Story In July ( End )

Story In July ( End )
Hari ke - 1


__ADS_3

"Ini rumah kita pah?!" tanyaku


"Iya sudah tentu dong!, baguskan rumahnya?!" tanya papah.


Sejujurnya aku sangat terkesima dengan rumah besar yang ada di hadapanku ini, bagaimana tidak, rumah yang bernuansa putih itu sangatlah besar dan luas bahkan menurutku ini sangatlah berlebihan, lagipula yang mengisi rumah ini hanya 4 orang yaitu aku, papah, mamah, dan mbok.


"Hem.. Bagus" jawabku


"Ini koper kamu sayang" ujar mamah.


Aku menerima koper milikku itu lalu melenggang pergi meninggalkan mereka, tanpa berkata apa-apa lagi.


"Hah.. Sampai kapan kita terus gini mah?!" keluh papah.


Yah samar-samar aku mendengar keluhan papah aku tahu aku salah karena telah bersikap seperti itu pada mereka, tapi.


Disaat perasaan marah dan kecewa sudah merebak dalam hati rasanya sangat sulit untuk bisa menghapusnya bukan?!.


Dan disaat rasa sakit hati sudah menguasai diri kita tidak pernah bisa menahan rasa kecewa yang menggunung didalam diri kita, akibatnya kita menjauhi orang yang telah menyakiti kita sekalipun itu keluarga kita sendiri.


"Wawa! kamar kamu diatas disebelah pojok kanan ya!" teriak ayahku.


"Iyah.." jawabku dengan lirih.


..._o0o_...


Sore harinya aku pergi dari rumah hanya sekedar untuk mencari udara segar, udara sore hari di Kota Bandung ini rasanya sedikit berbeda dengan udara sore hari di Ibu Kota Jakarta. Disini rasanya sangatlah sejuk dan damai aku akui papah memang tidak salah dalam memilih tempat.


Disaat aku sibuk dalam menikmati udara sore ini ada sesuatu yang menarik perhatianku, disebrang sana ada seorang gadis yang berjalan santai namun matanya sibuk dengan handphonenya.


"Hah.. Zaman sekarang emang aneh, mata kemana kaki kemana" gumamku.


Awalnya aku mencuekkannya tapi mataku seketika terbelalak karena melihatnya yang tiba-tiba berbelok ke tengah-tengah jalan raya, bahkan lebih parahnya lagi dibelakangnya ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan yang sepertinya diatas rata-rata.


Tanpa berpikir panjang aku pun berlari kearahnya dan memeluknya lalu mendorongnya ke belakang pada akhirnya kami terjungkal kebelakang bersamaan.


Suara klakson mobil terdengar sangat nyaring digendang telingaku bahkan membuatku telingaku sangat sakit.


"Woy cari mati lo, jangan disini dong!" teriak si pengemudi itu, samar-samar aku mendengarnya.


"Wahh! Kamu nggak papakan?!"tanyanya.


Ouh ayolah apa masih perlu untuk dipertanyakan, bagaimana mungkin dia masih sempat-sempatnya bertanya keadaanku?, ya jelas sakitlah!.


"Sini! biar aku bantu" ujarnya sambil mengulurkan tangannya dan akupun membalas ulurannya dengan hati-hati.


"Makasih" ujarku lalu melepaskan genggaman tangannya.


"Hey!, harusnya aku yang bilang makasih untung ajah kamu dorong aku, kalau nggak. Mungkin ceritanya bakalan lain nanti, ouh iyah kenalin namaku Putri agustin" ujarnya lalu tanpa sepertujuan dariku, dia meraih telapak tangan kananku.


"Za-Zahwa nur febrianita" ujarku.


"Eh.. Maaf sakit yah?! ouh iyah, ikut aku yuk! biar diobatin dulu" ajaknya sambil menarik pergelangan tanganku.


"Itu handphone kamu gimana?!"tanyaku


"Ck halah... Cuma hp juga, nanti bisa beli lagi lagian udah retak gitu..!"


..._o0o_...


Saat ini kami ada ditaman kompleks aku terduduk disebuah bangku yang tersedia, sedangkan ia berjongkok didepanku dengan keresek putih yang ia pegang di tangan kanannya.


"Sini tanganmu!" titahnya akupun memberikan kedua telapak tanganku.


"WHAT!!" teriaknya sesaat setelah melihat kedua telapak tanganku yang terluka.


"Ja-jadi dua-duanya luka yah, aku kira cuma satu..." jedanya sekilas.


"Maaf yah"


"Hemm... Udah nggak papa!" ucapku sambil menarik tanganku dari genggamannya.

__ADS_1


"Nggak papa gimana, udahlah diem!" sarkasnya sambil menarik kembali lenganku.


Lalu dia mulai mencuci kedua telapak tanganku dengan hati-hati dan entah berapa kali dia terus bertanya 'gimana sakit nggak?!' dan jawabanku tetap sama yaitu dengan gelengan kepala.


"Nah..! akhirnya beres juga"soraknya.


Aku melihat kedua telapak tangaku menurutku ini sangatlah berlebihan, bagaimana tidak kusebut berlebihan orang aku cuma dadas sedikit doang eh malah diperban.


"Lebay...! padahal cuma dadas sedikit" gerutuku.


"Heh denger yah! aku tuh udah baik tau udah tanggung jawab. Toxic amat mba! bukannya makasih juga" sarkasnya.


"Makasih"


"Telat!!" Sewotnya, aku mengerutkan keningku maunya apa si?! pikirku.


"Ouh iyah, rumah kamu dimana?"tanyanya


"Dikompleks deket sini"


"Wah.. Sama dong bareng yuk!"


"Hem.."


..._o0o_...


Sepanjang jalan kami berjalan beriringan dan sepanjang jalan dia juga tidak pernah berhenti berbicara, itu mulut apa kenalpot berisik banget, nggak bisa diem yah pikirku.


Hanya satu penilaianku tentangnya dia itu memiliki sifat yang periang dan mungkin juga sedikit bawel bukan sedikit si, toh memang aslinya bawel.


"Ouh iyah Awa, kamu bilang kamu itu pindah kesini kan?! terus sekolah gimana?!" tanyanya, entah kenapa dia malah memanggilku dengan sebutan Awa baiklah terserah dia mau memanggilku apa, mungkin setelah ini juga aku tidak akan lagi bertemu dengannya.


"Pindah"


"Serius?! sekolah dimana?"


"Di..."


Lalu seorang pengendara motor yang mengahadang kami itu pun membuka helmnya.


"Baaa!!" Teriaknya, bukannya kaget aku dan Putri justru malah menatapnya datar ouh ayolah itu tidak lucu.


"Iih abang! bisa nggak kalau datang itu jangan buat ulah. Caper banget jadi orang!" sewot Putri aku pun lantas mengerutkan keningku.


Tunggu apa dia bilang, abang..?! ouh jadi dia abangnya pantes ajah sama. Sama-sama nyebelin, pikirku.


"Siapa juga yang caper. Geer!" elaknya disusul dengan tangannya yang menjitak kepala Putri dan tentu saja Putri pun meringis sambil memegang kepalanya yang mendapat jitakan tadi.


"Sakit tahu! aku aduin sama ayah loh!"


"Dasar...! Udah gede masih aduan" jedanya sekilas.


"cengeng" gumamnya.


"Apa lo bilang!!"


"Nggak...! Nggak ada, itu tadi gajah lewat terus jatuh di badan lo. Terus... " kak Rido menjeda ucapannya.


"Terus apa?!" sela Putri.


"Terus gajahnya pergi. Lagi ke Afrika "


"Garing tahu nggak dasar!, ouh iyah lupa Zahwa kenalin dia ini namanya Rido Lillahi ta'ala sayangnya dia itu kembaran aku alias abang aku" ejek Putri.


"Sekate kate aja ya lo kalo ngomong cucurut!, nggak sopan banget jadi adek" sewotnya.


"Nggek sipin bingit ye jidi adek!. Emangnya lo abang gue?! perasaan bukan dah"


"Lo. bener-bener yah.."


"Apa..?! Mau ngajak ribut disini?! Okeh lah gue ladenin sini" ujar Putri yang tidak kalah sewotnya, sedangkan sang lawan bicara malah menatap datar kearah Putri dan mengacuhkannya, Tidak lama kemudian matanya melirik kearahku.

__ADS_1


"Hai, nama kamu siapa?! ouh iyah kenalin nama saya Ridho Al Fariz Arrizki" ujarnya sambil mengulurkan tangan kananya, aku melihat uluran tangannya dan lalu aku menyatukan kedua telapak tanganku.


"Zahwa" jawabku, disusul dengan suara cekikikan dari Putri.


"Diem lo!" kak Rido menjeda ucapannya, lalu matanya melirik kearah pergelangan kedua tanganku yang diperban.


"Eh..?!, itu tangan kamu kenapa?!"


"Jatoh!" bukan, bukan aku yang menjawabnya tapi Putri aku melihatnya dengan kerutan yang tertampak dikeningku.


"Main nyamber ajah kayak kabel..!" ujar Kak Rido.


"Biarin SSG!!"


"SSG.." beo Kak Rido.


"Suka-Suka Gue!" jawab Putri.


"Sakarepmu ah, Yaudah buruan naek! keburu maghrib nih"


"Kenapa gue punya adek bar-bar kayak lo!"  tandasnya.


"Heh..! Lo itu harusnya bersyukur punya adek kayak gue. Daripada punya adek kayak si Amel"


"Udah buruan..!"


"Tapi. Zahwa gimana?!" ucapnya sambil melirik kearahku.


"Nggak papa, aku juga bentar lagi nyampe" Selaku


"Ouh yaudah deh, aku duluan ya Wa!" ujar Putri.


"Hem..." mereka pun berlalu pergi hingga tidak terlihat lagi oleh mataku.


..._o0o_...


Aku membuka pintu rumah perlahan dan menutup kembali pintu rumah, lalu saat aku membalikkan badanku ...


"Astagfirulloh Zahwaaa! kamu darimana aja si, kok baru pulang?! ini kan udah sore gimana kalau ada apa-apa sama kamu" jeda mamah sekilas.


"Pokoknya kamu jawab mamah! kamu habis darimana?!" tanya mamah sambil menahanku dan membalikkan badanku untuk melirik kearahnya.


"Taman" jawabku


"Itu tangan kamu kenapa?"


"Jatoh" mendengar jawabanku mamah lalu menghembuskan nafas resah,


"Yaudah kamu masuk kamar sana!"


Aku berdehem dan menganggukkan kepalaku satu kali, lalu aku gerakkan kakiku untuk menaiki tangga lalu aku teringat satu hal dan aku pun membalikkan tubuhku.


"Papah mana?!"


"Katanya sih ada panggilan dari kliennya, jadi dia bakalan pulang besok"jawab mamah


Aku menghembuskan nafasku dan kembali melanjutkan langkahku.


"Terus buat apa pindah?!" Gumamku dengan sangat kecil.


"Sayang! nanti kalau udah beres solat maghrib langsubg kebawah yah! kita makan malam bareng awas ajah kalau nggak kebawah!" teriak mamah.


"Hem.."jawabku.


Bersambung...


^^^01-01-2022^^^


^^^Wida pitriyani^^^


Jangan lupa like ( ´ ▽ ` )ノ

__ADS_1


__ADS_2