
Semilir angin berhembus dengan halus menerpa wajahku diiringi dengan suasana hiruk pikuk kota bandung yang begitu sangat terasa olehku, perlahan aku menyandarkan kepalaku di jok mobil sambil menyampingkan wajahku kearah jendela.
Menatap kosong kearah luaran sana yang terlihat begiti banyak sekali kendaraan mobil dan motor yang memadati jalan raya, hanya satu yang kuinginkan yaitu aku ingin cepat-cepat sampai disekolah.
Beberapa menit kemudian akhirnya aku sampai di depan gerbang sekolahku, aku pun membuka pintu mobil dan berlenggang pergi.
Baru saja beberapa langkah aku melewati gerbang tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggilku, aku pun menghentikan langkahku dan membalikkan badanku.
"Hah ... Hah ... Hah ... Lo ... Bentar, gue ... Ambil nafas dulu" ujarnya dengan nafas yang terengah-engah disetiap katanya, lalu ia pun menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan dari mulutnya.
"Lo dari tadi gue panggil, lo budeg yak!" sentaknya dengan nafas yang masih sedikit terengah-engah.
Apa kalian tahu, siapa dia?
"Nggak.." jawabku cuek lalu membalikkan badanku dan melangkahkan kakiku meninggalkan ia yang mematung ditempat.
"Heh! Tungguin gue!" teriaknya lagi, lalu mengejarku hingga akhirnya kami pun berjalan beriringan sepanjang koridor banyak yang memandang kearahku bahkan ada juga yang berbisik-bisik tentangku.
"Maksud lo cewek yang sebelahan ama cewek rambut pendek itu kan?"
"Iyah ... Lo percaya nggak kalau ternyata dia itu ... "
Aku tidak terlalu mendengarkan bisikan orang-orang yang ku lalui, toh ... Buat apa? Buang-buang waktu benerkan?!
Saat sampai didepan kelas aku disuguhkan dengan orang-orang yang berkerumun dimejaku, lantas aku pun mengerutkan keningku kenapa jadi ngumpul disitu si? Kayak yang mau daftar pembagian sembako, pikirku.
"Woy! Kalian ngapain ngumpul-ngumpul dibangku sahabat kencur gue!!" mendengar teriakan Amel seketika aku langsung membelalakkan mataku dan melirik kearahnya dengan tajam.
Dia berjalan kearah mejaku serta mendorong sebagian orang yang menghalangi dan beberapa detik kemudian seketika dia langsung mematung di tempat, melihat reaksinya yang aneh lantas aku mengerutkan keningku dan menghampiri mereka lalu untuk sesaat aku pun mematung ditempat.
Bagaimana tidak? Siapa yang menyimpan bunga, coklat dan bahkan kotak hadiah dimejaku.
"Zah sejak kapan lo jadi famous? Perasaan waktu lo baru masuk kagak ada beginian dah" ujar Amel.
Jangan bertanya padaku, aku pun bahkan merasa risih dengan hadiah-hadiah yang berserakan ini mereka itu emang kurang kerjaan.
"Good morning semua!!" sorak seseorang dari ambang pintu, refleks semua pasang mata pun memandang kearah sumber suara itu siapa lagi kalau bukan Putri.
"Eh?! Ada apaan ni pada ngumpul disitu? Lagi ada pembagian minyak gratis yak" ujarnya sambil berjalan menghampiri kami, setelah itu tiba-tiba dia membelalakkan matanya dan tubuhnya pun juga mematung ditempat.
"Wa hari ini kamu lagi ulang tahun yak? Banyak banget hadiahnya. Ada coklat lagi jadi pengen" Putri tampak sangat berbinar-binar melihat coklat dan hadiah itu.
"Kalau mau ambil aja" sahutku.
Seketika mereka pun menatapku dengan tatapan tidak percaya, tidak terkecuali dengan Putri yang tadinya berbinar-binar melihat coklat seketika teralihkan karena mendengarkan perkataanku tadi.
"Yang bener lo! Masa iya hadiah pemberian orang lain malah lo kasih lagi ke orang lain lagi" sentak Amel.
"Yaa terus buat apa hadiah sebanyak ini? Lagian juga aku nggak mau"
"Tapi Wa, seenggaknya kamu harus terima hadiahnya kan kasian yang ngasihnya" timpal Putri.
Dengan kasar aku menghembuskan nafas dari mulutku "Mereka ngasih hadiahnya buat aku kan? Jadi ya terserah aku mau digimanain"
"Nggak..! Pokoknya kamu harus terima ini hadiah, terus jangan dikasih-kasih ke orang apalagi kalau sampe di buang. Contoh anak yang tidak baik"
"Hm terserah" finishku.
Aku pun mendudukkan bokongku dikursi dan menatap semua hadiah itu dengan datar, masa iyah aku pulang sekolah sambil bawa-bawa beginian? Pikirku.
Lalu tiba-tiba ada seseorang yang memberikan kantong kain padaku dan dia adalah ketua kelas di kelas ku sebut ajah Beni.
"Nih..! Buat kamu, aku udah minta itu dari kantin tadi." ujarnya, aku pun mengambil tas itu dan memasukkan semua hadiahnya.
"Makasih." ujarku, lalu ia pun tersenyum dan kembali pada bangkunya.
"Pstt Zah..!" bisik Putri yang ada dibelakangku, aku pun membalikkan badanku dan menatap malas kearahnya.
"Sejak kapan kamu deket ama si burung hantu?"
"Burung hantu?!" beo Amel.
"Iyah ... Burung hantu, liat ajah wajahnya itu biasanya juga serem"
"Nggak ada sebutan lain apa?" tanya Amel, karena merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan lantas aku kembali membalikkan badanku.
"Nggak..! Menurut aku sih lebih cocok itu" jedanya sekilas lalu kembali melirik kearahku.
"Jadi ... Sejak kapan?"
"Nggak tahu" jawabku tanpa berbalik kearahnya.
"Iih kamu mah gitu, punya gebetan ajah nggak kasih tahu"
Mendengar perkataannya yang ku pun membalikkan badanku, dan menatapnya dengan tajam.
"Berisik!"
..._o0o_...
Akhirnya suara bel yang aku tunggu-tunggu pun kini telah berbunyi ouh yah apa kalian tahu? Ada banyak yang terjadi tadi, aku yang tiba-tiba saja diberi hadiah, mendadak menjadi sorotan di kantin yah... Meskipun bukan hal yang aneh sih. Tapi ini dalam bentuk lain! Terus para guru-guru tiba-tiba saja ramah dan hampir semua murid disekolahku pun menjadi banyak yang mendekatiku bahkan ada juga yang bersikap sok dekat.
"Wa lama-lama aku iri sama kamu" celetuk Putri, aku pun mengerutkan keningku.
"Maksud?"
"Yah... Kayaknya kamu bakalan jadi anak emas di sekolah ini"
"Tapi aneh nggak sih, tiba-tiba aja mereka jadi baik bahkan para osis ajah yang mukanya jutek-jutek tiba-tiba ajah berubah 180° " timpal Amel.
"Iya juga yak...!" sahut Putri.
Tiba-tiba saja ada seorang ketua osis yang menghampiri kami, lalu ketua osis itu pun mengatakan bahwa kepala sekolah ingin bertemu denganku, seketika Amel dan Putri pun saling memandang satu sama lain.
"Sekarang kak?!" tanya Amel.
"Iyah sekarang"
Kami pun berjalan menuju ruangan kepsek sepanjang perjalanan menuju ruangan kepsek ada begitu banyak berbagai asumsi yang saling berkecamuk didalam otakku, namun aku selalu menepisnya dan lebih fokus untuk segera sampai di tujuanku.
Saat tiba didepan pintu ruangan kepsek perlahan aku pun membuka pintu itu sambil memberi salam, dan terlihatlah pak kepsek yang terlihat sedikit antusias melihatku.
Aku pun mendudukkan bokongku dikursi yang ada di depan meja pak kepsek, lalu aku memandang wajahnya yang tersenyum ramah ke arahku.
__ADS_1
"Ada apa ya pak?" tanyaku kikuk.
"Jadi begini, nak..?"
"Zahwa."
"Nah betul... Nak Zahwa. Kamu tahu kan?! Setiap setahun sekali pasti akan selalu ada kompetisi cerdas cermat tunggal antar sekolah. Jadi..."
Aku menatap malas kearah pak kepsek, aku sudah tahu akan mengarah kemana jalur pembicaraan ini yaah.. Aku sudah pasti bisa menebaknya
"Kamu mau kan menjadi perwakilan sekolah ini untuk perlombaan tersebut?"
"Nahkan.." gumamku.
"Iya, ada apa nak Zahwa? Apakah kamu merasa keberatan?"
"Eum... Itu. Sebenarnya saya sedikit..."
"Sedikit apa..?" selanya.
"Saya sedikit tidak yakin pak"
"Tidak yakin bagaimana..? Buktinya kamu bisa menjawab pertanyaan sulit yang diberikan oleh bu Cici kemarin, menurut bapak kamu itu siswa yang sangat berprestasi" mendengar hal itu aku pun terdiam sebentar, aku mulai berpikir ternyata ibu Cici memberikan tes itu sengaja yah itu yang ada dalam pikiranku.
Cukup lama aku terdiam hingga akhirnya aku pun berusaha menolak tawaran pak kepsek secara halus "Meskipun begitu, maaf pak... Saya tidak bisa. Tapi pak saya yakin disekolah ini pasti ada siswa yang lebih berprestasi dan lebih dari saya, lagipula saya tidak berpengalaman tentang lomba cerdas cermat seperti ini.." alibiku.
Sebenarnya aku berbohong aku sudah sering mengikuti cerdas cermat antar sekolah dari dulu bahkan bukan hanya tingkat kota saja namun tingkat provinsi, dan setelah kejadian kemarin aku berhenti untuk mengikuti lomba itu karena gangguan mentalku malah semakin menjadi jika aku merasa tertekan.
"Kalau begitu saya permisi" pamitku sambil beranjak dsri tempatku dan mulai melangkahkan kakiku.
"Apa kamu yakin kalau kamu itu belum berpengalaman..? Ratu ambisius" aku sedikit tersentak dan terdiam ditempat, jujur aku sangat tidak menyukai nama sebutan itu lantas aku membalikkan tubuhku serta menatap datar ke arah lawan bicaraku.
Setelah sekian lama akhirnya nama sebutan itu terdengar lagi oleh kedua telingaku yah... Sebutan itu yang selalu mereka lontarkan padaku hanya karena aku yang selalu menjadi juara pertama dalam kompetisi itu.
Dari semenjak kompetisi cerdas cermat antar SD hingga SMP mereka pasti sudah tidak asing lagi dengan anak yang mereka kira memiliki ambisius yang tinggi, namun sayangnya dugaan mereka salah.
Bukan aku yang memiliki ambisius yang tinggi namun kedua orangtuaku-lah yang memiliki ambisius yang tinggi, tidak aku sangka ternyata nama sebutanku tersebar hingga ke kota ini.
"Maksud bapak apa? Memanggil saya dengan sebutan seperti itu." lawan bicaraku itu terkekeh geli dengan pertanyaanku yang seakan-akan aku ini sedang bercanda.
"Kamu kira bapak nggak tahu, kalau kamu itu orang yang selalu memenangkan lomba cerdas cermat selama bertahun-tahun dan lalu kamu menghilang tanpa kabar selama 2 tahun terakhir ini. Sayang sekali... "
"Terus apa hubungannya sama bapak kalau saya sudah berhenti?"
"Yaah memang tidak ada hubungannya, tapi bapak tahu kenapa kamu berhenti mengikuti perlombaan seperti itu" mendengar itu lantas aku mengerutkan keningku.
"Karena kamu..." jedanya sekilas.
"Memiliki gangguan mental kan" tekannya dengan mata yang menatapku dengan tatapan mengintimidasi.
Seketika aku membelalakkan mataku bahkan jantungku pun berdetak sangat hebat, kenapa pak kepsek bisa tahu? Padahal selama ini gangguan mentalku sangatlah dirahasiakan bahkan yang mengetahuinya hanyalah orang-orang yang dekat denganku, itu yang ada dalam fikiranku.
"Jangan terkejut nak Zahwa bapak bisa saja merahasiakannya dari siapapun, hanya saja jika kamu.." lagi-lagi pak kepsek menjeda ucapannya.
"Selalu mengikuti perlombaan ini dan selalu memenangkannya. Hanya itu tidak lebih"
"Bagaimana kalau saya tetap menolak?!" ucapku.
"Yah... Tidak ada cara lain selain mengeluarkanmu dari sekolah ini, karena mau bagaimana pun sekolah ini tidak menerima siswa yang memiliki gangguan mental seperti kamu" ancamnya sambil tersenyum sinis.
Akan tetapi.. Kenapa hatiku terasa berat untuk melakukannya? Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam fikiranku, lalu tiba-tiba saja ada seseorang yang mendobrak pintu dan pelaku si pendobrak itu adalah...
"Kalian! Apa kalian tidak punya sopan santun? Siapa yang menyuruh kalian masuk?!" sentak pak kepsek.
"Maaf pak bagi saya, sahabat yang sedang terancam disini lebih utama dibandingkan sopan santun" celetuk Amel sambil melipat kedua tangannya didada.
"Pak kenapa bapak maksa Zahwa? Zahwa kan sudah menolak dan lagipula apa pantas bapak mengancam seperti itu?!" timpal Putri.
"Diam! Kalian sudah berani yah, padahal kalian disini hanyalah seorang murid!" sentak pak kepsek.
"Tentu saja kami berani pak, buat apa kami takut?!" celetuk Amel lagi, dia memang blak-blakan pada siapa saja aku memuji keberaniannya.
"Kalian tidak takut bapak keluarkan dari sekolah ini?! Jika bapak mau bapak mampu mengeluarkan kalian dan itu tidaklah sulit bagi bapak"
"Saya nggak takut tuh. Itu berarti bapak siap-siap aja masuk penjara karena bapak sudah melanggar undang-undang" ujar Amel yang tidak mau kalah.
Mendengar perkataan Amel seketika pak kepsek menyunggingkan senyum sinis secara terus terang "Kamu nggak tahu yah?! Bagi bapak itu tidaklah berpengaruh"
"Okeh, kalau gitu mending aku keluar dari sekolah ini ajah, dari pada terus sekolah disini yang pemimpinnya ajah picik" tiba-tiba saja Putri mengatakan itu dengan tangan yang dilipat didadanya.
"Apa kamu bilang! Kurang ajar!! Kalian tidak diajarkan sopan-santun oleh orangtua kalian?!"
"Pak!!" bentak Putri, seketika kami tersentak dan memandang kearah Putri.
"Jangan pernah menghina orangtua saya! Ini nggak ada hubungannya sama mereka, justru mungkin disini bapak yang tidak diajarkan sopan-santun oleh orangtua bapak!"
Aku membelalakkan mataku tak terkecuali juga dengan Amel, dia pun memandang Putri dengan sangat terkejut.
"Ternyata kamu sangat berani yah ... Siapa nama kamu? Biarkan bapak yang mengeluarkan kamu lebih dulu"
"Putri agustin kelas 10 ips 1" jawab Putri dengan tegas, pak kepsek pun mulai mencari dokumen.
"Heh! Put lo serius?!" tanya Amel sambil berbisik ke telinga Putri.
"Gue serius. Karena gue nggak mau kalau sampe bunda sama ayah dihina kayak gini, nggak sudi gue" ujar Putri dengan menekankan kata diakhir kalimatnya.
"Tapi Put nggak perlu sampe kayak gitu juga kali"
"Gue nggak peduli, bagi gue kehormatan orangtua gue lebih utama"
Untuk sesaat aku merasa bahwa tindakan Putri itu memanglah benar namun mau bagaimanapun juga ini mungkin tetaplah salah, dan dilain sisi juga pak kepsek lah yang lebih salah hanya karena ia adalah kepsek bukan berarti ia bisa berbuat sesukanya.
Aku pun mengeluarkan sesuatu dari saku baju seragamku dan memutarkan rekaman tentang percakapan aku, Amel dan Putri dengan ketiga anak penganggu itu.
"Dari mana lo tau kalau dia itu tukang bully?!"
Seketika pak kepsek menghentikan kegiatannya dan mencari-cari asal suara itu, lalu entah mungkin karena telah menemukan asal suara itu darimana asalnya lantas pak kepsek pun melirik kearahku.
"Gue tahu dari anak-anak lain katanya dia itu tukang ngebully murid-murid disini. Tapi dia selamat mulu nggak pernah dihukum bahkan sikap busuknya itu nggak pernah ketahuan sama pak kepsek"
"Heh! Kalau Lidya tukang bully disini emang apa masalahnya buat lo"
"Eh tapi, kalau diliat-liat sih gue kok baru liat kalian bertiga kalian pasti adek-adek kelas kita kan, Adek kelas ajah udah belagu!"
__ADS_1
"Jadi.. Kak lidya itu suka ngebully anak-anak murid siswi disini?!"
"Jadi lo itu ceritanya mulai takut ama gue"
"Iya! Gue suka ngebully anak-anak murid siswi disini bahkan bukan cuma siswi, siswa ajah gue ladenin dan gue nggak takut dihukum. Karena apa? Karena bokap gue pasti lebih percaya ama gue, so... Gue bener kan my bestie kyu"
"Yoii"
Pip...
Setelah itu aku mematikan pulpen perekam suaranya lalu seketika pak kepsek menatapku dengan tatapan tidak percaya.
"Pak jangan kira saya takut sama ancaman bapak. Saya juga bisa mengancam balik" tantangku sambil tersenyum sinis.
"Apa maksud kamu? Dan suara siapa itu?!"
Aku pun berdecak kesal mendengarnya dan menyimpan kembali pulpen perekam itu kedalam saku baju seragamku, lalu menatap malas kelawan bicara yang ada dihadapanku itu.
"Masa sih pak, suara anak sendiri aja nggak kenal? Oh atau mungkin bapak itu kenal tapi pura-pura nggak kenal," jedaku sekilas.
"Udahan deh pak sandiwaranya mending sekarang juga bapak ngaku deh kalau sebenarnya bapak tahukan? Bahwa anak bapak sendirilah dalang dari semua kasus bullying disekolah ini" pak kepsek masih terdiam menatapku dengan tajam dan mungkin masih mendengarkan setiap kata yang aku lontarkan.
"Mau sampai kapan pak? Mau sampai kapan bapak sembunyiin? Terus mau sampai kapan bapak bela terus..?" tandasku.
"Jangan ikut campur dan serahkan rekaman itu, atau..."
"Atau apa pak?!" selaku.
"Atau bapak mau keluarin saya dan kedua teman saya? Okeh fix! Terserah bapak tapi yang pasti saya bakal sebarin bukti ini ke masyarakat, yah.. Bisa saja reputasi bapak bisa menurun 180°" jedaku sekilas dengan mimik wajah yang sama, sedangkan yang ditatap malah menatap tajam kearahku seakan-akan ingin menelanku hidup-hidup.
"Baiklah... Saya tidak akan melakukan apapun. Kalian boleh pergi" aku pun tersenyum penuh kemenangan dan menarik tangan Amel dan Putri untuk keluar dari lubang harimau ini.
..._o0o_...
"Zah lo berani banget tadi. Nggak nyangka gue kalo lo bisa seberani gitu" oceh Amel, entah berapa kali ia mengatakan itu.
"Hooh... Si Amel ajah yang tipikal blak-blakan langsung ciut pas diancam yang kayak begituan" ejek Putri disusul dengan gelak tawa diakhir kalimatnya.
"Ish.. Apaan si lo! Gue nggak ciut, cuma kalau gue dikeluarin dari sekolah ini yang ada nama baik nyokap ama bokap gue bisa tercemar."
"Uuhh masa sih?!" goda Putri.
Tidak lama kemudian terdengarlah suara deringan dari handphoneku, aku pun mengangkat panggilan telepon itu.
"Hem assalamualaikum kak, ada apa?"
" ... " sunyi, sang lawan bicara hanya terdiam tidak ada sahutan darinya sama sekali.
"Kak..?" tanyaku dan lagi-lagi kakak tidak menyaut.
Aku pun menghentikan langkahku dan tak terkecuali juga dengan Amel dan Putri yang juga menghentikan langkah mereka.
"Kak Riza ini nggak lucu. Kalau kakak nelfon cuma buat main-main atau ngajak bercanda mending kakak nyerah deh, mood ku lagi nggak bagus nih jadi aku matiin yah.."
"Mamah kamu dek..." sela kak Riza membuatku mengurungkan niatku untuk mematikan panggilan telfonku dengannya.
"Mamah? Emang mamah kenapa? Apa Jangan-jangan mamah nggak mau minum obat lagi? Atau susah makan? Udah deh biarin ajah biar aku yang kesana buat maksa mamah biar bisa makan. Yah..?! Udah dulu ya assalamu---"
"Mamah kamu udah nggak ada dek" sela kak Riza dengan nada lirih, untuk sesaat rasanya waktu seakan berhenti dan jantungku pun rasanya berhenti berdetak bahkan kakiku pun rasanya tidak sanggup untuk menopang tubuhku.
"Apa maksud kakak?"
"Mamah kamu udah nggak ada Zah.. Maafin kakak, kakak udah berusaha sekuat kakak tapi---"
"Nggak! Kakak pasti bohong kan? Ini cuma prank kan, serius kak ini nggak lucu!"
"Kakak serius dek"
Akhirnya aku sampai pada titik yang dimana aku tidak sanggup untuk selalu terlihat baik-baik saja, tangan kananku yang sedang memegang handphone pun tiba-tiba terasa lemas dan menjatuhkan handphoneku.
Amel dan Putri yang melihatku mulai merasa khawatir dan memegang pundakku karena melihat tubuhku yang hampir terhuyung kebelakang.
"Zah..! Lo nggak papa kan?" tanya Amel.
"Wa kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu sama mamah kamu?" timpal Putri.
"Zah! Lo kenapa?" desak Amel.
"Jawab!" sentaknya.
Bukannya menjawab aku malah berlari meninggalkan mereka yang menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya.
Setiap langkah yang aku pijaki setiap itu pula detak jantungku berpacu dengan cepat, sesampainya dirumah sakit aku terus berlarian hingga menuju ruangan mamahku berada.
Setelah ada didepan ruang rawat inap milik mamahku aku pun dengan perlahan membuka pintu itu, dan terlihatlah kak Riza dan kedua pasien yang sedang membereskan alat-alat disana.
Dengan perlahan aku melangkahkan kakiku entah kenapa setiap moments yang kulewati dengannya malah berputar dikepalaku bagaikan rollercoaster, dan bahkan dadaku pun terasa sangat sesak.
Tidak lama kemudian kak Riza membalikkan badannya seketika kak Riza terlihat kaget karena melihatku yang tiba-tiba ada disampingnya, kak Riza pun tiba-tiba memelukku dan mengelus-elus pucuk kepalaku.
"Kamu yang sabar ya dek. Kamu tenang ajah, kamu nggak perlu mikirin pemakaman mamah kamu biarkan kakak yang mengurus semuanya. Kamu istirahat ajah dirumah yah..?"
"Gimana aku bisa istirahat kak..?" kak Riza melepaskan pelukannya dan matanya menatap lurus kearahku.
"Gimana aku bisa istirahat..? Papah nggak bisa dihubungi dan mbok lagi pulang kampung, aku sendirian lagi kak.." ujarku dengan nada parau.
Seketika kak Riza mendekatkan telunjuknya dengan bibirku "Kata siapa kamu sendirian?!, ada kakak kan..? Dan ada..." kak Riza menghentikan perkataannya lalu bola matanya bergerak ke sebelah kanan.
Lantas aku pun mengerutkan keningku lalu aku menengokkan kepalaku kearah ambang pintu dan terlihatlah Amel dan juga Putri yang berdiri disana.
"Enak banget ya lo, main ninggalin gitu ajah" ujar Amel dengan wajah yang ditekuk.
"Wa kamu nggak nganggep kami ada yah..?" tanya Putri.
Mendengar itu rasanya semua beban yang menumpuk didalam diriku perlahan mulai memudar, tidak lama kemudian Putri berjalan kearahku dan memelukku dengan erat setelah itu mereka membawaku keluar dari ruangan itu.
Dulu aku tidak pernah mengharapkan kehadiran akan seorang teman atau apapun itu karena dulu aku menganggap bahwa tidak akan ada yang mau berteman dengan orang yang memiliki gangguan mental sepertiku, namun sekarang diluar dugaan ternyata semua anggapan itu hanyalah khayalan belaka.
Nyatanya masih ada orang yang mau menerimaku apa adanya, terimakasih banyak karena kalian telah mau menjadi teman sekaligus keluarga bagiku. Sekali lagi terimakasih.
Bersambung...
^^^28 April 2022^^^
__ADS_1
^^^Wida pitriyani^^^