini sangatlah sepi tidak ada yang menjagaku ataupun bahkan hanya sekedar untuk menemaniku. Tidak, tidak ada.
Tidak lama kemudian terdengar pintu yang dibuka tanpa melihat pun aku dapat menebak siapa orang yang membuka pintu itu.
"Dek, gimana keadaan nya sekarang? Agak mendingan kan?" tanya kak Riza.
"Hen.." jawabku.
Mendengar jawabanku lagi-lagi kak Riza menghela nafas gusar seakan ia telah frustasi, bahkan mungkin ia telah bingung akan hal apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Dek kakak bawain kamu buah apel, kamu makan yah..? Biar kamu cepat sembuh" ujarnya, lalu menyimpan keresek putih yang berisi apel itu diatas laci kemudian kak Riza mengupas salah satu buah apel dengan pisau.
"Jangan perlakuin aku kayak anak kecil kak.." ujarku tanpa melihat kearahnya serta dengan posisi yang masih sama, yaitu melirik kearah jendela.
Mendengar hal itu kak Riza langsung menghentikan kegiatannya lalu melirik kearahku, dengan dahi yang berkerut.
"Kok kamu bilangnya gituh? Kamu kan emang anak kecil, umur ajah baru 13 tahun masa iyah nggak mau dipanggil anak kecil" jedanya sekilas, sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu dia memulai kembali kegiatannya yang sempat tertunda.
"Memang benar kalau kamu itu sudah bisa disebut remaja, tapi dimata kakak kamu itu masih anak kecil" tandasnya, lalu tangannya mulai memotong apel yang sudah dikupasnya setelah itu dia memberikan apel itu padaku sedangkan aku hanya melirik kearah apel itu tanpa ekspresi.
"Ambil dek tangan kakak mulai pegel tahu!"
"Kak..."
"Hem kenapa?" tanyanya sambil berdecak pinggang.
"... Nggak ada" aku pun mengambil buah apel itu dari tangan kak Riza lalu aku memakannya dengan malas.
Kak Riza menatapku dengan penuh tanda tanya tapi aku menghiraukan tatapannya itu, dan lebih memilih untuk melihat keluar jendela.
Karena bosan aku pun bangkit dari tempat tidurku sambil menggenggam besi yang menggantungkan cairan infusan disana, kakiku mulai berjalan menuju jendela setelah itu aku membuka jendela itu dengan sedikit lebar.
Terlihatlah banyaknya orang yang berlalu lalang dibawah, mereka terlihat seperti semut mungkin karena letak rawat inapku yang berada diatas.
Dalam diam aku mulai berpikir, apakah... Jika aku menghilang dari dunia ini aku akan merasa lebih baik? Dengan begitu aku akan terlepas dari semua rasa sakit ini, aku lelah dengan semua ini.
Selama ini aku merasa bahwa hidupku hanyalah dipenuhi dengan duri, sejak kecil aku tidak pernah merasakan cinta bahkan aku lupa kapan terakhir kali papah dan mamah memelukku dengan kasih sayang mereka.
Mamah...
Alangkah baiknya jika aku saja yang pergi lebih dulu dengan begitu mungkin aku tidak akan merasakan hal seperti ini.
Mah kamu tidak tahu bagaimana rasanya menjadi aku, kalian memang orangtua terburuk yang pernah aku temui terkadang aku menyesal karena telah lahir dan dibesarkan oleh kalian.
Dengan kasar aku mengusap air mataku yang jatuh dengan sendirinya dan tidak lama setelah itu tiba-tiba saja terdengar pintu yang dibuka, lalu langkah kaki itu terdengar menghampiriku serta berhenti tepat berada disampingku.
"Kak..."
7⁷
"Iya dek" sahutnya dengan mata yang juga melirik kearah luar jendela.
"Aku mau pulang"
"Nanti setelah kamu sembuh kamu boleh pulang" ujarnya tanpa melihat kearahku serta dengan posisi yang sama.
"Bukan kerumah. Tapi aku mau pulang.."
Mendengar itu kak Riza mengerutkan keningnya, lalu menatapku dengan penuh tanda tanya diwajahnya "Maksud kamu?"
Aku melirik kearah tanganku yang terdapat tancapan jarum infusan disana tepatnya ditangan kananku, kak Riza membelalakkan matanya karena melihatku yang mencabut selang infusan itu.
"Adek! Apa yang kamu lakukan?" teriaknya lalu memegang tangan kananku, namun aku segera menarik tangan kananku.
"Lepasin!" sentakku.
"Dek jangan aneh-aneh. Kenapa kamu cabut infusanmu itu?"
"Kakak nggak dengar apa yang aku bilang tadi? Aku mau pulang" ujarku sambil menekankan kata diakhir kalimat.
"Maksud kamu apa? Kakak nggak ngerti sama jalan pikir kamu"
"Kakak nggak ngerti sama jalan fikir aku? Aku ajah nggak ngerti sama jalan hidup aku sendiri"
"Percuma bicara sama kamu, daritadi cuma berbelit-belit" tandasnya, kemudian ia mengeluarkan benda pipihnya dan mulai mengetik sesuatu disana.
Dan lagi-lagi mata kak Riza membulat sempurna karena melihatku yang berdiri diambang batas jendela, refleks kak Riza menjatuhkan handphonenya.
"Adek!" teriaknya.
__ADS_1
"Kamu ngapain? Turun dari sini cepat!" bentaknya sambil menarik tangan kiriku.
"Jangan ganggu aku!"
"Zahwa, cepat turun yang kamu lakuin ini salah!" teriaknya.
"Aku nggak peduli, aku nggak peduli" lirihku kalang kabut.
Tidak lama kemudian terdengar pintu yang dibuka, dan orang yang membuka pintu itu seketika berteriak histeris "Zahwa!" teriaknya.
"Sil lo jangan kesini, suruh aja seseorang buat jaga-jaga dibawah!"
"Ta-tapi"
"Nggak ada waktu, udah lo cepetan cari bantuan terus jaga-jaga dibawah. Terlambat sedetik ajah bisa fatal urusannya"
Dengan sigap kak Syilla pun segera berlari entah kemana, sedangkan kak Riza terus membujukku untuk segera turun dari jendela yang kini menjadi tempat pijakanku berdiri.
"Zah, Zah dengerin, dengerin kakak! Kakak mohon, kakak mohon sama kamu Please-please jangan lakuin ini yah. Kakak mohon!" ucapnya sambil mengalirkan sebuah cairan bening dari matanya.
"Kamu nggak sendirian ada kakak disini, kamu jangan ngelakuin ini dek. Kalo kamu ada masalah, kakak janji kakak bakal bantu kamu! Kakak bakal selesain semua masalah kamu sampai tuntas" tandasnya.
Mendengar hal itu aku menatapnya dengan sendu "Maafin aku kak..." lirihku.
Lalu setelah itu aku menutup mataku perlahan satu persatu jari-jemariku yang memegang sisi jendela aku lepaskan dan aku pun memberatkan badanku kebelakang.
"Zahwa!" samar-samar aku mendengar kak Riza memanggil namaku.
Ringan..
Rasanya tubuhku sangat ringan bahkan seringan kapas, jantungku berpacu sangat cepat dan aku bahkan seakan-akan dapat mendengarnya.
Mendadak semua moment yang aku lewati dengan dua orang absurd itu terbesit dalam fikiranku, lucu sekali. Kenapa aku harus mengingat hal itu? Dan mirisnya untuk sesaat aku menyesali hal yang aku lakukan.
Namun itu semua sudah terlambat nasi sudah menjadi bubur, kini aku yakin inilah akhir dari hidupku. Dan mungkin disinilah akhir dari kisahku.
Bruuggh..
Terdengar suara yang begitu keras, namun satu yang terasa mengganjal disini. Kenapa aku tidak merasakan sakit?
Perlahan aku mulai membuka mataku dan seketika mataku terbelalak sempurna karena ternyata orang yang menangkapku itu adalah seseorang yang selama ini secara diam-diam aku sukai, dia adalah orang yang selalu ada dikala aku berada di ambang pintu keputusasaan.
Tidak lama setelah itu dia mendudukkan dirinya ditanah dengan kasar, sedangkan aku masih berada didalam gendongannya bahkan helaan nafas dari hidungnya begitu terasa ke area wajahku.
Orang-orang pun mulai berkerumun mengelilingi kami berdua bahkan ada begitu banyak diantara mereka yang saling berbisik-bisik, lalu tangan kanan kak Rido memegang pipi kiriku dan beberapa kali mengusap-usap kepalaku.
"Kamu nggak apa-apakan? Nggak ada yang luka kan?" tanyanya bertubi-tubi dengan mimik wajah yang khawatir dan juga panik, aku pun merasakan tangannya yang begitu sangat dingin serta begitu sangat bergetar.
Tanpa aku sadari aku menggelengkan kepalaku, sedangkan mataku terfokuskan pada matanya yang tampak begitu merah.
"Alhamdulillah.." lirihnya dengan cairan mata yang mengalir dari matanya, lalu hal yang tidak diduga pun terjadi.
Dia menarikku kedalam pelukannya dengan tangan yang masih sangat bergetar, bahkan dia memelukku dengan sangat erat seakan-akan aku akan pergi jauh darinya jika ia melepaskan pelukannya.
Tubuhku hanya bisa mematung ditempat sungguh aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang, karena aku sendiri merasa sangat lemas bahkan hanya sekedar untuk mendorong tubuhnya.
Tidak lama kemudian kak Rido pun melepaskan pelukannya dan melirik kearah ku lagi "Kenapa kamu ngelakuin itu Zah?" jedanya sekilas dengan matanya yang sendu serta dengan mata yang terus mengeluarkan sebuah cairan bening.
"Kenapa? Segitu pengen cepatnya kamu buat pulang hah!" lirihnya lagi, lalu dia memejamkan matanya sambil menyatukan dahinya dengan dahiku.
Seketika nafasku tertahan bahkan mataku pun lagi-lagi terbelalak dengan sempurna dan jantungku juga berpacu dengan sangat cepat.
Sepintas aku merasa panik apa yang harus aku lakukan? Kenapa tubuhku terasa kaku dan lemas? Aku tidak bisa bergerak.
Disaat aku sibuk dengan pikiranku yang berkecamuk tiba-tiba saja terdengar seseorang yang memanggil namaku, lalu saat tiba ditempat kejadian dia pun akhirnya dapat menghembuskan nafas lega.
"Alhamdulillah" ujar kak Riza.
"Alhamdulillah, makasih ya Rido kamu sudah bantuin kakak" ujar kak Syilla.
Aku mengerutkan keningku kenapa kak Rido dan kak Syilla saling mengenal? Apa hubungan mereka? Cukup lama aku bergelayut dengan fikiranku tiba-tiba saja aku merasa tubuhku melayang dan ternyata kak Rido mengangkatku.
"Dimana ruangan Zahwa?" tanya nya dengan nafas yang tersenggal-senggal disetiap katanya.
"Oh iyah, ikuti saya" sela kak Riza,
"Sil lo urus ini, gue mau anter zahwa ke ruang rawatnya"
"Loh kok malah jadi gue yang urus sih?"
"Udah lo turutin ajah, jangan banyak nanya"
Tanpa berkata-kata lagi kak Riza pun menunjukkan ruang rawatku dengan kak Rido yang menggendongku, akhirnya kami pun sampai diruang inapku dengan segera kak Riza membantu kak Rido untuk menidurkanku diatas brankar.
Tidak lama setelah itu datanglah juga para suster yang membawa infusan baru, lalu kak Riza pun menancapkan kembali selang infusan itu ketangan kananku.
Disaat semua sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, tiba-tiba saja terdengar rintihan dari seseorang refleks semua orang pun menatap kearah seseorang yang merintih tadi.
"Rido? Kamu kenapa?" tanya kak Riza.
"En-nggak kak" jawab kak Rido kikuk.
"Suster tolong antar dia keruangan saya" titah kak Riza.
Salah satu suster pun mengangguk dan mengantar kak Rido keluar dari ruanganku, aku menatap kak Rido dengan tatapan tanpa berkedip sekalipun hingga ia tidak terlihat lagi.
"Tenang ajah" jeda kak Riza sekilas.
"Mungkin tadi karena habis nangkap kamu, secara nggak sengaja sikut kamu menyikut dadanya dan mungkin dadanya jadi sakit" tandas kak Riza lalu setelah itu mulai fokus pada kegiatannya.
Sungguh aku merasa bahwa semua kejadian hari ini sangatlah bagaikan mimpi dan aku sendiri tidak mengerti dengan jalan fikirku.
Bersambung...
^^^22 Juni 2022^^^
__ADS_1
^^^Wida pitriyani^^^