
Jam menunjukkan pukul 05.00 dan aku pun sudah mengerjakan solat subuh setelah itu aku pun bersiap-siap untuk lari pagi.
Aku mengambil jaket, handphone dan juga barang kecil yang paling penting bagiku, apa lagi kalau bukan handset.
Aku menuruni tangga sambil memasang handset ditelingaku, yah... Sekedar untuk mendengarkan muratal ayat suci al-Qur'an.
Lalu dikala aku memegang gagang pintu tiba-tiba saja ada yang memegang pundakku, refleks aku pun membalikkan badanku dan ternyata itu adalah mbok.
"Non mau kemana?!"
"Mau lari mbok"
"Oouh hati-hati yah non!"
"hemm.. Assalamualaikum"
"Waalaikmmussalam"
Aku menutup pintu rumah lalu mang hendri membukakan pintu pagar rumahku, beliau adalah satpam yang menjaga rumahku.
"Makasih pak"
"Sama neng"
"Tumben pak, masih pagi udah standby disini"
"Ouh ya jelas tentu atuh neng, harus malah!" sahutnya.
Aku melanjutkan langkahku dengan berlari kecil menikmati setiap hembusan sejuk pagi hari yang menyentuh pipiku.
..._o0o_...
Waktu terus berjalan dan tidak terasa sinar mentari pun mulai memancarkan sinarnya, dipagi hari yang cerah ini banyak sekali orang-orang yang berlalu-lalang mereka pun disibukkan oleh kepentingan mereka masing-masing.
"Aduh!.."
Karena penasaran aku melirik ke sumber suara itu, aku menghampirinya dan membantu memunguti barang belanjaanya yang bisa dibilang itu cukup banyak.
"Alah... Nuhun nya neng atos mantosan" ujarnya.
"I..iya?!"
Aku merasa bingung dengan apa yang dia katakan, yah.. Mungkin itu bahasa yang digunakan didaerah sini.
"Alah.. Si eneng teh teu ngartos bahasa sunda geuning, eum..." ibu-ibu itu nampak berpikir sejenak.
"Makasih ya neng sudah membantu saya" ujarnya sambil tersenyum padaku.
"O..ouh i.. iya bu sama-sama"
Lalu aku balas dengan senyum yang sangat tipis sebenarnya agak sulit bagiku untuk tersenyum, mungkin karena aku jarang sekali untuk tersenyum, jadi. Aku merasa bibirku kaku saat melakukan hal ini.
"Eh, tapi.. kok bahasanya formal?!" gumamku dalam hati.
"Bi?!" Panggilku, lalu ibu itu melirik kearahku
"Kenapa nggak naik kendaraan ajah?!"
"Hihihi... Uangnya nggak cukup atuh neng, si bibi mah rumahnya juga deket kok tuh disana!" ujarnya sambil menunjuk sebuah rumah.
Aku mengerutkan keningku yang kupikir saat itu bukannya itu panti asuhan, terus kenapa bibi menunjuk kesana? aku pikir mungkin bibi yang ada didepanku itu adalah pengurus panti asuhan.
"Oouh untuk anak-anak panti ya bi?!"
"Iya neng, yaudah bibi lanjut lagi yah..."
Aku sempat berpikir jika kembali ke rumah sekarang mungkin akan sangat membosankan jadi, aku memutuskan untuk ikut ke panti itu sekedar berkunjung untuk sebentar.
"Bi.."
Dan yang dipanggil pun membalikkan badannya dan menghadap padaku, dengan raut wajah yang penuh dengan rasa tanda tanya.
"I-iya neng?!" tanya bibi itu kikuk.
"Boleh nggak saya ikut bibi?!"
"Boleh banget neng!"
__ADS_1
"Tapi bi. Eum... Saya nggak bawa bawah tangan"
"Ya jelas nggak papa dong neng, yaudah yuk!" dan bibi itu merangkul bahuku.
..._o0o_...
Tiba disana aku disambut hangat oleh anak-anak panti bahkan ada yang mengajak bermain, ada juga yang memperebutkanku seakan-akan aku ini boneka.
Bukannya kesal aku justru malah merasa senang, dan rasanya kehadiranku ini sangatlah berharga bagi mereka bahkan aku merasa semua rasa hampa yang menumpuk didalam diriku sedikit demi sedikit telah hilang.
Jika aku boleh jujur aku selalu merasa kesepian dan hampa, rasanya aku seperti hidup didunia ini sendirian.
Yah... Mungkin pengaruh dari orangtuaku yang selalu meninggalkanku sendirian dirumah, memang dirumah ada mbok tapi.. mbok selalu sibuk dengan pekerjaannya. Dan lagi aku pun selalu disibukkan dengan belajar, belajar, dan belajar.
"Kak!" panggil salah satu anak yang duduk sebalah kananku, membuat pikiranku menjadi buyar dan aku mulai tersadar kembali.
"Kakak kenapa melamun?!" tanya salah satu anak yang ada disamping kiriku.
Apa kalian tahu? posisi kami sekarang sangat manis, karena saat itu posisi kami dalam keadaan melingkar. Rasanya aku ini adalah seorang ibu yang dikelilingi oleh anak-anakku sendiri.
"Ng-ngak, kakak nggak melamun" elakku.
"Kak.. Kakak sekarang berapa tahun?!" tanya salah satu anak perempuan berambut sebahu.
"Umur kakak yah? masih muda kok kakak itu umurnya baru menginjak 13 tahun" jawabku, lalu mereka pun menjawab 'oh' secara serempak.
"Kakak gaduh raka teu?!"tanya seorang laki-laki berkaca mata.
Dan lagi-lagi aku mengerutkan keningku, yah.. Aku tidak mengerti dengan apa yang dia ucapkan.
"Iih... Reno! kan udah dikasih tahu sama bibi katanya kalau ngobrol sama kakak ini nggak boleh bahasa sunda, ih dasar ¹boloho!"ujar gadis kecil yang ada disamping kananku.
"Raka?!" tanyaku.
"Ituloh kak artinya itu kakaknya kakak" mendengar itu aku mengerutkan keningku, sedetik kemudian aku pun mulai mengerti dengan apa yang gadis kecil itu katakan.
"Ouuh, eum.. Nggak sih kakak nggak punya adik ataupun kakak, soalnya kakak anak tunggal" dan lagi-lagi mereka hanya ber 'oh' ria saja.
"Kak!" panggil salah satu gadis kecil berkucir dua yang ada dihadapanku dan lucunya dia mengangkat tangannya.
"Iyah...?"
Deg...
Seketika saat itu juga rasanya waktu berhenti sesaat, angin seakan berhenti berhembus, hanya ada keheningan diantara kami dan rasanya aku ingin menangis.
Gadis kecil itu menanyakan hal yang mungkin selama ini selalu menjadi tanda tanya didalam hidupnya, saat itu aku hampir menitikkan air mata aku merasa simpati padanya.
Aku menghampirinya dan memeluknya dengan sangat erat, aku tahu aku tidak bisa berbuat apa-apa tapi mungkin, dengan berbagi kehangatan dengannya dia bisa menjadi lebih baik.
Dan mungkin saja aku bisa meringankan semua kesedihan dan penderitaan yang dialaminya selama ini.
Lalu kemudian dia membalas pelukanku dan disaat dia berada dipelukanku, aku merasakan pundaknya naik turun aku menebak mungkin dia sedang menangis.
Aku melepaskan pelukanku dengannya dan mengusap kedua mata gadis kecil itu.
"Kamu jangan nangis kamu harus selalu bersyukur karena ada banyak orang yang sayang dan perhatian sama kamu" jedaku sekilas.
"Dan juga masih ada banyak anak-anak yang mau bermain sama kamu, kakak yakin kamu itu kuat!"
Tiba-tiba semua anak menangis aku pun sempat sedikit terkejut sebegitu rindukah mereka akan kehadiran seorang ibu dan ayah disisi mereka, aku tidak pernah bisa habis pikir betapa kejamnya orang tua mereka menitipkan ataupun membuang mereka ketempat ini.
Aku merentangkan tanganku lebih lebar mengajak mereka untuk bepelukan dan mereka menghampiriku lalu memelukku, aku mengusap pucuk kepala sebagian dari mereka, ada rasa haru, sedih dan marah saat itu.
Tidak lama kemudian bibi panti yang bersamaku tadi menghampiri kami.
"Yuk masuk! waktunya makan" jedanya sekilas.
"Ayo cepat keburu habis tuh makanannya.. Yuk, yuk cepat, yu!" ajaknya.
Mereka pun berhamburan masuk kedalam dan aku menatap mereka dengan sendu lalu tanpa izin dariku cairan beningpun mulai jatuh membasahi pipiku, dengan segera aku mengusapnya dengan kasar.
Sepintas aku melihat bibi panti yang bersamaku tadi bahkan mulai berjalan menghampiriku.
"Neng?!.." panggilnya.
Dengan segera aku menundukkan kepalaku.
__ADS_1
"Boleh tidak bibi tanya-tanya sedikit sama eneng?!"
"Ma-mau tanya apa bi?" disela-sela mengatakan itu aku pun berusaha agar air mataku tidak lagi jatuh, bibi itu kemudian duduk tepat berada di dekatku.
"Neng... Apa eneng lagi ada masalah?!"
Aku sedikit terlonjak kaget bagaimana bisa orang yang baru saja kenal denganku bisa mengetahuinya?.
Dan apakah selama ini aku sangat terlihat tidak baik-baik saja?
"Neng!"
"Ah.. I-iya bi?!"
Bibi itu tersenyum kearahku dan senyumannya terasa hangat sebenarnya aku jarang sekali untuk bersosialisasi dengan oranglain, karena penjagaan yang sangat ketat dari mamah yang membuatku jarang untuk bersosialisasi.
"Nak... Bibi tahu, kamu lagi ada masalah. Tapi... Kamu harus bisa belajar dewasa, kamu harus sabar yakinlah disetiap cobaan pasti akan selalu ada hikmahnya" jedanya sekilas.
"Tugas kita hanya berusaha, sabar dan tawakal, dengan begitu hidup akan terasa sangat damai"
Seketika aku merasa terharu dengan apa yang bibi itu ucapkan dan entah kenapa aku merasa rapuh, entah inisiatif darimana.
Dengan tanpa malunya aku memeluk bibi itu jika dipikir bukankah bibi itu masih sangat orang asing bagiku, tapi. Setelah mendengar nasihatnya aku menjadi emosional dan memarahi diriku sendiri.
Kenapa? kenapa mamah tidak seperti dirinya? kenapa mamah tidak sehangat dirinya?.
Ibu panti itu membalas pelukanku dan mengusap pucuk kepalaku, sungguh aku merasa nyaman dan hangat jika waktu bisa berhenti, aku ingin terus seperti ini kehangatan inilah yang selama ini aku inginkan.
"Andai... Andai mamah dan papah memiliki sifat sepertimu, mungkin aku tidak akan seperti ini terhadap mereka.." jeritku didalam hati.
"Yang sabar yah neng" ujarnya.
"Makasih bi.." aku melepaskan pelukanku terhadapnya dan mengusap-usap mataku.
"Bibi saya pergi dulu!"
"Ouh iyah.. Nama eneng siapa?!"
"Zahwa.." jawabku sambil tersenyum simpul.
"Oouh kalau bibi namanya Sumi, jadi kamu panggil saja bi Sumi"
"Hemm... Yaudah bi Sumi, Zahwa mau pamit pulang dulu yah, assalamualaikum"
"Waalaikummussalam"
Aku menganggukkan kepalaku disaat aku akan beranjak tiba-tiba ada yang memelukku dari samping kananku, refleks aku melihat ke arah sampingku ternyata itu adalah gadis kecil yang bertanya tentang 'orang tua' padaku tadi.
"Kakak mau pulang?!"tanyanya dengan mimik wajah yang sendu, aku melepaskan pelukannya dan mengahadap padanya.
"Iyah, kakak harus pulang sekarang"
"Kakak jangan nangis. Kakak kan kuat!" ujarnya dengan telapak tangan yang dikepal.
Aku tersenyum simpul dengan apa yang dia lakukan, wajahnya yang polos seakan memberi kesan menggemaskan bagi siapa saja yang melihatnya.
"Nama kamu siapa?" tanyaku.
"Nama aku Amira tapi suka dipanggil Ami, nah kalau kakak?"
"Zahwa panggil aja kak Zahwa"
"Okyu. Tapi.. Aku pengennya manggil kakak itu kak Wawa. Bolehkan?!" tanya nya, untuk sesaat aku terkekeh karena cara bicaranya yang sedikit lucu.
"Iya boleh dong kan bebas" jawabku, aku pun berdiri lalu bibi panti dan Ami juga ikut berdiri.
"Yaudah kakak pamit yah, assalamualaikum"
"Waalaikummussalam" jawab mereka berdua serempak.
"hati-hati kak!" ujarnya sambil melambaikan tangan mungilnya, aku pun tersenyum dan melenggang pergi dari sana.
Bersambung...
^^^05-01-2022^^^
^^^Wida pitriyani^^^
__ADS_1
¹boloho \= beloon
Jangan lupa like 🥺